OctaFx

iklan

Kaleidoskop Harga Emas 2019: Perang Dagang Hingga Isu Rate Cut

Tak terasa tahun 2019 tinggal beberapa pekan lagi. Sebelum mempersiapkan rencana trading emas untuk tahun depan, simak dulu kaleidoskop harga emas tahun 2019 berikut ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Emas masih dan selalu menjadi instrumen yang banyak diminati masyarakat, baik itu masyarakat umum maupun dari kalangan trader. Bagi masyarakat umum terutama kaum hawa, emas banyak diburu dalam bentuk perhiasan cantik untuk dikenakan sebagai aksesoris, atau disimpan sebagai investasi.

Sementara bagi trader, emas menjadi instrumen andalan tiap kali ekonomi global sedang tidak stabil, terutama saat perang dagang AS-China mulai mencuat dan ramai diperbincangkan. Namun, apakah pergerakan harga emas disebabkan oleh isu perang dagang saja?

Ulasan artikel kali ini akan mengajak Anda untuk kilas balik apa saja faktor-faktor yang menggerakkan harga emas sepanjang tahun 2019. Agar persiapan trading emas Anda makin ciamik di tahun 2020 mendatang, simak dulu kaleidoskop harga emas 2019 berikut ini.

Kaleidoskop Harga Emas 2019

 

Kaleidoskop Harga Emas Tahun 2019

Mengutip laporan dari Bloomberg, emas mencatatakan kenaikan sebesar 14% sepanjang tahun 2019 ini. Kenaikan itu mengulang keberhasilannya selama empat tahun belakangan, meski pada 2018 sempat menurun 1.6%.

Saat artikel ini ditulis pada pertengahan Desember 2019, emas tengah diperdagangkan di harga $1468 per troy ounce. Padahal pada awal 2019, emas masih diperdagangkan di harga $1275 per troy ounce. Lantas, faktor apakah yang mampu mendongkrak harga emas hingga mengalami peningkatan sebanyak 14% itu?

 

1. Polemik Perang Dagang AS-China

Perang dagang AS-China yang mulai mencuat sejak dua tahun belakangan belum juga usai hingga kini. Pencapaian keputusan yang dianggap alot antar dua negara adidaya tersebut menjadi penyebab utama. Akibatnya, perekonomian global pun turut goyah, termasuk perdagangan emas di pasar forex.

Jika Anda melihat grafik pergerakan XAU/USD di bawah ini, tampak emas mengalami pergerakan yang cukup variatif sepanjang 2019. Pada awal tahun hingga pertengahan Februari 2019, emas menanjak hingga mencatatkan level tertinggi baru selama 10 pekan, tepatnya di level $1326. Kondisi tersebut didukung oleh pelemahan Greenback, karena para pelaku pasar tengah menantikan diskusi lanjutan antara AS-China di Washington pada 22 Februari 2019.

Kaleidoskop Harga Emas 2019 - awal tahun

Penguatan emas tersebut rupanya tak bertahan lama. Akhir Februari hingga April 2019, emas kembali melemah dan menyentuh level $1275 per troy ounce, karena pasar merasa optimis akan tercapainya kesepakatan dagang AS-China. Setelah itu, emas pun bergerak fluktuatif akibat adu tarif antara AS-China hingga akhir Mei lalu.

Akan tetapi, emas kemudian mengalami penguatan cukup signifikan, terhitung mulai Juni hingga September 2019. Pada rentang waktu tersebut, penguatan emas didukung oleh isu perang dagang yang makin jauh dari kesepakatan, serta adanya konflik AS-Iran. Jika Anda perhatikan grafik pergerakan emas berikut, dapat dilihat bahwa emas menguat dari level $1280 hingga $1556 -level tertinggi selama 6 tahun. Kenaikan ini juga didukung oleh minat investor terhadap aset safe haven saat isu politik global masih mendera.

Kaleidoskop Harga Emas 2019 - Juni

Sayangnya, kilau emas di level tertingginya itu tiba-tiba memudar saat AS-China sepakat untuk kembali melakukan negosiasi pada Oktober. Logam mulia ini mengalami penurunan harga tertajam sepanjang tahun 2019, karena kewalahan menghadapi cepatnya "mood-swing" antara AS-China. Diketahui, saat itu harga emas jeblok lebih dari 2 persen ke kisaran 1,518.80.

Emas pun lanjutkan pelemahannya hingga dua bulan berikutnya. Pada Oktober, penurunan harga emas disebabkan oleh kesediaan Presiden Trump untuk menandatangani kesepakatan dagang fase satu dengan China. Sementara pada November lalu, Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa pihaknya dan AS telah setuju untuk saling membatalkan tarif impor dalam beberapa fase. Meski belum ada keterangan waktu yang pasti mengenai kapan perjanjian tersebut akan diteken, para pelaku pasar telah mengasumsikan negosiasi tersebut sebagai sinyal positif.

Emas juga berlanjut bearish hingga level $1466 karena adanya kabar bahwa China mengundang negosiator AS. Mengutip laporan dari Wall Street Journal, para petinggi Beijing telah mengundang negosiator AS untuk menghadiri ronde baru perundingan dagang bilateral secara face-to-face.

Pun jelang akhir November lalu, Presiden dari kedua negara sama-sama memberikan komentar bernada optimis akan tercapainya kesepakatan. Presiden Xi mengatakan bahwa Beijing ingin segera mencapai kesepakatan dagang dengan Washington, sementara Presiden Trump mengatakan bahwa kesepakatan dengan China sudah sangat dekat. Praktis, emas pun ambruk hingga area $1453.

