iklan

Ingin Trading Cross Currency Pair? Perhatikan 3 Hal Ini

Pasangan mata uang cross (cross currency pair) seperti EUR/GBP, GBP/JPY, dan AUD/JPY makin laris. Tapi sebenarnya ada beberapa hal yang harus diketahui trader sebelum mengambil risiko trading ini.

iklan

iklan

Pasangan mata uang cross (cross currency pair) belakangan ini semakin menggiurkan. Pasangan mata uang mayor masih menjadi favorit trader dunia. Namun, cross pair kian menarik perhatian karena memungkinkan kita trade dengan selisih fundamental yang lebih mudah dibaca di tengah krisis. Sebutlah AUD/JPY atau GBP/JPY yang jelas-jelas membandingkan mata uang safe haven klasik vs mata uang high risk.

Meski demikian, ada beberapa hal yang harus diketahui trader sebelum memutuskan untuk trading cross currency pair. Berikut ini sekilas ulasannya:

1. Latar Belakang Cross Currency Pair Terkait

Euro (EUR), Yen (JPY), Pound (GBP), Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Franc Swiss (CHF), dan Dolar New Zealand termasuk golongan mata uang yang dikenal sebagai "major currency pair" ketika masing-masing diperdagangkan bersama Dolar AS (USD). Mereka juga dikenal sebagai "cross currency pair" ketika diperdagangkan antara satu sama lain (Baca juga: Pasangan Mata Uang dalam Forex dan Korelasinya).

Alasan USD menjadi "major" adalah karena ia merupakan mata uang cadangan devisa dunia. USD dipergunakan dalam mayoritas perdagangan dan pertukaran internasional. Itulah mengapa semua perdagangan mata uang versus USD pasti lebih ramai ketimbang versus mata uang lain. Tapi, tahukah Anda, ada kalanya pula perdagangan antar mata uang non-USD menjadi jauh lebih ramai.

Trading Cross Currency Pair

Suatu contoh nyata berhubungan dengan insiden referendum brexit yang memaparkan niat awal Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. Volume perdagangan EUR/GBP melejit hingga miliaran dolar setiap hari. Likuiditas yang meningkat seperti ini tentu membuka peluang profit lebih luas bagi trader.

Hal itu pula yang menjadikan EUR/GBP sebagai salah satu cross currency pair terbaik untuk di-trading-kan hingga sekarang. Tapi, apabila isu brexit mereda dan hubungan dagang kedua wilayah makin longgar kelak, apakah EUR/GBP masih akan seramai sekarang? belum tentu.

>>> Tips: Likuiditas dan volatilitas dalam cross currency pair dapat berfluktuasi lebih tajam ketimbang pasangan mata uang mayor. Selalu pantau situasi fundamental tiap mata uang sebelum open posisi, agar tak terjebak dalam kondisi likuiditas menipis yang akan mengakibatkan pergerakan harga makin ekstrim. Ada baiknya pula mematok level Take Profit (TP) dan Stop Loss (SL) lebih longgar.

 

2. Settlement Transaksi

Settlement merujuk pada teknis eksekusi pembukaan dan penutupan suatu posisi trading. Umpama si Fulan akan trading EUR/USD dengan saldo akun bermata uang USD, maka perhitungan open dan close posisinya tentu sederhana saja. Tapi urusan settlement akan jadi lebih rumit kalau si Fulan memilih untuk trading EUR/GBP.

Setelah untung dari transaksi EUR/GBP, maka profit si Fulan bisa jadi dalam bentuk Euro atau Pound, yang kemudian akan dikonversi menjadi USD (sesuai mata uang dasar akun) secara otomatis pada platform trading setelah penutupan posisi. Padahal, kurs EUR/USD atau GBP/USD pada saat itu belum tentu menguntungkan bagi si Fulan. Jadi, bagaimana memecahkan masalah ini?

>>> Tips: Buka akun trading dengan mata uang dasar (base currency) non-USD yang ingin sering Anda gunakan untuk trading forex. Umpama Anda suka trading EUR/GBP dan EUR/JPY, maka bukalah akun dengan mata uang dasar Euro. Dengan demikian, Anda dapat mengatur sendiri kapan akan withdraw profit dengan kurs yang lebih menguntungkan.

 

3. Spread pada Cross Currency Pair

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi spread adalah likuiditas suatu pair mata uang. Inilah sebabnya mengapa pasangan mata uang mayor selalu memiliki spread super tipis. Spread untuk pasangan EUR/USD, GBP/USD, dan USD/JPY bahkan bisa jauh di bawah 1 pip. Namun, likuiditas cross pair tidaklah serendah itu.

Spread pada cross currency pair memiliki dua karakteristik khas dibanding major pair: Pertama, spread lebih besar. Kedua, spread lebih volatile (mudah melebar dan menyempit). Anda harus selalu memperhitungkan risiko ini. Jangan buru-buru menuding broker melakukan rekayasa ketika spread melonjak tiba-tiba.

>>>Tips: Likuiditas cross currency pair sangat bergantung pada kondisi fundamental dan sesi perdagangannya. Umpama Anda trading pada sesi Asia, maka mata uang EUR, CAD, dan GBP akan sepi. Demi melindungi diri dari risiko likuiditas rendah dan menjaga profit, broker forex akan mengenakan spread lebih besar pada pair yang sedang tidak likuid.

Nah, setelah mengetahui semua ini, apakah Anda masih tertarik untuk trading cross pair? Tak dapat dipungkiri bahwa cross pair menawarkan keuntungan besar. Tapi, hukum 'high profit, high risk' akan tetap berlaku. Jadi, pahami seluk beluk mata uang yang akan di-trading-kan agar mampu mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin terjadi. Selalu uji dulu sistem trading Anda dalam akun demo sebelum menerapkannya pada akun riil.

292660

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone