Advertisement

iklan

Harga Minyak Kelapa Sawit (CPO), Apa Yang Mempengaruhinya?

Diantara faktor yang mempengaruhi harga minyak Kelapa Sawit (harga CPO) naik dan turun adalah negara produsen, konsumen, cuaca, serta pelestarian lingkungan.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Kelapa Sawit merupakan salah satu komoditas paling penting bagi Indonesia. Naik-turun harga minyak Kelapa Sawit telah menjadi suatu topik penting, khususnya untuk perekonomian dan penghidupan warga di Sumatera dan Kalimantan. Namun, masih jarang yang mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga minyak Kelapa Sawit (Crude Palm Oil/CPO).

Dalam artikel ini kita akan mengulas mengenai berbagai hal terkait. Setelah menyimaknya, Anda akan dapat memperkirakan jika harga CPO meningkat atau menurun di masa depan, maka kemungkinan disebabkan oleh satu atau lebih dari faktor-faktor berikut.

 

Harga Minyak Kelapa Sawit CPO

 

Secara umum, harga minyak Kelapa Sawit dipengaruhi oleh permintaan (demand) dan penawaran (supply). Sesuai dengan hukum permintaan, apabila harga naik, maka jumlah barang yang diminta akan menurun. Sebaliknya, hukum penawaran menyebutkan bahwa jika harga makin tinggi maka jumlah barang yang ditawarkan bakal meningkat. Kedua sisi ini akan saling bergeser dan menyesuaikan dari waktu ke waktu, hingga tercapai keseimbangan antara permintaan dan penawaran yang melahirkan harga pasar. Bila permintaan lebih tinggi dari penawaran (defisit), maka harga akan naik. Sebaliknya jika penawaran lebih besar dari permintaan (surplus), maka harga akan turun. 

Secara lebih terperinci, permintaan dan penawaran yang menentukan harga minyak Kelapa Sawit tersebut dapat dipengaruhi oleh empat hal.

 

1. Kondisi Dan Regulasi Di Negara Produsen Kelapa Sawit

Indonesia merupakan negara produsen CPO terbesar di dunia. Pada tahun 2018, produksi diproyeksikan mencapai lebih dari 40 juta Metrik Ton. Produksi Indonesia tersebut nyaris dua kali lipat lebih besar dari produsen terbesar kedua, Malaysia, dan berpuluh kali lipat lebih besar dibanding Thailand yang duduk di posisi ketiga.

 

10 Produsen Minyak Kelapa Sawit Terbesar Dunia

 

Dengan dominasi Indonesia dan Malaysia yang sangat besar di pasar CPO, maka kondisi dan regulasi kedua negara pada bidang terkait akan sangat berdampak pada harga minyak Kelapa Sawit. Misalnya kebijakan terkait pajak ekspor minyak sawit. Adanya pajak ekspor atas komoditas ini saja sudah mendorong harga CPO menjadi lebih tinggi bagi konsumen, dan lebih rendah bagi produsen.

Cuaca di Indonesia dan Malaysia juga bisa berdampak besar bagi harga CPO. Andaikata terjadi banjir bandang yang menenggelamkan perkebunan sawit dan menggagalkan panen, atau musim kemarau berat yang mengakibatkan produksi jatuh. Dalam kondisi cuaca tak kondusif, maka harga komoditas Kelapa Sawit bisa mengalami peningkatan.

 

 

2. Kondisi Dan Regulasi Di Negara Konsumen Terbesar CPO

China, India, dan Eropa adalah kawasan importir minyak sawit terbesar. Umpamanya apabila terjadi krisis di kawasan-kawasan tersebut, maka perlambatan permintaan atas CPO bisa terjadi seiring dengan menurunnya konsumsi masyarakat. Pada gilirannya, penurunan permintaan akan mendorong terjadinya surplus, sehingga harga CPO bisa menurun.

 

Konsumen Minyak Kelapa Sawit Terbesar Dunia

 

Selain itu, peraturan-peraturan seperti bea impor CPO dan regulasi ramah lingkungan juga akan mempengaruhi harga CPO. Umpamanya, desakan untuk mencantumkan CPO sebagai "palm oil" bukannya "vegetable oil" pada daftar komposisi produk, bisa mendorong penurunan permintaan jika diaplikasikan. Pasalnya, banyak orang di negara maju menuduh perkebunan kelapa sawit mengakibatkan deforestasi dan hilangnya habitat orang utan.

 

 

3. Harga Minyak Nabati Lain

Fungsi minyak nabati yang diperoleh dari Kelapa Sawit, sebenarnya bisa digantikan oleh minyak kedelai, minyak biji bunga matahari, minyak rapa, minyak canola, dan minyak jagung. Diantaranya, yang paling murah adalah minyak sawit dan minyak kedelai. Hal ini menjadikan keduanya sebagai komoditas substitusi yang memberikan pengaruh timbal balik.

Sebagai contoh, cuaca buruk di negara-negara produsen kedelai seperti Amerika Serikat, Brazil, dan Argentina, akan menurunkan produksi kedelai. Dalam hal ini, penurunan produksi kedelai bisa mendongkrak harga minyak kedelai maupun harga CPO. Di sisi lain, jika kesadaran lingkungan meningkat dan orang-orang berpindah dari minyak sawit ke produk lainnya, maka harga CPO jelas bakal merosot.

 

Demo Anti Minyak Kelapa Sawit

 

 

4. Perhatian Pada Kelestarian Lingkungan

Dunia internasional terus menerus prihatin dengan dampak budidaya Kelapa Sawit terhadap kelestarian lingkungan, sehingga terus menerus menekan negara-negara produsen untuk mengetatkan kebijakan. Apabila negara-negara produsen sungguh-sungguh mengikuti tekanan internasional, maka produksi bisa terkekang dan harga minyak Kelapa Sawit mengalami peningkatan. Namun, selama tak ada kebijakan serius, maka pengaruhnya takkan besar.

Sebagai contoh, moratorium konsesi baru hutan perawan yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan berlaku sejak 20 Mei 2011 serta diperpanjang oleh Presiden Joko Widodo pada Mei 2015, diharapkan mengerem sementara ekspansi lahan perkebunan sawit. Dengan adanya moratorium, maka produksi akan terbatas pada lahan yang sudah dibuka saja. Sayangnya, pemerintah memberikan konsesi 9 juta hektar sebelum memberlakukan moratorium, sehingga pada kenyataannya ekspansi lahan berlanjut dan laju produksi minyak sawit tetap tinggi.

Per tahun 2018, laju produksi minyak sawit Indonesia diekspektasikan mencapai 5.2%, di peringkat keempat setelah Peru (8.4%), Kolombia (8.0%), dan Thailand (7.4%). Data tersebut merupakan proyeksi United States Department of Agriculture (USDA) yang dikutip oleh IndexMundi.

 

Demikianlah empat hal yang mempengaruhi harga minyak Kelapa Sawit (CPO). Apabila Anda penasaran mengapa saat ini harga CPO naik atau turun terus menerus, maka carilah informasi mengenai keempat hal tersebut, niscaya penyebabnya akan terungkap.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.