Advertisement

iklan

Kisah Tragis Trader Yang Bunuh Diri Di Masa Pandemi COVID-19

Alexander Kearns mengakhiri hidup setelah melihat akun tradingnya minus hingga 730,000 USD. Apakah insiden ini berkaitan dengan pandemi COVID-19?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Lockdown yang diterapkan di banyak negara karena pandemi COVID-19 telah membuat banyak orang mengisi waktu luang dengan berbagai aktivitas di dunia maya, tak terkecuali Alexander Kearns. Karena kegiatan perkuliahannya di University of Nebraska dihentikan sementara, pemuda berusia 20 tahun ini menjalani masa lockdown di rumah orang tuanya di Naperville, Illinois.

Alexander Kearns

Untuk mengisi waktu luang, Kearns mencoba peruntungannya di dunia trading online. Ia merupakan satu dari 3 juta "trader dadakan" yang membuat akun baru di broker Robinhood selama pandemi. Sehubungan dengan gejolak pasar saham karena krisis Corona, Kearns terinspirasi untuk bereksperimen di pasar option.

Sayangnya, ia tak menyadari jika trading yang dikelolanya merupakan margin trading yang menggunakan leverage. Karena tak sadar risikonya, ia terkejut bukan kepalang saat mengetahui bahwa kerugian posisi yang dideritanya menyebabkan balance akun trading menjadi -730,000 USD. Mengira ia memiliki utang sebanyak itu, Kearns yang putus asa kemudian mengakhiri hidupnya. Ia juga meninggalkan pesan penuh amarah dan sangat shock karena akun kecilnya bisa "menanggung utang" sebanyak itu.

Dalam pesan kematiannya, Alexander Kearns menulis:

"Bagaimana seseorang berusia 20 tahun yang belum memiliki sumber penghasilan bisa mendapatkan leverage senilai hampir satu juta Dolar? (Order) Put yang saya beli/jual seharusnya dibatalkan juga, tapi saya juga tidak tahu apa yang saya lakukan sekarang. Tidak ada niatan untuk mengambil (ukuran trading) sebanyak ini dan menanggung risiko sebanyak ini, dan saya pikir saya hanya merisikokan uang yang saya miliki. Jika Anda cek app trading saya, pilihan margin investing saja tidak dinyalakan. Betapa ini pelajaran yang menyakitkan."

 

Apa Yang Sebenarnya Terjadi?

Kematian tragis Alexander Kearns sejatinya penuh ironi dan sangat disayangkan. Pasalnya, angka -730,000 USD yang membuatnya mengakhiri hidup sesungguhnya cuma bersifat sementara. Menurut laporan Forbes, balance akun trading nantinya akan terkoreksi begitu saham yang menjadi underlying asset dari transaksi option dikreditkan ke akun trading. Dengan kata lain, kerugian trading Alexander Kearns sebenarnya tidak membuat akunnya minus hingga ratusan ribu Dolar; itu hanyalah informasi teknis yang akan berubah dengan sendirinya setelah semua transaksi selesai tereksekusi.

Lantas, apakah kisah tragis trader ini sebenarnya sia-sia?

Kisah tragis trader yang bunuh diri

Jawabannya tidak, karena kematiannya menyadarkan banyak pihak akan konsekuensi broker menjaring trader pemula tanpa membekali platform trading dengan informasi yang memadai. Kearns secara tidak langsung "digiring" untuk meyakini bahwa ia memiliki utang hingga ratusan ribu Dolar, karena platform Robinhood sama sekali tak menginformasikan jika angka negatif di akunnya hanya bersifat sementara.

Hal inilah yang dipermasalahkan oleh Bill Brewster, kerabat Alexander Kearns yang berprofesi sebagai analis di Sullimar Capital Group. "Anak itu mengakhiri hidupnya hanya karena sebuah perusahaan tak bisa memahami bahwa mereka tak seharusnya menunjukkan balance negatif 730,000 USD pada seorang anak berusia 20 tahun... Mengapa tidak ada window pop-up yang menyatakan bahwa angka negatif itu bukan utang?" sesal Brewster sebagaimana dilansir CNN Business.

