Macam - Macam Cara Menghitung Pivot Point

127339

Secara umum, ada tiga cara menghitung Pivot Point selain metode standar. Macam - macam Pivot Point tersebut adalah Woodie, Camarilla, dan Fibonacci Pivot Point. Mana diantaranya yang paling akurat?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dalam pembahasan sebelumnya mengenai Pivot Point dalam trading forex, telah disebutkan suatu cara menghitung Pivot Point (PP) beserta Support dan Resistance yang menyertainya. Rumus Pivot Point standar tersebut berupa:

Pivot Point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan)/3

Dalam perkembangannya lebih lanjut, selain perhitungan Pivot Point dengan cara standar, ada beberapa metode untuk menentukan level-level Pivot. Metode tersebut tetap menghasilkan Pivot Point (PP), level-level Resistance (R1, R2, dan seterusnya) dan level-level Support (S1, S2, dan seterusnya). Hanya saja, cara perhitungannya agak berbeda.

Berdasarkan metode perhitungannya, macam - macam Pivot Point yang populer digunakan adalah Woodie Pivot Point, Camarrila Pivot Point dan Fibonacci Pivot Point.

 

Woodie Pivot Point

Metode untuk menghitung Woodie Pivot Point adalah sebagai berikut:

R2 = PP + (H - L)
R1 = (2 x PP)-L
PP = (H + L + 2C)/4
S1 = (2 x PP)-H
S2 = PP - (H + L)

Dalam rumus tersebut, C adalah harga penutupan hari sebelumnya (Close), H adalah level tertinggi hari sebelumnya (High), sedangkan L adalah level terendah hari sebelumnya (Low). 

Dari formula di atas tampak bahwa cara menghitung Pivot Point (PP) berbeda dengan cara standard. Namun, R1, R2, S1 dan S2 dihitung dengan cara yang sama. Berikut tampilan Woodie Pivot Point dibandingkan dengan Pivot standar. Garis titik-titik adalah level-level Pivot yang dihitung dengan cara standar.

Penggunaan Pivot Point

 

Karena ditentukan dengan cara menghitung Pivot Point yang berbeda, maka level-level yang diperoleh juga berbeda meski tidak signifikan. Trader yang merekomendasikan metode ini mempunyai alasan bahwa level PP Woodie lebih memberi tekanan pada harga penutupan hari sebelumnya yang merupakan acuan penting bagi level Pivot. Tentunya mereka telah menguji metode ini sebelum membuat kesimpulan. Namun demikian, penerapannya dalam trading sama dengan metode standar, terutama untuk entry dengan cara bouncing ataupun breakout.

 

Camarilla Pivot Point

Metode untuk menghitung Camarilla Pivot Point adalah sebagai berikut:

R4 = C + ((H-L) x 1.5000)
R3 = C + ((H-L) x 1.2500)
R2 = C + ((H-L) x 1.1666)
R1 = C + ((H-L) x 1.0833)
PP = (H + L + C) / 3
S1 = C - ((H-L) x 1.0833)
S2 = C - ((H-L) x 1.1666)
S3 = C - ((H-L) x 1.2500)
S4 = C - ((H-L) x 1.5000)

Bagi yang belum terbiasa dengan perhitungan Camarrila Pivot, maka metode ini terkesan agak kompleks karena harus menentukan 8 level utama, yaitu 4 level Resistance dan 4 level Support. Selain itu, metode ini juga menggunakan besaran pengali (multiplier) tertentu yang merupakan ciri utama Camarrila Pivot. Konsep utama metode ini adalah secara alami pergerakan harga akan cenderung kembali ke level rata-ratanya, atau dalam hal ini, harga penutupan hari sebelumnya.

Meski level PP sama dengan hasil perhitungan metode standar, tetapi dengan faktor besaran pengali tersebut maka muncul perbedaan pada Support dan Resistance. Level-level Resistance tidak mesti berada di atas level PP, sedangkan level-level Support tidak selalu di bawah level PP seperti pada contoh berikut (garis titik-titik adalah level-level Resistance atau Support yang dihitung dengan cara standar). 

