Mengenang Kembali "Bom Swiss" Yang Tumbangkan Broker-Broker Forex Awal 2015

259374

Krisis industri yang disulut oleh SNB tersebut kini dipandang sebagai insiden paling berbahaya di era perdagangan forex modern. Bagi trader maupun broker forex, kejadian itu meninggalkan sejumlah pelajaran berharga.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Pada pertengahan Januari 2015, dunia forex dikejutkan oleh keputusan Swiss National Bank yang tiba-tiba melepas pegging mata uang-nya ke Euro. Nilai Franc Swiss langsung melejit nyaris 30 persen terhadap mayoritas mata uang lainnya. Akibatnya, selama sekitar 45 menit, hampir tidak ada likuiditas dalam bentuk CHF sama sekali, dan terminal trading di bank-bank kawakan pun frozen. Konsekuensinya, dalam event yang belakangan dikenal dengan nama "Black Thursday" tersebut, trader-trader maupun broker yang terkoneksi langsung ke pasar tidak bisa exit posisi.

ilustrasi

Saat itu, stop loss tidak berfungsi sama sekali, sehingga banyak trader yang isi akunnya langsung hangus tak bersisa. Beberapa broker kehilangan jutaan Dolar, dan bahkan ada yang terpaksa harus gulung tikar. "Korban" tersebut diantaranya termasuk FXCM dan Alpari UK yang notabene tergolong populer. FXCM yang merupakan salah satu broker berlisensi Amerika Serikat paling tenar, sempat berdiri diambang kebangkrutan, hingga akhirnya terpaksa meminjam dana talangan senilai $300 juta dengan bunga luar biasa tinggi. Alpari UK, disisi lain, gagal mendapat bantuan dan akhirnya dijual secara printilan ke broker-broker lain yang berhasil bertahan dari badai, seperti ETX Capital dan FXTM. Grup Alpari yang secara institusional terpisah dari Alpari UK kini masih eksis, tetapi Alpari UK terpaksa tutup.

 

Tak Terbayangkan

Krisis industri yang disulut oleh SNB tersebut kini dipandang sebagai insiden paling berbahaya di era perdagangan forex modern. Sebelumnya, tak seorang pun bisa membayangkan bahwa salah satu mata uang cadangan global seperti Franc Swiss bisa bergolak hingga lebih dari 25 persen dalam hitungan menit saja dan mengakibatkan lenyapnya likuiditas di bank-bank besar.

Kejadian yang mirip, meski tidak sama persis, sebelumnya terjadi saat "Black Wednesday" tahun 1992 dimana Pound sterling dipaksa keluar dari mekanisme trading setelah George Soros memenangkan "pertempuran"nya dengan Bank of England. Namun, itu sudah lama sekali, dan terjadi jauh sebelum pasar forex terglobalisasi dan terotomasi seperti sekarang.

Jumlah trader Swiss franc di Indonesia relatif kecil, tetapi jelas bahwa Black Thursday telah merubah banyak hal di pasar forex, baik dari sisi trader maupun broker.

 

Dampak Insiden Bagi Trader Forex

Swiss franc memang termasuk mata uang mayor, tetapi jumlah tradernya jauh lebih sedikit dibanding USD, Euro, GBP, Yen, maupun AUD. Karenanya, kebanyakan trader sebenarnya tidak secara langsung terdampak oleh gejolak pasar saat itu.

Mereka yang langsung "kena tembak" adalah mereka yang memegang CHF dalam posisi-posisi dengan leverage lebih dari 1:4. Beberapa mengalami negative balance dan berhutang hingga lima atau enam digit (Dolar AS) lebih tinggi dibanding deposit pada broker mereka. Tetapi ada juga yang "ketiban durian runtuh" karena mendapat slippage positif pada Franc Swiss, meski setelah insiden itu beberapa broker mengkalkulasi ulang profit mereka.

Akan tetapi meski mereka-mereka yang terdampak langsung adalah minoritas, mayoritas trader secara global belajar dari pengalaman tersebut dan merubah sikap mereka dalam bertrading:

1. Kini, banyak trader menuntut broker agar secara eksplisit menyebutkan klausa memberi "negative balance protection", yang berarti ada jaminan trader tidak akan sampai "berhutang" pada broker.

