Penggunaan Indikator Moving Averages (1)

Moving average (ma) adalah salah satu indikator teknikal untuk pergerakan harga yang sedang trending. Arah gerak garis ma menunjukkan arah trend yang sedang terjadi.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Salah satu indikator teknikal yang sederhana paling populer adalah moving average. Seperti diketahui analisa teknikal adalah sebuah metode untuk mengevaluasi pergerakan harga guna memperoleh prediksi arah pergerakan harga selanjutnya. Evaluasi dilakukan dengan cara menganalisa pola pergerakan harga pada chart (chart pattern) atau secara perhitungan matematika, atau kombinasi keduanya.

Bagi trader forex yang sering menggunakan analisa teknikal, memahami sifat-sifat indikator teknikal sangat diperlukan guna menghindari salah applikasi, misalnya menerapkan indikator untuk pergerakan harga trending ke kondisi pasar yang sideways (ranging) atau sebaliknya, sehingga banyak menimbulkan noise atau kesalahan.

Moving Average (MA) adalah salah satu indikator teknikal untuk pergerakan harga yang sedang trending. Arah gerak garis MA menunjukkan arah trend yang sedang terjadi. Garis MA yang bergerak keatas menunjukkan keadaan uptrend dan yang bergerak kebawah menunjukkan keadaan downtrend. Moving Average adalah nilai rata-rata pergerakan harga pada suatu periode waktu tertentu. Tidak ada ketentuan baku untuk menentukan periode waktu MA, namun untuk jangka menengah biasanya digunakan pergerakan rata-rata dalam 21 hari atau MA-21 daily, sedang untuk jangka panjang umumnya MA-200 daily.

Pada dasarnya moving average ada 3 macam, yaitu:

  • Simple moving average (SMA)
  • Exponential moving average (EMA)
  • Weighted moving average (WMA)


Simple Moving Average (SMA)

SMA mengukur harga rata-rata dalam suatu periode waktu secara sederhana. Misalnya SMA dalam 5 hari, atau SMA-5 daily, berarti harga total selama 5 hari dibagi dengan periode waktu (5). Bergantung dari kebutuhan analisa, harga yang diukur bisa harga pembukaan (opening price), harga penutupan (closing price), harga tertinggi (H), harga terendah (L) atau harga median (H+L) / 2. Untuk analisa praktis, biasanya digunakan harga penutupan.

Berikut contoh untuk menghitung SMA harga penutupan pada periode 5 hari (SMA-5 daily):

Penggunaan Indikator Moving Averages

Untuk mengetahui nilai SMA-5 daily (harga penutupan) pasangan CAD/JPY pada 7 Januari 2011 kita bisa menentukan dengan menjumlahkan harga penutupan harian mulai dari tanggal 3 Januari hingga 7 Januari kemudian dibagi 5, yaitu: (82.22+82.14+83.58+83.58+83.69) / 5 = 83.04.

Sedang nilai SMA untuk hari berikutnya (Senin, 10 Januari), kita jumlahkan harga penutupan mulai tanggal 4, 5, 6, 7 dan 10 Januari kemudian dibagi 5, dan seterusnya untuk hari berikutnya. Demikian juga untuk menghitung SMA pada periode waktu yang berbeda.

Untuk memperhalus fluktuasi harga dan mempermudah dalam melakukan evaluasi, kita bisa memperbesar periode pengukuran SMA seperti pada contoh berikut.

Penggunaan Indikator Moving Averages

Tampak dari gambar di atas bahwa makin kecil periode pengukuran akan makin sensitif tetapi agak sulit untuk membaca trend secara keseluruhan, garis sma terlalu dekat dengan pergerakan harga (candlestick). Pada umumnya untuk SMA daily periode yang sering digunakan adalah 21, 55, 100 dan 200. Lebih besar dari 200 tidak dianjurkan karena kurang sensitif. SMA-200 daily cukup populer digunakan untuk mengetahui garis besar trend yang sedang terjadi.


Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Rusdi Saleh
Ane sudah sering tau indikator tren, tapi indikator yg buat sideways itu yg seperti apa?
Hari Santoso
Indikator yang digunakan saat pasar ranging biasanya melibatkan batas-batas support dan resistan, karena semakin garis-garis tersebut teruji maka semakin valid batas-batas support dan resistan sehingga bisa dijadikan poin untuk entry atau exit posisi.

Ada lagi indikator yang biasanya digunakan saat situasi sideways adalah ATR dan ADX. Biasanya juga ada anjuran untung menggunakan indeks pengukur volatilitas untuk mengetahui volatilitas yang sebenarnya.

Apapun itu, yang perlu ditekankan dari trading pada pasar yang seperti ini adalah untuk tidak menetapkan batasan stop loss yang terlalu ketat.
Bento09
@hari, kykny indi2 yg ente sebutin jg bisa diterapin d situasi trending, kalo sr bukanny bisa juga ditunggu breakoutny untuk tahu tren selanjutny ke arah mana?

menurut ane indi2 kyk gitu lebih fleksibel, daripada indi tren kyk ma yg bakal kurang sesuai kalo ditempatinny d grafik sideways
Rusdi Saleh
To bento: Tampaknya emang begitu ya gan? mungkin nggak ada indikator yg secara khusus disiapkan buat kondisi sideways, tapi analisa tetep bisa manfaatkan indikator lain yang nggak dikhususkan sebagai indikator tren
Monna
mw nanya knp cntoh sma cm d tf daily aja? apa kl d tf yg lbh rendah krg cocok ato gmn?
trus periodesasi sma nya jg bwt trder jngka menengah & pnjng ja,
jd sma g cocok y utk dpsng d tf rndh ato djlnkn oleh trdr jngka pendek??
trims
Martin S
@ Rusdi saleh:
Sideways itu juga nge-trend juga tetapi lemah. Pada kondisi pasar yang seperti ini trader akan mencari batas level range atas atau resistance dan batas range bawah atau support. Strategi trading-nya adalah buy the dip dan sell the rally, bisa baca di sini.
 
Indikator yang cocok untuk kondisi ini adalah indikator oscillator. Yang populer yaitu: RSI, stochastic, CCI dan William Percent Range. Buy saat oversold dan sell saat overbought.
Martin S
@ bento09:
Indikator MA tidak hanya untuk arah trend, tapi bisa juga digunakan sebagai kurva support dan resistance, biasanya disebut dengan support dan resistance dinamis. Jadi ketika pasar sedang sideways indi MA tidak trending atau cenderung datar, dan menunjukkan level support atau resistance dinamis saat itu.

Selain itu MA bisa menunjukkan perubahan kondisi sideways ke trending dengan melihat kemiringan sudutnya (slope-nya), atau ketika terjadi perpotongan (crossing) 2 kurva MA (jika Anda menggunakan 2 indikator MA).
Martin S
@ monna:
Indikator sma berlaku umum, jadi bisa digunakan pada semua time frame dan dengan periode berapapun.

Contoh pada artikel tersebut tf daily karena kebetulan penulis artikel ini yaitu S.A Ghafari adalah seorang trader jangka menengah panjang, tetapi pada prinsipnya sma bisa diapplikasikan pada semua tf.

Begini, cocok atau tidaknya penggunaan indikator termasuk sma tergantung dari cara analisa dan hasil back-test yg telah Anda lakukan. Kalau hasil back-testnya oke, lanjut.
Khusus untuk periodesasi sma: kalau Anda menghitung nilai rata-rata maka semakin banyak sampel datanya tentu akan semakin akurat.

Demikian juga untuk sma, semakin besar periode pengukurannya berarti semakin banyak sampel datanya dan akan lebih akurat, dan sebaliknya. Oleh sebab itu untuk periode yang semakin kecil akurasinya juga rendah. Akurasi rendah berpotensi menimbulkan kesalahan prediksi.

Dari pengalaman saya sarankan kalau Anda trading dengan time frame rendah (1 jam kebawah) bisa dicoba kombinasi sma atau ema (exponential moving average) dengan periode 8, 21 dan 55, amati crossing (perpotongan)-nya, begitu ada kesempatan langsung masuk, risk/reward ratio tidak perlu tinggi.