Investasi Saham Untuk Anak, Kenapa Tidak?

Mungkinkah investasi saham untuk anak -anak dilakukan? Percaya atau tidak, hal ini tidaklah mustahil dan bahkan sudah lama berlangsung di negara-negara maju.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sebuah usulan baru tengah direncanakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada awal tahun 2019 ini, untuk mengatur pembukaan rekening efek bagi para pelajar yang belum memiliki Kartu Tanda Penduduk. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan jumlah investor di pasar modal Indonesia yang kini masih sekitar 1.6 juta orang saja, dari total penduduk sekitar 265 juta jiwa.

Walau rencana ini masih sebatas inisiatif, tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Pasalnya, negara-negara maju sudah lebih dulu melakukannya. Pelajar-pelajar di negera maju seperti di Jepang sudah dikenalkan terhadap pasar modal sedari dini; pogram rekening efek bagi pelajar di Jepang diketahui bernama Junior Program. Sementara di Amerika Serikat, rekening efek untuk anak-anak dan remaja dinamakan Custodial Brokerage Account.

Investasi saham untuk anak

 

Mengapa Pengenalan Sejak Dini Itu Penting?

Edukasi sedari dini mengenai pasar modal dinilai perlu, karena rata-rata dibutuhkan jangka waktu yang panjang (lebih dari 5 tahun) untuk memperoleh hasil investasi berlandaskan fundamental. Dengan demikian, anak-anak akan melihat manfaatnya saat mereka memasuki masa kuliah, menikah, dan memulai kehidupannya sendiri.

Dalam masalah analisa, tentunya anak-anak masih harus diarahkan oleh orang tuanya. Inilah yang akan membuat para orang tua perlu belajar pasar modal lebih mendalam agar bisa mewariskan edukasi dengan lebih mudah dari generasi ke generasi. Sebagian anak-anak setelah merasakan manfaat dari investasinya di usia dewasa, akan merasa terdorong untuk berkecimpung di dunia pasar modal secara lebih aktif, dan hal ini akan mampu meningkatkan jumlah investor aktif di bursa masa depan.

 

Bagaimana Cara Mengenalkan Investasi Saham Pada Anak?

Contoh dari pengenalan saham kepada anak-anak pun cukup mudah. Dalam hal ini, cara dari Joel Greenblatt dalam bukunya yang berjudul "The Little Book That Beats The Market" dapat ditiru.

Dikisahkan, ada seorang anak yang pintar sekali menjual permen karet di sekolah anak tuan Greenblatt bersekolah. Lalu, Greenblatt mengajak Kevin anaknya berdiskusi. Mereka berdua tahu bahwa anak yang benama Jordan ini dalam sehari dapat menjual 20 pak permen karet warna-warni seharga 2.50 Dolar per pak. Modalnya membeli permen ini hanya 1 Dolar per pak. Artinya, ROE (Return On Equity) yang diperoleh anak tersebut sebesar 250%. Jika ditelaah, tentu ini adalah bisnis yang menguntungkan sekali.

Greenblatt pun mulai menciptakan skenario berikut: seandainya Kevin tidak pandai berbisnis tapi tahu betul bahwa usaha Jordan adalah bisnis yang baik, lalu andai suatu saat Jordan berkeinginan untuk memperluas usahanya dan berjualan tidak hanya di satu sekolah tapi di banyak sekolah, maka pasti ia membutuhkan modal tambahan.

Dalam rangka mencari modal untuk memperluas usaha, ia pun dapat memecah bisnisnya menjadi 10 bagian (share atau saham): 6 bagian menjadi miliknya lalu 4 bagian lagi ia ecer dan dijual per unitnya seharga 100 Dolar. Nanti, pembagian keuntungan akan diberikan sesuai dengan jumlah share yang dimiliki.

Kesimpulannya adalah, dengan membeli satu bagian dari bisnis Jordan, maka Kevin akan mendapat keuntungan sesuai dengan bagian yang ia miliki, sehingga keuntungan akan masuk secara rutin ke dalam sakunya. Apabila Kevin membeli 1 share bisnis permen karet Jordan seharga 100 Dolar, maka menurut perhitungan mereka berdua, Kevin dapat balik modal di hari ke-667 (Harga jual 2.50 Dolar dikurangi harga beli 1 Dolar, lalu dibagi 10 share).

