Kontroversi Tanda-Tanda Bubble (Gelembung Klasik) Pada Bitcoin

Bitcoin menjadi wahana investasi yang sangat menarik, tetapi banyak yang bertanya-tanya apakah gelembung (Bubble) Bitcoin akan meledak?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Bitcoin menjadi salah satu hal yang paling menarik pada awal tahun 2018 ini. Bahkan mereka yang tidak pernah mengenal atau berinvestasi di Bitcoin sebelumnya menjadi lebih memperhatikan pertumbuhannya. Hal ini disebabkan oleh banyak sekali orang yang menjadi jutawan instan selama pertumbuhan nilai bitcoin pada tahun lalu. Namun, seiring dengan penurunan Bitcoin selama beberapa pekan yang mencapai lebih dari 50%, tentu saja banyak yang bertanya-tanya, apakah gelembung Bitcoin benar-benar akan meledak? Dan jika benar, berapa lama dari waktu sekarang?

Bitcoin Bubble

 

Tanda Gelembung Klasik Bitcoin

Derek Thompson, seorang editor senior ilmu ekonomi The Atlantic memberikan bahwa akan sangat sulit untuk menentukan apakah Bitcoin adalah benar-benar gelembung (bubble). Bitcoin melibatkan keseluruhan industri mulai dari keuangan, ritel, bahkan hingga industri hiburan dan kesehatan. Menurutnya, Pola Bitcoin belakangan ini mirip dengan gelembung-gelembung klasik lain seperti "Dotcom Bubble".

 

Insiden Dotcom Bubble

Sebagai catatan, Dotcom Bubble (.com Bubble) adalah sebuah insiden yang terjadi pada sekitar tahun 1990-an yang ditandai oleh kenaikan pesat di pasar ekuitas, didorong oleh investasi pada perusahaan berbasis internet. Selama insiden tersebut, nilai pasar ekuitas tumbuh secara eksponensial dengan indeks NASDAQ yang didominasi saham-saham teknologi meningkat dari level 1.000 menjadi lebih dari 5.000 di tahun 1995.

Secara sederhana, pada waktu itu hampir keseluruhan pelaku bisnis teknologi meng-investasikan dana mereka sebagai sebuah spekulasi. Mereka yakin ".com" yang dirilis oleh perusahaan dotcom akan mengalami pertumbuhan pesat. Namun, tepat di puncak pasar, beberapa perusahaan teknologi tinggi terkemuka seperti Dell dan Cisco melakukan aksi jual besar-besaran secara bersamaan pada saham mereka, sehingga kepanikan penjualan di kalangan investor merebak dengan sangat cepat.

Dalam beberapa minggu saja, pasar saham kehilangan 10% dari total nilainya. Seiring dengan modal investasi yang mulai mengering, perusahaan dotcom mengalami kebangkrutan instan. Akibatnya, kapitalisasi ratusan juta dolar menjadi tidak berharga dalam hitungan bulan. Pada akhir tahun 2001, insiden memuncak diiringi mayoritas perusahan yang mengadopsi domain ".com" gulung tikar, triliunan dolar modal investasi pun menguap.

 

Transaksi Anonim dan Skalabilitas Menjadi Kekhawatiran Tersendiri

Karakteristik yang menarik banyak orang ke Bitcoin adalah kemampuannya untuk mengirim dan menerima uang tanpa mengungkapkan informasi pribadi. Pelaku kripto juga menyukai sifatnya yang bebas tanpa bisa diatur oleh otoritas apapun, sehingga mereka pikir lebih banyak kebebasan finansial yang didapatkan.
Namun, Ray Dalio, Pendiri Bridgewater Associates, salah satu hedge fund terbesar di dunia, menyebut gagasan transaksi anonim Bitcoin patut dipertanyakan. Dia sangat yakin bahwa otoritas pemerintah dunia tidak akan membiarkan kurangnya informasi identifikasi pribadi yang terkait dengan Bitcoin dapat berlangsung selamanya.

Pencucian Uang, Korupsi, Transaksi Gelap, Pembiayaan Teroris dan lain sebagainya dapat terjadi dengan sangat mudah di Bitcoin dan keseluruhan kripto anonim lainnya. Sehingga, banyak pihak otoritas pemerintahan, bank sentral maupun intelijen negara baru-baru ini mulai mengambil keputusan tegas untuk mengatur sifat anonim yang merepotkan tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan FOX News beberapa pekan lalu, George Soros, Investor Kondang yang bahkan bisa menjagal Bank of England (BoE), menyatakan dengan jelas bahwa Gelembung Bitcoin akan segera meledak. Ketika Soros ditanya mengapa kemungkinan tersebut muncul? dia mengatakan satu kata "Money Laundry" alias "Pencucian Uang".

Dia menegaskan bahwa regulator dan otoritas pemerintahan secara otomatis akan bertindak terhadap kekhawatiran Pencucian Uang secara bebas yang dapat terjadi melalui fitur anonim Bitcoin dan Altcoins. Apalagi, Bitcoin dapat ditransfer kemanapun di dunia dengan jumlah berapapun, hanya dalam hitungan menit saja.