Lebih lanjut, Bill Brewster juga mengunggah screenshot kondisi akun terakhir Alexander Kearns di Twitter:

Menurutnya, kesalahpahaman ini sebenarnya bisa segera diluruskan jika pihak Robinhood bisa dihubungi via telepon oleh Kearns. Namun, broker tersebut hanya berkomunikasi dengan pelanggan melalui email, yang biasanya membutuhkan waktu 1 minggu untuk direspon.

Padahal, Robinhood merupakan salah satu broker AS yang tengah gencar menggaet trader-trader pendatang baru dari kalangan muda. Broker tersebut bahkan menawarkan beberapa promo seperti trading tanpa komisi, kemudahan trading di Mobile App, dan bonus saham gratis. Selain Robinhood, broker-broker lain seperti E-Trade, TD Ameritrade, Charles Schwab, Interactive Brokers, Fidelity, dan Merrill Lynch juga memfasilitasi trading tanpa komisi serta balance minimum nol untuk menarik minat kawula muda.

 

Tanggapan Dari Pihak Broker

Menanggapi insiden kematian Alexander Kearns dan unggahan Bill Brewster di Twitter, Robinhood mengumumkan beberapa perubahan user interface pada layanan trading option, yang meliputi perubahan tampilan buying power, pesan dalam aplikasi untuk menginformasikan segala hal tentang transaksi option, dan riwayat dalam aplikasi untuk membantu klien memahami mekanisme trading option dengan lebih baik.

Broker Robinhood

Selain itu, edukasi tentang seluk-beluk trading option berikut mekanisme platformnya akan ditambahkan dalam rubrik edukasi baru dan diajarkan oleh pakar option yang rencananya akan mereka rekrut.

"Kami secara pribadi merasa berduka cita atas tragedi ini... perubahan-perubahan yang direncanakan akan membutuhkan waktu sebelum diluncurkan, tapi tim kami sedang bekerja keras (untuk mengupayakannya)...," tulis Vlad Tenev dan Balju Batt selaku pimpinan Robinhood di situs resmi broker. Mereka juga berencana menyumbangkan donasi sebesar 250,000 USD untuk American Foundation for Suicide Prevention.

 

Belajar Dari Insiden Bunuh Diri Alexander Kearns

Jika disimpulkan lagi, kisah tragis Alexander Kearns sebenarnya tidak secara langsung disebabkan oleh krisis COVID-19. Lockdown yang disebabkan oleh pandemi tersebut hanyalah faktor situasi yang melatarbelakangi insiden bunuh diri Kearns.

Penyebab yang lebih mendasari adalah kurangnya komitmen broker untuk mengedukasi trader pemula sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Namun demikian, hal ini bukan berarti Alexander Kearns tidak melakukan kesalahan sama sekali. Sebagai trader pemula yang masih coba-coba, ia boleh jadi kurang mendalami risiko trading dan terlalu berani bereksperiman di akun real. Agar tidak bernasib sama seperti Alexander Kearns, berikut adalah 7 pelajaran yang bisa dipetik dari kesalahannya:

 

1. Matangkan Persiapan Trading

Hikmah paling penting yang perlu diperhatikan dari kisah tragis trader ini adalah pahami betul seluk-beluk trading sebelum terjun dengan uang riil. Kesalahpahaman Kearns tidak hanya disebabkan oleh broker yang lalai menambahkan informasi terkait balance negatif, tapi juga ketidaktahuannya akan mekanisme transaksi di pasar option.

Selain itu, penting juga untuk mengetahui dengan baik cara kerja platform trading yang disediakan broker. Jika informasi di platform trading dirasa masih kurang atau belum familiar, maka jangan buru-buru untuk mendepositkan dana agar bisa trading di akun real.

 

2. Hati-Hati Dengan Leverage

Dijuluki sebagai "pedang bermata dua", leverage memang memiliki kelebihan sekaligus kelemahan yang perlu diperhatikan baik-baik. Adanya leverage memang bisa membantu Anda membuka posisi dengan ukuran yang lebih besar dari kemampuan modal. Namun, semakin tinggi leverage yang digunakan, maka semakin kecil pula ketahanan dana terhadap risiko. Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, risiko kerugian bisa membuat dana Anda lebih cepat tergerus.

Waspadai Leverage(Baca juga: Risiko Leverage Tinggi Dalam Trading Forex)

Oleh karena itu, pastikan bahwa leverage yang Anda gunakan sudah proporsional dengan potensi keuntungan dan risiko kerugian yang siap ditanggung. Jika tidak, maka mental trading Anda akan mudah terguncang layaknya Alexander Kearns ketika menghadapi kerugian secara tidak terduga.

