Advertisement

iklan

Trading Forex Bukan Soal Bullish Atau Bearish

210826

Keputusan yang benar dalam trading forex tidak harus salah satu "sell" saja atau "buy" saja. Teknik analisa untuk mencapai keputusan yang menghasilkan profit pun tidak hanya satu.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Banyak yang mengatakan bahwa "kebenaran itu relatif". Sesuatu yang benar bagi satu orang, bisa jadi salah bagi orang lain, dan demikian pula sebaliknya. Tetapi tahukah Anda, bahwa hal yang sama berlaku juga dalam forex!?

Kebanyakan orang berpendapat bahwa dalam kondisi pasar tertentu, trader hanya akan profit bila membuka posisi "sell" saja atau "buy" saja. Demikian pula, seringkali trader berdebat, apakah teknikal lebih baik, ataukah fundamental lebih unggul. Padahal, keputusan yang benar dalam trading forex tidak harus salah satu "sell" saja atau "buy" saja. Teknik analisa untuk mencapai keputusan yang menghasilkan profit pun tidak hanya satu.

Meraih Untung Dengan Long Dan Short

Dalam newsletter-nya akhir pekan lalu, analis forex Boris Schlossberg menuturkan bagaimana ia dan kawannya yang juga salah satu trader di DailyFX, Jamie Saettele, mengambil posisi berbeda pasca pengumuman ECB yang menggemparkan pasar. Saettele dikatakan bertrading hanya dengan menganalisa pola-pola Elliott Wave, sementara Schlossberg terkenal sebagai analis fundamental yang handal dan banyak dilansir media internasional seperti CNBC, Bloomberg, dan Reuters. Pasca pengumuman ECB bulan November 2014 tersebut, Saettele membuka posisi "long" pada pair EURUSD, sedangkan Schlossberg melakukan "short" di pair yang sama. Sebagaimana bisa dilihat dalam screenshot yang mereka bagi di twitter berikut ini, keduanya sama-sama bisa mengantongi profit.

Jamie Saettele
Boris Schlossberg
Bagaimana bisa? Menurut Schlossberg, kuncinya ada pada level entry dan exit. Baik Ia maupun Saettele berfokus pada level entry dan exit kunci berdasarkan analisa mereka masing-masing.

Pentingnya Level Entry Dan Exit

Trader forex, khususnya pemula, sering salah paham. Mereka menganggap bahwa trading adalah tentang bagaimana menebak arah pergerakan harga selanjutnya. Padahal, sekedar mengetahui harga akan bullish atau bearish saja tidak cukup.   

Mari umpamakan, si fulan memprediksi EUR/USD akan bergerak bearish karena secara fundamental, Dolar AS akan menguat. Karena itu, si fulan melakukan "sell" pada 1.248 dengan harapan EUR/USD akan bergerak kebawah. Tetapi, setelah itu EUR/USD malah bergerak naik hingga 1.257. Si fulan mengalami loss karena titik stop loss atau margin call-nya tersentuh. Tetapi justru setelah mencapai 1.257 itu lah EUR/USD bergerak kembali kebawah. Sesuai prediksi si fulan, EUR/USD memang bearish, terus merosot hingga 1.236, namun kejadian itu hanya berlangsung setelah EUR/USD naik dulu dan ia mengalami kerugian.

Dari contoh tersebut bisa kita simpulkan, sekedar mampu memprediksi arah pergerakan harga saja tidak cukup. Tanpa strategi entry yang tepat, seorang trader bisa jadi membuka posisi secara prematur, dan akhirnya bukannya meraih profit malah menuai loss. Tanpa strategi exit yang tepat juga, seorang trader rentan menyesal karena profit yang didapat tidak maksimal, atau membiarkan posisi floating kelamaan. Oleh karena itu, penting bagi seorang trader untuk mengetahui titik-titik entry dan exit yang tepat.

Level entry dan exit perlu direncanakan sebelum membuka posisi trading. Bersama dengan perencanaan tersebut, Anda juga perlu membuat rencana cadangan; apa yang akan dilakukan jika begini, dan apa yang akan dilakukan jika begitu. Skenario kejadian yang berbeda menuntut tindak lanjut yang berbeda. Misalnya, jika level sekian tertembus, lalu apakah Anda akan stop loss, menjalankan trailing stop, atau malah membuka posisi lagi (averaging).

