Meninjau Pengaruh Pariwisata Terhadap Kurs Rupiah, Mitos Atau Bukan?

Benarkah pengaruh pariwisata terhadap kurs Rupiah itu sedemikian besar? Bukankah pengeluaran wisatawan itu cuma receh dibandingkan kebutuhan devisa negara?

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Sudah bukan rahasia lagi jika berbagai instansi di Indonesia berupaya sekuat tenaga untuk menarik wisatawan mancanegara agar melancong ke bumi nusantara. Salah satu alasannya, agar meningkatkan devisa dan memperkuat kurs Rupiah terhadap mata uang asing. Namun, benarkah pengaruh pariwisata terhadap kurs Rupiah itu sedemikian besarnya? Bukankah pengeluaran wisatawan itu cuma receh dibandingkan kebutuhan devisa negara yang luar biasa besarnya? Mari simak jawabannya bersama-sama.

Pengaruh Pariwisata Terhadap Kurs Rupiah(foto oleh Sander Wehkamp dari Unsplash)

 

Telaah Ilmiah Tentang Pengaruh Pariwisata Terhadap Kurs Rupiah

Dikutip oleh Okezone pada 12 Maret 2018, Menteri PPN sekaligus Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, "Turisme merupakan kategori ekspor jasa karena akan menghasilkan devisa untuk Indonesia agar bisa memperkuat rupiah secara permanen". Oleh karena itu, menurutnya, upaya mendongkrak devisa hendaknya tak sebatas mengundang investasi untuk membangun kawasan industri atau pabrik-pabrik semata, melainkan juga memerhatikan sektor pariwisata.

Sebuah paper yang ditulis oleh Muhammad Afdi Nizar dari Kementrian Keuangan memaparkan lebih lanjut mengenai pengaruh pariwisata terhadap kurs Rupiah. Hasil risetnya yang bersumber dari data sejak awal 2008 hingga pertengahan 2011 menyimpulkan:

  1. pertumbuhan pariwisata (devisa pariwisata dan jumlah turis) dan nilai tukar memiliki hubungan kausalitas timbal balik,
  2. dampak dari peningkatan devisa pariwisata akan meningkatkan (apresiasi) kurs Rupiah selama 3 bulan, sedangkan kenaikan jumlah wisatawan akan meningkatkan (apresiasi) nilai tukar Rupiah selama 8 bulan;
  3. apresiasi (depresiasi) Rupiah akan mendorong peningkatkan (penurunan) devisa pariwisata dan jumlah turis dalam waktu yang berbeda;
  4. ada hubungan positif dan pengaruh timbal balik antara jumlah turis dan devisa pariwisata.

 

The Power of "Duit Receh"

Sepintas, pengeluaran wisatawan mancanegara itu setara recehan. Apalagi wisman backpacker yang suka mengincar kamar hotel budget, mondar-mandir jalan kaki, dan makan di warung Tegal. Rendahnya harga-harga barang di Indonesia (dibandingkan taraf hidup berbagai negara maju) membuat berwisata di Indonesia menjadi suatu kegiatan yang tak membutuhkan banyak dana. Drew Binsky, seorang youtuber ternama asal AS, bahkan sempat membuktikan bahwa dana USD10 saja sudah lebih dari cukup untuk membiayai seseorang keliling Jakarta dengan perut kenyang.

Pengaruh Pariwisata Terhadap Kurs Rupiah(foto oleh Artyom PJ dari Unsplash)

Coba bandingkan anggaran wisman perorangan itu dengan dana investasi George Soros yang bisa mencapai miliaran Dolar dalam sehari. David vs Goliath, begitulah kesannya. Lha, Soros itu konon mampu memicu kejatuhan Poundsterling yang dibekingi oleh bank sentral Inggris pada tahun 1992, serta mata uang-mata uang Asia pada era krisis 1997/1998.

Terlepas dari perbandingan tersebut, pertumbuhan pariwisata terbukti nyata secara ilmiah mampu menopang kurs Rupiah terhadap mata uang asing. Tentunya, hal ini dicapai setelah akumulasi selama beberapa bulan atau bahkan tahun, bukan hanya dalam satu kali keberangkatan pesawat saja.

Lebih dari itu. Jika kita mempertimbangkan pula tren media sosial saat ini, maka kenaikan trafik wisman bisa berefek domino. Katakanlah satu wisman menyebarkan pengalamannya via Youtube. Meski seandainya hanya 0.0001 persen dari 1 juta follower-nya yang mengikut jejak pelesiran ke Indonesia, tetapi dari 0.01 persen itu bisa dipastikan akan menyebarkannya lagi melalui media sosial lain hingga semakin banyak orang asing yang tertarik.

 

Jadi, Benarkah Pariwisata Berpengaruh Terhadap Kurs Rupiah?

Ya, pengaruh pariwisata terhadap kurs Rupiah itu nyata. Tepatnya, kedatangan wisatawan mancanegara berpotensi mendongkrak nilai tukar Rupiah dalam jangka panjang. Namun, jangan harap devisa dari wisman itu akan bisa mendadak melonjakkan kurs Rupiah ketika sedang tragis-tragisnya ditekan Dolar AS seperti saat ini.

Perlu diingat, sektor Pariwisata hanyalah satu dari sekian banyak sektor lain yang dapat berkontribusi bagi devisa Indonesia dan memengaruhi nilai tukar mata uang. Dalam hal skala efek yang ditimbulkan, repatriasi dana-dana besar pengusaha nasional kembali ke Indonesia dari luar negeri bahkan boleh jadi berimbas lebih besar.

Sudahkah Anda mengenal "Trading Forex Online"?
Pasar Forex memiliki kapitalisasi pasar terbesar saat ini, sehingga membuka peluang bagi siapa saja untuk ikut andil dan memperoleh pendapatan tambahan. Anda berpotensi mendapatkan keuntungan 500 dolar atau lebih, hanya dengan modal 10-100 dolar saja. Trading bisa dilakukan lewat PC, Laptop, maupun Android dimana saja, kapan saja. Dapatkan info selengkapnya di sini.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.