Advertisement

iklan

Indikator SMA VS EMA

Moving Average mana yang lebih baik untuk digunakan trader? Antara indikator SMA dan EMA ternyata masing-masing memiliki kegunaannya sendiri.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Sudah pengalaman trading pasti pernah pakai indikator Moving Average, dong? Tapi sudah tahu belum, kalau Moving Average itu ada ragam macamnya? Ada indikator SMA dan EMA. Mana yang lebih baik? Analoginya, seperti persneling, Moving Average punya beberapa mode yang bisa diganti-ganti untuk menyesuaikan kondisi pasar. Nah, supaya analisa teknikal makin tajam, Anda patut mempelajari perbandingan mode dari Moving Average tersebut.

 

Macam-Macam Moving Average

Pada pengembangannya Indikator Moving Average memiliki banyak ragam, tapi hanya dua macam tipe yang paling populer, yaitu:

  • Simple Moving Average (SMA)
    Indikator SMA merupakan setting default dari Moving Average. Artinya, saat kali pertama menggunakan indikator Moving Average, umumnya terminal trading akan menampilkan SMA sebagai pilihan pertama (dasar). Jadi kemungkinan besar, trader pemula akan terbiasa menggunakan indikator SMA daripada varian lainnya.

    Seperti namanya, indikator SMA menampilkan garis visual yang diformulasikan dari perhitungan rerata sederhana. Perhitungan tersebut hanya meng-input daftar harga-harga (dari harga tertinggi, terendah, harga pembukaan, atau penutupan), lalu dibagi seberapa lama periode ditentukan, misalnya seperti contoh berikut:
    formulasi dari indikator simple moving average
  • Exponential Moving Average (EMA)
    Indikator EMA adalah varian kedua terpopuler setelah indikator SMA. Umumnya, trader menggunakan mode ini untuk mengantisipasi volatilitas pada timeframe rendah, terutama pada saat rilis berita berdampak tinggi.

    Berbeda dengan indikator SMA, EMA menggunakan formulasi di mana harga pada candlestick terakhir lebih berpengaruh. Tujuan dari formulasi tersebut adalah untuk memberikan "dorongan" agar garis EMA lebih sensitif pada perubahan harga. Jadi umpamanya setir pada mobil, indikator EMA lebih cepat "mengkol" daripada indikator SMA.
 

Perbandingan Indikator SMA dengan EMA

Perlu dicatat bahwa perbandingan ini bukan bertujuan untuk mencari indikator terbaik dalam segala situasi. Soalnya, masing-masing indikator tersebut sebenarnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Lebih tepatnya, tiap indikator tadi akan lebih efektif jika digunakan pada situasi tertentu.

Supaya lebih jelas, mari kita cek detail-nya satu per satu:

  • Pada situasi apa indikator SMA lebih efektif untuk digunakan?

Garis indikator SMA umumnya bergerak agak lambat (lagging) mengikuti perubahan harga terkini, sehingga sekilas garisnya terlihat menjauh dari titik harga terkini. Karena hal tersebut, indikator SMA lebih efektif digunakan sebagai garis batas support dan resistance, atau penanda pantulan harga. Misalnya seperti contoh di bawah ini:

indikator SMA sebagai support resistance dinamis

Dari gambar di atas, terlihat jelas bahwa indikator SMA periode 50 berfungsi lebih baik dibandingkan EMA berperiode sama sebagai garis batas support dan resistance dinamis.

Karena alasan itulah, indikator SMA lebih berguna jika digunakan pada timeframe dan periode tinggi. Investor dan analis umumnya akan menggunakan SMA berperiode 50 ke atas (100 dan 200) pada timeframe Daily (D1) untuk membantu proses analisa teknikal mereka.

  • Berikutnya, dalam situasi apa indikator EMA lebih efektif untuk dipakai?

Garis pada indikator EMA lebih cepat merespon perubahan harga. Dengan kata lain, garis EMA akan tampak lebih luwes mengikuti pergerakan harga terkini dibanding garis indikator SMA. Karena faktor tersebut, indikator EMA lebih efektif digunakan sebagai sinyal trading.

Salah satu sinyal trading tersebut adalah persimpangan antara dua atau lebih garis-garis Moving Average (MA Crossover. Contohnya seperti berikut:

indikator EMA sebagai konfirmator sinyal trading

Gambar di atas menunjukkan tiga garis EMA dengan periode berbeda-beda. Sinyal trading pada indikator EMA lebih cepat terpicu daripada indikator SMA karena garis-garis pada EMA lebih responsif pada perubahan harga. Dengan kata lain, kalau Anda tidak mau terlambat pasang posisi, pakailah EMA, kalau pakai SMA malah telat.

