Indeks NASDAQ 100: Komposisi Dan Perubahan Nilainya

187877

Indeks NASDAQ 100 termasuk salah satu indeks saham yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Kenali indeks NASDAQ dengan menyimak artikel ini.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Indeks NASDAQ 100 adalah indeks saham Amerika Serikat yang terdiri atas 103 ekuitas yang dirilis oleh 100 perusahaan non-finansial terbesar di bursa NASDAQ. Bursa NASDAQ (National Association of Securities Dealers Automated Quotations) didirikan pada tahun 1971 dan merupakan bursa saham pertama yang beroperasi secara elektronik. Sekarang, NASDAQ yang berlokasi di AS ini merupakan bursa saham terbesar kedua dunia berdasarkan kapitalisasi-nya, setelah bursa saham New York (New York Stock Exchange/NYSE).

Berikut ini ulasan selengkapnya mengenai indeks NASDAQ 100 yang penting sekali untuk diketahui oleh trader maupun investor di pasar keuangan.

Indeks NASDAQ 100

 

Komposisi Indeks NASDAQ 100

Bursa NASDAQ terdiri lebih dari 3000 saham dan sebagian besar terdiri dari saham-saham yang berbasis teknologi, sehingga isu-isu yang menyangkut sektor ini akan sangat mempengaruhi indeks gabungan NASDAQ. Indeks NASDAQ 100 terdiri dari 100 perusahaan besar yang paling mempengaruhi indeks gabungan NASDAQ, dan sebagian besar adalah saham-saham perusahaan yang berbasis teknologi.

Bursa NASDAQ memberlakukan seleksi ketat untuk menentukan saham-saham perusahaan mana yang dapat masuk dalam indeks NASDAQ 100. Diantara kriteria yang harus dipenuhi antara lain:

  • Terdaftar secara ekslusif di NASDAQ.
  • Telah go public di sebuah bursa Amerika terkemuka, setidaknya selama tiga bulan.
  • Memiliki volume perdagangan rata-rata minimum 200,000 lembar saham.
  • Selalu merilis laporan keuangan tahunan dan kuartalan secara tepat waktu.
  • Tidak sedang menghadapi perkara kepailitan.

Beberapa perusahaan besar yang termasuk dalam indeks NASDAQ 100 saat ini adalah Apple Inc. (AAPL), Adobe Systems Inc. (ADBE), Analog Devices Inc. (ADI), Automatic Data Processing Inc. (ADP), Amazon.com Inc. (AMZN), Cisco Systems Inc. (CSCO), eBay Inc. (EBAY), Facebook (FB), Google Class A (GOOGL), Intel Corp. (INTC), Mattel Inc.(MAT), Microsoft Corp. (MSFT), Starbucks  Corp. (SBUX), SanDisk Corp. (SNDK), Symantec Corp. (SYMC), Tesla Motors Inc. (TSLA), Vodafone Group PLC (VOD), Vertex Pharmaceuticals Inc. (VRTX), Yahoo Inc. (YHOO), dan lain sebagainya.

 

Nilai Indeks NASDAQ 100

Indeks NASDAQ 100 mulai diperdagangkan pada 31 Januari 1985 dengan harga dasar 250. Dalam perkembangannya, harga indeks ini terus naik hingga ke level tertinggi di atas 4700 ketika terjadi dot-com bubble pada tahun 2000. Setelah itu, harga indeks terus menurun seiring dengan terjadinya resesi dan peristiwa 11 September 2001 yang menyebabkan angka indeks berada di bawah level 900 pada tahun 2002.

Setelah mengalami recovery selama 5 tahun, pada 31 Oktober 2007, harga indeks kembali ke angka di atas 2200. Namun, nilai indeks kembali merosot dalam periode berikutnya. Ketika terjadi resesi keuangan global tahun 2008, indeks NASDAQ 100 sempat ditutup pada angka 1018 pada 20 Nopember 2008. Optimisme akan berakhirnya krisis dan quantitative easing yang dilakukan The Fed membuat indeks kembali melambung ke atas 3000 pada 15 Mei 2013. Pada 3 Juli 2014 lalu, harga ditutup pada level 3923.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa nilai indeks NASDAQ 100 mudah dipengaruhi oleh kondisi ekonomi AS secara umum, dan perkembangan sektor teknologi secara khusus. Selain itu, kebijakan ekonomi yang dilancarkan oleh pemerintah AS maupun bank sentralnya juga dapat memengaruhi minat investor pada saham-saham AS. 

Indeks NASDAQ termasuk salah satu indeks harga saham Amerika Serikat yang banyak diperdagangkan secara CFD (Contract for Difference), di samping indeks Dow Jones 30 dan indeks S&P 500. Mungkin perdagangan indeks NASDAQ belum populer di Indonesia, tetapi sudah banyak broker forex yang menawarkan instrumen ini. Indeks ini juga dinamakan USA100, US Tech 100 atau NAS100 dan diperdagangkan berdasarkan indeks NASDAQ 100 Futures. Perhitungannya berdasarkan minimum tick (biasanya 0.25).

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.