Pada contoh di bawah ini tampak level support S1 dan S2 berada di atas level Camarrila PP.

Penggunaan Pivot Point

 

Fibonacci Pivot Point

Fibonacci Pivot Point adalah kombinasi antara level-level Fibonacci Retracement dan level-level Pivot Point, yang ditentukan dengan formula sebagai berikut:

R3 = PP + ((H-L) x 1.000)
R2 = PP + ((H-L) x 0.618)
R1 = PP + ((H-L) x 0.382)
PP = (H + L + C)/3
S1 = PP - ((H-L) x 0.382)
S2 = PP - ((H-L) x 0.618)
S3 = PP - ((H-L) x 1.000)

Dalam hal ini, metode perhitungan Pivot Point sama dengan metode standar. Namun, level-level Resistance dan Support harus dikalikan dengan level Fibonacci Retracement, yaitu 38.2% atau 0.382, 61.8% atau 0.618, dan 100% atau 1.000. Tujuan dari kombinasi Pivot Point dan Fibo Retracement ini guna meningkatkan ketelitian dalam menentukan acuan level Resistance dan Support.

Perhatikan contoh berikut (garis titik-titik adalah level-level Resistance atau Support yang dihitung dengan metode standar):

Penggunaan Pivot Point

 

Karena pengaruh faktor pengalian Fibo Retracement, maka level R1 dan R2 untuk Fibo Pivot lebih kecil dibanding hasil perhitungan Pivot Standard. Demikian pula level S1 dan S2 Fibo Pivot lebih besar dari Pivot standar. Karena Fibo Retracement sering digunakan untuk trading dengan cara bouncing, maka Fibo Pivot juga digunakan dengan cara yang sama, terutama setelah pergerakan harga menembus level PP.

 

Pivot Point Mana Yang Paling Akurat?

Diantara empat cara menghitung Pivot Point tersebut, metode mana yang paling akurat? Pivot Point, seperti halnya alat bantu prediksi yang lain, tidak ada yang bisa dikatakan paling akurat. Mungkin metode standar bisa akurat pada suatu waktu, tetapi pada saat lain Camarilla Pivot lebih akurat.

Meski demikian, yang umum dan paling populer adalah metode standar, kemudian disusul Fibo Pivot. Sedangkan bagi Scalper lebih menyukai menggunakan Camarilla Pivot karena range trading mereka cenderung sangat sempit.

Trader pada umumnya menggunakan level Pivot Point (standar) terutama untuk mengetahui sentimen pasar, baru kemudian level Resistance dan Support-nya. Biasanya Pivot Point dikombinasikan dengan indikator teknikal lainnya sebagai konfirmator seperti indikator oscillator (MACD, Stochastic, RSI) atau indikator trend (Moving Averages, ADX).

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Sugengefendi
ane masih kabur sama strategi trading dengan pivot point ini
Dimas Angga R
Jadi yg trading agresif posisi sl nya ga boleh terlalu jauh dari garis sr nya, tapi kalo konservatif perlu lebih tinggi/rendah dari garis sr cuz yang dicari bounce bukan break dari sr itu sendiri
Pipin Fx
yg jls saat yg plg gak tpt bwt entri tu y wkt hrg msh bolak balik d sktrn pivot point itu. kl udh gt apapun cr trdngx agresif / konsrvtf lbh aman tnggu konfirmasi trdng dr indi lain / pergrkn slnjtx spy riskx gak trlalu bsr.
Dimas Angga R
@Pipin: Setuju, walaupun untuk trader agresif sekalipun akan sangat susah menentukan pergerakan selanjut nya kalo ada sideways di daerah pivot. Lagipula pivot poin belu tentu juga bisa terus jadi pengenal tren untuk trading dalam waktu tertentu. Seperti waktu harga dibuka diatas/dibawah level pivot belum bisa dijadiin acuan juga, terutama kalo sudah ada breaking news pasti reponnya akan sangat berbeda
Echi Adnan
Tren lebih mudah terlihat saat tren sudah melewati S1 atau R1. Sebelum melewati batas itu, trader breakout belum terlalu aman untuk melakukan entri posisi.