Pengertian Tingkat Inflasi Tahunan

Tingkat inflasi tahunan mengukur perubahan harga dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya. Bank-bank sentral menentukan target wajar yang harus dicapai, yaitu 2%.

iklan

Advertisement

iklan

Advertisement

Tingkat inflasi kembali menjadi perhatian pasar minggu ini sehubungan dengan akan dirilisnya data CPI Inggris, Selandia Baru, kawasan Euro dan Canada. Inggris tak begitu risau dengan inflasi setelah CPI total tahunannya (y/y) naik 1.9% dan CPI inti y/y naik 2.0% sesuai dengan target bank sentral (BoE). Data CPI ini kemarin sempat menyebabkan GBP/USD menguat lebih dari 100 pip. Minggu ini bank sentral Inggris dan Selandia Baru sedang fokus dengan data inflasi menyusul kenaikan suku bunga yang sedang direncanakan, sebaliknya bank sentral kawasan Euro (ECB) sedang merencanakan program stimulus sehubungan tingkat inflasi tahunan kawasan yang rendah. Apa sebenarnya tingkat inflasi tahunan itu dan apa dampak perubahannya?

                                           Pengertian Tingkat Inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa yang kita beli. Tingkat inflasi tahunan mengukur perubahan harga (lebih tinggi atau lebih rendah) dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan perubahan biaya hidup kita. Jika semisal tingkat inflasi bulan Januari 3%, artinya harga-harga barang dan jasa yang kita beli lebih mahal 3% dibandingkan dengan bulan Januari tahun sebelumnya. Dengan kata lain untuk membeli barang dan jasa yang sama kita mesti mengeluarkan biaya lebih 3%.

Kita membandingkan tingkat harga pada bulan yang sama ditahun sebelumnya untuk memperoleh gambaran apakah kenaikan harga tersebut lebih tinggi atau lebih rendah. Jika tingkat harga naik dari 2% pada bulan Desember ke 3% pada bulan Januari artinya tingkat kenaikannya lebih cepat, atau laju inflasinya tinggi. Jika tingkat harga turun dari 2% pada bulan Desember ke 1% pada bulan Januari artinya harga barang dan jasa tetap lebih mahal tetapi tidak setinggi jika tingkat kenaikannya 3%.

Deflasi dan hiper inflasi
Bagaimana dengan tingkat inflasi yang negatif? Jika tingkat inflasi tahunan negatif, misalnya -1%, ini artinya harga-harga barang dan jasa yang kita beli lebih murah 1% dibandingkan bulan yang sama setahun lalu. Tingkat inflasi yang terus turun hingga ke angka negatif memang akan membuat biaya hidup lebih ringan, tetapi jika ini berlangsung terus menerus kita akan segera merasakan dampak negatifnya akibat menurunnya aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Penurunan tingkat inflasi yang terus menerus dinamakan deflasi. Jika ini terjadi maka tingkat pengangguran akan meningkat akibat produksi sektor industri yang turun tajam sebagai dampak keuntungan yang merosot, juga retailer dan wholesaler yang menutup usahanya.

Sebaliknya jika tingkat inflasi tahunan terus menerus tinggi, maka akibatnya akan mengurangi pendapatan riil bagi kelompok yang berpenghasilan tetap, mengurangi efisiensi produksi (terjadi perubahan alokasi produksi) akibat permintaan terhadap barang tertentu naik tajam. Dalam kasus tingkat inflasi yang sangat tinggi (hiper inflasi) maka nilai mata uang akan turun tajam dan transaksi akan mengarah ke barter, yang biasanya diikuti dengan turunnya produksi barang. Hiper inflasi terakhir kali terjadi di negara Zimbabwe.