Ada berbagai teknik yang bisa dimanfaatkan untuk menentukan level entry dan exit, baik itu secara teknikal maupun fundamental. Secara teknikal, pivot point, fibonacci, dan lain-lain, merupakan beberapa indikator yang banyak digunakan. Seorang trader berbasis fundamental pun bisa menetapkan level kunci baik secara psikologis ataupun dengan bantuan indikator tertentu untuk menentukan pada support dan resisten berapa ia mengharapkan harga akan berbalik. Schlossberg dan Saettele telah membuktikan bahwa tak peduli bagaimana cara Anda menganalisa harga, baik teknikal maupun fundamental, Anda tetap bisa profit asalkan bisa entry dan exit di saat yang tepat.

Trader forex bisa memperoleh keuntungan baik dari kenaikan harga maupun penurunan harga, tetapi hal itu akan bergantung pada kemampuan trader dalam mendeteksi level entry dan exit, bukan semata soal mengetahui ke arah mana suatu pair akan bergerak atau apakah harga sedang bullish atau bearish. Ini adalah pesan yang perlu diperhatikan baik-baik jika Anda ingin sukses dalam bertrading.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Rosa Singgih
Hmm, entry-exit itu maksudnya seberapa lama kita pasang posisi order yah? Soalnya kadang emang bikin deg-degan juga , meski cuma masih akun demo sih >.<  tapi rasanya mencapai profit setinggi2nya itu yang bikin lupa fokus ha3
A. Muttaqiena
Entry-Exit bukan hanya dimaksudkan tentang berapa lama order berjalan, tapi juga di titik-titik harga mana kita melakukan order buy/sell dan di harga berapa akan di-close.
Yuni
masih belum mudeng kenapa Jamie dan Borish sama2 untung, padahal posisi mereka berbeda
A Muttaqiena
Bisa sama-sama untung, karena momen ketika mereka masuk pasar (buka posisi) itu berbeda. Pada timeframe yang sama, grafik bisa naik dan turun. Setelah harga naik, pasti akan ada masanya turun, sedangkan setelah harga turun, pasti akan ada masanya naik. Pada screenshot, nampak bahwa posisi pertama Boris melakukan sell tepat saat EUR/USD turun, sehingga dia untung. Setelah harga jatuh dan menunjukkan tanda-tanda rebound, Jamie open posisi pertamanya dengan buy, sehingga dia juga untung. Inilah pentingnya momen entry dalam trading. Coba kalau Boris terlambat open, baru buka posisi setelah harga jatuh, maka dia bakal rugi. Demikian pula kalau Jamie open terlalu dini, kemudian masih menghadapi harga jatuh (bukannya naik), maka dia juga pasti rugi.
Yuni
Luar biasa, Boris dan Jamie benar2 trader yg pro... bisa menebak posisi dgn sangat akurat dan tepat... Padahal mereka beresiko rugi klw telat open / terlalu dini open.... insting para sultan memang dahsyat
A Muttaqiena
Sebenarnya bukan insting, melainkan hasil analisa pasar. Mereka berdua menerapkan metode analisa yang berbeda, sehingga hasil analisanya menunjukkan momen entry yang berbeda pula. Dan dua-duanya bisa profit. Ini artinya, kita sebagai trader bisa menggunakan metode analisa berbeda-beda, entry pada posisi berbeda-beda, asalkan momennya tepat maka bisa profit. Tak boleh dilupakan juga tentunya, menerapkan money management yang baik.
Ko Erick
Jadi intinya kita gak boleh lama2 di floating position ya mbak? Harus tau, kapan momen "open" yang tepat, dan kapan momen "closing" yang tepat. Menurut saya sih buru2 closing lebih baik, ketimbang telat closing. Kalau sudah keliatan profit banyak, sebaiknya bergegas closing position dan ambil profit-nya. Setelah itu tinggal ngopi, makan, dan nonton TV. Saat fokus dan konsentrasi sudah prima lagi, baru lanjut open position, terus terapkan hal yang sama diatas. 
A Muttaqiena
Mengenai berapa lama posisi floating, itu seharusnya bukan lebih lama atau lebih cepat, melainkan sesuai dengan analisa masing-masing. Jika hasil analisa mengindikasikan harga akan berbalik arah padahal sudah profit, ya segera di-close.