Kontroversi Bitcoin Sebagai Aset Safe Haven

289618

Dilihat dari korelasinya dengan ketegangan global, harga Bitcoin cenderung selaras dengan aset safe haven seperti emas. Benarkah ini membuat Bitcoin memiliki karakteristik safe haven?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Harga Bitcoin terus menanjak sejak permulaan tahun 2019 hingga memasuki kuartal ketiga. Ketika aset-aset berisiko seperti saham mengalami kemorosotan di tahun 2019, kenaikan Bitcoin tetap stabil. Beberapa indeks saham AS seperti Nasdaq Composite, Dow Industrial, dan S&P 500 anjlok ke titik paling rendah dalam beberapa tahun, sementara Bitcoin justru menikmati penguatan ke level tertinggi dalam satu setengah tahun terakhir.

Perbandingan harga Bitcoin dan indeks saham

Penurunan harga-harga saham berkaitan dengan surutnya minat risiko yang dipicu oleh isu fundamental global, tepatnya ketegangan dagang antara AS dan China. Di kala pasar diliputi ketidakpastian, maka harga-harga aset yang dianggap sebagai safe haven seperti emas, Yen Jepang, dan Franc Swiss akan naik.

Dengan demikian, pergerakan bullish Bitcoin ketika ketegangan AS-China meningkat telah selaras dengan harga emas dan Franc Swiss yang juga mengalami penguatan.

Perbandingan Bitcoin dengan aset safe haven

Lantas, apakah harga Bitcoin yang juga menguat di tengah gejolak global, juga mengindikasikan bahwa mata uang kripto ini dipandang sebagai safe haven?

 

Pandangan Pro

Bitcoin ditengarai mulai berkembang menjadi aset safe haven semenjak tahun 2016. Hal ini diungkapkan oleh direktur pelaksana Wedbush Securities Inc, Gil Luria. Ia mengungkapkan bahwa mata uang digital menjadi lindung nilai yang aman terutama versus mata uang konvensional seperti Pound yang dibayangi Brexit:

"Saya yakin bahwa Bitcoin mengambil banyak keuntungan dari drama Brexit beberapa tahun ini. Pasalnya, pasar melihat bahwa Bitcoin menjadi aset yang tidak akan berhubungan dengan kondisi moneter negara dan dunia layaknya logam mulia... Walaupun Bitcoin sangat volatile namun itu lebih baik daripada mata uang konvensional Inggris yang bisa anjlok 10 sampai 30 persen dalam beberapa minggu saja," tutur Luria pada Bloomberg.

Pada tahun 2016 lalu, Michael Vogel dari Netcoins juga mengungkapkan dalam sebuah catatan: "Untuk beberapa kalangan, Bitcoin masih menjadi investasi yang sangat berisiko. Namun beberapa kalangan lain juga menilai Bitcoin sebagai investasi safe haven yang paling tinggi."

CEO dari perusahaan pembayaran Crypto Circle, Jeremy Allaire, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi makro yang bergejolak seperti perang dagang sangat memiliki pengaruh pada pertumbuhan Bitcoin sampai saat ini. "Cryptocurrency yang satu ini memiliki partisipasi yang lebih luas lagi dan semakin jelas dalam kekuatan makro dunia," ujarnya.

 

Bitcoin Layaknya Emas Dalam Bentuk Digital

Penamaan Bitcoin sebagai emas digital sendiri tidak diketahui asal usulnya. Namun beberapa orang menilai istilah ini dipopulerkan oleh jurnalis dari The New York Times, yaitu Nathaniel Popper, dalam buku berjudul "Digital Gold" (Emas Digital) pada tahun 2015 lalu. Untuk tahun 2019 ini, beberapa pakar telah memberikan pendapat mengenai istilah Bitcoin sebagai emas digital. Salah satunya datang dari Kepala komunikasi ZCash Foundation.

Hubungan Bitcoin dan Emas

(Baca juga: Para Pakar Hubungan Unik Emas Dan Bitcoin)

Sosok bernama Sonya Mann ini memberikan jawaban dengan didasarkan pada jumlah pasokan dan permintaan yang terbatas. "Aset Bitcoin pada dasarnya adalah bersifat deflasi dengan jumlah terbatas pada 21 Juta saja. Dengan adanya struktur insentif yang cerdas, keamanan Bitcoin bersifat baik. Jumlah permintaan dalam bentuk apapun sebagian besar telah diatur dan didesain oleh Satoshi Nakamoto. (Meski) tidak ada jaminan bahwa nilai aset Bitcoin akan selalu mengalami kenaikan, tapi jika melihat dari tren pasar masa lalu dan dinamika permintaan serta penawaran, maka (memprediksi) kenaikan dalam jangka panjang mungkin akan (menjadi hal yang) masuk akal," kata Sonya Mann.

