Advertisement

iklan

Mencermati Mitos Tentang Money Management Dalam Trading Forex

Terdapat beragam mitos dalam money management yang banyak dipercaya oleh trader. Fakta sebenarnya cukup mengejutkan.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Hampir setiap trader forex tahu bahwa money management adalah aspek yang sangat penting untuk memperoleh hasil trading yang profitable. Money management harus diterapkan dalam setiap open posisi trading, agar kita tidak cepat loss, sekaligus mampu mengoptimalkan profit. Sayangnya, ada beberapa mitos dalam money management yang banyak dipercaya oleh trader forex. Padahal, mitos-mitos itu tidak sepenuhnya benar.

 

Mitos 1: Dalam Menetapkan Resiko, Trader Harus Fokus pada Pip

"TP-SL berapa?"

"TP 100 pip, SL 50 pip."

Kita sering menemukan tarder yang menentukan resiko dan target profit dalam satuan pip seperti contoh tersebut, bukannya dalam nilai uang tertentu (USD). Asumsinya, trader bisa mencegah keterlibatan emosi dengan tidak melibatkan nilai uang sungguhan dalam perhitungan profit dan loss. 

Faktanya, para trader profesional menghitung resiko dan target profit dalam nilai uang secara langsung. Mengapa demikian? Mereka tahu bahwa tujuan utama trading forex adalah memperoleh profit nyata dalam nilai uang, sehingga risk dan reward-nya harus ditetapkan dalam nilai uang pula. Penetapan resiko dan target profit dengan cara ini juga akan menghasilkan pendekatan psikologis yang lebih baik bagi trader.

Selain itu, para trader profesional menganggap trading forex sebagai sebuah bisnis. Setiap trade adalah sebuah transaksi yang membawa konsekuensi uang riil, sehingga penentuan resiko dalam satuan pip menjadi kurang relevan. Resiko dalam pip tidak selalu berkorelasi dengan resiko modal yang besar, karena akan ditentukan pula oleh lot dan leverage.

Money Management dalam Trading Forex

 

Mitos 2: Resiko 1% atau 2% dari Modal Sudah Cukup Bagus

Salah satu strategi money management paling populer adalah dengan meresikokan dana sebesar sekian persen dari modal. Faktanya, hal ini bersifat relatif dan tergantung dari besarnya balance masing-masing trader. Cara  menentukan besar resiko yang fleksibel dan efektif itu tidak harus selalu dipatok dalam persentasi dari modal. Hal ini bisa dilihat pada contoh perbandingan menentukan resiko terhadap modal dan persentasi profit/loss di bawah.

 

Mitos 3: Stop loss besar akan membawa resiko lebih banyak

Banyak trader mengira bahwa dengan menentukan stop loss dalam pip yang besar, maka resiko mereka akan membengkak pula. Secara psikologis, pendapat itu mungkin ada benarnya. Akan tetapi, jika mereka memahami konsep menentukan besar ukuran lot (position sizing), maka mitos itu jelas tidak benar.

Position sizing adalah konsep untuk menentukan besarnya trading lot (lot size atau volume trading) yang disesuaikan dengan besarnya stop loss yang diinginkan. Misalnya jika besar resiko untuk sebuah posisi trading ditetapkan $200, dan besar stop loss 100 pip, maka ukuran trading lot adalah 2 mini-lot, yaitu $2 per pip ($2 per pip X 100 pip = $200).

Tetapi jika kita tidak menyesuaikan besarnya ukuran lot dan hanya fokus pada besarnya stop loss yang ditentukan, maka mitos tersebut menjadi benar. Contoh: trader A dan B sama-sama trading dalam 5 mini-lot atau $5 per pip, sedangkan trader A menentukan stop loss sebesar 50 pip dan trader B sebesar 200 pip. Jika kondisi pasar berlawanan dengan prediksi mereka, maka stop loss trader A dan B sama-sama kena. Dalam situasi ini, trader A akan loss sebesar $5 X 50 pip = $250, sedangkan trader B akan loss sebesar $5 X 200 pip = $1000.

Kesimpulannya, penerapan money management yang benar tidak hanya bergantung pada berapa besar stop loss. Agar mampu mengatur money management yang lebih reliabel, trader perlu memahami konsep position sizing.

 

Mitos 4: Rasio Risk/Reward itu Tidak Penting

Banyak trader pemula yang mengabaikan perhitungan rasio risk/reward. Alih-alih, mereka hanya menentukan besar stop loss tanpa menetapkan target profit. Akibatnya, mereka panik ketika pergerakan harga berbalik melawan prediksi posisi yang telah dibukanya.

Faktanya, para trader profesional selalu fokus pada rasio risk/reward untuk setiap posisi yang dibuka, baik single position maupun multiple position, dengan target profit yang realistis. Mereka telah mengerti bahwa trading forex adalah permainan probabilitas dan kecakapan mengelola modal (capital management). Risk/reward ratio mesti ditentukan dengan lengkap untuk memperoleh persentasi profit/loss (winning percentage/loss percentage) yang nyata dalam keseluruhan trade.

