OctaFx

iklan

Kenali Kinerja Perusahaan Melalui Clean Surplus Accounting

Warren Buffet adalah salah seorang yang menganalisa kinerja perusahaan menggunakan perhitungan Clean Surplus Accounting ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Apa itu Clean Surplus Accounting? Dr. J. B. Farwell menjelaskan dalam bukunya "Buffet and Beyond" bahwa metode akuntansi tradisional yang berlaku, tidaklah relevan untuk membandingkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas). Karena terdapat biaya-biaya lain yang tidak setiap tahun terjadi atau tiba-tiba terjadi (non-recurring items). Jadi, si penulis menjelaskan sebuah metode yang lebih relevan untuk membandingkan profitabilitas perusahaan, yaitu Clean Surplus Accounting (CSA).

Warren Buffet adalah salah seorang yang menggunakan perhitungan CSA ini. Konon, saat memutuskan membeli saham Coca Cola, beliau menilai kinerja perusahaan melalui metode screening saham Clean Surplus Accounting. Perhitungan berdasarkan Clean Surplus Accounting adalah sebagai berikut.

Clean Surplus Accounting

 

Menentukan ROE berdasarkan Clean Surplus Accounting (ROE CSA)

ROE (Return on Equity) berdasarkan Clean Surplus Accounting ini merupakan sebuah refleksi dari keseluruhan kinerja perusahaan. Bagaiman kinerja manajemen, seberapa efisien sistem produksi, distribusi, pemasaran, sumber daya manusia, dan lain-lain, semua tercermin dalam rasio ini. ROE Clean Surplus Accounting (CSA) memberikan gambaran tentang seberapa bagus dan efisien perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

Semakin tinggi dan semakin konsisten ROE CSA sebuah perusahaan, menandakan kalau perusahaan tersebut memiliki kinerja yang bagus. Maka, pilih perusahaan yang memiliki ROE tinggi dengan konsistensi tinggi.

ROE CSA = Return Bersih : Equity CSA

  • Return bersih = Laba Tahun Berjalan; apabila ada maka gunakan Laba Tahun Berjalan yang Diatribusikan Kepada pemilik Entitas Induk (bukan Penghasilan Komprehensif Lain dan Total Laba Komprehensif).
  • Equity CSA = Nilai Buku tahun lalu + Laba Ditahan tahun lalu.
  • Nilai Buku = Total Aset - Total Liabilitas.
  • Laba Ditahan = Laba Bersih Tahun berjalan - Dividen.

Tips: Hitung Equity CSA sejak 10 tahun sebelumnya untuk memperoleh gambaran kinerja perusahaan secara utuh.


Contoh: Saham LPCK

  • Return bersih = Rp 539,820,000,000 (Laba Tahun Berjalan yang Diatribusikan Kepada pemilik Entitas Induk)
  • Equity CSA (rincian di bawah ini);

Contoh Equity CSA

Nilai buku (Total Aset - Total Liabilitas) tahun 2006 adalah 447,564,000,000, dengan laba ditahan sebesar 3,270,000,000 (Laba Bersih - dividen). Maka Nilai Buku tahun 2007 adalah 450,834,000,000. Begitupun untuk menentukan nilai buku 2008, maka nilai buku 2007 ditambah laba ditahan di 2007, hasilnya adalah nilai buku 2008. Begitu seterusnya hingga didapat nilai buku tahun 2016 sebesar 3.583 triliun.

  • Maka ROE CSA saham LPCK tahun 2016 adalah:

ROE CSA = Return Bersih : Equity CSA
= 539,820,000,000 : 3,583,000,000,000
= 0.15 atau 15%


Semakin tinggi ROE CSA perusahaan, maka semakin baik. Lebih baik lagi apabila setiap tahunnya dihitung ROE CSA-nya, lalu dilihat apakah nilai ROE-nya berdekatan. Contoh LPCK tahun 2014, ROE CSA-nya 16%; lalu di 2015, 15; dan di 2016, 15%; maka nilai ROE yang rapat menandakan konsistensi yang tinggi.

Pilihlah perusahaan yang ROE CSA-nya tinggi dan konsisten. ROE CSA yang tinggi dan konsisten menunjukkan kemampuan yang baik dari manajemen dalam usahanya menjaga pendapatan rutinnya dan terus meningkatkan kinerja perusahaan. Selanjutnya silahkan analisa lebih lanjut mengenai rasio hutang dan proyek yang sedang berlangsung, atau Price Earning Ratio (PER) dan lain sebagainya.

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'