OctaFx

iklan

Menghitung dan Mengelola Risiko Investasi Saham

Investasi di pasar keuangan, termasuk investasi saham, mengandung risiko. Oleh karena itu, dasar-dasar menghitung dan mengelola risiko investasi saham merupakan salah satu yang penting untuk diketahui semua investor.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Apakah Anda seorang risk taker? Ataukah lebih memilih berinvestasi dengan risiko rendah? Terlepas dari apa preferensi Anda, satu hal yang jelas adalah, investasi di pasar keuangan, termasuk investasi saham, mengandung risiko. Oleh karena itu, dasar-dasar menghitung dan mengelola risiko investasi saham merupakan salah satu yang penting untuk diketahui semua investor.

Mengelola Risiko Investasi Saham - ilustrasi

Rasio Risk/Reward

Dalam banyak kasus investor individual yang berakhir rugi besar, penyebabnya adalah ketidakmampuan mereka untuk mengelola risiko. Meski Anda telah sering mendengar istilah Rasio Risk/Reward, tetapi apakah sungguh memahami maknanya?

Mari ambil suatu contoh sederhana. Ketika seorang kenalan meminta pinjaman sebesar 500,000 Rupiah dan mengatakan akan membayar Anda 600,000 Rupiah dalam waktu dua minggu, Anda bisa jadi menolak dengan alasan belum mengenalnya dengan baik. Tetapi andaikan orang itu mengatakan akan membayar Anda 1,5 juta Rupiah dalam dua minggu, maka Anda mungkin akan kesulitan menolak permintaan pinjamannya itu. Pinjaman 500,000 yang berpotensi bertambah 1juta menjadi 1,5 juta Rupiah dalam dua minggu itu merupakan risk/reward dengan rasio potensi untung:resiko rugi = 2:1 yang biasanya membuat investor mulai tertarik. Rasio 2:1 ini memungkinkan investor untuk melipatgandakan dana yang dimilikinya via investasi.

Dalam setting pasar saham, mari coba asumsikan setelah memantau berbagai perusahaan, Anda menemukan suatu saham yang disukai. Harga saham XYZ itu kebetulan sedang turun ke 2500 dari puncak 2900. Anda meyakini bahwa bila Anda membelinya sekarang, maka kelak saham XYZ bakal naik jadi 2900 lagi, sehingga Anda bisa mendapatkan profit 400 Rupiah per saham. Karena itu, Anda membeli 200 lembar saham tersebut. Dalam hal ini Anda telah memilih saham dengan baik, tetapi di saat yang sama Anda belum tentu menerapkan konsep rasio risk-reward.

Pertama, perlu dipahami bahwa insting bisa jadi mendorong keputusan investasi, tetapi kalkulasi rasio risk/reward bisa dilakukan secara objektif. Kedua, setiap orang memiliki toleransi yang berbeda terhadap risiko. Anda bisa jadi suka bungee jumping, tetapi orang lain mungkin takut untuk mencobanya. Ketiga, rasio risk/reward tidak memberikan indikasi tentang probabilitas. Jika Anda membeli lotre undian seharga 500,000 Rupiah, bisa jadi akan memenangkan 5 juta atau 50 juta, tetapi probabilitas (kemungkinan untuk menang) sangat rendah dibandingkan kemungkinan profit di pasar saham.

Menghitung Rasio Risk/Reward

Cara menghitung rasio risk/reward sangat mudah. Anda cukup membagi profit netto (reward) dengan harga risiko maksimum.

Rumus Menghitung Rasio Risk/Reward
Dengan menggunakan contoh saham XYZ tadi, jika harga saham naik maka Anda akan profit 400 rupiah per saham. Jika proyeksi untung itu dikalikan dengan 200 lembar saham yang dibeli, maka akan diperoleh total profit 80,000 Rupiah. Mengingat Anda membeli saham tersebut dengan harga total 500,000 Rupiah (diperoleh dari harga beli 2500 dikalikan 200 lembar saham yang dibeli). Maka artinya rasio risk/reward dari ide trading saham ini adalah 80,000/500,000 = 0.16, atau dengan kata lain 0.16:1. Dengan rasio serendah itu, kebanyakan profesional tidak akan tertarik; tetapi ada pertimbangan lain yang bisa digunakan untuk menaikkan rasio-nya.

Secara realistis, kecuali Anda adalah investor saham yang tidak berpengalaman, maka Anda tidak akan membiarkan dana 500,000 tadi hangus begitu saja. Artinya, risiko maksimum Anda sesungguhnya bukan 500,000, melainkan hanya sebesar level stop loss dimana Anda akan melepas saham kalau harga bukannya naik tapi malah turun.

Mari coba kalkulasi lagi. Katakanlah Anda akan melepas saham jika harga merosot dari 2500 ke 2000. Dengan begitu, risiko maksimumnya hanyalah (500 x 200), atau 100,000 Rupiah. Dengan begitu, maka rasio risk/reward menjadi 80,000/100,000 = 0.8, atau dengan kata lain 0.8:1. Rasio ini masih belum ideal.

Karena belum ideal, maka geserlah batas harga stop loss dari 2000 ke 2300, sehingga Anda hanya akan kehilangan 200 Rupiah per lembar saham jika harga turun. Dengan cara ini rasio risk/reward menjadi 80,000/40,000 = 2, atau bisa disebut 2:1. Rasio risk/reward 2:1 sering dianggap sebagai minimum bagi kebanyakan investor, sehingga skenario membeli saham XYZ pada harga 2500 dengan proyeksi harga naik ke 2900 ini bisa diterima jika Anda menetapkan stop loss pada harga 2300.

