Negeri Dimana Suku Bunga Negatif Dan Debitur Dapat Komisi

Di Denmark, perusahaan yang menyimpan uang di bank akan dibebani bea bunga, sedangkan mereka yang pinjam uang justru mendapat bayaran. Bagaimana jadinya?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Kini sudah cukup banyak negara yang menetapkan suku bunga negatif. Namun, meski wilayah seperti Zona Euro dan Jepang menentukan demikian, pada prakteknya para penabung di bank tidak benar-benar harus membayar bunga agar bisa menyimpan dana di rekening mereka, demikian pula para peminjam tidak benar-benar dibayar atas pinjaman mereka.

Yang berbeda adalah Denmark. Sejak tahun 2012 di Denmark, perusahaan yang menyimpan uang di bank akan dibebani bea bunga, sedangkan mereka yang pinjam uang justru mendapat bayaran. Beberapa orang yang memiliki mortgage (serupa KPR) malah bisa mendapatkan uang sebagai pendapatan tambahan dari situ. Dan kebanyakan analis memperkirakan bank sentral Denmark untuk terus menjalankan kebijakan suku bunga negatif, setidaknya hingga 2018.

Bagaimana penerapan suku bunga negatif ini? Berikut kutipan dari ulasan Matthew Campbell dan Peter Levring di Bloomberg tentang dunia yang jungkir balik di Denmark.
 

Denmark

 

Mematahkan Teori Suku Bunga Negatif?

Secara teoritis, meskipun pelonggaran moneter (alias pemotongan suku bunga) termasuk salah satu rekomendasi resep untuk mengatasi deflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, tetapi ada banyak konsekuensi buruk yang perlu dikhawatirkan. Diantaranya adalah aset bubble, pelarian dana besar-besaran ke luar negeri, dan lain sebagainya.

Namun Denmark menghadirkan profil berbeda. Tak ada bencana seperti itu. Bisa jadi karena memang kebijakan itu tak seburuk yang dibayangkan, bisa juga tidak apa-apa hanya jika diaplikasikan untuk tujuan tertentu saja, atau mungkin karena penerapan suku bunga negatif Denmark unik. Atau, seperti yang dikatakan oleh Erik Nielsen seorang warga Denmark yang juga ekonom di konglomerasi finansial UniCredit, kepada Bloomberg, "Itu bukan malapetaka yang boleh jadi dibayangkan oleh beberapa orang... Tetapi, Anda bermain dengan api."

 

Asal-Usul Suku Bunga Negatif Denmark

Secara geografis, Denmark berbatasan dengan Jerman, negara nomor satu di Zona Euro. Namun demikian, berdasarkan sebuah referendum pada tahun 2002, warga Denmark menolak bergabung dengan Euro dan memilih untuk mempertahankan mata uangnya, Krone.

Krone Denmark

 

Sejak 1982, Krone dipatok pada Deutshe Mark, tetapi setelah Jerman berganti mata uang maka patokan pegging Krone pun diganti dari Mark ke Euro. Berbeda dengan tugas kompleks bank-bank sentral lainnya, mandat utama bank sentral Denmark adalah mempertahankan pegging yang krusial bagi perekonomian tersebut.

Namun, mandat yang hanya satu itu tak mudah ditunaikan.

Saat krisis utang Eropa mencapai klimaksnya di tahun 2012, investor-investor yang mengincar safe haven beramai-ramai melarikan dananya ke Denmark hingga memaksa Krone terancam melewati batas nilai tukarnya. Tingkat suku bunga simpanan saat itu sudah berada pada 0.05%, sehingga tak ada jalan lain kecuali menurunkan hingga minus guna menghentikan aliran masuk hot money yang dibawa para spekulator.

 

Beberapa Komplikasi

Menurut Gubernur Denmarks Nationalbank, Lars Rohde, yang mana dalam masa jabatannya suku bunga telah melorot dari -0.1% ke -0.65%, pegging Krone perlu dipertahankan dengan cara apapun dan suku bunga negatif bisa melakukannya. Katanya, "Tak ada pergerakan mengganggu yang tajam saat (suku bunga) melewati bawah nol. Itu hanya berfungsi seperti suku bunga yang sangat rendah."

Denmark

Pada umumnya memang demikian. Pendapatan bank-bank sejalan dengan bank-bank lain di Eropa, dengan fee-fee baru menggantikan beban biaya yang ditimbulkan oleh suku bunga rendah. Namun situasi ini juga menimbulkan beberapa komplikasi.

Anggota parlemen Benny Engelbrecht mengungkapkan dilemanya dalam menentukan apakah legal untuk menerapkan pajak pada bunga yang didapat para penggadai rumah sebagai pendapatan.

Perbankan pun takut membuat marah para penabung, sehingga simpanan dari para penabung individual belum dipotong bunga. Yang dipotong bunga sementara ini hanya simpanan perusahaan-perusahaan kelas menengah dan besar. Perusahaan-perusahaan itu tak punya pilihan selain membayar bunga yang ditagihkan. Di sisi lain, sesuai dengan peraturan setempat, perusahaan yang membayar pajak lebih awal akan mendapatkan bunga dari deposit mereka, sehingga aturan baru harus segera dibuat untuk mencegah perusahaan-perusahaan memperlakukan kantor pajak sebagai bank baru mereka.

 

Booming Properti

Salah satu kekhawatiran utama yang muncul dari masa suku bunga rendah berkepanjangan adalah booming pasar properti hingga menjadi bubble berbahaya. Setelah nyaris empat tahun memberlakukan suku bunga negatif, apakah Denmark mengalaminya?

Menurut laporan di Bloomberg, tak diragukan lagi bahwa suku bunga negatif telah menggenjot harga properti di Denmark. Harga apartemen per meter kubik melonjak 43 persen antara awal 2010 hingga akhir 2015 saja. Untuk mengendalikan booming properti ini, Denmark memberi mandat pada lembaga berbeda, yakni Financial Supervisory Authority. Hasilnya, dengan peraturan yang sangat ketat, harga properti di Kopenhagen saat ini masih jauh lebih murah dibanding New York, London, maupun Stokholm.

Peraturan tersebut diantaranya adalah larangan bagi orang asing untuk memiliki properti di Denmark. Selain itu, sulit bahkan bagi orang Denmark sendiri untuk membeli rumah tanpa niat untuk menghuni. Pihak bank pun tak sembarangan memberikan pinjaman untuk membeli properti; mereka yang mengajukan pinjaman perlu melampaui banyak tes. Dan lain sebagainya.

Namun meski semuanya nampak baik-baik saja, warga Denmark sendiri tetap resah dengan masa-masa suku bunga negatif ini, khususnya bila terus berlanjut hingga waktu lama sekali. Menurut salah satu warga yang diwawancarai, "Ada perbedaan antara berdiri di pantai di pasir kering dan bergeser ke air... Semakin jauh kau berjalan, dan semakin lama kau tinggal disana, semakin banyak masalah yang bisa kau temui."

 

Tertarik untuk mempelajari topik suku bunga lebih lanjut? Simak artikel Pengaruh Suku Bunga Terhadap Nilai Tukar Mata Uang dan ketahui bagaimana pengaruh perubahan suku bunga di pasar forex.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Ragiel
Kog banyak keanehan di istilah vs aplikasinya ya? Negatif kenapa diartikan sangat kecil? Sepertinya ada praktek-praktek yang abu-abu dalam perekonomian negara tersebut. Atau paling tidak, konsep tersebut memang butuh pemahaman seorang profesor untuk memahaminya.