Mengapa Investor Lokal Sebaiknya Lebih Banyak Dari Investor Asing?

Bursa Efek Indonesia telah mengkampanyekan Yuk Nabung Saham. Karenanya, IHSG tak lagi bergantung pada Foreign Flow (fluktuasi dana Asing).

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Dalam ilmu Bandarmologi, tentu kita tidak asing dengan istilah Foreign Flow (aliran dana asing di saham-saham Bursa Efek Indonesia). Istilah ini muncul sejak investor asing meramaikan bursa kita di tahun 2008, karena porsinya yang besar, menguasai >51% market, sehingga pergerakan IHSG hampir selalu bersamaan dengan keluar-masuknya dana asing. Maka setiap inflow (istilah dana asing yang masuk) besar ke suatu saham, hal ini menjadi acuan gerakan ritel juga untuk ikut masuk ke saham tersebut. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Kejatuhan IHSG juga seringkali terjadi sebelum aksi distribusi para Bandar Asing yang nominalnya raksasa.

Bursa Efek Indonesia

 

Bandar Asing: Trader Dan Investor

Setelah ditelaah, para Bandar Asing ini juga dibagi menjadi dua; trader dan investor. Kebanyakan trader asing adalah para Manajer Investasi yang menyesuaikan portfolio nasabah-nasabah mereka dengan hasil rebalancing MSCI. Dana trading asing ini keluar (outflow) dan masuk (inflow), dan karena jumlahnya raksasa, proses keluar-masuknya juga turut menggoncang indeks saham gabungan kita, IHSG. Namun, ada pula para pihak asing yang berinvestasi di beberapa emiten yang dinilai kinerjanya baik seperti misalnya saham AISA.

PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk atau AISA merupakan emiten yang agresif melakukan akuisisi untuk memperlebar lini usahanya. Manajemennya tangguh, tetapi AISA juga tersandung kasus beras oplosan akhir-akhir ini. Kepiawaian manajemennya dalam sepak terjang bisnis membuat para investor asing tak juga hengkang dari Tiga Pilar Sejahtera. Berikut keterangan persentase saham AISA.

Pemegang Saham AISA

 

Saham AISA yang beredar di publik ada sebesar 33.89% + 4.20% = 38.09%. Sedangkan yang merupakan pengendali, yaitu Tiga Pilar Korpora hanya 26.10%, sisanya total 40% (Maybank, dll) adalah perusahaan investasi asing. Artinya Tiga Pilar Sejahtera sudah dikuasai asing. Produksi dan pemasaran serta penjualan boleh dalam negeri, tetapi laba perusahaan harus dibagi kepada pihak-pihak asing sebesar 40%-nya.

Hal ini sangat disayangkan karena artinya PT Tiga Pilar Sejahtera turut menyumbangkan kesejahteraan kepada pihak asing di luar negeri sana, sedangkan mereka saat menerima pendapatan ini pasti akan membayar pajak ke negara asal, yang berarti konstribusi pemasukan lebih bagi negara asing juga. Hal seperti ini banyak terjadi, terutama di perusahaan-perusahaan kelapa sawit yang mana dikuasai oleh negara tetangga kita, Malaysia.

 

Investasi Dalam Negeri Sangat Menarik

Asing melihat Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan yang menarik, sehingga layak investasi dengan peringkat investasi yang terus meningkat. Seandainya perusahaan-perusahaan lokal mendapat pembiayaan yang cukup dari investor dalam negeri, maka hal ini tentu sangat baik bagi Indonesia karena artinya penerimaan pajak dari sebagian imbal hasil yang diterima para investor juga akan meningkat.

Berikut adalah grafik yang menjelaskan mengapa investasi di dalam negeri sangat menarik.

 

Grafik Perbandingan Imbal Hasil IHSG Versus Indeks-Indeks Negara Lain

Grafik Perbandingan Imbal Hasil IHSG Versus Indeks-Indeks Negara Lain

Dalam 10 tahun, IHSG bertumbuh sebanyak 194%. Bandingkan dengan negara-negara yang sudah maju lainnya seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Singapura (yang malah minus 1%). Dengan imbal hasil IHSG yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain, maka investasi di dalam negeri cukup menggiurkan.

