Advertisement

iklan

Konsep Alokasi Aset Strategis II

71383

Mengapa alokasi aset strategis begitu penting ? Dengan memasukkan berbagai asset class dengan imbal hasil yang naik turun dalam kondisi pasar yang berbeda-beda kedalam suatu portofolio, sedangkan untuk investornya sendiri� dapat melindungi dirinya dari kerugian yang sangat besar. Secara historis, imbal hasil dari ketiga asset class utama pada umumnya tidak bergerak maupun naik atau turun secara

Xm

iklan

FirewoodFX

iklan

Konsep Alokasi Aset - twps2 - StarFishMengapa alokasi aset strategis begitu penting ? Dengan memasukkan berbagai asset class dengan imbal hasil yang naik turun dalam kondisi pasar yang berbeda-beda kedalam suatu portofolio, sedangkan untuk investornya sendiri  dapat melindungi dirinya dari kerugian yang sangat besar. Secara historis, imbal hasil dari ketiga asset class utama pada umumnya tidak bergerak maupun naik atau turun secara bersamaan. Kondisi pasar yang dapat mengakibatkan suatu asset class memberikan imbal hasil tertinggi mungkin saja akan menyebabkan asset class yang lain malah menghasilkan imbal hasil yang rendah.

Dengan berinvestasi dilebih dari satu asset class maka investor dapat mengurangi risiko kerugian dan fluktuasi imbal hasil portofolio secara keseluruhan yang akan menjadi lebih stabil. Jika investasi disuatu asset class mengalami kerugian, maka investasi diasset class lainnya bisa memberikan imbal hasil yang tinggi sehingga dapat menutupi kerugian tersebut.

Diservikasi Alokasi aset strategis juga penting untuk diversifikasi (penyebaran risiko, yaitu dengan berinvestasi pada beberapa instrumen investasi sehingga risiko investasinya bisa disebar). Kegiatan menyebarkan dana ke berbagai investasi dikenal dengan istilah diversifikasi. Dengan memilih investasi yang tepat, maka investor dapat membatasi kerugian dan mengurangi fluktuasi imbal hasil investasinya tanpa harus mengorbankan terlalu banyak potensi memperoleh keuntungan. Selain itu, alokasi aset strategis juga penting karena berpengaruh besar terhadap pemenuhan tujuan investasi. Jika investor tidak berani mengambil cukup risiko, maka imbal hasil investasinya mungkin tidak cukup untuk memenuhi tujuan investasi.

Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan investasi jangka panjang seperti tabungan pendidikan atau tabungan untuk membiayai kuliah, sebagian besar ahli keuangan akan setuju bahwa investor sebaiknya mengikutsertakan saham atau reksa dana saham dalam portofolionya. Sebaliknya, jika investor terlalu berani mengambil risiko, maka ada kemungkinan dana yang diinvestasikan tidak tersedia pada saat investor membutuhkannya. Portofolio yang sebagian besar berisi saham atau reksa dana saham misalnya, tidak cocok untuk memenuhi kebutuhan investasi jangka pendek seperti untuk membiayai liburan.

Cara melakukan alokasi aset strategis
Menentukan model aset alokasi yang sesuai untuk mencapai tujuan investasi tertentu merupakan pekerjaan yang cukup rumit. Pada dasarnya, proses pembentukan model ini merupakan proses pemilihan sekelompok asset yang dipercaya memiliki probabilitas tertinggi untuk meraih tujuan investasi dengan tingkat risiko yang bisa diterima investor. Seiring dengan makin dekatnya pencapaian tujuan investasi, investor juga sebaiknya dapat menyesuaikan komposisi assetnya. Penyusunan model alokasi aset bisa dilakukan sendiri oleh investor jika ia memahami horizon investasi serta tingkat toleransi risiko yang dimilikinya. Buku-buku pedoman investasi umumnya memuat pedoman dasar sedangkan berbagai situs Internet menyediakan fasilitas yang dapat membantu investor membuat keputusan investasi, seperti misalnya online asset calculator. Pada intinya, tidak ada model alokasi aset yang bisa memenuhi setiap tujuan investasi; setiap investor perlu menentukan model yang pas baginya. Beberapa pakar keuangan dan investasi percaya bahwa alokasi asset merupakan proses pengambilan keputusan terpenting dalam kegiatan investasi. Alokasi asset bahkan lebih penting dibandingkan dengan pilihan instrument investasi yang diambil. Untuk itu, tidak sedikit investor yang kemudian mencari pertolongan dari pihak luar dalam merumuskan alokasi asset. Penasihat investasi atau manajer investasi dapat membantu, namum tentunya investor harus memastikan bahwa penasihat atau manajer investasi yang dipilihnya memiliki pengalaman dan keahlian yang mumpuni.

Antara alokasi asset dan diversifikasi
Diversifikasi merupakan strategi yang dapat dinyatakan dengan peribahasa "Don't put all your eggs in one basket" (Jangan taruh semua telurmu dalam satu keranjang). Diversifikasi adalah tindakan penyebaran risiko, yaitu dengan menginvestasikan dana ke dalam berbagai instrumen investasi dengan harapan bahwa jika salah satu instrumen mengalami kerugian, maka keuntungan yang diperoleh di instrumen lainnya dapat menutupi kerugian tersebut. Banyak investor yang menggunakan alokasi aset untuk melakukan diversifikasi ke berbagai kategori asset. Namun di lain pihak banyak pula investor yang tidak melakukan diversifikasi sama sekali. Sebagai contoh, berinvestasi sepenuhnya di saham untuk memenuhi kebutuhan masa pension dalam horison investasi 25 tahun, atau berinvestasi sepenuhnya di kas atau setara kas dalam bentuk tabungan untuk membayar uang muka pembelian rumah. Meskipun keduanya mungkin merupakan strategi aset alokasi yang wajar dalam situasi tertentu, namun keduanya bukanlah strategi yang berusaha mengurangi risiko melalui investasi di berbagai kategori asset. Karena itu, pemilihan model alokasi aset tidak serta merta mewujudkan diversifikasi portofolio. Apakah portofolio terdiversifikasi atau tidak tergantung dari bagaimana investor mengalokasikan dananya ke dalam berbagai instrumen investasi.

Prinsip dasar diversifikasi
Portofolio sebaiknya terdiversifikasi dalam dua tingkat: (1) antara berbagai kategori asset dan dalam setiap kategori asset. Jadi selain alokasi ke saham, obligasi, kas/setara kas atau kategori asset lainnya, investor juga perlu menyebarkan investasinya keberbagai instrument dalam setiap kategori asset. Kuncinya adalah identifikasi atas segmen-segmen dalam setiap kategori asset yang mungkin memiliki kinerja yang berbeda satu sama lain dalam berbagai kondisi pasar yang berbeda. Salah satu cara untuk mendiversifikasikan investasi dalam suatu kategori asset adalah dengan berinvestasi di berbagai emiten dan sektor industri. Porsi saham dalam portofolio tidak akan terdiversifikasi dengan baik jika, misalnya, investasi hanya dilakukan di 4 atau 5 saham. Karena diversifikasi terkadang tidak praktis dilakukan sendiri, ada investor yang merasa bahwa diversifikasi dalam suatu kategori asset lebih mudah dilakukan dengan membeli unit penyertaan reksa dana dibandingkan dengan investasi langsung pada instrumen-instrumen dalam kategori asset tersebut. Berdasarkan definisi menurut Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 pasal 1 ayat 27, reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi yang telah mendapat izin dari Bapepam. Keberadaan reksa dana memudahkan investor melakukan diversifikasi karena memungkinkan investor untuk memiliki porsi dalam berbagai instrument investasi, meskipun dalam nominal yang kecil. Akan tetapi perlu diingat bahwa investasi reksa dana belum tentu mewujudkan diversifikasi secara instan, terutama jika reksa dana tersebut merupakan reksa dana tematik yang investasinya terfokus pada tema investasi atau sektor tertentu. Jika seorang investor berinvestasi di reksa dana tematik, maka kemungkinan ia harus berinvestasi di beberapa reksa dana sekaligus untuk bisa mendiversifikasikan portofolionya. Dalam suatu kategori asset, hal ini bisa berwujud investasi di reksa dana yang berfokus di saham-saham perusahaan berkapitalisasi pasar besar, kecil atau bahkan saham-saham yang diperdagangkan dibursa luar negeri. Di antara berbagi kategori asset, diversifikasi bisa dicapai dengan investasi pada reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang. Tentu saja, untuk setiap tambahan investasi di reksa dana investor akan harus menanggung biaya tambahan yang ada akhirnya dapat menurunkan imbal hasil investasi keseluruhan. Untuk itu investor perlu mempertimbangkan biaya-biaya tersebut dalam menentukan cara terbaik untuk mendiversifikasikan portofolionya.

Mengubah Alokasi Asset
Alasan yang paling umum untuk mengubah alokasi asset adalah perubahan horison investasi. Dengan kata lain, semakin dekat seorang investor menuju tujuan investasinya, makin besar kebutuhan untuk mengubah alokasi assetnya. Sebagai contoh, sebagian besar orang yang berinvestasi untuk membiayai masa pensiun mereka mengurangi porsi saham dan mengalihkannya ke obligasi dan kas/setara kas seiring dengan makin dekatnya masa pensiun mereka. Selain perubahan horison investasi, perubahan terhadap toleransi risiko, kondisi keuangan atau tujuan investasi juga merupakan alasan pemicu bagi investor untuk mengubah alokasi assetnya. Para investor yang mumpuni pada umumnya tidak mengubah alokasi assetnya berdasarkan kinerja relative dari suatu kategori asset, misalnya dengan menambah porsi saham dalam portofolio semata-mata karena pasar saham sedang hebat kinerjanya. Dalam kondisi demikian, yang mereka lakukan adalah rebalancing atas portofolio mereka.

