Negara - Negara Konsumen Minyak Terbesar Di Dunia

Secara global, harga minyak dipengaruhi oleh suplai dan konsumsi minyak. Karenanya, kondisi ekonomi negara konsumen minyak terbesar di dunia amat penting.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Secara global, harga minyak dipengaruhi oleh suplai dan konsumsi minyak dalam berbagai turunannya. Oleh karenanya, selain laju produksi di negara produsen utama seperti OPEC, Rusia, dan Amerika Serikat; pelaku pasar komoditas juga memantau kondisi negara - negara konsumen minyak terbesar di dunia.

 

Mana Saja Negara Konsumen Minyak Terbesar di Dunia?

Secara keseluruhan, berdasarkan data dari US Energy Information Administration (2015), Amerika Serikat menduduki puncak tangga negara konsumen minyak terbesar, disusul oleh China, India, Jepang, dan Rusia. Arab Saudi, Brazil, Korea Selatan, Kanada, dan Jerman melengkapi posisi berikutnya. Seperti ini rinciannya:

Negara Konsumen Minyak Terbesar di Dunia

Total konsumsi minyak harian (meliputi minyak mentah, biofuel, dan cairan minyak lainnya) di sepuluh negara tersebut mencapai 66.12 juta barel per hari (bph). Padahal, total konsumsi minyak dunia hanya 95.36 juta bph. Dengan kata lain, sekitar 60 persen dari total konsumsi minyak global ditelan oleh kesepuluh negara itu saja. Inilah sebabnya mengapa pertumbuhan ekonomi (khususnya di AS, China, India, Jepang, dan Rusia) termasuk variabel penting dalam memproyeksikan konsumsi minyak global.

Dari data, menarik pula untuk diamati bahwa Amerika Serikat yang merupakan negara produsen minyak terbesar dunia, juga menduduki posisi sebagai negara konsumen terbesar. Tingginya tingkat industrialisasi, jumlah populasi, dan pertumbuhan AS membuat permintaan minyak AS mencapai nyaris 20 juta bph. Angka tersebut jauh melampaui total produksi yang hanya sekitar 10-15 juta bph saja, sehingga AS tetap mengimpor minyak dari berbagai wilayah, khususnya Kanada.

Fenomena serupa juga terlihat dari satu wilayah lain dalam daftar negara konsumen minyak terbesar ini. China merupakan produsen terbesar ketujuh di dunia, tetapi kebutuhan minyak domestik lebih besar dibanding yang dapat dihasilkannya, sehingga perlu mengimpor dari kawasan lain. Pemerintah setempat pun menganggap minyak sebagai salah satu sumber daya vital, sehingga cenderung memborong dan menimbun saat harga minyak rendah. Akibatnya, meskipun berstatus produsen minyak, AS dan China bukanlah negara eksportir netto seperti Arab Saudi dan Rusia.

 

Pengaruh Negara Konsumen Minyak Pada Harga

Apabila terjadi perlambatan ekonomi yang mengakibatkan laju konsumsi minyak di 10 negara di atas terganggu atau bahkan mengalami penurunan, maka harga minyak dapat menurun pula karena ekspektasi akan ada lebih banyak surplus suplai di masa depan. Mengapa bisa demikian?

Minyak mentah yang telah diambil dari dalam bumi tidak langsung dikonsumsi, melainkan diangkut dan disimpan dulu di tangki-tangki penyimpanan. Minyak mentah tersebut kemudian dikirim ke pabrik-pabrik pengilangan untuk dijadikan berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM), seperti bensin (gasoline), solar (diesel), minyak tanah (kerosene), dan lain sebagainya. Hasil akhir pengilangan tersebut baru dapat didistribusikan untuk digunakan sebagai bahan bakar motor, mobil, pesawat, pembangkit listrik, mesin-mesin pabrikan, dan bermacam-macam kebutuhan industri.

Industri Minyak

Jika konsumsi lebih rendah dari ekpektasi, maka persediaan BBM di pabrik-pabrik pengilangan akan membesar. Permintaan minyak mentah dari pabrik-pabrik pengilangan pun bakal menurun sementara mereka menunggu persediaan di tangki penyimpanan diserap konsumen. Akibatnya, persediaan minyak mentah (crude inventories) di negara-negara produsen akan melimpah. Apabila itu terjadi, maka harga minyak bisa anjlok dikarenakan surplus minyak mentah.

Hal seperti itu pernah terjadi pada pertengahan tahun 2014 lalu, saat harga minyak anjlok dari kisaran lebih dari USD100 ke kisaran USD50 per barel. Pada era itu, para produsen bukan hanya terpaksa menurunkan harga, melainkan juga menghentikan banyak pos produksi, memberhentikan karyawan, dan menunda eksplorasi baru.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kondisi ekonomi negara - negara konsumen minyak terbesar di dunia dapat berpengaruh pada harga minyak. Secara aktual, dampaknya tidak langsung, melainkan melewati beberapa tahapan. Namun, pelaku pasar keuangan (investor dan spekulan) biasanya memperhitungkan faktor-faktor tersebut lebih awal dalam perdagangan minyak mentah berjangka (Crude Oil Futures).

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Arif
Berdasarkan US Energy Information Administration(2015) untuk indonesia sendiri sebagai konsumen ada diurutan berapa bu?
A Muttaqiena
Data US EIA terkait tidak memeringkat negara-negara di luar 10 besar. Dalam sumber yang digunakan oleh EIA, dari International Energy Agency (IEA) menyebutkan besar konsumsi minyak untuk mayoritas negara di dunia, tetapi tidak ada pemeringkatannya, konsumsi minyak Indonesia tahun 2015 tercatat 1.62 juta bph, jadi jelas jauh di luar sepuluh besar. Data EIA dapat dilihat di sini, sedangkan untuk IEA dapat dilihat di sini.