Betapa tidak? Indonesia yang merupakan negara berkembang menawarkan pertumbuhan yang lebih menarik ketimbang negara-negara yang sudah maju dengan pertumbuhan kecil sekali karena sudah berada dalam kondisi tidak menyediakan banyak ruang untuk terus berkembang.

Sangat disayangkan jika peluang berinvestasi di dalam negeri hanya dilirik oleh para investor asing, padahal berinvestasi di Indonesia sangat menggiurkan hingga asing saja sampai melirik bursa negeri kita. Hal inilah yang mendasari kampanye Yuk Nabung Saham (cek artikel BBCA disini), yaitu untuk menggaet sebanyak mungkin investor lokal ke Bursa Efek Indonesia, agar perusahaan-perusahaan dalam negeri tidak mudah dikuasai oleh asing. Berinvestasi di Indonesia menawarkan imbal hasil yang menarik baik untuk diri kita sendiri maupun untuk negara.

 

Kekuatan Dana Lokal Mulai Terakumulasi Pada 2017

Tahun 2017 adalah tahun yang menarik, karena nampaknya pergerakan dana asing agaknya tidak mempengaruhi naik-jatuhnya IHSG.

Grafik IHSG Dan Foreign Flow
Ket: IHSG (candlestick), Foreign Flow (line chart).

 

Dari gambar di atas, kita bisa melihat bahwa ketika dana Asing masuk dan melakukan akumulasi terhadap saham-saham lokal dari mulai awal 2017 hingga pertengahan Mei, IHSG juga terlihat naik bersamaan. Namun sejak pertengahan Mei setelah melakukan akumulasi, Asing mulai melakukan distribusi hingga akhir tahun. Kemudian anomali terjadi; IHSG tetap bullish naik mencapai All Time High (tertinggi sepanjang sejarah).

Pertama kalinya sejak 8 tahun terakhir, IHSG tidak terpengaruh pergerakan dana asing. Mungkin ini adalah efek dari gencarnya kampanye Yuk Nabung Saham oleh pemerintah. Hal ini terlihat bahwa ketika saham-saham blue chip seperti ASII dan TLKM didistribusi besar-besaran oleh asing, tetapi justru hal ini dijadikan peluang bagi investor lokal untuk Buy on Weakness. Sampai di sini, penulis berpendapat bahwa gerakan Yuk Nabung Saham cukup berhasil menghadang aksi profit-taking Asing.

Namun, seberapa kuatkah pemegang saham lokal vs asing? Akankah IHSG terus bullish tanpa ada koreksi yang berarti? Hal ini tergantung dari para pemegang saham sendiri. Apabila ada terlalu banyak trader saham, maka aksi jual beli jangka pendek akan kurang menguntungkan bagi perusahaan, tetapi apabila ada cukup banyak "fundamentalis" yang meletakkan dananya dalam waktu yang cukup lama, maka kemungkinan arus kas emiten akan cukup terbantu. Dengan demikian, maka kelak perusahaan-perusahaan dalam negeri juga akan dapat dikuasi oleh kita sendiri sebagai warga negara Indonesia.

Pertumbuhan perusahaan juga tidak hanya akan menguntungkan perusahaan, tetapi diri kita juga sebagai pemegang saham dengan memperoleh sebagian laba perusahaan dalam bentuk dividen, serta bagi negara. Mari kita bertumbuh seiring dengan pertumbuhan negara Indonesia dengan menginvestasikan dana kita di perusahaan lokal yang pertumbuhannya baik, memiliki kinerja yang baik, yang proyeksi ke depannya juga baik.

 


Investasi saham bukan hanya akan bisa melepaskan ketergantungan pasar saham kita pada dana Asing, melainkan juga bisa membawa keuntungan bagi kita. Salah satu investor saham Indonesia, Lo Kheng Hong, telah membuktikannya. Simak kisahnya dalam artikel "Inspirasi Legenda Fundamental Saham Indonesia: Lo Kheng Hong".  

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'


Zul
Sangat Nasionalis,