Prinsip dasar rebalancing
Rebalancing adalah tindakan mengembalikan komposisi portofolio ke komposisi dasar sebagaimana ditetapkan dalam alokasi aset dasar. Rebalancing perlu dilakukan secara berkesinambungan karena seiring dengan perjalanan waktu sebagian dari investasi mungkin bergerak tidak sejalan dengan tujuan investasi. Beberapa instrumen dalam portofolio investasi mungkin mengalami pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan instrumen lainnya. Dengan melakukan rebalancing, investor dapat memastikan bahwa portofolionya tidak terlalu terfokus pada kategori asset tertentu, dan bahwa imbal hasil portofolio secara keseluruhan akan dicapai pada tingkat risiko yang bisa diterima. Sebagai contoh, misalkan alokasi aset dasar menetapkan porsi saham sebesar 60% dari total portofolio sedangkan sisanya (40%) berupa instrumen pasar uang. Setelah pasar saham mengalami kenaikan, porsi saham ternyata naik menjadi 80% dari total portofolio sementara porsi pasar uang turun menjadi 20%. Dalam hal ini investor bisa menjual sebagian dari sahamnya dan mengalihkan investasinya ke pasar uang yang porsinya mengalami penurunan sehingga komposisi portofolio kembali ke 60% saham dan 40% pasar uang. Dalam melakukan rebalancing, investor perlu mengkaji investasi dalam setiap kategori asset.

Jika ditemukan investasi yang tidak sejalan dengan tujuan investasi, maka investor harus mengembalikannya ke alokasi semula untuk setiap kategori asset. Pada prinsipnya, terdapat tiga cara dalam melakukan rebalancing terhadap portofolio :

  1. Investor dapat menjual instrumen dari kategori asset yang sudah kelebihan bobot (over-weighted), dan menggunakan dana hasil penjualan untuk membeli instrumen dari kategori yang kekurangan bobot (underweighted).
  2. Investor dapat membeli instrumen baru dari kategori asset yang kekurangan bobot (under-weighted).
  3. Jika investor melakukan cicilan investasi (menambah investasi secara berkala), maka ia dapat mengalokasikan cicilan investasi tersebut ke kategori asset yang kekurangan bobot (under-weighted), sampai tercipta kembali alokasi aset semula.

Sebelum melakukan rebalancing, investor sebaiknya mempertimbangkan apakah metode rebalancing yang dipilih akan menimbulkan biaya transaksi atau konsekuensi perpajakan. Bantuan penasihat investasi atau konsultan pajak bisa membantu investor mengidentifikasikan langkah-langkah yang bisa diambil untuk meminimalisasi potensi biaya tersebut. Investor sebaiknya berpegang teguh pada prinsip “Buy Low, Sell High”, yaitu membeli instrumen pada saat harganya rendah dan menjualnya pada saat harganya tinggi. Keluar dari asset pada saat asset tersebut sedang berkinerja baik dan beralih ke asset yang sedang berkinerja kurang baik mungkin tidak mudah dilakukan dalam praktik sehari-hari, namun ini mungkin merupakan langkah yang bijak. Dengan mengurangi “winners” dan menambah “losers” saat ini, rebalancing memaksa investor untuk menerapkan prinsip “Buy Low, Sell High”.

Kapan sebaiknya rebalancing dilakukan
Investor dapat melakukan rebalancing berdasarkan kalendar atau kinerja investasi. Banyak pakar investasi yang menyarankan rebalancing secara berkala, misalnya setiap 6 atau 12 bulan sekali. Metode ini dinilai memiliki kelebihan karena penggunaan kalendar merupakan sarana untuk mengingatkan investor bahwa rebalancing harus dilakukan.Dilain pihak rebalancing juga dapat dilakukan jika bobot relatif suatu asset naik atau turun melebihi persentase tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Kelebihan dari metode ini adalah bahwa kinerja investasi menentukan kapan investor harus melakukan rebalancing. Dengan metode manapun, rebalancing cenderung memberikan hasil terbaik jika dilakukan tidak terlalu sering.

Bayu mengenal dunia investasi saat masih studi di perguruan tinggi, kemudian berlanjut menjadi penulis mengenai berbagai jenis investasi dan strategi-strategi trading di Seputarforex. Bayu meyakini bahwa trading bukanlah mesin jackpot, dan kita harus terus belajar agar bisa menjadi seorang trader sukses.