Advertisement

iklan

Panduan Trading Dengan Point And Figure Chart

Penulis

+ -

Point and figure chart adalah salah satu tipe grafik tertua dan dianggap lebih baik dalam melihat support dan resisten. Seperti apa detailnya? Simak panduan berikut ini.

iklan

iklan

Anda tentu sudah terbiasa melihat grafik candlestick atau grafik garis karena dua tipe grafik inilah yang sering digunakan oleh para trader dan analis dalam mempresentasikan analisa atau hasil risetnya. Namun tahukah Anda, sebelum komputer tercipta, para trader menggunakan pensil, penggaris, dan kertas grafik untuk merekam harga.

Ya, Anda tidak salah dengar, diawal tahun 1900-an, trader menggunakan jenis grafik dari angka yang akhirnya berubah menjadi X dan O. Grafik inilah yang disebut point and figure chart.

Walaupun tipe grafik ini sangat jarang digunakan namun bagi sebagian kecil trader veteran di Wall Street masih memakainya. Lalu seperti apa itu point and figure chart? Dan bagaimana cara trading menggunakan point and figure chart? Tanpa basa-basi, kami akan membahas secara detail mengenai point and figure chart untuk Anda.

point and figure

 

Apa Itu Point and Figure Chart?

Poin and figure chart adalah salah satu jenis grafik dalam analisa teknikal yang hanya memasukkan unsur harga tanpa memperhitungkan waktu. Point and figure chart dapat digunakan ke seluruh instrumen baik saham, obligasi, komoditas, forex dan futures.

Saat ini, point and figure chart kurang populer dibandingkan dengan jenis grafik yang lain seperti candlestick, garis atau bar. Tipe grafik ini biasa digunakan pada time frame harian (Daily) sehingga cocok untuk trading jangka menengah dan panjang.

Seperti apa penampakan point and figure chart? Lihat tampilannya di bawah ini:

point and figure chart

Berbeda dengan tipe grafik lainnya seperti candlestick, point and figure chart menandai harga dengan dua buah simbol yaitu X dan O. X menggambarkan harga yang naik sedangkan O menggambarkan harga yang turun.

Trader yang menggunakan point and figure chart juga menggunakan konsep support dan resisten serta pola grafik. Banyak yang beranggapan bahwa level support dan resisten serta breakout lebih jelas terlihat pada point and figure chart karena jenis grafik ini sudah menyaring pergerakan harga yang keci.

Meskipun jarang sekali trader yang menggunakannya, namun ada ketertarikan yang meningkat dari komunitas analis teknikal saat ini.

 

Sejarah Point and Figure Chart

Point and figure chart mempunyai sejarah yang panjang. Pada tahun 1989, penulis anonim bernama Hoyle mempublikasi buku trading yang menggunakan point and figure chart dengan judul "The Game in Wall Street and How to Successfully Play It".

Pada buku ini point and figure chart digambar menggunakan angka sehingga sering juga disebut grafik angka. Lalu kemudian grafik angka berkembang menjadi X dan O.

Penulis buku manual pertama yang menjelaskan tentang cara membuat point and figure chart adalah Victor Deviliers pada tahun 1933. Lalu tahun 1940-an, perusahaan bernama Chartcraft Inc yang berlokasi di AS mulai mempopulerkan point and figure chart.

Sebelum era komputer, point and figure charts cukup populer karena cukup sederhana untuk menyimpan data harga banyak grafik instrumen.

Hanya berbekal pensil dan kertas grafik, para trader sudah bisa memperbaharui dan menganalisa lebih dari 50 chart setiap hari dalam waktu kurang dari satu jam. Seiring dengan berkembangnya teknologi, metode yang menggunakan pensil ini sudah mulai kehilangan popularitasnya.

 

Analis Yang Menggunakan Point and Figure Chart

Pendiri The Wall Street Journal, Charles Dow menggunakan dan mengembangkan tipe grafik ini sebagai salah satu cara untuk menentukan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di market.

Selain itu, pendiri perusahaan riset Dorsey, Wright & Associates, Thomas Dorsey menjadi salah satu spesialis analis teknikal yang menggunakan point and figure chart. Dia menulis beberapa buku mengenai topik point and figure, termasuk buku Point & Figure Charting: The Essential Application for Forecasting and Tracking Market Prices pada tahun 2015.

Thomas Dorsey membantu mempopulerkan kombinasi antara grafik point and figure dengan indikator teknikal seperti moving average (MA), relative streght index (RSI) dan advance/decline lines.

Baca Juga: Berkenalan Dengan 5 Pelopor Analisa Teknikal

 

Cara Membuat Poin and Figure Chart

Seperti yang sudah disinggung sedikit di atas, point and figure chart merekam harga dalam kolom/box yang diisi dengan X dan O. Jika terjadi kenaikan harga, maka box akan diisi dengan X sedangkan O untuk penurunan harga. Untuk membuat point and figure chart, kita membutuhkan tiga komponen:

 

1. Parameter Ukuran Box

Ukuran box dapat Anda atur pada angka atau persentase tertentu serta bisa juga menggunakan average true range yang artinya setiap box akan berbeda-beda ukurannya sesuai dengan volatilitas harga.

  • Berdasarkan skala persentase harga
    Jika Anda menggunakan skala persentase harga, maka Anda harus menentukan berapa persen ukuran 1 box. Sebagai contoh, jika Anda menetapkan ukuran 1 box adalah 3% dan harga saat ini adalah $100, maka setiap box mempunyai ukuran $3.
  • Berdasarkan Average True Range
    Grafik point and figure yang menggunakan parameter berdasarkan Average True Range (ATR) artinya ukuran bix selalu menyesuaikan dengan angka ATR. Periode default yang sering digunakan adalah 20 hari.
  • Berdasarkan ukuran pengguna
    Grafik yang berdasarkan ukuran pengguna artinya Anda sebagai pengguna point and figure chart menentukan berapa poin atau pips atau harga untuk 1 box. Misalnya ukuran 1 box adalah $5, maka jika terjadi kenaikan harga dari $10 ke $60, box X yang tergambar sebanyak 10 box.


2. Parameter Pembalikan

Parameter pembalikan harga yang biasanya digunakan adalah tiga kali ukuran box. Sebagai contoh, jika ukuran satu box adalah $1, maka ukuran pembalikan harga adalah tiga box. Ukuran pembalikan harga bisa diatur sesuai dengan yang Anda inginkan seperti satu kali atau 5,5 kali ukuran box.

 

3. Data Harga Acuan

Acuan harga yang digunakan dalam menggambar box bisa menggunakan harga tertinggi (high), harga terendah (low) atau harga penutupan (close price).

Menggunakan harga penutupan sebagai harga acuan termasuk mudah karena harga yang muncul cuma satu sehingga Anda tinggal komparasi ke ukuran box. Sedangkan apabila menggunakan high dan low sebagai acuan, maka Anda harus tahu aturan pembuatannya.

Ketika kolom/box adalah naik (X):

  • Gunakan high jika box X dapat digambar, low abaikan.
  • Gunakan low jika box X tidak dapat digambar sedangkan low masuk parameter reversal (3 box).
  • Abaikan keduanya (high dan low) apabila high tidak bisa menggambar X dan low tidak bisa menggambar reversal 3-box.

Ketika kolom/box adalah turun (O):

  • Gunakan low jika box O dapat digambar, abaikan high.
  • Gunakan high jika box O tidak dapat digambar sedangkan high masuk parameter reversal (3 box).
  • Abaikan keduanya (high dan low) apabila low tidak bisa menggambar O dan high tidak bisa masuk reversal 3-box.

 

Contoh Membuat Point and Figure Chart

Pada contoh pertama point and figure chart kali ini, kita akan menggunakan acuan harga penutupan (close price), ukuran box $1/box dan parameter pembalikan 3 box.

Kemarin harga tutup pada $21. Kemudian hari ini harga naik dan tutup di $25. Maka kita tentu akan menggambar 5 box X yang menggambarkan harga naik. Keesokan harinya harga turun hingga tutup di $25. Maka kita menggambar O sebanyak 3 box dari $25 ke $22. Tampilannya seperti ini:

tabel point and figure

Sekarang, pada contoh kedua kita menggunakan acuan harga high/low dengan ukuran box senilai 1 dan pembalikan arah menggunakan 3 box. Berikut data harga selama 6 hari:

acuan harga high/low

Pada hari pertama, harga tertinggi (high) adalah 15.50 dan harga terendah (low) 12.90. Kita harus menentukan bagaimana mulainya grafik. Kita akan berasumsi harga jatuh sehingga kita menggambar O dari 15, 14, dan 13.

tabel high/low

Pada hari kedua, harga tertinggi 12.20 dan harga terendah 11.70. Kita harus memilih satu angka. Karena kolom terakhir adalah O, maka kita cek dahulu harga terendah. Apakah harga terendah cukup untuk menggambar O? Ya. Maka yang kita gambar O dan abaikan harga tertinggi.

