Advertisement

iklan

Kenali Cara Trading Dengan Indikator

Penulis

+ -

Indikator merupakan salah satu alat bantu trading yang bisa mempermudah analisa. Karena itu, artikel ini akan mengupas cara trading melalui indikator.

iklan

iklan

Bagi kebanyakan trader, menemukan strategi trading ideal adalah "kewajiban" dasar sebelum memulai trading. Strategi trading yang ciamik dianggap bisa menuntun mereka dalam memperoleh profit sesuai harapan. Nah, salah satu caranya adalah trading dengan indikator. Indikator ini dianggap penting sebagai alat untuk mengetahui kondisi pasar sebelum melakukan trading. Tentunya penggunaan indikator ini harus disesuaikan dengan tujuan si penggunanya yaa, jadi tidak asal diterapkan saja selama aktvitas trading. Lalu, indikator apa saja sih yang umum digunakan dalam trading?

 

1. Indikator Arah Tren

Mendapatkan profit dengan melawan tren (counter-trend) bukanlah hal yang mustahil. Namun, kebanyakan trader lebih memilih mengikuti arah tren ( trend following ) untuk mendapatkan profit yang maksimal. Pada saat inilah indikator penunjuk arah tren diperlukan, guna mengetahui kelanjutan arah pergerakan harga apakah akan naik (uptrend) atau sebaliknya (downtrend). Dalam hal ini, indikator sederhana yang biasa digunakan yaitu Moving Average (MA). MA adalah indikator teknikal yang menghaluskan pergerakan harga dengan menyaring fluktuasi harga yang bersifat acak. Agar fungsi MA sebagai penunjuk arah tren makin jelas, perhatikan grafik di bawah ini:

indikator moving average
Pada contoh grafik USD/JPY di atas, indikator yang digunakan adalah MA berperiode 20. Trader dapat mengenali perubahan tren dengan melihat posisi relatif garis Moving Average terhadap grafik harga. Jika harga sekarang berada di bawah garis Moving Average, maka terjadi tren menurun (downtrend). Sebaliknya, jika harga sekarang berada di atas garis Moving Average, maka sedang terjadi tren naik (uptrend) .

Namun, MA ini tergolong sebagai indikator lagging (tertunda) karena baru terbentuk ketika harga sudah terjadi. Maka, untuk meminimalkan kelemahan ini, trader perlu mengimbangi dengan indikator lain guna memperoleh konfirmasi arah tren yang lebih akurat dan teliti. 

 

2. Indikator Konfirmasi Tren

Seperti telah disebutkan sebelumnya, cara trading dengan indikator MA memungkinkan terjadinya kesalahan sinyal akibat keterlambatannya dalam merespon pergerakan harga. Oleh karena itu, diperlukan sebuah indikator tambahan yang mengukur apakah arah yang ditunjukkan oleh MA tersebut masih bisa dijadikan patokan trading, atau justru sudah terlewat momentumnya. Meskipun demikian, indikator ini tidak dimaksudkan sebagai konformasi untuk entry, melainkan hanya untuk mengkonfirmasi arah trend yang ditunjukkan sebelumnya. Indikator yang dimaksud yaitu Moving Average Convergence Divergence (MACD).

Pada dasarnya, MACD banyak digunakan sebagai penunjuk arah tren dan momentum pasar. Ketika tren harga sedang naik (uptrend), area MACD berada di zona positif atau di atas level 0. Sebaliknya, ketika tren harga sedang turun (downtrend), area MACD berada di zona negatif atau di bawah level 0.

indikator MACD
Namun satu hal yang perlu diingat: baik itu indikator penunjuk arah tren maupun konfirmasi tren, tidak digunakan sebagai indikator untuk menentukan posisi entry. Kedua indikator ini digunakan trader hanya untuk memberikan keyakinan lebih dalam sebelum memutuskan open posisi.

 

3. Indikator Overbought Dan Oversold

Setelah mengetahui arah trend dan mengkonfirmasikannya, langkah berikutnya adalah mencari peluang yang tepat untuk entry. Jika kita langsung entry begitu saja, maka kita tidak tahu kondisi kekuatan tren saat itu, apakah masih kuat atau telah mendekati level jenuhnya. Level jenuh artinya rawan terjadi koreksi (retracement), dan koreksi yang berlanjut bisa menyebabkan harga berbalik arah (reversal).

