Konsep Alokasi Aset Strategis I

68406

Volatilitas pasar yang tinggi dan kondisi ekonomi yang masih belum menentu hingga saat ini telah menambah urgensi bagi para investor untuk berpikir keras mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan terhadap investasinya. Bukan hal yang mudah memang, apalagi mengingat begitu cepat dan makin tak terduganya arah dari pergerakan pasar, sebenarnya sebelum investor menentukan langkah yang

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Reksadana - twps2 - StarFishVolatilitas pasar yang tinggi dan kondisi ekonomi yang masih belum menentu hingga saat ini telah menambah urgensi bagi para investor untuk berpikir keras mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan terhadap investasinya. Bukan hal yang mudah memang, apalagi mengingat begitu cepat dan makin tak terduganya arah dari pergerakan pasar, sebenarnya sebelum investor menentukan langkah yang harus diambil, semestinya investor merumuskan terlebih dahulu alokasi aset strategisnya karena dengan alokasi aset strategis inilah investor mempunyai dasar untuk pengambilan keputusan berinvestasi.

Dalam uraian kali ini saya mencoba memberikan pengenalan mengenai alokasi aset, diversifikasi dan rebalancing dengan harapan bisa membantu para investor dalam mencapai pertumbuhan investasi yang optimal. Sebenarnya dalam dunia investasi memerlukan suatu proses - tidak bisa dicapai serta merta begitu saja, oleh karena itu investor perlu menghindari jalan pintas dalam memperoleh suatu keuntungan yang besar dalam jangka waktu yang singkat. Untuk dapat melakukan sebuah proses investasi dengan baik, investor memerlukan ilmu, kesabaran serta kedisiplinan.

Investor juga perlu memahami dimana setiap investasi memiliki dua sisi yang memiliki imbal hasil dan resiko, dimana keduanya memiliki korelasi yang positif, dimana potensi imbal hasil yang tinggi selalu diikuti dengan resiko yang tinggi pula. Namun resiko bukanlah hal yang harus dihindari, melainkan harus dikelola. Ini berarti investor harus mengambil tingkat resiko tertentu dalam investasinya sesuai dengan profil resikonya. Karena itu, proses investasi merupakan bagian dari strategi dalam mengelola resiko.

Secara garis besar, bisa anda lihat pada tabel dibawah ini dimana tahapan-tahapan dalam proses investasi. T. Investasi - twps2 - StarFish

Pada artikel kali ini penulis mencoba untuk menguraikan beberapa hal mengenai aset alokasi, diversifikasi dan rebalancing sebagai bagian dari proses perencanaan keuangan.

Alokasi Aset
Alokasi aset strategis ialah pengalokasian sejumlah porsi aset sesuai dengan perhitungan investasinya. Perumusan ini dilakukan sesuai dengan tujuan dan batasan investasi setiap investor, serta dengan mempertimbangkan resikonya. Pada dasarnya, setiap jenis aset (asset class) memiliki imbal hasil dan resiko yang berbeda-beda. Masing-masing jenis aset juga memiliki perilaku yang berbeda pula. Naik nilainya, aset yang lain mungkin justru sedang turun atau tidak naik nilainya, demikian pula sebaliknya. Proses alokasi aset mencakup pembagian suatu portofolio investasi kedalam berbagai kategori aset, seperti saham, obligasi dan kas. Proses penentuan komposisi aset dalam portofolio ini merupakan proses yang unik bagi setiap investor. Alokasi aset yang pas bagi seorang investor akan sangat bergantung pada horizon waktu berinvestasi serta toleransi terhadap resiko.

    • Strategic Asset Allocation Strategic asset allocation ialah metode alokasi asset yang berpedoman pada pembentukan "base policy mix" atau komposisi dasar portofolio. Base policy mix ini merupakan kombinasi dari berbagai asset secara proporsional berdasarkan tingkat imbal dari hasil yang diharapkan (expected return).
      Contohnya, jika saham secara historis memberikan imbal hasil sebesar 20% per-tahun sedangkan obligasi memberikan imbal hasil 10% per-tahun, maka portofolio dengan komposisi 50% saham dan 50% obligasi dapat diharapkan memberikan imbal hasil (expected return) per-tahun sebesar 50% x 20% + 50% x 10% = 15%.
      Strategic asset allocation merupakan strategi portofolio yang melibatkan rebalancing portofolio dalam menjaga tujuan jangka panjang untuk alokasi sebuah aset. Pada saat portofolio dibentuk, ditentukan suatu “base policy mix” berdasarkan tingkat imbal hasil yang diharapkan (expected returns). Karena nilai suatu asset bisa berubah dari waktu ke waktu akibat perubahan kondisi pasar, maka komposisi portofolio pun harus disesuaikan secara berkesinambungan untuk memenuhi strategi investasi.

    • Jangka Waktu Investasi Kurun waktu dalam berinvestasi yang diperkirakan merupakan kurun waktu yang diperlukan oleh investor dalam mencapai tujuan dari investasinya. Investor dengan kurun waktu investasi yang panjang mungkin akan lebih merasa nyaman dengan instrumen investasi yang lebih beresiko karena ia memiliki kapasitas menunggu. Kapasitas menunggu ini memungkinkan investor untuk melalui pergerakan naik turunnya siklus ekonomi dan fluktuasi pasar. Sebaliknya, seorang investor yang sedang menabung untuk membiayai kuliah anaknya yang sudah beranjak remaja kemungkinan tidak akan berani mengambil risiko yang terlalu besar karena kurun waktu investasinya lebih singkat.