Dengan membeli sebuah bisnis yang menguntungkan, tentu akan menguntungkan pula bagi penanam modalnya yang disebut dengan istilah investor. Greenblatt juga memberi tahu bahwa seringkali, harga saham-saham berada di bawah harga wajarnya. Setelah mendengar penuturan ini, Kevin pun langsung bersemangat dan mengatakan bahwa hal tersebut terlalu sayang untuk dilewatkan. Demikianlah Kevin telah belajar mulai dari level paling sederhana dari ayahnya tentang saham.

Menghitung harga wajar saham

(Baca juga: Valuasi Saham Yang Wajib Diketahui Semua Investor)

Memilih saham untuk berinvestasi bisa dimulai dengan mengenali saham produk-produk yang digunakan sehari-hari, seperti susu Ultra (ULTJ), mie instan Indomie (ICBP), dll. Emiten-emiten tersebut bisa mulai diperkenalkan dengan menunjukkan public expose yang disampaikan melalui metode dongeng seperti Greenblatt di atas.

Dengan memperkenalkan perusahaan-perusahaan yang sudah Go Public, maka akan menambah wawasan anak mengenai lingkungan bisnis, ekonomi, dan praktek matematika dasar seperti menghitung ROE juga rasio hutang sederhana. Dengan demikian, anak bisa lebih luas wawasannya dan diharapkan mampu mendukung keuangannya sendiri di masa depan melalui investasi saham.

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'


Anita
Kenapa langsung saham? Kenapa tidak forex saja dulu yg lebih gampang?
Shanti Putri
Kalau menurut saya ya bu, forex justru lebih sulit karena mengandung leverage dimana saat floating loss maka akan menggerus modal yang ada.

Misal, saya punya akun forex leverage 1:100 dengan modal $10,000. Lalu saya pasang posisi short untuk emas, maka margin yang digunakan dengan leverage 1:100 adalah $1000 kan? ternyata emasnya malah naik. Lalu floating loss nya akan terlihat menggerus $9000 yang ada di akun kan? Kalau ngga mau pakai leverage trading forex itu mahal, 1 lot nya $100,000.

Kalau saham kan cenderung lebih murah, misalnya SMRA (Summarecon) kan harganya kurang dari seribu per lembarnya, sedangkan potensinya cukup oke melihat proyeknya yang terus ada, walau sekarang industry property sedang menjerit.

Kalau saham kan tidak pakai leverage (Bisa juga sih pakai leverage dengan skema CFD) dan analisanya juga cenderung lebih mudah (menurut saya), saham-saham growth seperti SMSM juga sangat aman.

Kalau diukur dari segi keamanan investasi jangka panjang menurut saya urutannya adalah:
  • Menyewakan kos-kosan, tapi biaya awal besar dan perlu biaya perawatan juga, belum lagi bersaing dengan kos-kosan sebelah
  • Emas, tapi emas hanya sekedar mengimbangi inflasi dan tidak bisa dipakai untuk meningkatkan kekayaan
  • Deposito, setahun maksimal dapat 5,5% itupun dipotong pajak 20% dari yang ibu terima
  • Obligasi [pemerintah (SUN, SBR, dll), selama kondisi negara tidak dinyatakan Default maka oke. Biasanya dapat beberapa persen per tahun.
  • Reksadana
  • Saham yang dikelola sendiri dengan tujuan investasi jangka panjang
  • Saham yang dikelola sendiri dengan tujuan trading
  • Forex, CFD, Binary option
  • Trading Bitcoin
Menurut saya paling jelek untuk sementara adalah Bitcoin karena secara fundamental tidak bisa digunakan karena terlalu volatil. Pagi-pagi $5000, sore-sore bisa $3500. Sebagai mata uang untuk transaksi, yang terlalu volatil seperti ini sangat dihindari karena berpotensi merugikan. Coba saja, ibu jual mobil bekas lalu dibayar dengan Bitcoin (BTC). Pagi-pagi harga BTC nya 80 juta, sore-sore nilainya 50 juta.

Menurut saya instrumen yang paling pas dimana resiko dan potensi profit masih lebih besar profit adalah Saham.

Antisipasi pasar bisa dilakukan dengan banyak membaca berita (tapi jangan terjebak dengan berita palsu yang tidak jelas yang disebarkan untuk menggoreng saham), oleh karenanya investasi jangka panjang menurut saya yang paling oke, tanpa merendahkan trading jangka pendek.