OctaFx

iklan

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting

179091

Pada dasarnya, ada 4 jenis indikator teknikal yang diandalkan dan sering digunakan para trader forex. Berikut ulasan selengkapnya.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Banyak trader forex yang berusaha menemukan momentum trading yang tepat dengan mencoba berbagai indikator teknikal. Selain itu, mereka juga mengharapkan indikator teknikal yang digunakan dapat menghasilkan profit maksimal. Namun, dalam prakteknya, tidak ada formula pasti dalam trading yang bisa selalu menghasilkan profit. Oleh karenanya, trader harus mempelajari berbagai indikator teknikal untuk menyusun formula trading suksesnya sendiri.

Pada dasarnya, indikator teknikal forex dapat digolongkan menjadi empat jenis. Yaitu indikator yang menunjukkan arah trend (trend-following), indikator yang mengkonfirmasi arah trend (trend confirmation), indikator yang menunjukkan overbought dan oversold, serta indikator yang membantu menentukan level exit (profit taking). Berikut rinciannya.

 

1. Indikator Teknikal Yang Menunjukkan Arah Trend (Trend-Following)

Pergerakan harga di pasar forex tak hanya ke satu arah saja, melainkan bisa naik-turun. Kenaikan dan penurunan itu sendiri dapat terjadi dalam satu waktu saja, ataupun satu periode secara terus menerus. Ketika pergerakan harga terjadi terus menerus, maka terbentuklah yang dinamakan trend.

Walaupun mungkin bisa profit dengan cara trading melawan arah trend, tetapi kebanyakan trader berusaha untuk bisa masuk pasar sesuai dengan arah trend utama. Telah terbukti bahwa cara trading dengan mengikuti arah trend (trend-following) sangat profitable.

Apa maksudnya strategi trend-following? Trend-following adalah menentukan kapan Anda harus buy atau sell secara searah dengan trend pasar yang sedang berlangsung.

Bagaimana cara kita mengetahui trend apa yang sedang berlangsung? Nah, pelacakan keadaan trend yang dimaksud bisa dilakukan oleh indikator yang mengikuti arah trend. Salah satu indikator teknikal bersifat trend-following yang sederhana, cukup powerful dan banyak digunakan adalah Simple Moving Average (SMA).

Untuk melacak trend dengan menggunakan Simple Moving Average, maka kita perlu memasang dua indikator SMA dengan periode berbeda, misalnya SMA-50 Day dan SMA-200 Day. Berikut contoh pelacakan trend dengan metode perpotongan 2 garis kurva SMA:

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting

Grafik EUR/USD Daily yang telah dipasangi SMA-50 Day dan SMA-200 Day di atas dapat dibaca bahwa:

  • Uptrend terjadi apabila garis kurva SMA-50 Day (periode waktu jangka pendek) berada di atas garis kurva SMA-200 Day (periode waktu jangka panjang).
  • Downtrend terjadi bila garis kurva SMA-50 Day berada di bawah SMA-200 Day.
  • Ketika pergerakan harga berada tepat pada garis kurva, berarti pasar sedang berkonsolidasi.
  • Ketika terjadi perpotongan antara SMA-50 Day dan SMA-200 Day, maka akan terjadi pergantian arah trend. Apabila SMA-50 Day melintasi SMA-200 Day ke arah bawah, berarti Uptrend berubah menjadi Downtren. Sedangkan jika SMA-50 Day melintasi SMA-200 Day ke arah atas, berarti Downtrend berubah menjadi Uptrend.

Dengan menggunakan indikator teknikal ini, Anda bisa entry buy ketika harga bergerak di atas garis kurva SMA periode pendek (SMA-50 day) yang menunjukkan Uptrend sangat kuat, atau sell ketika harga bergerak di bawah garis kurva SMA periode pendek yang menunjukkan Downtrend sedang kuat. Hindari entry ketika pasar sedang konsolidasi, yaitu ketika harga bergerak tepat pada garis kurva SMA periode pendek.

Probabilitas trading yang tinggi akan terjadi ketika terjadi perpotongan antara kedua garis kurva SMA. Entry sell ketika garis kurva SMA-50 day telah memotong garis kurva SMA-200 day dari atas ke bawah. Kemudian entry buy ketika garis kurva sma-50 Day telah memotong garis kurva SMA-200 Day dari bawah ke atas.

 

Kelemahan Indikator Teknikal SMA

Indikator teknikal penunjuk arah trend yang paling populer adalah SMA, tetapi besar kemungkinan akan terjadi kesalahan sinyal akibat keterlambatan indikator ini dalam merespon perubahan harga. Ini merupakan kelemahan utama SMA, berapapun kombinasi periode yang Anda terapkan. Namun, makin kecil periode yang Anda gunakan pada SMA, maka akan semakin rawan kesalahan. Sebagai contoh berikut penggunaan SMA-10 Day dan SMA-30 Day pada EUR/USD Daily yang sama dengan contoh di atas akan menampilkan:

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting

Jika Anda amati, respon kedua garis kurva SMA tersebut jauh lebih cepat dibanding SMA-50 Day dan SMA-200 Day pada contoh sebelumnya, tetapi tingkat akurasinya lebih rendah, terutama bila pergerakan harga pasar sedang ranging (sideways). Sebaliknya, kombinasi SMA-50 Day dan SMA-200 Day lebih akurat dalam menunjukkan arah trend, tetapi lebih lambat dalam merespon perubahan harga. Ketika garis kurva keduanya berpotongan, arah trend pergerakan harga sudah terlebih dahulu berubah.

Dalam prakteknya, tidak ada periode kombinasi yang paling akurat untuk indikator SMA. Anda mesti mencoba-coba mana kombinasi paling tepat bagi time frame tertentu yang Anda gunakan. Terlepas dari semua itu, Moving Average adalah murni indikator arah trend yang paling banyak digunakan trader.