IRS (Internal Revenue Services/Badan Perpajakan Internal) AS telah meminta beberapa catatan pengguna yang terkait dengan situ Coinbase. Korea Selatan, China, dan Malaysia juga mulai melakukan investigasi kepada beberapa perusahaan bursa dan exchange di negaranya, agar undang-undang perpajakan dalam ranah kripto bisa segera di selesaikan dan diterapkan.

Masalah Skalabilitas yang terus memburuk juga semakin melanda Bitcoin, karena biaya per transfer nya menjadi sangat mahal dan sudah tidak cocok lagi disebut dengan "alat pembayaran". Sangat jelas jika biaya transaksi lebih mahal dari uang yang ditransaksikan menjadi hal yang lucu jika diteruskan. Banyak perusahaan ritel online yang sudah beralih dari Bitcoin menggunakan kripto lain yang memberikan biaya transaksi murah seperti Bitcoin Cash (BCH), dan Monero (XMR).

Jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin bahwa Bitcoin dan Altcoins lain akan menyusul nasib BCC yang baru saja mengalami penurunan sebesar 97% dalam waktu sehari.

 

Bitcoin Whales

Hal lain yang bisa membuat gelembung Bitcoin meledak adalah adanya "Bitcoin Whales" atau Paus Bitcoin. Faktanya, sekitar 1.000 orang memegang sekitar 40% dari total supply Bitcoin yang ada. Individu yang memiliki sejumlah besar Bitcoin inilah yang disebut Bitcoin Whales. Jika mereka memilih untuk secara tiba-tiba menjual keseluruhan Bitcoin mereka secara bersamaan pada saat harga pasar yang tinggi, sudah barang tentu harga Bitcoin akan anjlok drastis secara singkat.

Bitcoin Whales

 

Ada juga ketakutan lain yang melanda investor saat ini, yaitu kalau-kalau Individu tersebut dapat mengkoordinasikan tindakan mereka dan bekerjasama untuk membuat pasar berfluktuasi atau biasa kita sebut dengan manipulasi pasar. Karena hukum seputar kripto tidak konkrit, jelas tidak ada hukuman yang bisa di terapkan pada kegiatan kejahatan seperti ini.

Selanjutnya, bukan rahasia lagi jika pencipta Bitcoin yang dikenal dengan Satoshi Nakamoto, memiliki setidaknya 5% - 10% dari total supply Bitcoin yang ada. Angka tersebut cukup untuk meruntuhkan harga Bitcoin hingga ke level terdalam, sehingga para investor akan kehilangan banyak persentase dana yang mereka investasikan.

 

Reaksi Masyarakat Bitcoin

Dengan banyaknya tuduhan gelembung Bitcoin akan segera meledak, dan beberapa tindakan otoritas pemerintah dalam menanggulangi resiko Bitcoin secara khusus, dan blockchain secara umum, ternyata ada beberapa pihak yang justru yakin Bitcoin bukanlah gelembung (bubble).

Daniel M. Harrison, CEO DMH & CO Managing Partner Monkey Capital, mengungkapkan bahwa gelembung yang dituduhkan tidak mungkin terjadi, karena Bitcoin dan Ethereum dapat mempengaruhi pasar global.

 

  • Bipolaritas Pasar

Faktor utama yang membuat gelembung kripto tidak mungkin terjadi adalah bipolaritas pasar. Bagi sebagian orang, tentu memahami bipolaritas pasar akan sedikit membingungkan, namun jika dilihat dalam sudut pandang berbeda dapat dipahami secara sederhana.

Menurut George Soros, kondisi pasar tidak terpengaruh oleh ekulibrium. Sebaliknya, pasar merupakan refeleksi yang terjadi karena sinkronisasi dua fungsi : Fungsi Kognitif dan Manipulatif. Fungsi Kognitif adalah basis pemikiran netral, yaitu sebuah pemikiran peserta ekonomi yang menilai fakta apa adanya. Fungsi Manipulatif adalah sisi lain dari Kognitif yaitu mengubah suatu fakta untuk mendapatkan keuntungan.

Begitu Fungsi Kognitif dipengaruhi oleh Fungsi Manipulatif, netralitas akan berubah menjadi suatu hal yang berbeda. Oleh karena itu, pasar mencerminkan pandangan dan perspektif peserta, bukan sebuah lingkup penuh ekonomi.

Yang lebih penting lagi, pasar Bitcoin dan Ethereum dipengaruhi oleh dua fungsi yaitu: buatan dan alami. Buatan berkaitan dengan AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan Buatan) Blockchain, dan alami adalah semua tentang intervensi manusia.

AI Blockchain menjadi "pemicu" refeksifitas yang kekal. Artinya, dengan AI Blockchain, pasar digital akan terus berkembang, yang menyebabkan fluktuasi nilai Bitcoin dan Ethereum secara terus menerus. Sehingga, Bipolaritas pasar akan terjadi terus menerus secara konstan.

Melalui Bipolaritas Pasar, setiap insiden gelembung yang terjadi akan dibatalkan. Seluruh sistem Blockchain tidak akan pernah kembali ke titik awalnya, namun akan terus berkembang. Inovasi atau penerapannya di berbagai sektor, juga merupakan faktor penting lainnya yang membentuk keuletan dan kemampuan teknologi Blockchain untuk bertahan selamanya.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.