Inilah Rahasia Penting Kenapa Indikator Bergerak Beda Arah Dengan Harga

281903

Dalam keadaan pasar normal, indikator sewajarnya bergerak mengikuti harga. Tapi dalam kondisi khusus, indikator malah bergerak berlainan arah. Trader Contrarian justru menggunakannya sebagai filter untuk menyaring noise dan melawan sentimen pasar.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Yang namanya trading, sebelum Open Position, kita pasti akan mengutak-atik bermacam-macam indikator pada chart. Tujuannya simpel saja, supaya dapat sinyal, ada petunjuk ke arah mana harga sekiranya akan bergerak. Umumnya, indikator-indikator tersebut hampir selalu bergerak searah dengan harga. Maksudnya kalau harga menurun, arah indikatornya juga ikut melandai, kalau satu naik, yang lain juga ikutan. Namun, apa yang terjadi jika indikator malah bergerak berlainan arah dengan pergerakan harga?

 

Divergence, Filter “Mujarab” Untuk Menyaring Gejolak Harga

Indikator pada umumnya didesain oleh penciptanya untuk mewakili pergerakan harga. Jadi sewajarnya, indikator akan bergerak searah dengan pergerakan harga. Itu sih kalau kondisi pasar dalam keadaan normal saja.

Nah, kalau diperhatikan lebih tajam lagi, ternyata indikator tidak selalu bergerak searah dengan pergerakan harga. Misalnya saat harga meroket, indikatornya malah cuma bergerak mendatar atau bahkan menurun perlahan.

Loh, koq bisa? Apa penyebabnya?

Nah, perlu diketahui bahwa indikator, terutama Leading Indicator seperti RSI, MACD dan Stochastic, mampu memproyeksikan alias “meramalkan” nasib, eh, pergerakan harga.

Dijabarkan lebih detail, Leading Indikator dapat memplot letak titik-titik jenuh beli (Overbought) dan jenuh jual (Oversold). Titik Overbought juga dapat dijadikan sebagai patokan Resistance. Sedangkan, Level Oversold bisa dianggap sebagai level Support. Jadi ketika harga bergejolak karena sentimen trader, leading Indicator mampu mem-”filter” di level mana hakikat harga seharusnya berada. Inilah alasan teknis kenapa indikator (Leading) bisa bergerak berlainan arah atau ter-Divergence dengan pergerakan harga terkini.

Terus apa pentingnya kita mengetahui fenomena Divergence ini?

Pertanyaan bagus, soalnya Divergence berkaitan erat dengan sinyal trading nyentrik. Pendek kata, Anda akan mendapat sinyal Buy saat harga jatuh atau sinyal Sell saat harga membubung, tapi bisa untung. Penasaran? Baca terus detail teknik menemukan divergence di bawah ini.

 

Divergence, Senjata Trader Contrarian Untuk Melawan Sentimen Pasar

Seperti kita ketahui, sentimen trader mayoritas umumnya adalah opini pasar mengenai pergerakan harga terkini. Perlu dicatat, belum tentu sentimen Bullish atau Bearish akan menggerakkan harga sesuai ekspektasi trader mayoritas. Contohnya seperti pada chart XAU/USD (Gold) di bawah ini:

contoh:

 

contoh divergence pada xauusd

 

 

Dari lingkaran no. #1, saat harga terkini sudah Breakout dari Resistance, sentimen trader mayoritas adalah Bullish. Jadilah, trader berlomba untuk memasang posisi Buy.

Di saat trader mayoritas bersikeras mempertahankan posisi Long, si trader Contrarian mendapati bahwa terjadi Divergence. Di indikator MACD, histogram menampakkan penurunan dari kedua puncak tertingginya. Begitu juga dengan indikator RSI. Kesimpulannya, sentimen Bullish mayoritas sudah kehabisan tenaga untuk mendorong harga lebih tinggi lagi.

Begitu sinyal Divergence terkonfirmasi, trader Contrarian memasang posisi Short (Sell) untuk melawan sentimen Bullish mayoritas. Hasilnya, trader contrarian berhasil mendapat profit besar dari posisi Short pada kisaran level 1180.

Bagaimana jika sentimen mayoritasnya adalah Bearish? Masih ada contoh ke-2. Kali ini, harga terus menurun hingga menembus Support. Pasar bereaksi dengan sentimen Bearish, sehingga banyak trader menekan tombol Sell.

Berani beda, trader Contrarian justru memasang posisi Buy. Karena sekali lagi, dia mendapatkan sinyal Divergence. Alhasil, meskipun sempat Sideway sampai berhari-hari lamanya, akhirnya harga mendaki, berlawanan dengan sentimen Bearish trader mayoritas.

Mantap, kan? Dengan sinyal trading Divergence, trader Contrarian dapat mem-filter noise dari sentimen trader mayoritas. Meskipun harga terkini sempat digerakkan oleh mayoritas pasar. Tapi toh, pada akhirnya harga akan kembali ke nilai hakikatnya yang ditunjukkan oleh Divergence pada indikator.


Rico F. Y., Trader Profesional Dengan Metode Trading Divergence

Sebagai trader Contrarian profesional, Rico F. Yapotra menggunakan sinyal trading Divergence sebagai andalan sistem tradingnya. Menurutnya, kalau mau untung, logikanya buat apa kita ikut-ikutan sentimen trader mayoritas? Sentimen trader mayoritas itu belum tentu benar. Toh, dengan Divergence kita jadi bisa tahu, ke mana harga pada hakikatnya akan bergerak.

Rico F. Y. sudah berpengalaman trading selama 5 tahun menggunakan metode Divergence. Sepanjang kariernya sebagai trader, Rico pernah berhasil memperoleh return 100% hanya dalam jangka waktu 3 bulan. Dia juga pernah berkarier di salah satu broker lokal sebagai salah satu analis.

Selain menjadi trader, Rico F. Y. sudah dipercaya beberapa lembaga pendidikan sebagai pemateri dalam beragam seminar mengenai online trading.

 

workshop rico FY

 

 

Dari performa tradingnya pun, strategi trading Divergence-nya berhasil mencetak profit konsisten pada pair-pair mayor dan beberapa pair cross.

 

trading history

 

 

SFTeam merupakan hasil kerjasama beberapa personel tim Seputarforex untuk menghadirkan liputan akurat dan bermanfaat bagi pembaca. Cakupan bahasan menyeluruh hingga menjangkau fundamental, teknikal, dan berbagai aspek trading forex lainnya.