Advertisement

iklan

Mengungkap 7 Mitos Terkenal Tentang Bitcoin

283738

Sebagai fenomena baru yang menggebrak dunia finansial dan transaksi global, kemunculan Bitcoin diiringi dengan beragam mitos. Apa sajakah mitos Bitcoin itu?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Hingga saat artikel ini ditulis, umur Bitcoin sudah hampir 9 tahun sejak diciptakan oleh Satoshi Nakamoto di tahun 2009. Dengan umurnya yang semakin matang, tahap yang dihadapi oleh Bitcoin saat ini adalah pertarungan, karena berbagai pemain besar sudah mulai masuk dalam pasar Bitcoin. Mereka biasanya menerapkan strategi licik yang biasa dikenal dengan "Pump and Dump", dengan menyebarluaskan berita yang terlalu positif maupun yang terlalu negatif, juga berbagai mitos Bitcoin yang belum tentu bisa dijamin kebenarannya.

Berbicara mengenai mitos Bitcoin, sulit untuk mengesampingkan fenomena tersebut, karena meskipun kabarnya belum tentu benar, banyak orang cenderung percaya dan membesar-besarkan isunya. Semakin bombastis kontennya, semakin tinggi pula kemampuan mitos tersebut untuk memancing perhatian masyarakat. Oleh karena itu, kita akan mengungkap fakta di balik 7 mitos Bitcoin yang paling banyak beredar.

 

Mitos Bitcoin

 

 

1. Bitcoin Adalah Uang "Kotor"

Faktanya:

Blockchain Bitcoin adalah buku digital transparan untuk mencatat semua transaksi terdaftar dan bisa diakses oleh siapapun di seluruh dunia. Berbeda dengan catatan dari Bank Sentral yang mungkin saja hilang akibat kesalahan, Blockchain Bitcoin menyediakan seluruh catatan dari kapan mata uang kripto tersebut tercipta hingga transaksi berakhir.

Dalam laporan tahunan 110 halaman tentang pencucian uang dan pendanaan terorisme, Departemen Keuangan Inggris menganggap Bitcoin memiliki risiko yang jauh lebih rendah dalam hal pencucian uang dan pendanaan terorisme dibandingkan mata uang tunai.

 

2. Pertambangan Bitcoin Boros Energi Dan Berbahaya Bagi Ekologi

Faktanya:

Jika dibandingkan dengan pertambangan emas atau logam mulia lainnya, tentu saja pertambangan Bitcoin lebih hemat dan praktis. Belum lagi, pembangunan gedung-gedung mewah dan proses percetakan mata uang fiat justru menghabiskan lebih banyak energi daripada satu rig komputer pertambangan Bitcoin.

Penambangan Bitcoin adalah pasar yang sangat kompetitif, dinamis, dan hampir sempurna. Rig pertambangan dapat diatur dan dibongkar hampir di mana saja dengan prosedur yang cukup mudah. Dengan demikian, kekuatan psar terus mendorong aktivitas pertambangan ke tempat yang memiliki harga listrik marginal rendah atau nol seperti di negara Islandia.

Selain itu, ketika lingkungan pertambangan Bitcoin dipertanyakan, perlu dilakukan penimbangan juga terhadap manfaatnya. Artinya, jika kita mempertanyakan Bitcoin dengan alasan bahwa konsumsi listrik yang dibutuhkan begitu besar, maka kita juga harus mengajukan pertanyaan berikut ini:

  • Apakah Bitcoin akan mendorong pertumbuhan ekonomi?
  • Apakah Bitcoin akan mempercepat laju inovasi teknologi?
  • Apakah Bitcoin mampu menciptaan manfaat besar kepada seluruh umat manusia?
  • Apakah Bitcoin mampu mengakselerasi kemajuan teknologi lintas batas?

 

Pertambangan bitcoin

(Baca juga: Panduan Menambang Bitcoin Dalam 5 Langkah Mudah)

 

Anggapan yang hanya merendahkan Bitcoin karena biayanya, tanpa benar-benar menyoroti manfaatnya, merupakan sebuah pandangan timpang serta tak bisa dianggap kredibel. Jika kita telisik lebih lanjut, teknologi nyata yang digunakan saat ini secara keseluruhan juga menghabiskan banyak energi, dan masyarakat menerimanya tanpa mempertanyakan risiko yang dibawa.

 

3. Bitcoin Sama Seperti Mata Uang Digital Lainnya

Faktanya:

Hampir semua mata uang digital yang kita kenal sebelum munculnya mata uang kipto, dapat dikendalikan dan tersentralisasi. Ini berarti bahwa:

  • Mereka dapat dicetak sesuai keinginan subjektif dari pengendali.
  • Mereka dapat dihancurkan dengan menyerang titik pusat kontrol (server).
  • Aturan sewenang-wenang dapat dilakukan pada pengguna oleh pengontrol.

