Menilai Daya Tarik Perusahaan Berdasarkan Margin Laba

Ada yang bilang, perusahaan menarik itu adalah yang menghasilkan laba bersih paling tinggi. Benarkah demikian?

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Jika masing-masing orang ditanya dengan pertanyaan yang sama, "Seperti apa perusahaan yang menarik itu?", maka masing-masing responden tentu akan memiliki argumen berbeda-beda. Ada yang bilang, perusahaan menarik itu adalah yang menghasilkan laba bersih paling tinggi. Ada juga yang berkomentar, perusahaan yang penjualannya tumbuh secara konsisten pertahunnya. Orang lain lagi mengatakan ROA dan ROE-nya lebih tinggi dari perusahaan lain dalam sektor yang sama. Dan, ada juga yang bilang bahwa apabila price book value perusahaan tersebut masih rendah, dialah perusahaan yang menarik.

Perusahaan Menarik - ilustrasi
Pendapat masing-masing personal memang berbeda-beda, karena masing-masing dari kita tentu sudah punya kriteria untuk menilai daya tarik perusahaan. Dan tentu saja, dari semua jawaban tersebut tidak ada yang salah.

Warren Buffet, salah satu investor paling sukses di Dunia, menilai perusahaan menarik itu adalah yang menikmati margin laba tinggi dan menghasilkan keuntungan kas untuk pemiliknya. Akan lebih menarik lagi jika laba bersih perusahaan memberikan keuntungan tinggi pada ekuitas perusahaan. Sederhananya, margin yang tinggi akan menghasilkan laba maksimal. Dan dari laba maksimal tersebut akan menambah ekuitas lebih banyak lagi.

Dari pendapat Buffet terkait margin tersebut, tak seorangpun dari kita tidak setuju bahwa perusahaan penghasil margin tinggi itulah yang lebih menarik. Margin merupakan sesuatu yang diperhatikan investor saat menganalisa laporan keuangan. Margin tinggi dapat dapat diartikan bahwa perusahaan tersebut mampu menekan biaya-biaya yang perusahaan keluarkan. Dengan meminimalkan pengeluaran, maka pendapatan perseroan yang menjadi laba bersih akan maksimal jumlahnya.

Hingga pertengahan tahun 2014, PT Tiga Pilar Sejahtera, Tbk (kode saham AISA) mencatatkan penjualan sebanyak 2.4 Trilyun rupiah atau naik 37% dari pendapatan tahun sebelumnya sebesar 1.7 Trilyun rupiah. Sedangkan laba bersih yang berhasil diperoleh pertengahan tahun 2014 sebesar 199 milyar, naik 23% dari tahun sebelumnya sebesar 161 milyar.

Jika dibandingkan dengan pendapatan AISA sebanyak 2.4 trilyun, maka laba bersih AISA sebesar 199 milyar setara dengan 8% dari pendapatan. Dengan demikian, margin AISA pertengahan tahun 2014 ini sebesar 8%. Artinya, cuma 8% pendapatan dari AISA yang berhasil menjadi laba bersih. Dan sisanya, 91% dari pendapatan adalah pengeluaran yang perusahaan keluarkan.

Kesimpulannya, memang perusahaan penghasil margin paling tinggi adalah paling menarik. Dalam hal ini, ada beberapa alasan yang dapat dipertimbangkan.

Pertama, semakin tinggi margin laba membuktikan bahwa perusahaan tersebut mampu meminimalisir pengeluaran, atau perusahaan bisa membuat operasional lebih efisien. Dengan pengelolaan yang efisien tersebut, tentu saja laba bersih yang akan dihasilkan pun akan lebih maksimal.

