Dasar-Dasar Strategi Trading Dengan Price Action

Formasi bar pada price action mencerminkan sentimen para pelaku pasar, dan bisa memberikan petunjuk awal atau sinyal arah pergerakan harga selanjutnya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pada dasarnya price action adalah rentetan pergerakan harga dari waktu ke waktu, dan analisa price action dilakukan dengan mengamati formasi bar candlestick. Berikut ini beberapa istilah dalam trading dengan price action:

Dasar-Dasar Strategi Trading Dengan Price

  • Up Bar

Disebut juga dengan ‘bullish bar’, yaitu bar dengan level high yang lebih tinggi dari high sebelumnya (higher high) dan level low yang lebih tinggi dari low sebelumnya (higher low). Rentetan dari up bar pada gambar diatas menunjukkan pergerakan uptrend. Pada umumnya harga penutupan dari up bar tersebut lebih tinggi dari harga pembukaannya, tetapi bisa juga lebih rendah seperti yang tampak pada bar candlestick berwarna hitam pada rentetan up bar gambar diatas. Meski demikian bar tersebut termasuk dalam up bar karena level tertinggi dan terendahnya masih lebih tinggi dari level tertinggi dan terendah bar sebelumnya. Rentetan up bar tersebut menunjukkan bahwa saat itu buyer atau ‘the bulls’ sedang mengendalikan pasar.

  • Down Bar

Disebut juga dengan ‘bearish bar’, yaitu bar dengan level high yang lebih rendah dari high sebelumnya (lower high) dan level low yang juga lebih rendah dari low sebelumnya (lower low). Rentetan down bar pada gambar diatas menunjukkan pergerakan downtrend, dan menunjukkan bahwa saat itu seller atau ‘the bears’ sedang mengendalikan pasar.

 

Inside Bar adalah bar dengan level high yang lebih rendah dari high sebelumnya dan level low yang lebih tinggi dari low sebelumnya. Banyak trader yang menganggap bar dengan level high atau low yang sama dengan bar sebelumnya sebagai inside bar. Formasi bar yang seperti ini menunjukkan ketidak-pastian pasar atau keadaan konsolidasi dimana buyer dan seller saling menunggu, jika menembus level tertinggi bar sebelumnya maka buyer yang menang dan sebaliknya jika menembus level low bar sebelumnya maka seller yang menang dan mengendalikan pasar.

 

  • Outside Bar

Outside Bar disebut juga dengan ‘mother bar’, yaitu bar yang ‘menelan’ inside bar, atau pada formasi engulfing bar adalah bar yang ‘menelan’ bar sebelumnya. Pada prinsipnya outside bar adalah bar dengan level high yang lebih tinggi dari level high bar sebelumnya atau bar sesudahnya, dan level low yang lebih rendah dari level low bar sebelumnya atau bar sesudahnya.

Dalam istilah candlestick, kombinasi formasi outside bar dan inside bar sering disebut juga dengan ‘harami’. Pada contoh diatas level penutupan outside bar lebih tinggi dari level pembukaannya yang menunjukkan buyer sedang mengendalikan pasar sebelum terjadi konsolidasi.


Sinyal Trading Dari Price Action

Formasi bar pada price action mencerminkan sentimen para pelaku pasar, dan bisa memberikan petunjuk awal atau sinyal arah pergerakan harga selanjutnya. Sinyal atau isyarat dari price action biasanya ditunjukkan oleh terbentuknya pin bar yang merupakan bar dengan ekor (sumbu) yang lebih panjang dari body-nya. Semakin panjang ekor berarti semakin kuat sentimen penolakan pada level harga tertentu.

Dalam keadaan pasar yang sedang trending, pin bar biasanya mengisyaratkan akan terjadinya pergerakan reversal atau yang berlawanan dengan trend saat ini, dan pin bar tersebut sering dinamakan pin bar reversal. Berikut beberapa pin bar reversal dimana salah satunya gagal (failed) atau merupakan sinyal trading yang salah (false signal):

 Dasar-Dasar Strategi Trading Dengan Price


Faktor-Faktor Pendukung Sinyal Trading Dari Price Action

Untuk menghindari kemungkinan kesalahan seperti pada gambar di atas, maka diperlukan faktor-faktor pendukung yang mengkonfirmasi sinyal trading dari price action tersebut. Sehingga, trader bisa memilih sinyal yang probabilitasnya paling tinggi, yaitu yang dikonfirmasi oleh beberapa faktor pendukung.

Konfirmator atau faktor pendukung tersebut adalah level-level support dan resistance, arah trend serta indikator teknikal. Indikator yang sering digunakan adalah moving average untuk mengkonfirmasikan arah trend. Berikut contoh sinyal trading (pin bar) dengan 3 faktor pendukung:

 

Dasar-Dasar Strategi Trading Dengan Price

 

Tampak pin bar yang terbentuk dikonfirmasi oleh 3 faktor, yaitu: arah trend (downtrend), penolakan oleh resistance garis horisontal (gagal menembus resistance tersebut), dan juga penolakan oleh resistance dinamis yaitu area antara kurva indikator exponential moving average (EMA) 21 dan ema 8. Dengan demikian probabilitas keberhasilan entry sell setelah pin bar adalah tinggi.