 

2. Indikator Teknikal Untuk Konfirmasi Arah Trend (Trend Confirmation)

Setelah kita mempunyai indikator penentu arah trend, maka tentunya kita akan bertanya sampai seberapa handalkah arah trend yang kita peroleh?

Seperti telah disebutkan sebelumnya, indikator arah trend yang kita punya selalu rawan terjadi kesalahan sinyal. Oleh karenanya, sangat diperlukan sebuah indikator tambahan yang mengukur apakah arah yang ditunjukkan oleh indikator SMA tersebut sudah benar atau malah salah. Meski demikian, indikator ini tidak dimaksudkan sebagai konformasi untuk entry, melainkan hanya untuk mengkonfirmasi arah trend yang ditunjukkan indikator SMA.

Indikator konfirmator trend yang paling populer adalah Moving Average Convergence Divergence (MACD). Pada intinya, jika indikator SMA dan MACD mengisyaratkan bullish, maka persepsi trader adalah buy. Sebaliknya, jika keduanya mengisyaratkan bearish maka persepsinya adalah sell. Berikut contoh sebelumnya yang kita kombinasikan dengan indikator MACD sebagai konfirmator trend (biru: kurva MACD, merah: kurva sinyal):

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting

Arah trend bisa dikonfirmasikan dengan pergerakan garis kurva MACD itu sendiri, maupun garis-garis histogram OSMA (Oscillator's Moving Average).

Tampilan trend garis kurva MACD mencerminkan trend pergerakan harga. Ketika sedang bergerak uptrend akan terbentuk titik-titik higher highs (level tinggi yang makin tinggi), baik pada pergerakan harga maupun pada kurva MACD. Demikan juga ketika bergerak downtrend, akan terbentuk titik-titik lower lows (level rendah yang makin rendah) pada keduanya. Saat kurva MACD dan kurva sinyal berpotongan, maka kemungkinan akan terjadi perubahan arah trend.

Selain itu, arah trend juga bisa dikonfirmasikan dengan garis histogram OSMA. Area histogram OSMA yang berada di atas garis nol menunjukkan keadaan bullish, sedangkan jika OSMA di bawah garis nol maka menunjukkan keadaan bearish. Makin tinggi garis OSMA, makin kuat trend yang sedang terjadi. Cara konfirmasi ini bisa dikatakan sederhana, tetapi cukup akurat.

Setelah kita tahu arah trend yang sedang terjadi, dan telah terkonfirmasi pula, maka kita sudah punya acuan untuk entry dan akan lebih percaya diri. Nah, kapan momen yang paling tepat untuk entry, dan bagaimana menentukan kapan harus exit? Keduanya perlu indikator tambahan yang akan kita ulas pada bagian selanjutnya.

 

3. Indikator Momentum Untuk Entry (Indikator Overbought Dan Oversold)

Setelah kita mengetahui arah trend dan mengkonfirmasikannya, langkah berikutnya adalah mencari peluang yang tepat untuk entry.

Jika kita langsung entry begitu saja, maka kita tidak tahu kondisi kekuatan trend saat itu, apakah masih kuat atau telah mendekati level jenuhnya. Level jenuh artinya rawan terjadi koreksi (retracement), dan koreksi yang berlanjut bisa menyebabkan arah pergerakan harga berbalik arah (reversal). 

Banyak trader yang entry dengan menunggu harga pullback atau kembali bergerak sesuai arah trend seusai koreksi. Momentum saat pullback adalah waktu yang tepat untuk entry.

Indikator momentum digunakan untuk mengetahui tingkat kejenuhan suatu pergerakan harga, dan tingkat kejenuhan diukur dengan keadaan overbought (jenuh beli) dan oversold (jenuh jual). Indikator teknikal yang menunjukkan keadaan tersebut merupakan indikator tipe oscillator, dan yang populer adalah Relative Strength Index (RSI) dan stochastic.

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting

Sinyal trading lazimnya diperoleh dari kondisi overbought dan oversold. Aturan yang berlaku adalah:

  • Kondisi overbought diperoleh bila garis RSI memotong level 70. Segera entry sell.
  • Kondisi oversold bila garis RSI memotong level 30. Segera entry buy.

Dalam trading dengan indikator teknikal, faktor yang paling penting adalah penyesuaian (matching) antara pergerakan harga dengan pergerakan indikator teknikal pada saat yang bersamaan. Dalam hal ini, saat entry bisa disesuaikan dengan pergerakan indikator Moving Average. Entry buy akan lebih kuat saat garis moving average periode pendek berada di atas periode yang lebih panjang, dan sebaliknya.

 

4. Indikator Teknikal Untuk Menentukan Level Exit (Profit-Taking)

Setelah entry, kita harus mengetahui level yang paling optimal untuk exit dari pasar, tidak hanya berdasarkan perkiraan semata. Dalam hal contoh di atas, RSI bisa digunakan juga sebagai indikator untuk exit atau Take Profit.

Untuk posisi buy, trader bisa exit ketika RSI mencapai level overbought. Sebaliknya untuk posisi sell, lakukan exit ketika RSI mencapai level oversold. Karena RSI kurang cocok digunakan untuk kondisi trending, maka untuk menghindari kesalahan, trader juga bisa menggunakan indikator Bollinger Bands (BB).

4 Jenis Indikator Teknikal Yang Penting
Untuk posisi buy, trader bisa exit ketika harga telah menembus Upper Band (pita atas Bollinger Bands). Sedangkan untuk posisi sell, trader bisa exit ketika harga menembus Lower Band (batas bawah Bollinger Bands. Selain itu, untuk lebih memaksimalkan profit trader bisa menerapkan teknik Trailing Stop.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.