Kaleidoskop Harga Emas - September

Memasuki awal Desember ini, emas pun kembali bullish dan mencatatkan penguatan ke level $1479 karena prospek tercapainya kesepakatan dagang kembali suram. Presiden Trump menganggap jika hanya China-lah yang bersikukuh untuk segera mencapai kesepakatan. Di sisi lain, China mengklaim bahwa pihaknya tak mengejar tercapainya kesepakatan dagang segera, tetapi lebih pada keinginan pencabutan bea impor antar kedua negara.

Campur tangan Presiden Trump dalam penandatangan UU HAM di Hong Kong juga kian menyurutkan prospek deal antara AS-China. Kementerian Luar Negeri China menyatakan penentangan dan mengancam akan mengambil langkah balasan, karena menganggap pemerintah asing ikut campur dalam masalah dalam negeri mereka. Kemarahan China terhadap campur tangan orang nomor satu di AS itu pun mengakibatkan investor ketar ketir. Mereka khawatir jika langkah Trump tersebut dapat mempengaruhi kesepakatan antara AS dengan China.

Selain fluktuatif karena isu perang dagang, pergerakan aset safe haven satu ini juga dipengaruhi oleh prospek pemotongan suku bunga The Fed (Fed Rate Cut) yang berlangsung tiga kali sepanjang tahun 2019. Sejauh manakah pengaruh Fed Rate Cut terhadap pergerakan harga emas?

Memahami Kebijakan Bank Sentral

(Baca Juga: Memahami Kebijakan Bank Sentral: Suku Bunga, Stimulus, Dan Intervensi)

 

2. Isu Pemotongan Suku Bunga The Fed

Selain didukung isu perang dagang AS-China, fluktuasi harga emas juga dipengaruhi oleh kebijakan The Federal Reserve (The Fed) dalam menjaga stabilitas perekonomian negerinya. Sebagaimana diketahui, kisruh perang dagang AS-China disinyalir menjadi penyebab utama ketidakstabilan ekonomi AS. Benarkah demikian?

Jika ditelisik mulai awal 2019, harga emas tampak beragam karena adanya isu pemotongan suku bunga The Fed selama beberapa kali. Pada pertengahan Februari lalu, emas sempat melemah tipis ke level $1326 setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, nyatakan ekonomi AS masih sehat. Pelemahan itu pun berlanjut hingga menyentuh angka $1282 pada pertengahan April.

Namun sejak Mei hingga akhir Juni, emas tampak perkasa dan bergerak menguat. Bahkan, XAU/USD sempat menembus level psikologis $1400 karena ditopang oleh isu Fed Rate Cut. Emas pun kian berkilau hingga level $1431 karena ekspektasi pemangkasan suku bunga hampir bisa dipastikan.

Kaleidoskop Harga Emas Di tengah Prospek Fed Rate Cut

Tepat pada 1 Agustus lalu, The Fed secara resmi menyatakan pemangkasan suku bunga sebesar 25bps dan membuat emas beregerak bullish. Emas bahkan berhasil mencatatkan level tertinggi mingguan di harga $1530 pasca Pidato Powell di Jackson Hole Symposium. Dalam pidato tersebut, Powell menyatakan jika ekonomi AS memang masih baik, tetapi tak menutup kemungkinan ia akan mengambil langkah selanjutnya jika diperlukan.

Fed Rate Cut kedua di tahun 2019 dilakukan The Fed pada Kamis (19/September) lalu. Sayangnya, Rate Cut kedua ini berujung pada pelemahan harga emas hingga $1490. Hal itu disebabkan oleh kurangnya kejelasan mengenai pandangan kebijakan moneter The Fed selanjutnya, mengingat pemangkasan suku bunga bank sentral menjadi salah satu katalis utama yang menopang kenaikan harga emas. Isu terakhir mengenai Fed Rate Cut ketiga bahkan mengakibatkan emas harus memperpanjang reli bearish hingga akhir Oktober 2019.

 

Emas Masih Akan Jadi Aset Paling Berkilau

Meski pergerakannya cenderung fluktuatif dan ekstrem sepanjang tahun ini, tetapi emas merupakan salah satu jenis instrumen investasi yang paling berkilau selama 20 tahun belakangan. Pun, emas diketahui menjadi salah satu aset yang selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Mengutip artikel yang dimuat oleh Business Insider, kinerja emas selalu naik hampir 20% per tahun. Terlepas dari adanya ketidakpastian politik serta perang dagang, kenaikan harga emas juga didukung oleh bertambahnya investor emas, serta saham perusahaan tambang emas yang kian diminati.

Menurut David Roche, presiden dan ahli strategi global dari Independent Strategy, emas diperkirakan dapat melonjak sekitar 30% hingga mencapai level $2000 per ons tahun depan. Namun sebelum mencapai level $2000 tersebut, emas kemungkinan akan berada di angka $1600 terlebih dul. Ditambah lagi, polemik perang dagang yang belum menemui titik kesepakatan kemungkinan masih menjadi katalis utama pergerakan harga emas tahun depan.

Kaleidoskop harga emas tahun 2019 di atas bisa Anda jadikan acuan sebelum menyusun rencana trading selanjutnya. Dengan berbekal kaleidoskop harga emas dalam setahun ini, Anda bisa mencatat bagaimana pola pergerakan emas, serta faktor apa sajakah yang tampak mendominasi, baik secara teknikal maupun fundamental. Ingat, history repeats itself!

 

Sejak emas banyak diminati sebagai instrumen trading terbaik saat perekonomian global sedang goyah, kebutuhan akan aplikasi penyedia informasi seputar logam mulia ini pun gencar dicari oleh para trader. No worries! Anda bisa menemukan informasi lengkap mengenai harga emas hingga ulasan-ulasan detail tentangnya dengan mengunduh aplikasi Dunia Emas. Simak ulasan selengkapnya di artikel "Aplikasi Trading Emas Pilihan Trader Jaman Now".

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.