 

3. Perhatikan Negative Balance Protection

Negative Balance Protection merupakan bentuk perlindungan yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh para trader. Meski platform trading umumnya sudah dilengkapi dengan Stop Out dan Margin Call untuk mencegah kerugian transaksi melebihi jumlah dana yang dimiliki trader, kondisi pasar yang penuh kejutan bisa membuat Stop Out dan Margin Call jebol. Kasus seperti ini pernah terjadi saat pasar diguncang oleh "bom kejutan" dari bank sentral Swiss.

Sebaiknya, pilihlah broker yang memiliki kebijakan Negative Balance Protection untuk mencegah risiko tak terkendali dari jebolnya Stop Out dan Margin Call. Fitur tersebut bisa melindungi akun Anda dari kondisi balance negatif.

 

4. Antisipasi Risiko Sebaik Mungkin

Stop Out, Margin Call, dan Negative Balance Protection merupakan "benteng" perlindungan terakhir. Jika Anda bisa mengamankan risiko kerugian dengan manajemen yang baik, kenapa harus menunggu sampai kena Margin Call?

Manajemen risiko bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang paling sederhana dengan membatasi ukuran trading per posisi, hingga menerapkan rasio Risk/Reward untuk menjaga profitabilitas dalam jangka panjang. Berbagai tips dan cara mengatur risiko dalam trading bisa Anda pelajari di rubrik manajemen risiko.

 

5. Jangan Cepat Putus Asa

Kerugian merupakan suatu hal yang wajar dalam trading. Ada untung, sudah pasti ada rugi. Semakin besar potensi untung, semakin tinggi juga peluang ruginya. Maka dari itu, jangan mudah putus asa apabila Anda mengalami kerugian saat trading.

Lalu bagaimana jika kerugiannya ternyata luar biasa besar seperti yang dialami Alexander Kearns? Pertama-tama, coba ingat apakah Anda sudah menerapkan manajemen risiko dengan baik. Kedua, selidiki kemungkinan anomali pasar atau kesalahan sistem platform dari broker yang mungkin terjadi. Anda bisa menghubungi pihak broker atau mengunjungi forum sesama trader yang juga memiliki akun di broker tempat Anda trading.

Tidak putus asa dalam trading

Bagaimanapun juga, trader yang menggunakan manajemen risiko terencana akan lebih bijak dalam menyikapi kerugian. Selain karena ia sudah mengantisipasi kerugian tersebut, jumlahnya juga sudah disesuaikan dengan batas yang mampu ditoleransi.

Anda juga bisa menjaga kesehatan mental trading agar tak mudah tertekan oleh fluktuasi pasar yang tak menentu. Sesekali lakukanlah kegiatan lain yang menghibur untuk mengistirahatkan pikiran dari kepenatan trading. Trader yang kesehatan mentalnya terjaga akan lebih tenang ketika dihadapkan oleh situasi-situasi mengejutkan, bisa melakukan evaluasi keadaan, dan mengambil tindakan dengan lebih rasional.

 

6. Jauhi Kondisi Trading Berisiko Tinggi

Trader pemula memang belum memiliki banyak jam terbang, tapi mereka yang sudah banyak belajar pasti paham jika tidak semua kondisi pasar bisa ditradingkan. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, sebaiknya jangan bertransaksi untuk menghindari risiko-risiko tak terduga.

Trader ritel (apalagi yang masih pemula) hanya akan terombang-ambing di tengah arus pergerakan yang bergejolak. Harga jadi sangat sulit dianalisa, dan strategi sebaik apapun biasanya tidak mempan jika harga sudah bergerak melawan prediksi. Untuk mengenali seperti apa kondisi pasar yang tidak layak ditradingkan, silahkan pelajari di artikel Waktu Trading Forex Paling Berbahaya.

 

Sebagai penyemangat bagi Anda yang baru mendalami trading forex dan masih sering mengalami jatuh bangun, simak juga 5 Trader Sukses Yang Terkenal Bermental Baja.

Download Seputarforex App

293261

Alumni Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya yang sekarang menjadi pengisi konten artikel di seputarforex.com. Aktif menulis tentang informasi umum mengenai forex, juga terinspirasi untuk mengulas profil dan kisah sukses trader wanita.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone