Mining Pool, Solusi Mudah Menambang Kripto

282773

Untuk mengakali proses penambangan kripto yang kian sulit, para penambang kini beralih pada Mining Pool. Apa itu Mining Pool dan bagaimana memanfaatkannya?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Di dalam konteks dunia kriptografi,  pastinya kita sudah tidak asing dengan kata Mining Pool atau Kolam Penambangan. Saat ini banyak individu dan institusi sengaja masuk ke dalam proyek penambangan kripto, seiring dengan nilai koin kripto, terutama harga Bitcoin yang semakin mahal.

Kolam Penambangan kripto sangat berbeda dengan yang ada di dunia nyata. Dalam menambang kripto, kita tidak akan menemukan perangkat keras seperti bor penggali tanah, melainkan hanya perangkat keras berupa komputer dengan daya komputasi tinggi. Masih bingung? Jangan khawatir, di sini kita akan mengupas seluk-beluk penambangan kripto, seperti apa caranya, dan mengapa Kolam Penambangan (Mining Pool) bisa menjadi solusi mudah menambang kripto.

 

mining pool kripto

 

 

Bagaimana Koin Kripto Dibuat?

Koin Kripto dapat diciptakan dengan 2 cara, yaitu: Pra-Penambangan dan Penambangan. Metode pertama adalah pra-penambangan, yang merupakan proses pembuatan ketika para pengembang dan pendiri telah menghasilkan semua koin di awal proyek. Setelah pembuatan token (ICO), koin didistribusikan ke populasi yang memegang token tersebut.

Contoh koin yang menerapkan metode pra-penambangan adalah Ripple (XRP).Semua koin XRP sebelumnya telah ditambang di awal untuk dijual di pasar terbuka, bank, lembaga keuangan, dan para pelaku pasar lain, sehingga langsung dapat digunakan sebagai alat transfer dana tanpa henti ke seluruh dunia dengan Blockchain.

Sedangkan untuk metode penambangan, beberapa contoh yang bisa kita ambil adalah Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Sampai saat ini, total supply maksimum dari kedua kripto tersebut belum tercapai.

 

Bagaimana Proses Menambang Kripto?

Penambangan kripto melibatkan sebuah sistem komputer yang sangat canggih menggunakan ASIC (Application Specific Intergrated Circuit) dan GPU (Graphics Processing Unit) untuk menciptakan koin baru. ASIC sendiri berfungsi hampir seperti komputer, hanya saja dalam pembuatannya, ASIC memang hanya dibuat untuk satu tujuan khusus. Berbeda dari komputer biasa yang tujuan pembuatannya agar dapat digunakan secara general.

Kekuatan pemrosesan komputer canggih tersebut dialihkan untuk memecahkan masalah matematika tingkat tinggi, sekaligus memastikan Blockchain tetap utuh. Ketika perangkat ASIC dan GPU telah berfungsi dalam periode yang cukup lama, pemilik akan diberi imbalan dalam nilai kripto atas jasanya memecahkan masalah dan mendukung keutuhan Blockchain. Mata uang kripto hasil penambangan tersebut memiliki nilai inheren yang berhubungan langsung dengan nilai daya listrik dan daya komputasi.

 

bagaimana pertambangan bitcoin bejalan

 

 

Mata uang kripto yang ditambang seperti contoh di atas, berbeda dengan mata uang kripto pra-penambangan yang lebih bergantung pada kegunaan koin dan apa tujuan dasar diciptakannya koin tersebut, serta sudah dirilis (didistribusikan) seluruhnya sekaligus. Mata uang kripto yang ditambang setelah rilis, didistribusikan secara berkala saat penambangan terjadi.

Sebagai contoh, Bitcoin yang telah ditambang sejauh ini baru sebanyak 16.8 juta koin BTC. Karena total pasokan BTC adalah 21 juta, jadi masih ada 4.2 juta lebih BTC yang belum ditambang.

Seiring dengan proses penambangan yang level kesulitannya terus merangkak naik, semakin sulit untuk menghasilkan sebuah blok pada Bitcoin Core, sehingga tercipta deviasi pada Bitcoin. Efek deviasi tersebut akan mendorong harga Bitcoin lebih mahal. Hal ini sedikit berbeda dengan daya beli normal dari mata uang fiat yang dari waktu ke waktu terdorong turun karena inflasi.

Proses penambangan bekerja dengan dua fungsi utama yaitu :

  • Meliris kripto yang baru ditambang ke Blockchain.
  • Memverifikasi transaksi pada buku besar (ledger) Blockchain.

Untuk menyelesaikan tugas dan fungsi tersebut, perangkat keras penambangan harus tetap terhubung dengan internet. Ketika Blockchain BTC masih baru dirilis pada 2009 silam, daya komputasi dari CPU standar sudah cukup efisien untuk membantu mendukung keutuhan Blockchain dan mendapatkan bayaran berupa koin BTC. Beberapa tahun terakhir, komputer standar tidak dapat lagi digunakan untuk proses pertambangan. Maka dari itu, alat komputasi tingkat tinggi yang umum digunakan saat ini adalah perangkat GPU dan ASIC.

Penambangan kripto merupakan proses yang intensif untuk processor. Dalam memecahkan perhitungan, persamaan maupun teka-teki, processor akan terus mengkonsumsi listrik dalam jumlah besar. Penambang yang dapat memecahkan masalah-masalah tersebut bisa menempatkan blok berikutnya di Blockchain, dan mengklaim Reward yang diberikan.

Awalnya, persaingan terjadi secara tidak adil karena proses komputasi antar individu tidak akan sama, sehingga yang memiliki komputer berkekuatan tinggi tentu akan mendapatkan blok dan Reward lebih banyak. Sedangkan mereka yang perangkatnya hanya memiliki daya kecil akan tertinggal. Dari sinilah Mining Pool diciptakan.

 

Apa Itu Mining Pool?

Mining pool adalah penyatuan sumber daya oleh para penambang yang memiliki kekuatan pemrosesan melalui suatu bentuk jaringan. Reward (Hadiah) yang akan diterima untuk jaringan tersebut akan dibagi secara merata, sesuai dengan jumlah pekerjaan yang dilakukan individu dan kemampuannya menemukan sebuah blok baru. Pembagian Reward kemudian diberikan kepada anggota kolam penambangan yang mencantumkan bukti kerja parsial valid.

 

kolam mancing kripto

 

 

Penambangan dengan sistem bersama di dalam sebuah jaringan Mining Pool ini mulai dilakukan ketika tingkat kesulitan untuk penambangan biasa meningkat, sampai pada titik dibutuhkannya waktu bertahun-tahun bagi penambang individu untuk menghasilkan satu blok.

Solusi untuk masalah tersebut adalah dibentuknya jaringan Mining Pool, agar para penambang dapat mengumpulkan sumber daya mereka. Dengan cara ini, blok dapat dihasilkan lebih cepat, dan penambang akan menerima sebagian imbalan blok secara konsisten. Toh jika dipaksakan melakukan penambangan secara individu, maka belum tentu setahun sekali sebuah perangkat pemrosesan dapat menghasilkan satu blok. Proses jaringan Mining Pool dikonfigurasi agar daya pemrosesan dapat dikumpulkan, sehingga kemungkinan terciptanya blok berikutnya semakin tinggi.

 

Bagaimana Cara Kerja Mining Pool?

Mining Pool pada intinya adalah koordinator semua anggota penambang yang tergabung dalam sebuah jaringan. Fungsi utama Mining Pool adalah untuk mengelola tingkat hash anggota, mencari Reward dari upaya pemrosesan gabungan, rekam pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing anggota berkontribusi, dan memberikan persentase Reward yang terspesifikasi berdasarkan proporsi daya dari masing-masing penambang di Mining Pool. Karena mengelola berbagai macam proses penting, tidak jarang jika pihak Mining Pool menetapkan beberapa fee kecil dari setiap anggota penambang.

Ada 2 fungsi utama Mining Pool, yaitu :

  • Pembagian pekerjaan yang ditugaskan ke masing-masing penambang, terdiri dari rentang nonce (rentang blok) tertentu.
  • Pembagian Reward atas pekerjaan yang dilakukan oleh penambang, berdasarkan daya komputasi hash yang dimasukkan ke Mining Pool.

Ketika hash menghasilkan sebuah blok, maka Reward akan didapatkan. Per blok nya saat ini (2018) dihargai dengan 25 keping BTC. Kemudian, Reward tersebut akan dibagikan secara merata kepada para penambang yang ikut serta dalam pemecahan blok tersebut. Persentasenya ditentukan berdasarkan seberapa besar daya proses masing-masing penambang yang digunakan.

Namun, menambang kripto dengan Mining Pool bukan berarti tanpa risiko. Terdapat 2 jenis shares atau saham dalam kategori Mining Pool yaitu Accepted dan Rejected. Dalam beberapa kasus, penambang bisa saja tidak kebagian proses penambangan (rejected shares), sehingga pekerjaan dengan daya listrik yang sudah terpakai dalam jangka waktu lama tidak akan menghasilkan apa-apa.

 

Ingin belajar lebih lanjut mengenai bagaimana cara menghasilkan mata uang kripto lewat sistem penambangan? Simak pada artikel Bitcoin Mining Vs Penambangan Cryptocurrency Lain ini.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.