 

Kesimpulan

Secara umum, tidak bisa dikatakan bahwa indikator SMA lebih baik daripada EMA, ataupun sebaliknya. Masing-masing indikator tersebut memiliki formulasi tertentu, di mana hasilnya akan lebih optimal jika digunakan pada situasi yang tepat.

Oleh karena itu, pelajarilah dan cobalah kedua varian Moving Average tersebut. Setelah itu, tentukan mana yang paling cocok untuk kebutuhan dan gaya trading Anda.

Bayu mengenal dunia investasi saat masih studi di perguruan tinggi, kemudian berlanjut menjadi penulis mengenai berbagai jenis investasi dan strategi-strategi trading di Seputarforex. Bayu meyakini bahwa trading bukanlah mesin jackpot, dan kita harus terus belajar agar bisa menjadi seorang trader sukses.


Triasamirull
kl dr yg sederhana / eksponensial. g usah dicari2 lagi. kan dr namax ja udah keliatan. simple=sederhana exponential=eksponensial. yg dicari kan dr 2 MA itu mana yg paling oke buat dipake?
Ari Nugraha
kalau ema kurang cocok buat konsolidasi harga, ya jangan diandalkan buat open posisi saat harga lagi konsolidasi. disini tinggal butuh usaha utk belajar mengenali tren utama dan konsolidasi itu sendiri. supaya kita nggak salah ambil sinyal dari crossing yang muncul entah sebagai penanda dimulainya tren utama atau cuma sekedar konsolidasi dari tren yang udah ada aja. cara paling simpel, ya liat di timeframe atas, pasti bakal keliatan lebih jelas
Ech0
Apa sinyal palsu dari EMA itu bisa sangat membahayakan sehingga kelebihannya untuk mendeteksi harga dg lebih cepat jadi tertutupi sama kelemahannya ini?
Desna Fajrianto
@Echo: Hal seperti itu sebenarnya memiliki arti yang berbeda tergantung dari cara trader menilai kebutuhan tradingnya. Kalau dilihat dari perspektif umum, mungkin sinyal trading yang lambat tapi lebih aman akan lebih unggul daripada sinyal yang muncul cepat tapi banyak kesalahan.

Bagaimanpun yang dicari disini adalah peluang trading yang bisa membawa keuntungan, kalau salah kan bisa menimbulkan loss. Namun dalam prakteknya, keterlambatan entry juga bisa membawa kerugian, terutama bila trader tidak membatasi ordernya dengan manajemen resiko dan mengatur stop ordernya dengan benar.

Jadi bisa dipilih sendiri, apa anda termasuk tipe trader yang menyukai kecepatan atau ketepatan? Dan lakukan uji coba juga tentang kedua karakter indikator itu, yang mana yang paling bisa mendatangkan profit secara konsisten? karena suka belum berarti akan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anda nantinya...
Ari Nugraha
ane lebih cocok ema, tapi setelah dipasang dua2nya nggak terlalu nampak sih perbedaannya, cuman memang ema lebih keliatan dinamis aja kalo dibanding sma, itupun cuman sedikit lebih dinamis. toh sma yang diperodekan rendah atau ema yang diperiodekan tinggi juga bakal punya karakter yang beda dari apa yang disebutin disini. cuman karna ane udah terbiasa pake ema aja, jadinya ya lanjut terus pake indi ini. kalo coba2 pasang sma khawatirnya malah bikin bingung sendiri, meskipun kalo periodenya sama mungkin nggak terlalu banyak bedanya. yang paling penting enjoy sama indinya
Peter
bagaimana saran untuk pemula om? kira2 utk recommend di angka brp utk pengaturan EMA & SMA?apakah RSI dan MACD juga dibutuhkan utk informasi yang akurat? jika memang akurat utk recommend di angka brp utk pengaturan?terima kasih
Rio Renata
Dari pengalaman saya trading, untuk setting MA, periode pendek itu simple MA 20, dan periode panjangnya simple MA 50, settingan ini tepat digunakan sebagai support dan resistance dinamis pada timeframe h1, h4 dan daily. RSI dan MACD bisa digunakan sebagai sinyal konfirmator, tidak wajib digunakan, tapi cukup membantu untuk memperkuat akurasi sinyal.

Sedangkan untuk EMA, saya sudah lama tidak menggunakan EMA, karena menurut saya, lebih baik menggunakan simple MA 20 dan 50 serta MACD.