gambar 5

Hari ketiga, harga tertinggi 12.60 dan harga terendah 10.90. Kita cek terlebih dahulu harga terendah. Ternyata kita bisa menggambar O, maka kita abaikan harga tertinggi meskipun X masuk parameter reversal 3 box.

gambar 6

Hari keempat, harga tertinggi 14.10 dan harga renedah 11.95. Kita cek dulu harga terendahnya, ternyata tidak bisa menggambar O lagi. Maka kita cek harga tertinggi dan ternyata masuk parameter reversal 3 box sehingga harga terendah kita abaikan.

gambar 7

Hari kelima, harga tertinggi 15.99 dan harga terendah 13.80. Karena harga sedang naik, maka kita cek pertama kali harga tertinggi. Apakah bisa menggambar X? Ya. Maka kita gambar X dan abaikan harga terendah meskipun memenuhi syarat reversal 3 box.

gambar 8

Hari keenam, harga tertinggi 15.90 dan harga terendah 12.00. Kita cek dulu harga tertingginya. Ternyata tidak bisa gambar satu X, maka kita cek lagi harga terendah. Apakah harga terendah memenuhi syarat reversal 3 box? Ya. Maka kita menggambar O sebanyak tiga buah sebagai tanda pembalikan.

gambar 9

Seiring kita merekam harga lebih banyak, grafik point and figure yang tergambar mungkin bisa seperti ini:

gambar 10

Menggunakan acuan harga high/low, Anda bisa melihat bahwa point and figure chart tidak menunjukkan waktu dalam rentang yang sama. Satu kolom bisa saja terbentuk dari 1 hari atau beberapa hari bergantung seberapa besar pergerakan harganya.

 

Penanda Bulan

Point and figure chart tidak menunjukkan waktu sehingga jarak setiap interval (jam, hari, bulan, minggu) menjadi berbeda. Para analis point and figure chart mempunyai cara untuk menandai waktu bulanan dengan menambahkan angka sesuai urutan bulan.

Sebagai contoh, angka 2 merujuk kepada bulan Februari sedangkan angka 8 merujuk kepada bulan Agustus. Terdapat pengecualian pada tiga bulan terakhir yaitu Oktober, November dan Desember menggunakan huruf '"A", "B", dan "C".

gambar 11

 

Analisa Dasar Menggunakan Point and Figure Chart

Ada empat poin penting yang perlu Anda perhatikan dalam analisa dasar menggunakan point and figure chart, yaitu:

  • Level support
  • Level resisten
  • Trendline naik (upward trend lines)
  • Trendline turun (downward trend lines)

Support adalah level harga yang dapat menahan laju penurunan harga karena banyaknya permintaan di harga tersebut. Anda bisa mengidentifikasi level support dengan mudah menggunakan point and figure chart. Level support terlihat dari beberapa box O yang sejajar pada harga yang sama.

gambar 12

Resisten adalah level harga yang menahan laju kenaikan harga karena banyaknya penawaran di harga tersebut. Sama mudahnya dengan mengidentifikasi level support, level resisten bisa Anda identifikasi dengan terbentuknya beberapa box X yang sejajar pada harga yang sama.

gambar 13

Garis trendline mengikuti sudut kemiringan yang terlihat di point and figure chart. Garis trendline naik biasa disebut bullish support line dan garis trenline turun biasa disebut bearish resistance line. Garis bullish support line mempunyai sudut kemiringan 45 derajat yang dimulai pada titik terendah.

gambar 14

Sedangkan bearish resistance line mempunyai sudut kemiringan 135 derajat yang dimulai pada titik tertinggi.

gambar 15

 

Pola Grafik Dalam Point and Figure Chart

Berikut pola grafik pada point and figure chart yang menggunakan pembalikan arah 3 box:

  • Pola breakout bullish (Bullish breakout patterns)
  • Pola breakdown bearish (Bearish breakdown patterns)
  • Pola pembalikan sinyal bearish dan bullish (Bearish and bullish signal reversed)
  • Ketapel bullish dan bearish (Bullish and bearish catapult)
  • Segitiga bullish dan bearish (Bullish and bearish triangles)
  • Jebakan bullish dan bearish (Bull and bear trap)

Baca Juga: Apa Itu Chart Pattern?

 

Pola breakout bullish (Bullish breakout patterns)

Pola breakout bullish pada point and figure chart memiliki lima bentuk. Yang paling sederhana adalah double top breakout sampai ke quadruple breakout.

 

1. Double Top Breakout

Double top breakout pada point and figure chart terkonfirmasi dengan adanya satu buah resisten yang break. Sebagai salah satu pola yang paling sering terjadi pada point and figure chart, banyak sekali false breakout setelah terbentuknya double top breakout.

