Memanfaatkan Volatilitas Dalam Trading Forex

Volatilitas yang ekstrim dapat menyulitkan trader untuk melihat entri secara akurat, tapi juga bisa menjadi penunjuk trading.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Volatilitas yang ekstrim dapat menyulitkan trader untuk melihat entri secara akurat. Salah satu konsep yang dapat membantu trader ketika terjadi peningkatan volatilitas adalah Standar Deviasi. Dengan menggunakan konsep ini, trader pemula akan memperoleh pertimbangan yang tepat untuk bisa trading melalui pemahaman pada volatilitas harga.

Volatilitas adalah salah satu bagian vital dari sistem trading forex karena menggambarkan fluktuasi pergerakan harga. Trader yang masih hijau sering menggunakan volatilitas sebagai umpan untuk masuk ke arena trading dengan asumsi bahwa semakin besar volatilitas maka semakin tinggi pula kesempatan mereka untuk cepat kaya. Di lain pihak, trader yang lebih sistematis dan berpengalaman tidak akan sembarangan dalam bertrading di wilayah volatilitas yang tinggi. Umumnya mereka sudah memiliki perhitungan tersendiri tentang bagaimana cara entry pada kondisi volatilitas tertentu.

Jika Anda ingin bertrading dengan cara profesional, memahami penyimpangan pergerakan harga akan membantu Anda memahami volatilitas atau probabilitas harga. Dengan konsep ini, Anda dapat memperkirakan entry-entry yang kuat dalam trend dan mampu menempatkan stop dengan percaya diri saat melakukan trading. Bollinger Bands adalah contoh indikator umum yang menggunakan perhitungan Standar Deviasi, dan merupakan perangkat yang berguna untuk mengukur volatilitas harga.


Memanfaatkan Volatilitas Dalam Trading



Gambar di atas menampilkan penggunaan Bollinger Bands sebagai indikator utama dalam trading dengan volatilitas. Pada dasarnya, Bollinger Bands memiliki channel atas dan bawah yang menyempit ketika volatilitas menurun dan melebar ketika terjadi peningkatan volatilitas. Untuk mencari momen entry, trader bisa memperhatikan penolakan (rejection) pada channel atas dan bawah, seperti pada area yang ditandai dengan lingkaran kuning pada chart di atas. Trader bisa menempatkan entry sell dari salah satu posisi tersebut, dengan stop loss yang ditempatkan di atas swing high.

Demikian penjelasan singkat mengenai pemanfaatan volatilitas dalam trading. Anda bisa mencari peluang entry saat volatilitas meningkat dengan bantuan indikator bollinger bands yang channel-channelnya akan melebar sebagai respon dari peningkatan tersebut.


Parmadita mengenal forex mulai tahun 2010. Sejak saat itu, menggali beragam pengetahuan dan pengalaman terkait forex dari berbagai sumber, baik tentang indikator teknikal biasa, psikologi trading, maupun Expert Advisor.


Dimsum
Mungkin mendingan di gabungin RSI juga buat ngliat divergence n oversold ato overbought nya...tpi paling bagus liat divergence nya kayaqnya klo pke sistem ini ..
Diki Supratna
di kondisi sideway oke juga, tapi pas trending percuma juga pake oscillator. mending ambil sinyal breakout dari chanel bb.
Desta Sudrmn
kalo pake rsi, berarti udah beda lagi faktor yg diperhatiin. rsi kan termasuk oscillator, dia ngukur momentum makanya ada overbought oversoldnya. sementara bollinger bands kan indikator volatilitas.

ya kalo emang perlu bisa aja dipake dua2nya. tapi kalo g mendingan dipake salah satu aja. daripada tambah bikin ribet chart. lagian diatas udah ada tambahan konfirmasi dari trendline
Taufikq
@Desta: Pake banyak indikator tp beda tujuan rasax gg sekedar ngerusuhin chart, karna bisa dibuat konfirmator biar sinyal entri makin valid. Kecuali pasang indikator tp fungsix sama kayak pasang rsi, stochastic, cci, kan oscillator semua, agak buang2 tempat itu namax. Walopun ada perbedaan tapi tujuan umumx sama.

Baru beda kalo yg dipake rsi bolinger bands sama trendline. Disini rsi sebagai pengamat momentum, bolinger band untuk volatilitas, trendline untuk mengukur tren harga. Kalau dicermati lagi malah saling melengkapi kan ini? Entri dengan sinyal hijau dari ke3 indikator itu justru akan sangat valid kan.
Didik Santoso
setuju. meskipun tidak semua trader akan cocok dengan cara ini tapi memang tidak bisa dipungkiri sinyal trading yang paling valid dan berkualitas paling jarang muncul atau tidak sering-sering. contohnya saja jika menggunakan ketiga indikator itu, pasti munculnya sinyal-sinyal yang bertepatan dari ketiganya tidak akan sering.

bedakan dengan jika hanya menggunakan bollinger bands dan trendline seperti contoh di atas, dimana ada 4 titik entry yang tentunya tidak semua memiliki peluang profit sama. untuk mengenali/memfilter mana peluang paling tepat dari situ kadang diperlukan indikator tambahan yang bisa memperlihatkan sinyal entry dari sudut pandang lain.
Oming
Yg pnting uda punya strategi andalan, selalu patuhi aturan yg dibikin. Strategi gag musti terdiri dari banyak indi. Yg pnting uda diuji dn dites terbukti profitable buat trading kita sndiri

Begitu sdh dapet strategi maka musti komit utk disiplin sama aturan strateginya. Misal punya strategi dr MA sm RSI, berarti entry baru kalo dua 2 nya emang ada sinyal untuk entry. Klo cuma slh 1 ato bahkan gag ada dua 2 nya ya jangan entry. Uda begitu aja
Adi Sumiaji
anjuran mantap entri trading pake bb, ternyata selain kembang kempis ada cr entri lain dari bb. entah ini emang anenya ja yang ndak cocok, tapi meskipun dah pake cara ini tetep sering salah.

pas harga udah balik dari bb paling atas ternyata langsung pasang sell juga seringan loss. apa ni karna ane kurang punya konfirmator lain atau emang ada cara pengamatan lain yang belum ane pahami.