iklan

Nabung Saham Perbankan, Why Not?

Ada banyak aset investasi yang bisa Anda pilih untuk di-diversifikasi. Namun bila Anda kesulitan memilih aset yang pas, Anda bisa mempertimbangkan investasi di saham perbankan.

iklan

iklan

Memiliki banyak aset investasi dapat membantu Anda melakukan diversifikasi risiko. Ada banyak sekali jenis aset investasi yang bisa dipilih, mulai dari saham, emas, Dolar AS atau mata uang lain, reksa dana, obligasi hingga aset-aset properti seperti indekos. Di antara semuanya, manakah yang saat ini Anda miliki?

Diversifikasi Aset Investasi

 

Pentingnya Diversifikasi Aset Investasi

Menurut sebagian besar orang, melakukan diversifikasi aset adalah hal terbaik. Tujuannya tak lain adalah untuk mengurangi risiko dan volatilitas. Sayangnya, diversifikasi aset juga bisa menurunkan potensi keuntungan.

Lantas, apa solusi terbaik bila diversifikasi nyatanya justru dapat menurunkan potensi keuntungan? Pentingkah diversifikasi dilakukan?

Bila tak ingin diversifikasi aset justru menurunkan potensi keuntungan, Anda sebaiknya menyusun portfolio yang terkonsentrasi. Warren Buffet dan Charlie Munger adalah contoh investor ternama dengan kecenderungan membangun portofolio terkonsentrasi.

Namun di sisi lain, diversifikasi juga diperlukan sebagai "tameng" manakala terjadi krisis keuangan. Dengan memiliki diversifikasi portfolio, aset-aset investasi yang Anda miliki tak akan "hangus" seluruhnya.

Ada beberapa cara yang bisa Anda coba bila ingin melakukan diversifikasi portofolio, antara lain:

  • Diversifikasi investasi pada beberapa perusahaan yang berbeda.
  • Diversifikasi di beberapa sektor atau industri yang berbeda. Misalnya di sektor media, real estate, batubara, dan sektor jasa keuangan. Jika sebuah industri booming sedangkan industri lainnya sedang turun, maka investasi Anda masih akan baik-baik saja. Pastikan Anda mengetahui kapan sebuah sektor diuntungkan sehingga Anda pun tahu kapan harus membeli.

Diversifikasi Saham(Baca Juga: Mengenal Seluk Beluk Diversifikasi Saham)

  • Diversifikasi pada perusahaan dengan beragam kapitalisasi pasar, agar return-nya terdiversifikasi.
  • Perusahaan asing vs domestik, atau aset asing vs lokal seperti treasury bonds.
  • Diversifikasi strategi seperti growth vs value investing.
  • Diversifikasi aset, antara lain SBN (Surat Berharga Negara), saham, Dolar AS, emas, deposito, pasar uang, mata uang kripto, dll.

 

Cara Memilih Aset Investasi Yang Tepat

Sebelum memilih aset investasi yang tepat, Anda perlu melakukan analisa. Bagaimana caranya?

  1. Anda bisa mulai mencari tahu suku bunga acuan BI 7-Days Repo Rate. Suku bunga akan berpengaruh pada tren Surat Berharga Negara (SBN). Ketika suku bunga menurun, maka SBN dan Reksa Dana Pendapatan Tetap berbasis obligasi akan memiliki performa yang bagus.
  2. Cari tahu tentang inflasi dan daya beli masyarakat. Daya beli dan tingkat inflasi meningkat biasanya diiringi peningkatan penjualan properti. Jika deflasi, maka penjualan properti akan lesu.
  3. Cari tahu harga komoditas, utamanya minyak dan batubara. Selanjutnya, bandingkan dengan saham-saham komoditas. Misalnya, dari sana Anda dapat mengetahui kapan harga saham MEDC memiliki performa terbaik berdasarkan fluktuasi harga minyak.
  4. Pastikan Anda memiliki cukup pengetahuan dalam memilih aset yang tepat. Pengetahuan itu termasuk ekonomi makro dan mikro. Selain itu, usahakan Anda sudah mengalokasikan waktu dan tenaga untuk melakukan analisa.
  5. Jika Anda kesulitan memilih aset investasi yang pas, Anda bisa mempertimbangkan investasi di saham-saham perbankan.

Lho, kenapa harus saham-saham perbankan?

Alasannya sederhana saja; sejak 2009 hingga 2019, indeks saham perbankan yang terdiri dari saham-saham bank sukses mengungguli IHSG. Benarkah?

 

Performa Indeks Saham Perbankan

Bukti bahwa indeks saham perbankan memiliki performa lebih baik ketimbang IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dan LQ45 bisa Anda lihat pada tabel di bawah ini:Perbandingan IHSG dan LQ45

Tabel di atas menunjukkan pertumbuhan indeks finance (garis biru) dibandingkan indeks acuannya yaitu IHSG (garis abu-abu), dan indeks kembarannya yaitu LQ45 (garis orange).

Selama sepuluh tahun terakhir, indeks finance telah membukukan keuntungan sebesar 349.4%, sedangkan IHSG berada di bawah itu, yakni hanya 148.57%. Anda bisa lihat bahwa tak sekalipun indeks finance berada di bawah return IHSG. Itu artinya, jika Anda menabung Rp100 juta di tahun 2009, maka di tahun 2019 sudah menjadi Rp349 juta. Cukup mencengangkan, bukan?

Berikut adalah saham-saham pembentuk indeks finance:List Saham Perbankan

Anda bisa lihat pada list di atas, terdapat bank-bank BUKU IV dengan modal inti lebih dari Rp30 Triliun. Anda bisa mempertimbangkan untuk menabung saham-saham bank BUKU IV seperti BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI karena keempat bank itu sudah mewakili 72.94% dari keseluruhan bobot indeks finance.

Nah karena mewakili 3/4 dari keseluruhan indeks finance, maka pergerakan harganya pun mencerminkan indeks finance sebagaimana tercermin dalam grafik berikut ini:

Pergerakan Indeks Finance

Daripada memiliki portofolio investasi yang terdiversifikasi, akan lebih mudah memiliki portofolio yang terkonsentrasi pada saham perbankan saja. Namun, pastikan hanya bank-bank terbaik yang Anda koleksi, ya. Jangan lupa juga untuk mempelajari rasio-rasio yang dibutuhkan untuk menganalisis saham perbankan. Yuk, mulai nabung saham perbankan!

294491

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone