Advertisement

iklan

Hati-Hati Investasi Emas Bodong, Sorotan Atas Kasus GTIS

Dana nasabah investasi emas di perusahaan GTIS dibawa kabur oleh mantan Direkturnya yang bernama Michael Ong. Pengembalian dana nasabah menjadi semakin tidak jelas.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Kasus pembobolan uang nasabah yang diduga dilakukan manajemen PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) mencuat ke permukaan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Diharapkan bisa memberikan kejelasan tentang pengembalian dana nasabah GTIS yang diduga dilarikan oleh Michael Ong itu. Banyak nasabah yang tertipu dengan bisnis berlabel syariah itu. MUI diharap tak melempar tanggung jawab dalam kasus pembobolan uang nasabah GTIS itu.

Hati-Hati Investasi Emas Bodong, Sorotan Atas

Tren investasi emas, baik fisik maupun derivatif, kian mencorong menyusul krisis finansial yang beberapa kali menghantam perekonomian global. Dalam kondisi itu, emas dianggap sebagai sarana lindung nilai yang efektif, sekaligus memberikan peluang memperoleh laba, baik dari selisih harga beli-jual emas fisik maupun kontrak derivatif.

Para penjaja skema money game dan ponzi, dalam tiga tahun sampai empat tahun terakhir, agaknya menangkap peluang ini. Sebelumnya, banyak pelaku money game berkedok tawaran investasi memakai aset dasar produk agribisnis. Contohnya, Koperasi Langit Biru yang memakai komoditas daging sapi untuk kedok investasi. Lalu, ada pula yang membonceng usaha multilevel marketing.

Karena dibangun di atas fondasi dana nasabah dan bukan bisnis yang nyata, skema ini pun dipastikan akan menemui titik jenuh hingga akhirnya macet sama sekali. Modus, seperti tawaran investasi berkedok daging sapi dan produk kesehatan MLM, fondasi  investasi emas di tangan pelaku yang diduga menerapkan skema money game ini pun mulai rontok. Dua perusahaan yang menawarkan high yield investment program (HYIP) berbalut emas dan sudah memasuki tahap scam adalah Raihan Jewellery dan Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS).

Raihan berhenti membayar dana ribuan nasabahnya di Langsa, Banda Aceh, Medan, Jakarta, dan Surabaya sejak 3 Januari 2013. Diperkirakan, dana nasabah yang masih tersangkut di perusahaan milik Muhammad Azhari ini mencapai angka Rp 300 miliar sampai Rp 400 miliar. Mantan juru bicara Lapindo Brantas ini membiakkan duit di Raihan lewat Maxsie, pengelola Raihan Jewellery Surabaya. Maxsie adalah keponakan Azhari. Diaz masuk awal Desember 2013 dengan skema fisik dan membeli satu kilogram emas seharga Rp 705 juta. Harganya Rp 705.000 per gram. Diaz memilih kontrak selama enam bulan dengan iming-iming cashback 2,5% per bulan. Naas baginya, baru sekali mendapatkan cashback, program investasi Raihan mandek sejak 3 Januari 2013 lalu.

Sementara itu, GTIS tak bisa membayar atthoya, istilah untuk hadiah atau bonus, kepada nasabah dan agen sejak 25 Februari 2013. Direktur Utama GTIS Michael Ong disebut membawa kabur emas dan uang investor ke luar negeri. Ong kabur bersama Direktur GTIS Desmond Yap dan dua kerabatnya yang bekerja di bagian keuangan GTIS.

 

Dana Nasabah Dibawa Kabur

Berapa jumlah dana nasabah yang ditilep Ong masih belum jelas. Dewan Pengawas Syariah GTIS Ma’ruf Amin menyebut, informasi yang ia terima, dana yang dibawa lari Ong cuma Rp 10 miliar. Namun, rumor yang menyebar via broadcast BBM sebelumnya menyebutkan angka Rp10 triliun.

Meski nasabah jelas-jelas sudah tidak menerima imbal hasil yang dijanjikan, penyelesaian kasus ini nyatanya berjalan lambat. Boleh jadi, ini lantaran dua nama institusi ternama ikut terbawa-bawa. Yang pertama, kasus ini juga melibatkan petinggi Partai Demokrat. Marzuki Alie, Ketua DPR, seperti disebut di depan adalah penasihat GTIS. Sementara, Azidin pernah menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat sebelum dipecat gara-gara terlibat kasus dugaan suap permukiman haji, 2006 silam.

Institusi lain yang terseret kasus ini adalah Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN–MUI) yang memberikan label syariah kepada GTIS. DSN sendiri mengakui, sertifikat syariah kepada GTIS diberikan tanpa ada kewajiban melengkapi lebih dulu izin usahanya. Yang penting GTIS berkomitmen mengurus perizinannya segera setelah mendapatkan sertifikat halal. Kemudahan GTIS memperoleh stempel syariah sebetulnya mengherankan. Direktur Legal Bappebti Alfons Samosir berkisah soal sulitnya bekerjasama dengan DSN MUI berkaitan dengan pelaksanaan kontrak derivatif syariah di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ).

Melenggangnya PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) menawarkan produk Islami juga tak lepas dari keputusan Dewan Syariah Nasional (DSN) memberi label syariah bagi produk mereka. Banyak yang kaget, mengapa DSN bisa memberikan rekomendasi yang akhirnya disalahgunakan oleh GTIS.  Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. H. Maulana Hasanuddin, M.Ag menegaskan, sertifikat pergadangan syariah yang dijalankan Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) otomatis tercabut, begitu yang bersangkutan melakukan pelanggaran hukum syariah yang merugikan orang lain.

Mulai terjun di dunia trading akhir tahun 2009. Pertama kali belajar konsep Money Management dari seorang trader Jepang, kemudian berlanjut otodidak. Strategi trading berpatokan pada level Support dan Resistance (Supply and Demand), dengan dasar High Low yang pernah terjadi, ditunjang range market yang sedang berlangsung dan pembatasan risiko.

25 Juni 2019 01:33

1,414.85 ( 1.13%)

Support : 1,384.34
Pivot : 1,397.78
Resistance : 1,412.55

100% Buy 100% Buy 33% Buy

88% Buy
Selengkapnya

Bowman Marciano
DALAM KASUS INI GTIS HARUS BERTANGGUNG JAWAB DENGAN KEPEMILIKAN 10% DAN MENGELUARKAN CERTIFICATE, PETINGGI HARUS DI INTROGASI