Oleh karena itu, pola double breakout harus menggunakan konteks arah harga di time frame yang lebih besar agar akurasinya lebih baik.

gambar 16

 

2. Triple Top Breakout

Triple top breakout valid saat terjadi breakout dua buah resisten yang sejajar dan dipisahkan oleh kolom O. Pola ini dapat menjadi pola penerusan atau pembalikan harga.

Triple top breakout yang terbentuk sebagai dasar (base) setelah terjadi penurunan harga adalah pola pembalikan sedangkan pola triple top breakout yang terbentuk sebagai konsolidasi setelah kenaikan harga adalah pola penerusan.

gambar 17

 

3. Spread Triple Top Breakout

Spread triple top breakout adalah versi melebar dari triple top breakout. Spread triple top breakout mempunyai minimal dua kolom tambahan sehingga total kolom pada pola ini paling sedikit sebanyak tujuh kolom.

Idealnya, spread triple top breakout adalah triple top breakout dengan dua kolom tambahan, namun faktanya pola ini bisa lebih dari dua kolom tambahan.

gambar 18

 

4. Ascending Triple Top Breakout

Pada dasarnya, ascending triple top breakout adalah pola double top yang bolak baik dan semakin tinggi. Ascending triple top breakout dapat menjadi pola pembalikan ataupun pola penerusan.

Apabila pola ini terbentuk sebagai dasar (base) setelah penurunan harga, maka ascending triple top dianggap sebagai pola pembalikan. Sedangkan apabila pola ini terbentuk sebagai konsolidasi setelah kenaikan harga, maka ascending triple top dianggap sebagai pola penerusan.

gambar 19

 

5. Quadruple Top Breakout

Quadruple top breakout adalah pola breakout terhadap tiga buah resisten yang sejajar. Bergantung pada dimana pola ini berada, pola ini dapat menjadi pola pembalikan atau pola penerusan.

gambar 20

 

Pola Breakdown Bearish (Bearish Breakdown Patterns)

Terdapat lima pola dalam breakdown bearish yaitu double bottom breakdown, triple bottom breakdown, spread triple bottom breakdown, descending triple bottom breakout, danquadruple bottom breakdown.

 

1. Double Bottom Breakdown

Pola double bottom breakout adalah pola breakdown bearish yang valid apabila satu buah support break. Sebagai salah satu pola yang paling sering terbentuk, pola ini harus dilihat dalam konteks arah yang lebih besar. Hal ini karena pola ini sangat rentan dengan false breakout.

gambar 21

 

2. Triple Bottom Breakdown

Triple bottom breakdown valid apabila terdapat dua buah support yang break. Pola ini bisa menjadi pola penerusan atau pembalikan bergantung pergerakan harga sebelumnya.

Apabila pola ini terbentuk setelah kenaikan harga maka termasuk pola pembalikan. Sebaliknya, apabila pola ini terbentuk setelah harga menurun, maka pola ini termasuk pola penerusan.

gambar 22

 

3. Spread Triple Bottom Breakdown

Spread triple bottom breakdown adalah versi melebar dari triple bottom breakdown. Spread triple bottom breakdown mempunyai paling sedikit dua buah kolom tambahan sehingga total kolom paling sedikit tujuh kolom.

gambar 23

 

4. Descending Triple Bottom Breakdown

Descending triple bottom breakdown adalah pola double bottom yang bolak balik dan semakin menurun. Saat pola ini terbentuk setelah harga naik, maka pola ini termasuk pola pembalikan. Sebaliknya, apabila pola ini terbentuk setelah penurunan harga maka pola ini termasuk pola penerusan.

gambar 24

 

5. Quadruple Bottom Breakdown

Quadruple bottom breakdown valid apabila terjadi breakdown terhadap tiga buah support. Sama seperti pola di atas, pola ini dapat menjadi pola pembalikan dan pola penerusan bergantung dimana letak pola ini.

Jika pola ini terbentuk setelah kenaikan harga, maka pola ini termasuk pola pembalikan. Sedangkan apabila pola ini terbentuk setelah harga yang turun, maka pola ini termasuk pola penerusan.

gambar 25

 

Pola Pembalikan Sinyal Bearish Dan Bullish (Bearish and Bullish Signal Reversed)

Pola sinyal pembalikan bearish dan bullish merupakan pola yang terbentuk saat terdapat sinyal yang berlawanan dengan arah yang sedang dalam keadaan bullish atau bearish.

