Kontroversi Seputar Scalping Strategy Dalam Forex

270505

Banyak yang mengatakan bahwa ketimbang Scalping Strategy, Day Trading atau Swing Trading lebih masuk akal dan potensial untuk menimba profit dalam forex. Benarkah demikian?

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Scalping merupakan salah satu strategi trading pilihan bagi banyak trader forex. Namun, bukan berarti metode trading ini bebas dari kontroversi. Banyak yang mengatakan bahwa ketimbang Scalping Strategy, Day Trading atau Swing Trading lebih masuk akal dan potensial untuk menimba profit dalam forex. Benarkah demikian?

Scalping Strategy

Strategi scalping dilakukan dengan tujuan mengulik profit dari pergerakan-pergerakan kecil pada harga pair-pair forex. Karenanya, scalper biasanya menggunakan timeframe super kecil, antara 1M hingga 15M saja. Posisi trading yang sudah dibuka hanya dipertahankan open dalam waktu sangat singkat, beberapa menit atau maksimal beberapa jam setelah dibuka. Bahkan ada yang mengatakan, scalper selayaknya menutup posisi maksimal 30 menit setelah OP; jika setelah 30 menit belum di-close, berarti trading-nya bakal gagal.

Karakter khas scalping tersebut pun memunculkan sejumlah kritisi.

 

  • Pergerakan Harga Tak Berdasar

Pendeknya timeframe membuat analisa fundamental atau teknikal jangka panjang, juga tentang pengamatan dampak kejadian ini atau itu, akan jarang relevan bagi pengguna Scalping Strategy. Hal ini memunculkan kritik #1 pada strategi scalping, yaitu bahwa analisa pergerakan harga menjadi "tak berdasar", semata karena bantuan sinyal-sinyal indikator atau malah firasat trader saja. Bagi sebagian kalangan, itu dianggap bisa menjadi "kutukan" ketika ada pergerakan drastis yang dipicu oleh suatu perubahan tak terduga, baik itu sudah dijadwalkan di kalender fundamental ataupun belum.

Jika di metode trading lainnya dikatakan "abaikan noise", maka dalam Scalping Strategy seolah-olah justru sebaliknya: "tradingkan noise".

 

  • Profit Hanya Bisa Didapat Setelah Berkali-kali Trading

Pip yang bisa dipanen dengan cara scalping seringkali hanya "recehan", sekitar 5, 10, 15 pip, atau malah lebih rendah dari itu. Dengan demikian maka umumnya scalper harus melakukan banyak sekali trading sukses setiap harinya agar bisa balik modal atau mencapai tingkat profit yang lumayan baik, padahal ini jelas sulit untuk dicapai.

Selain itu, rasio risk/reward yang digunakan scalper pun cenderung "mepet". Tak jarang ditemui trader forex menerapkan risk/reward 1:1. Ini memungkinkan level profit lebih tinggi dari biasanya kalau pergerakan sesuai prediksi, tetapi dengan "profit recehan" tadi maka loss sekali saja bisa membabat habis profit dari beberapa kali trading sekaligus.

 

  • Tak Semua Broker/Akun Trading Memungkinkan Scalping Strategy

Biarpun strategi scalping ini populer di kalangan trader, tetapi bagi sikap para broker cenderung ambivalen. Ada yang secara terbuka melarang trader melakukan scalping, ada juga yang membolehkan. Namun diantara broker yang membolehkan pun, kondisi trading yang disediakan belum tentu kondusif bagi scalper.

Pasalnya, banyak faktor bisa mempersulit trader untuk menjalankan Scalping Strategy. Misalnya spread yang lebar (atau melebar tiba-tiba), jarak minimal antara harga pembukaan-SL-TP yang tinggi, dan pembatasan tentang seberapa cepat suatu posisi trading boleh ditutup. Lebih menggemaskan lagi adalah tingkah broker yang entah seringkali atau kadang-kadang mengakibatkan terjadinya slippage, requotes, dan sejenisnya. Bagi scalper yang profitnya mengandalkan akurasi harga sangat tajam, faktor-faktor itu tentu menganggu.

 

Dengan adanya kekurangan-kekurangan Scalping Strategy tersebut, sejumlah trader berpendapat kalau Day Trading atau Swing Trading lebih realistis untuk dilakukan. Namun, pada kenyataannya, ada saja trader yang bisa sukses dengan scalping. Kenapa bisa begitu?

Pertama, posisi open hanya dipertahankan dalam waktu singkat, ini berarti kemungkinan terkena reversal besar akan lebih rendah, khususnya jika scalper cukup jeli untuk menghindari situasi dimana ada rilis berita kritis berdampak besar. Kedua, trader tak perlu menunggu terlalu lama untuk tutup posisi, sehingga mengurangi kemungkinan blunder akibat bimbang atau ketidaksabaran karena adanya perubahan situasi, dan jumlah indikator teknikal yang perlu dipedulikan pun bisa diminimalkan. Apalagi, sukses atau tidaknya trading bukan hanya didukung oleh gaya trading yang dipakai, melainkan juga kemantapan money management dan psikologi trader itu sendiri.

Bagaimana menurut Anda?

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Oday
Kenapa banyak broker yang tidak suka dgn scalping ?
Secara logika jika broker itu murni sebagai broker (bukan bandar) seharusnya senang dgn banyaknya scalper, karena bisa lebih sering mendulang spread dari para scalpernya. Apakah broker yang tidak suka dgn scalping tsb memang sebagai Bandar ?  Mohon penjelasannya, master... Tks.
A. Muttaqiena
Broker tak suka scalping itu bisa broker murni, bisa juga broker bandar. Masalahnya, buka-tutup trading dalam waktu cepat seperti dalam scalping itu dianggap mempersulit money management mereka dan memperberat kerja server.

Bukan hanya trader, broker kan juga melakukan money management untuk mengontrol risiko bagi perusahaan mereka, baik itu broker bandar maupun bukan.
Hanung Pambudi
Kalau menurut saya sih, dengan populernya binary options, malah justru lebih "menggoda" bertrading dengan options yang notabene lebih simple daripada scalping. Kan prinsipnya sama, instan gratification, pasang call/put, posisi bener meskipun cuma beda 1 pip, dapat payout langsung... beres...
Agus Basky
benernya sih sy juga tergoda untuk mencoba trading options (saya juga scalper sih soalnya, dah suka dengan penawaran payout options). Secara sih di atas kertas beda 1 pip dari posisi awal (sesuai arah prediksi) aja, kita sudah dianggap menang jadi buat scalper sperti saya bikin ngiler juga... tapi katanya teman saya karena options menggunakan expiry time, malah susahnya di situ sih... kita ga bisa dengan pasti menduga kemana arah harga dalam jangka waktu expiry time tadi.
Arka
Cocok, yg ada modal anda bablas di option, mskipun sama2 scalping, tp klu di option ada timer nya, ini jelas celah buat "manipulasi" order, silahkan dicoba dan bandingkan dgn scalping di forex, mskipun di forex dpt broker bandar, kondisi trading ga akn "aneh" spt  di option
Prambudi
@agus @aska.
antara binary options sama options aja beda gan pemahamannya.. coba dicek dulu istilahnya mana yang cocok buat komentar agan2 sekalian