 

Contoh Money Management: Perbandingan Cara Menentukan Resiko Terhadap Modal

Dalam contoh ini, kita akan membandingkan antara trader A yang menggunakan "mitos" resiko 2 persen dari modal, dengan trader B yang mengabaikan mitos tersebut. Misalnya trader A menentukan resiko sebesar 2% dari modal, dan trader B menentukan resiko dalam jumlah tertentu. Balance masing-masing adalah $5000, dan frekuensi trade sebanyak 4 kali dengan rasio risk/reward = 1:3. Persentase profit/loss sama, yaitu 50%.

Trader A:
resiko = 2% X $5000 = $100
Trade 1 loss   = $5000 -  $100 = $4900
Trade 2 loss   = $4900 -  $98   = $4802
Trade 3 profit = $4802 + $288 = $5090
Trade 4 profit = $5090 + $305 = $5395

Trader B:
menetapkan resiko fixed sebesar $200
Trade 1 loss   = $5000 -  $200 = $4800
Trade 2 loss   = $4800 -  $200 = $4600
Trade 3 profit = $4600 + $600 = $5200
Trade 4 profit = $5200 + $600 = $5800

Dari contoh di atas, tampak bahwa setelah terjadi drawdown (kerugian akibat loss yang berurutan) dengan persentase profit dan loss yang sama, maka hasil akhir trader B lebih baik dari trader A. Dan seandainya terjadi drawdown dengan frekuensi trade yang lebih besar, maka trader B akan lebih cepat dalam recovery, atau paling tidak untuk breakeven (balik modal).

Dari bahasan dan contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan money managent yang benar tidak selalu sama dengan kebiasaan trader pada umumnya. Trader justru harus mengkritisi mitos. Apabila sudah menemukan money management yang tepat, maka cepat atau lambat hasil trading yang konsisten dan profitable tentu bisa tercapai.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Adimas R
Wah infonya bagus sekali. pengetahuan lebih lanjut soal money management memang amat penting supaya tidak keliru menetapkannya.
Ismail
ane masi bingung sm penerapnx. slama ni bnyk disebutin peritungan mm sama manajemen rsk dr persentase modal atau balancex. tp trnyt lbh baik diambil dr jumlah uang tertentu. dr contoh di atas sbnrx kn cm beda jumlah btsn rskx aja. klo persentasex dinaikin apa hslx bakal beda???
Gugun Fadillah
@Ismail: Mungkin bisa terjadi hal seperti itu, tapi karena yang jadi patokan nya di sini adalah besar nya nilai mata uang, maka penghitungan dari persentase tidak akan menjamin keberhasilan profit/loss. Kalau pengambilan batasan resiko dari persentase modal nya ditingkatkn dan fixed resiko nya tetap sama mungkin hasilnya bisa lebih bagus dari persentase modal. Tapi kalo kedua-dua nya dinaikkan ya hasilnya tetap lebih baik dari fixed resiko dalam nilai mata uang itu.
Ismail
stlh dipikir2 yg perlu diatur ulang disini sbnrx dari fokusx aja, mngkn lbh prhatian sm jumlah modal di akun bkl lbh bnyk membantu ketimbang dipikirin persentasex aja...
Triyudi_ang
iya, fokus menghitung profit emank lebih baik dalam nilaii mata uang, kan tujuan akirnya emank buat dapet profit dengan tambahan nilai tertentu. tapi kemudian kalo perlu diperhitungkan stop loss dan take profit yang menghitung jumlah pips kan bukannya mesti dihitung lagii biar sasaran resiko dan profit dengan nilai mata uangnya pas?
Martin S
@ ismail:
ya, tentu. Persentase resiko dinaikkan maka position size atau ukuran lot-nya akan lebih besar, atau: position size tetap tetapi stop loss-nya lebih besar (lebih lebar). Nah, dengan risk/reward ratio yang sama maka kalau ternyata hasilnya profit, persentase resiko yang lebih tinggi akan memperoleh profit lebih besar dibandingkan dengan yang persentase resikonya kecil. Tapi kalau hasilnya loss, maka kerugiannya juga lebih besar. Penentuan resiko itu sebenernya tergantung dari besarnya modal atau equity dan kecanggihan sistem trading Anda, berapa persentase profit dan persentase loss sistem trading Anda. Sebagai referensi utk mm bisa baca artikel ini.
Martin S
@ triyudi_ang:
ya itu tadi Pak, dihitung position size atau ukuran lot atau volume trading-nya. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di artikel ini. Tetapi memang ukuran lot atau volume kadang tidak bisa pas sekali dengan jumlah pip-nya, jadi sebaiknya dibuat mendekati tetapi tidak melebihi. Ada platform trading yang bisa order dengan volume sampai beberapa digit dibelakang koma jadi mesti bisa pas dengan pip yg diinginkan, tetapi bukan platform Metatrader.....