 

Prospek Bitcoin Sebagai Safe Haven Di Tahun 2019

Penggunaan Bitcoin tampaknya akan semakin penting ketika pasar sedang penuh ketidakpastian. Chris Reinersten dari Forbes mencermati bahwa ada "pelarian dana" besar menuju ke seluruh aset safe haven, termasuk Bitcoin. "Dalam pengamatan pada tren beberapa tahun terakhir, memang Bitcoin semakin memiliki hubungan dengan kondisi fundamental global. Terlebih lagi ketika ada banyak langkah makro dan meningkatnya ketidakpastian perekonomian global," ucap Reinersten.

Ungkapan Reinersten ini juga didukung beberapa fakta di lapangan. Ketika perselisihan dagang memuncak karena AS menuduh China telah melakukan manipulasi mata uang, harga Bitcoin terlihat naik. Reinersten juga mengatakan bahwa keputusan pemerintah China untuk membiarkan nilai tukar Yuan anjlok ke area terendah dalam satu dekade terhadap USD, menjadi faktor penyebab pasar memindahkan dana mereka ke mata uang digital Bitcoin.

Setelah pengamatan-pengamatan tersebut, saat ini para pelaku pasar dan investor tampaknya sudah mengetahui daya tarik mata uang digital sebagai salah satu aset alternatif ketika volatilitas pasar sedang tinggi. Pemilik perusahaan konsultan Agecroft Partners, yaitu Don Steinbrugge, mengungkapkan kepada CNBC bahwa:

"Kemajuan-kemajuan saat ini merupakan sebuah langkah yang sangat hebat, teknologi yang sangat fantastis. Beberapa orang menggunakan Bitcoin sebagai salah satu cara melindungi dana mereka dari inflasi yang menggerogoti."

 

Pandangan Kontra

Di sisi lain, kepala bidang strategi investasi sebuah perusahaan perbankan baru-baru ini memberikan pernyataan yang menentang safe haven Bitcoin. Ia adalah Brian Belski dari BMO Capital Markets. Menurutnya, saat ini masih terlalu awal untuk menggolongkan Cryptocurrency Bitcoin menjadi aset safe haven, terlebih ketika ekonomi global penuh dengan gejolak ketidakpastian.

"Pergerakan Bitcoin sangat fluktuatif dalam perdagangan beberapa waktu terakhir, sehingga menjadikannya menarik untuk diamati lebih lanjut. Saya sendiri tidak mendasari investasi berdasarkan nafsu, tapi juga pada pandangan dalam jangka (panjang). Untuk itu menurut pandangan saya, masih terlalu awal jika menilai Bitcoin menjadi aset safe haven dalam jangka panjang," kata Brian Belski pada CNN Market News.

Mereka yang tidak sependapat dengan Bitcoin sebagai safe haven memang memandang bahwa harga kripto ini terlalu fluktuatif dan sensitif untuk menjadi aset lindung nilai. Salah satu buktinya datang dari laporan Bloomberg, yang mengungkapkan bahwa ada sekitar 318 alamat Wallet pemilik Tether dengan nilai sekitar $1 juta. Jumlah tersebut mewakili sekitar 80 persen dari keseluruhan pasokan BTC global.

Tingkat kepemilikan dengan dominasi yang tergolong tinggi, secara teori akan menyebabkan aset kripto sangat rawan mengalami volatilitas jika para pemiliknya aktif trading di pasar. Namun para pendukung Cryptocurrency menepis kekhawatiran tersebut. Mereka mengutarakan fakta bahwa sebagian besar Tether yang dikendalikan dari 300-an alamat Wallet tidak jauh berbeda dengan kondisi Dolar AS yang secara umum dikendalikan oleh 5 bank besar dunia.

 

Prospek Bitcoin sebagai mata uang masa depan sempat tersandung oleh penurunan besar-besaran di tahun 2018. Apa yang menyebabkan fenomena ini? Intip ulasannya di artikel 7 Alasan Kenapa Bitcoin Turun Drastis Di Tahun 2018.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.