Target inflasi bank sentral
Untuk menghindari hiper inflasi dan deflasi, maka perubahan tingkat inflasi tidak boleh terlalu tinggi atau terlalu rendah. Bank sentral negara-negara mata uang utama menentukan target tertentu yang harus dicapai. Tingkat inflasi tahunan yang dinilai wajar oleh bank-bank sentral saat ini adalah 2%.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Yoyo
Trimakasih banyak atas info ini,
Semoga sukses selalu :)
Solikin Bae
berarti utk skrg ini yg bisa jd acuan 2% itu? kalau nanti ada yg naik atau turun dari situ bisa terbilang negatif?
Epep Lesmana
2% itu hanya jadi target mayoritas dari bank-bank sentral saat ini. Sementara tingkat inflasi yang naik atau turun dari level itu tidak dapat langsung dikatakan memburuk. Saat ini saja banyakk negara yang tingkat inflasinya masih di sekitaran 1% bahkan juga 0%.

Yang paling penting untuk diamati adalah progres peningkatan dari inflasi itu, apakah setiap rilisnya bisa meyakinkan, sesuai atau tidak dengan ekspektasi, secara keseluruhan pasti nanti bisa menilai sendiri perkembangan seperti apa yang sudah mendekati target atau belum.

Pencapaian target memang penting, tapi dalam prakteknya proses pencapaian itu juga krusial untuk melihat sentimen dari kondisi ekonomi suatu negara secara berkala.
Solikin Bae
@epep,oo begitu ya bos, ane masih agak bingung kalo disuruh baca2 rilis data yg begituan, maklum masi belajaran, pertama2 udah dihajar sama teknikal, trus pikirnya sih gampang aja kalo dari fundamental, eh ternyata ada acuan2ny juga dan yg kaya gin2 ini yg suka bikin agak pusing
Leon Z
Solikin. Ngapain pusing gan. Kuncix asal bisa baca kalender forex pasti bisa lancar analisax...

Btw zimbabwe masih hiperinflasi ga ya?
Martin S
@ solikin bae:
ya, itu acuan dari beberapa bank sentral negara mata uang utama (The Fed, BoJ, BoE, SNB).
Angka 2% itu untuk patokannya, jadi kalau naik (lebih tinggi dari 2%) diusahakan untuk diturunkan, dan kalau turun (kurang dari 2%) diusahakan untuk dinaikkan.

Kalau inflasinya negatif misalnya -0.5% berarti kurang dari 2%, maka harus diusahakan untuk dinaikkan. Inflasi yang naik terus-menerus akan sulit dikendalikan dan disebut hyperinflasi, sedang yang turun terus-menerus disebut deflasi. Keduanya sama-sama berbahaya bagi perekonomian jika tidak cepat dikendalikan.

Saat ini beberapa negara mata uang utama sedang dilanda deflasi terutama Jepang dan kawasan Euro, dan mereka mencoba mengendalikannya dengan program quantitative easing (QE) dari bank sentral masing-masing, sementara di Swiss dengan cara menerapkan suku bunga negatif...
Fani
Hiper inflasi bahaya banget bro, serem banget jangan sampai Indonesia kena hiper inflasi itu..
Martin S
@ Fani:
Di Indonesia pernah terjadi hiper inflasi yaitu sebesar 650% per tahun pada awal pemerintahan orde baru, tetapi bisa diperbaiki dan setelah tahun 1988 hingga pertengahan tahun 90-an inflasi selalu dibawah 10%.

Tetapi pada akhir 1998 saat terjadi krisis moneter inflasi tahunan kembali naik ke angka 82%. Saat ini inflasi tahunan di Indonesia berada pada angka 3.33% per bulan Mei 2016.
Lutfi Ikhsan
Kalau di Indonesia sendiri, BI menentukan target inflasi berapa Pak? lalu apa kebijakannya sudah sesuai dengan target tersebut kah? Terimakasih
Martin S
@ Lutfi Ikhsan:
Target inflasi Bank Indonesia per tahun 2015 adalah sebesar 4% dengan deviasi plus minus 1%. Per bulan Mei 2016 lalu sudah memenuhi target karena inflasi tahunan di Indonesia pada bulan tersebut adalah 3.33%.