Untuk mengetahui tingkat kejenuhan suatu pergerakan harga, apakah sudah mencapai kondisi jenuh beli (Overbought) atau jenuh jual (Oversold) , maka indikator yang tepat digunakan adalah Relative Strength Index (RSI). Entry sell bisa dilakukan ketika harga mencapai level Overbought, karena asumsinya harga sudah tak kuat melanjutkan kenaikan dan akan segera berbalik turun. Sebaliknya, saat RSI mensinyalkan kondisi Oversold, trader dapat mengambil entry buy.

RSI dapat mengakumulasikan pergerakan dari sebuah chart selama rentang waktu tertentu, dan mengkalkulasikannya kedalam sebuah nilai bilangan dari 0 sampai dengan 100. Angka 20 pada RSI bisa diartikan bahwa harga berada pada kondisi Oversold, dan angka 80 adalah kondisi Overbought. Namun tidak semua trader menggunakan ukuran yang sama untuk kondisi tersebut. Pada chart USDJPY di bawah ini, acuan yang digunakan untuk Overbought adalah pada level angka 70, sedangkan Oversold berada pada level angka 30.
 indikator RSI

 

4. Indikator Profit Taking

Setelah entry, kita harus mengetahui level yang paling optimal untuk Exit dari pasar, tidak hanya berdasarkan perkiraan semata. Dari contoh di atas, RSI bisa juga digunakan sebagai indikator untuk Exit atau profit-taking. Misalkan trader sebelumnya entry dengan sinyal Oversold, maka ia bisa menunggu sampai sinyal RSI menunjukkan Overbought untuk menutup posisi buy.

Namun arena RSI di atas kurang cocok digunakan untuk kondisi trending, maka untuk menghindari kesalahan, trader juga dapat menggunakan indikator Bollinger Bands (BB).

Bollinger Bands adalah salah satu indikator teknikal untuk mengukur volatilitas dan menentukan arah tren pergerakan harga. Ciri khas dari indikator BB adalah adanya tiga pita (upper, middle, dan lower band) dengan pergerakan harga forex di dalamnya. Indikator BB banyak dipilih trader sebagai indikator profit taking, karena BB dapat mengumpulkan data harga secara historis sehingga membentuknya menjadi suatu garis terowongan (channel). Berikut ini adalah contoh chart pada USD/JPY dengan indikator Bollinger Bands:

bollinger bands

Trader yang sedang open posisi Buy dapat melakukan profit taking ketika harga menyentuh garis channel paling atas (Exit Buy). Sementara trader yang sedang open posisi Sell dapat melakukan profit taking ketika harga menyentuh garis channel paling bawah (Exit Sell).

 

Terlepas dari adanya cara trading dengan indikator di atas, risiko tentu merupakan konsekuensi yang harus diterima bagi setiap trader. Untungnya, risiko trading tersebut dapat diminimalisir dengan menguasai Manajemen Risiko. Untuk itu, ketahui lebih jauh tentang hal itu di artikel Manajemen Risiko Dalam Trading Forex.

62442
Penulis

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.

Marwan Aditya

Menurut saya lebih mudah melihat I ndikator Arah Trend . daripada indikator lainnya. Disini sudah ada informasinya mengenai perkembangan trend pasar dalam kurun MA 10-day dan 30-day. Rangkuman tersebut bisa menjadi acuan untuk mengetahui tren pasar yang sedang berlangsung saat ini. Ini bs membantu trader menentukan open position (buy/sell) yg lebih tepat dan akurat.

Nisa R

iya pak. Memang beda-beda preferensi trader terhadap indikator. Bahkan ada kok yang ga pake indikator sama sekali wkwk

Rudy Bangun

Bisakah kita melakukan trading tanpa indikator?

Rizal Sf

Anda bisa membaca informasi tentang trading tanpa indikator di artikel kami berikut:

Cara Trading Tanpa Indikator

Cara Belajar Naked Trading