Karena terdesentralisasi, Bitcoin memecahkan semua masalah ini. Bitcoin bisa memecahkan masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh mata uang lain baik yang berjenis Fiat, digital, hingga emas. Tidak seperti emas, Bitcoin mudah ditransfer, diamankan, dan diverifikasi. Tidak seperti mata uang Fiat, Bitcoin terbatas persediaannya dan tidak dikontrol oleh otoritas pusat (seperti Federal Reserve AS). Tidak seperti sistem mata uang digital, Bitcoin bisa dimiliki secara anonim, bukti transaksi terdesentralisasi secara publik, serta memungkinkan transfer yang lebih mudah dan cepat.

 

4. Bitcoin Mudah Dimanipulasi

Faktanya:

Bitcoin tidak dapat dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu, selama tidak ada koalisi penambang yang memiliki lebih dari 51% kekuatan Hash. Inilah yang disebut dengan serangan 51% dan dianggap sebagai salah satu risiko keamanan Bitcoin.

Pada dasarnya, Bitcoin memiliki definisi aturan-aturannya sendiri yaitu:

  • Tidak ada yang dapat menciptakan uang dari ketiadaan (kecuali untuk penambang, dan hanya menurut jadwal yang ditentukan dengan baik).
  • Tidak ada yang bisa membelanjakan koin tanpa mengetahui Private Key mereka.
  • Tidak ada yang bisa membelanjakan koin yang sama dua kali.
  • Tidak ada kesalahan yang tidak terdeteksi di konsensus jaringan (difficulty, PoW, DOS Protection, dan lain sebagainya).

Memang tetap ada risiko manipulasi di Bitcoin jika sebuah koalisi penambang memiliki lebih dari 51% daya Hash yang tersedia di jaringan, karena mereka akan mampu menulis ulang transaksi demi keuntungan sendiri. Namun, hal ini hampir tidak mungkin terjadi karena beberapa faktor berikut ini:

  • Koalisi 51% dengan tujuan yang sama hanya muncul ketika seluruh konsensus bobrok dan keadilan sudah hilang.
  • Penambang memakai banyak daya listrik dalam proses penambangan, sehingga mereka harus terus-menerus memperdagangkan pendapatan Bitcoin mereka untuk membayar tagihan.

 

5. Bitcoin Didukung Oleh Kekuatan Pemrosesan

Banyak orang mengira bahwa Bitcoin memiliki Backup atau dukungan dari kekuatan pemrosesan. Namun anggapan tersebut ternyata salah besar.

Faktanya:

Mata uang yang "didukung" berarti dipatok pada sesuatu yang lain dengan nilai tukar tertentu dan bisa ditukar satu sama lain. Namun, Anda tidak akan dapat menukar Bitcoin dengan kekuatan komputasi yang digunakan untuk membuatnya. Bitcoin dalam pengertian ini tidak didukung oleh apapun. Ia adalah mata uang yang berdiri sendiri, sama seperti Emas yang tidak didukung oleh apapun.

 

6. Nilai Bitcoin Didasarkan Pada Daya Listrik Dan Komputasi

Faktanya:

Pernyataan ini adalah upaya untuk menerapkan teori nilai kerja Pada Bitcoin, yang secara umum sudah dianggap "salah". Hanya karena sesuatu mengambil atau menggunakan sumber daya X untuk kepentingannya, tidak berarti bahwa produk yang dihasilkan akan bernilai X. Produk tersebut dapat bernilai lebih, kurang, atau tergantung pada kegunaannya.

 

7. Bitcoin Tidak Memiliki Nilai Intrinsik

Nilai intrinsik Bitcoin

(Baca juga: Bagaimana Mata Uang Kripto Mempertahankan Nilainya?)

 

Faktanya:

Sementara bebrapa komoditas berwujud lainnya memiliki nilai intrinsik tertentu, pada umumnya nilai tersebut jauh lebih rendah daripada harga perdagangannya. Seperti emas misalnya, jika tidak digunakan sebagai penyimpan nilai yang tidak mengandung inflasi, tetapi hanya untuk penggunaan industri, tentu nilainya tidak akan sebesar seperti sekarang. Hal ini karena permintaan industri untuk emas jauh lebih kecil dari pasokan yang tersedia. Seperti kebanyakan komoditas dan mata uang, Bitcoin juga memiliki atribut wajib yang dimiliki oleh setiap alat tukar, yaitu divisibility, fungibility, kelangkaan daya tahan, dan lain sebagainya.

 

 

Selain fakta-fakta yang menangkal 7 mitos Bitcoin di atas, ada 7 fakta unik Bitcoin yang perlu Anda tahu. Apa sajakah itu? Simak uraiannya di artikel ini.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.


Hati
Artikel yg tidak mendidik
Dwira
pencerahan kok buat ane, mungkin situ aja yg emang ga tertarik sama btc