Langkah-langkah Mengelola Risiko Investasi Saham

Guna mengelola risiko dan mengkalkulasi rasio risk/reward, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Pilihlah saham dengan melakukan riset mendalam terhadap fundamentalnya.
  2. Tetapkan target harga atas (proyeksi profit) dan bawah (loss limit) dengan patokan harga saat ini.
  3. Kalkulasi rasio risk/reward.
  4. Jika rasio-nya dibawah kemampuan Anda untuk menanggungnya, maka geserlah batas bawah (loss limit)-nya hingga mencapai level yang bisa diterima.
  5. Jika masih juga tak mampu mencapai rasio yang bagus, tinggalkan saham itu.


Penerapan pengelolaan risiko investasi saham seperti ini akan memakan waktu, namun jika Anda telah terbiasa dan memiliki wawasan relatif komprehensif terkait saham-saham yang diperdagangkan di bursa, maka waktu yang dibutuhkan akan makin berkurang. Ingat bahwa semakin teliti Anda, semakin besar pula kesempatan untuk mendapatkan profit.

Perlu juga diingat bahwa batas atas (proyeksi profit) bisa berubah-ubah karena saham bisa Anda pegang hingga jangka waktu lama. Selama rasio risk/reward masih bisa diterima, maka tidak ada salahnya untuk memegang terus suatu saham. Namun ketika rasio risk/reward-nya sudah tidak bisa lagi diterima, maka jangan ragu untuk melepas saham itu.

Menentukan Preferensi Risiko Investasi Saham

Berlanjut ke tahap berikutnya, dalam uraian tadi, Anda mungkin bertanya-tanya, apakah rasio risk/reward harus 2:1? jawabannya, belum tentu. Sebagaimana telah diungkap sebelumnya, setiap orang memiliki toleransi yang berbeda terhadap risiko.

Preferensi Risiko Investasi Saham
Satu hal yang perlu dipahami sungguh-sungguh adalah bahwa setiap kali Anda menginvestasikan dana dengan harapan mendapatkan return, baik itu saham maupun aset lain, maka akan selalu ada risikonya. Return merupakan "imbalan" Anda karena bersedia menanggung risiko. Secara teori, semakin tinggi risikonya, maka semakin besar return yang selayaknya Anda terima. Tetapi dalam menentukan preferensi risiko Anda, ada dua faktor yang perlu dipertimbangkan masak-masak:

1. Jangka Waktu
Pertimbangkan berapa lama Anda ingin menanamkan investasi dalam saham tersebut. Anda boleh jadi memiliki dana nganggur sebesar 500,000 hari ini, tetapi bila Anda akan perlu menggunakannya untuk membayar sewa rumah bulan depan, maka sebaiknya jangan menginvestasikannya pada aset berisiko tinggi. Ketika Anda hanya punya waktu singkat, maka Anda kemungkinan akan terpaksa melepas saham dalam kondisi rugi itu cukup besar.

Sementara itu, bila Anda berniat untuk berinvestasi dalam jangka panjang, maka Anda bisa berinvestasi pada saham dengan risiko yang lebih besar. Anda tidak akan dipaksa untuk melepas saham dalam kondisi rugi, dan memiliki kebebasan lebih besar untuk melepas saham dalam kondisi profit maksimal.

2. Persediaan Dana
Cukup jelas bahwa semakin banyak dana yang Anda miliki, maka semakin besar lah risiko yang bisa ditanggung. Tetapi, jangan buru-buru menjual rumah untuk investasi hanya karena itu saja. Persediaan dana yang dimaksud disini adalah dana yang Anda siap bila dana itu lenyap akibat rugi, bukan dana yang kelak akan Anda perlukan untuk membayar kuliah, sewa rumah, atau malah jatah makan bulan depan. Sehingga dengan begitu, Anda tidak akan dikejar-kejar waktu untuk buru-buru melikuidasi aset yang belum untung.


Disamping menyesuaikan rasio risk/reward dan preferensi risiko, pengelolaan risiko investasi saham juga bisa dilakukan dengan membangun portofolio. Portofolio merupakan kumpulan berbagai aset yang dikelola oleh seorang investor atau ditangani oleh seorang manajer keuangan untuk orang lain. Karena setiap jenis aset investasi memiliki ukuran risk/reward berbeda, maka dengan mengkombinasikan beragam aset dimungkinkan sebuah portofolio dengan potensi reward besar dan risiko terkendali.

Ada banyak cara untuk mengelola risiko investasi saham, dan setiap orang bebas mengaplikasikannya dengan cara apa. Yang terpenting bagi investor adalah memahami eksistensi faktor risiko dan mengetahui seberapa besar risiko yang ada dalam setiap transaksi yang dilakukan. Keputusan investasi yang tepat bisa dicapai hanya dengan melakukan riset mendalam atas fundamental saham serta pemahaman akan kondisi keuangan pribadi dan risiko investasi.




Diadaptasi dari artikel "Calculating Risk Reward" oleh Tim Parker dan "Determining Risk And The Risk Pyramid" oleh tim Investopedia di Investopedia

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.