Kedua, pendapatan perusahaan sewaktu-waktu dapat menurun, tetapi pengeluaran perusahaan tiap tahunnya selalu meningkat. Dalam kondisi dimana pendapatan perusahaan menurun dan pengeluaran perusahaan meningkat, maka perusahaan bermargin sedikit bisa mencatatkan laba sedikit pula, atau bahkan bisa saja minus. Karena margin merupakan porsi berapa persentase dari pendapatan perusahaan, maka perusahaan bermargin tinggi masih bisa mencetak laba bersih walau penjualan terganggu. Meskipun besarnya laba bersih tersebut mungkin lebih rendah atau lebih sedikit dari periode sebelumnya, laba masih dihasilkan. Itulah mengapa kita perlu menganalisa bagaimana margin laba suatu perusahaan.

Selain menghasilkan margin laba yang besar, sikap manajemen terhadap laba bersih juga patut kita perhatikan. Artinya, bagaimana manajemen akan mengelola laba bersih yang sudah didapatkan tersebut; dibagikan ke pemegang saham sebagai dividen, atau memasukkannya sebagai saldo laba.

Dari catatan penulis, PT Lippo Cikarang, Tbk (kode saham LPCK) mencatatkan rata-rata pertumbuhan pendapatan diatas 39% pertahun. Laba bersih yang dihasilkan meningkat 37% pertahunnya. Margin laba perseroan dari tahun ke tahun selalu meningkat. Misalnya, di tahun 2011 margin perseroan sebesar 29%, dan ditahun 2012 meningkat menjadi 40% serta ditahun 2013 menjadi 44%. Tahun 2013 perseroan memperoleh pendapatan 1.3 trilyun rupiah, dan sebesar 590 milyar dari pendapatan tersebut berhasil menjadi laba bersih.

Dari laba bersih tersebut, manajemen perseroan memilih untuk menggunakannya sebagai modal. Artinya, laba bersih tersebut tidak dibagikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen, melainkan memasukkannya kedalam kas perusahaan. Laba bersih tersebut kemudian menjadi saldo laba yang pada akhirnya akan menambah ekuitas perusahaan. Dengan memasukkan laba bersih sebesar 590 milyar kedalam saldo laba LPCK, nilai ekuitas perseroan pun meningkat 48% dari sebelumnya.


Performa Ekuitas Lippo CIkarangPerforma Ekuitas Lippo Cikarang

Tahun 2013, aset LPCK meningkat 36% dan hutang juga meningkat 27%. Namun, keputusan manajemen untuk mengalokasikan seluruh laba bersih perusahaan menjadi kas, menjadikan proporsi hutang perusahaan terhadap aset menurun dari tahun sebelumnya, meskipun di tahun tersebut hutang perusahaan juga meningkat. Tahun 2012 rasio hutang terhadap aset perusahaan sebesar 57%, dan ditahun 2013 rasionya menurun menjadi 53%. Dengan demikian, laba bersih perseroanpun dapat memperkuat struktur modal perseroan.

Selain itu, semakin besar laba bersih yang dimasukkan menjadi saldo laba, akan semakin meningkatkan ekuitas perusahaan. Dengan peningkatan ekuitas tersebut dan disamping itu jumlah saham yang perseroan masih tetap, maka book value perusahaan akan semakin meningkat. Artinya, perusahaan akan semakin mahal nilainya. Misalnya saja LPCK ditahun 2008 book valuenya berkisar 679 rupiah. Maka diakhir tahun 2013, book value perusahaan meningkat menjadi sekitar 3.193.

Demikianlah, pembuktian bahwa perusahaan yang menarik adalah dia yang memiliki margin laba lebih tinggi. Karena dengan margin tinggi, dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut sangat efisien dalam operasionalnya. Selain itu, margin laba tinggi juga akan membantu perusahaan tetap mencetak laba bersih, meskipun penjualan perusahaan sedang menurun.

Akan lebih menarik lagi jika laba bersih tersebut memberikan keuntungan tinggi pada ekuitas perusahaan. Karena selain memperkuat struktur modal perusahaan, juga akan membuat book value perusahaan meningkat lagi nilainya. Semakin meningkat saldo laba suatu perusahaan, maka dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut lebih berbobot dan lebih berisi. Apakah Anda sependapat?

Selamat Berinvestasi.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.