Jika tidak dalam kondisi trending pasar sedang berkonsolidasi. Pola-pola konsolidasi yang umum adalah sideways (ranging), segitiga (triangle), pennant dan lainnya. Ada kalanya pasar bergerak dalam range yang sempit dengan pola yang tidak menentu, keadaan ini dinamakan choppy yang sulit untuk diprediksi dan sebaiknya dihindari. Berikut contoh sinyal trading dari price action untuk kondisi trending dan ranging:

 Dasar-Dasar Strategi Trading Dengan Price
Tampak harga menembus level terendah outside bar yang berarti seller kembali mengendalikan pasar. Hal ini juga didukung oleh penembusan level support.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Ussy
Salam hangat pak martin, topik baru lg nih, semoga besok dilanjutkan ke tingkat tutorial yang lebih advance ya. Saya lg pingin belajar naked trading nih, saya pikir ini forum yang pas untuk memperdalam bersama master di bidangnya.

Oh iya pak saya ada pertanyaan awal nih, dari contoh trading range di atas. Kalo saya perhatiin range di saat choopy itu kan kurang lebihnya 200 pip (saya hitung pake MT4). Bagi seorang Price Action-er, apa jumlah itu kurang?

Saya lihat faktor konfirmasinya jg mendukung, seperti rejection di beberapa candle sebelum pin bar. Memang sih belum ada konfirmasi dari indikator teknikal, tapi apa  faktor seperti pin bar dan rejection terhadap garis horisontal  masih kurang? Mohon bantuan pemahaman..master.
Martin S
@ ussy:
Pada gambar contoh tsb memang pasar sedang dalam kondisi sideways (ranging) yang menunjukkan konsolidasi, bukan choppy atau bergerak tidak beraturan. Seperti pada keterangannya, dalam kondisi choppy biasanya pasar bergerak dalam range yang sempit dan dengan pola yang tidak menentu.

Mengenai kondisi choppy ini Anda bisa baca: Ketika Pasar Sedang Slow.
Kalau yang seperti pada gambar contoh tsb memang bisa ditradingkan, trading range-nya juga jelas dan sinyal pin bar-nya juga valid.
Jule
Bang..salam knal. Saya pemula, ngliat contoh yang abang bagikan di atas masih sedikit ada pertanyaan nih. Kenapa patokan untuk up bar adn down bar menggunakan harga tertinggi dan terendah?

Apakah penggunaan harga penutup dan harga buka tidak lebih valid dalam membaca suatu kondisi (misal pergerakan pasar seharian=D1)? Trus apakah penentuan bar up dan down dapat menggunakan dua buah bar saja? Terimakasih sebelumnya bang
Martin S
@ Jule:
Untuk mengetahui kondisi bullish dan bearish kita mesti melihat level-level harga ekstremnya (tertinggi dan terendah), bukan harga penutupannya. Dalam hal menentukan kondisi ekstrem maka harga open dan closed tidak dipertimbangkan, yang kita mau lihat adalah higher high dan higher low (untuk uptrend), atau lower high dan lower low (untuk downtrend).

Untuk menentukan up bar dan down bar bisa menggunakan 2 candle saja, yaitu candle terakhir dibandingkan dengan sebelumnya seperti keterangan pada artikel diatas.
Fajar Dewanto
Bagaimana cara untuk mengetahui lebih awal bahwa pin bar itu fail? Adakah cara mengantisipasinya? 
Martin S
@ Fajar Dewanto:
Kita tidak bisa mengetahui lebih awal validitas sebuah pin bar. Untuk mengantisipasi kesalahan yang mungkin terjadi kita seharusnya tidak buru-buru entry, tunggu hingga pin bar tersebut terkonfirmasi oleh bar berikutnya, dan selalu gunakan stop loss.

Cara yang lazim digunakan untuk mengetahui valid tidaknya sebuah reversal pin bar adalah dengan mengamati apakah support terdekat telah ditembus (untuk kondisi uptrend), atau resistance terdekat telah ditembus (untuk kondisi downtrend).

Jika bar-bar setelah pin bar tersebut tidak menembus level support atau resistance terdekat maka kemungkinan reversal pin bar tersebut akan fail. Berikut contoh reversal pin bar yang fail karena bar-bar sesudahnya tidak menembus level support dan resistance terdekat::
Yuswan Toro
@fajar.. kl blom terbentuk jelas blom tahu itu pin barnya valid apa ndak. antisipasinya jangan keburu entri dulu sblom terconfirm.