 

    • Toleransi Resiko Toleransi sebuah resiko adalah kemampuan dan kerelaan sang investor pada saat kehilangan sebagian atau seluruh pokok investasi demi meraih potensi imbal hasil yang lebih besar. Seorang investor yang agresif atau memiliki toleransi resiko yang tinggi mungkin berani kehilangan uangnya demi mengejar imbal hasil yang lebih tinggi. Sedangkan disisi lain, seorang investor yang konservatif cenderung akan memilih investasi yang mempertahankan pokok investasinya.

 

    • Resiko dan Imbal Hasil Dalam berinvestasi, sebuah resiko dan imbal hasil saling berkaitan antara satu sama lain. Semua jenis investasi pada dasarnya memiliki tingkat resiko tertentu. Untuk itu, penting bagi para investor untuk memahami tingkat resiko dari instrument jenis investasi yang akan dibeli/diambil. Imbalan atas pengambilan resiko adalah berupa potensi tercapainya imbal hasil investasi yang lebih tinggi. Jika seorang investor dengan jangka waktu investasi panjang ingin mencapai tujuan investasinya, maka kemungkinan ia bisa meraih imbal hasil yang tinggi dengan secara hati-hati dalam berinvestasi pada kelompok aset beresiko seperti saham atau obligasi, dibandingkan dengan membatasi investasi pada aset-aset dengan resiko yang lebih rendah seperti instrumen setara kas. Sebaliknya, investasi hanya pada instrument setara kas mungkin pas untuk memenuhi kebutuhan finansial jangka pendek.

 

Jenis Pilihan Investasi Pilihan jenis investasi saat ini tersedia berbagai jenis pilihan instrument investasi, seperti Sertifikat Bank Indonesia, saham, obligasi (baik obligasi yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi), reksa dana, Exchange Traded Fund (ETF), dan lain sebagainya. Demi memenuhi berbagai kebutuhan finansial, investasi di berbagai jenis aset mungkin merupakan strategi yang baik.

Secara umum, ada tiga jenis aset utama: (1) saham, (2) obligasi atau efek pendapatan tetap, dan (3) kas. Mari kita telaah lebih lanjut karakteristik ketiga jenis aset ini.

1. Saham - Secara historis, saham memiliki resiko dan imbal hasil yang tertinggi diantara ketiga jenis aset. Sebagai suatu kategori aset, saham menawarkan potensi terbesar bagi peningkatan nilai portofolio. Namun disisi lain, volatilitas saham membuat jenis aset ini menjadi sangat beresiko dalam jangka pendek. Sebagai ilustrasi, Di Amerika Serikat saham-saham perusahaan besar secara agregat mengalami penurunan nilai rata-rata sekali setiap tiga tahun. Terkadang nilai kerugian yang ditimbulkan juga bisa sangat besar. Akan tetapi investor yang mau menerima volatilitas dalam kurun waktu yang lama pada umumnya menerima imbal hasil yang positif dan tinggi.

2. Obligasi - Pergerakan dari harga obligasi secara umum relatif tidak terlalu bergejolak dibandingkan dengan saham, namun imbal hasilnya lebih rendah. Oleh karena itu, seorang investor yang sudah hampir mencapai tujuan investasinya mungkin akan memperbesar porsinya pada obligasi relatif terhadap porsi saham dalam portofolio investasinya karena berkurangnya risiko dirasakan lebih atraktif meskipun imbal hasil yang dihasilkan akan lebih rendah. Di lain pihak, ada juga obligasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi, bahkan serupa dengan imbal hasil saham. Namun obligasi demikian, yang dikenal dengan istilah high-yield bonds atau junk bonds, juga memiliki tingkat resiko yang tinggi.

3. Kas - Setara seperti tabungan, deposito berjangka, sertifikat deposito, SBI dan reksadana, pasar uang merupakan instrumen yang paling aman (berisiko paling kecil), namun menawarkan imbal hasil terendah diantara ketiga asset class. Kemungkinan bagi investor untuk kehilangan dana dalam investasi pada asset class ini pada umumnya sangat rendah. Untuk produk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu, pemerintah bahkan melakukan penjaminan melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Satu-satunya faktor yang menjadi pertimbangan investor untuk berinvestasi pada kas atau setara kas adalah risiko inflasi, yaitu risiko laju inflasi bergerak lebih cepat dari laju pertumbuhan imbal hasil.

Saham, obligasi dan kas merupakan asset class yang paling umum. Diluar ketiga asset class tersebut masih ada beberapa asset class lainnya seperti properti/real estate, logam berharga, komoditas dan private equity. Investasi pada asset class ini umumnya memiliki resiko yang spesifik, sehingga investor sebaiknya mempelajari terlebih dahulu beberapa faktor-faktor resiko yang terkait dan memastikan bahwa resikonya dapat diterima.


Bayu mengenal dunia investasi saat masih studi di perguruan tinggi, kemudian berlanjut menjadi penulis mengenai berbagai jenis investasi dan strategi-strategi trading di Seputarforex. Bayu meyakini bahwa trading bukanlah mesin jackpot, dan kita harus terus belajar agar bisa menjadi seorang trader sukses.