2. Ada kewaspadaan yang lebih tinggi di kalangan trader dalam menyikapi mata uang yang di-pegging dengan mata uang lain oleh bank sentralnya, karena bercermin pada akibat saat SNB mencabut pegging CHF pada Euro. Karena alasan inilah, maka banyak yang cenderung menyikapi Yuan China dengan hati-hati meski telah resmi akan menjadi salah satu mata uang cadangan IMF.

3. Penurunan kepercayaan pada SNB, karena sebenarnya hanya beberapa hari sebelum hari-H, pejabat bank sentral Swiss tersebut mengatakan tak berniat mencabut pegging, tetapi tak lama kemudian langsung diingkari.

4. Penurunan kepercayaan pada broker forex yang terkoneksi langsung ke pasar. Dalam insiden ini, broker-broker yang mengalami kerugian besar kebanyakan justru "true broker", sedangkan broker bandar cenderung lebih kalem karena model bisnis yang tak langsung terhubung ke pasar.

5. Meningkatnya pemahaman akan bahaya leverage tinggi bagi akun trading ketika terjadi kejutan tak terduga di pasar.

 

Dampak Bagi Para Broker Forex

Salah satu ironi paling mencolok dalam situasi pasca putusan bombastis SNB adalah bahwa para "true broker" yang sebelumnya dipandang lebih unggul karena menggunakan model bisnis terkoneksi langsung ke pasar, ternyata malah mengalami kerugian lebih besar ketimbang broker-broker forex pengguna "dealing desk". Jelas bahwa setiap model bisnis broker memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing, tetapi insiden tersebut mendorong popularitas market maker semacam Tickmill dan FBS. Bahkan FXCM kini malah menawarkan juga akun bertipe "dealing desk", bukan hanya "direct market access".

Sementara itu, terkait dengan meningkatnya minat akan "negative balance protection" di kalangan trader, para broker memberikan tanggapan beragam. Beberapa broker yang sebelumnya menyebutkan klausa tersebut dalam T&C mereka, contohnya FXCM, kemudian malah menghapusnya. Sedangkan beberapa broker lainnya malah mengambil inisiatif untuk mempertegas klausa tersebut dan menggunakannya dalam aktivitas marketing mereka. Banyak juga broker forex yang menyadari bahwa meskipun mereka tidak menawarkan "negative balance protection", tetapi realitanya biaya yang dibutuhkan untuk menuntut trader yang mangkir bayar hutang bisa jadi lebih besar daripada jumlah yang ditagihkan.

Sehubungan dengan leverage pun, kini para broker cenderung lebih siaga dan menetapkan leverage yang lebih rendah pada mata uang-mata uang yang di-pegging, seperti Yuan, serta langsung menerapkan pembatasan leverage menjelang rilis berita-berita penting tertentu yang diprediksi berdampak besar pada mata uang mayor. Langkah-langkah tersebut, selain melindungi trader, sebenarnya lebih dimaksudkan untuk memproteksi manajemen risiko broker-broker forex itu sendiri.

Aisha telah melanglang buana di dunia perbrokeran selama nyaris 10 tahun sebagai Copywriter. Saat ini aktif sebagai trader sekaligus penulis paruh waktu di Seputarforex, secara khusus membahas topik-topik seputar broker dan layanan trading terkini.

Kurniawan
gilak....stop loss tidak berfungsi sama sekali, ludes langsung itu uang.
Ferry Wibawa
Inilah imbas dari kebijakan diputuskan tanpa sosialisasi terlebih dulu
Rafiqi
sebenarnya maksud dari pegging mata uang itu apa sih?
A Muttaqiena
Bank sentral menentukan nilai tukar mata uang tetap atau boleh berfluktuasi dalam kisaran tertentu saja terhadap suatu mata uang lain. Misalnya dalam hal bank sentral Swiss, dulu pernah menentukan nilai tukar tetap antara CHF dan EUR, sebesar 1.20 franc per Euro. Konsekuensinya, bank sentral harus siaga untuk intervensi dengan melepas atau membeli Euro dari cadangan devisanya, apabila nilai tukar riil di pasar menguat atau melemah lebih dari ambang itu. Kebijakan ini jadi nggak sustainable, karena jarang sekali ada bank sentral yang cadangan devisanya unlimited.