 

1. Pembalikan Sinyal Bullish

Pembalikan sinyal bullish terbentuk setelah adanya harga tertinggi yang lebih tinggi dari harga tertinggi sebelumnya (higher high) dan harga terendah yang lebih tinggi dari harga terendah sebelumnya (higher low). Higher high dan higher low menandakan keadaan harga yang sedang naik atau bullish.

Selanjutnya pembalikan sinyal bullish menjadi valid setelah terbentuk pola breakdown bearish atau support yang break. Untuk lebih jelas, perhatikan gambar berikut.

gambar 26

gambar 27

 

2. Pembalikan Sinyal Bearish

Kebalikan dari pembalikan sinyal bullish di atas, pembalikan sinyal bearish diawali dengan adanya harga terendah baru yang lebih rendah dari harga terendah sebelumnya (lower low) dan harga tertinggi yang lebih rendah dari harga tertinggi sebelumnya (lower high). Saat lower low dan lower high terbentuk maka gambaran market adalah sedang bearish.

Pembalikan sinyal bearish menjadi valid saat terdapat pola breakout bullish atau resisten yang break. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar di bawah ini.

gambar 28

gambar 29

 

Ketapel Bullish Dan Bearish (Bullish and Bearish Catapult)

Pola ketapel adalah pola yang terbentuk dari dua buah pola yang mempunyai arah yang sama. Pola ketapel bullish terbentuk setelah ada dua buah pola breakout bullish sedangkan ketapel bearish terbentuk setelah ada dua buah breakdown bearish.

 

1. Ketapel Bullish

Pola ketapel bullish berawal dari breakout lalu pullback pendek kemudian dilanjutkan breakout kedua. Pola ketapel bullish yang sering terjadi adalah triple top breakout, pullback, lalu double top breakout. Meskipun pola ketapel bullish sering terbentuk oleh triple top breakout, namun tidak menutup kemungkinan pola ini terbentuk dari quadruple top breakout.

gambar 30

 

2. Ketapel Bearish

Pola ketapel bearish adalah kebalikan pola ketapel bullish sebelumnya. Diawali dengan breakout, lalu pullback dan dilanjutkan dengan breakdown kedua. Pola triple bottom breakdown adalah pola pertama yang sering muncul sebagai pola ketapel bearish lalu dilanjutkan double bottom breakdown.

gambar 31

 

Segitiga Bullish dan Bearish (Bullish and Bearish Triangles)

Pola segitiga yang terbentuk pada point and figure chart menandakan harga yang konsolidasi dan bisa menjadi awal pembalikan atau malah penerusan harga. Pola segitiga minimal mempunyai lima kolom yang semakin mengerucut.

Pola segitiga dibagi menjadi dua yaitu segitiga bullish dan segitiga bearish. Pola segitiga bullish yang valid terbentuk dari segitiga yang break resisten sedangkan pola segitiga bearish terbentuk dari segitiga yang break support.

gambar 32

gambar 33

 

Jebakan Bullish Dan Bearish (Bull and Bear Trap)

Pola jebakan baik bullish dan bearish pada dasarnya adalah pola yang terdiri dari dua buah pola yang berlawan arah. Misalnya diawali dengan breakout bullish ternyata harga malah turun dan terjadi breakdown bearish.

Jebakan disini artinya para trader yang masuk market karena melihat breakout awal terjebak di market setelah arah harga berbalik melawan posisi mereka.

 

1. Jebakan Bullish (Bull Trap)

Pola jebakan bullish diawali dengan kondisi harga yang breakout bullish atau terdapat resisten yang break sehingga para trader banyak yang masuk masuk market dengan posisi buy. Ternyata, harga malah turun sampai berhasil break support (breakdown bearish) sehingga para buyer terjebak di market. Untuk lebih jelas, perhatikan contoh jebakan bullish berikut ini.

gambar 34

 

2. Jebakan Bearish (Bear Trap)

Pola jebakan bearish adalah kebalikan dari jebakan bullish. Pola ini terbentuk dari support yang break (breakdown bearish) namun disusul oleh resisten yang break (breakout bullish). Para seller yang sudah masuk karena melihat support yang break akhirnya terjebak di market karena harga sudah break resisten. Berikut contoh pola ini di market.

gambar 35

 

Cara Trading Menggunakan Point and Figure Chart

Cara trading menggunakan point and figure chart cukup sederhana dan jelas. Posisi sell/buy masuk ketika terjadi breakout/breakdown. Saat harga berhasil break resisten, posisi buy masuk setelah terbentuk kolom X.

gambar 36

Sebaliknya, posisi sell masuk setelah terbentuk kolom O yang berhasil break support.

gambar 37

 

Point and Figure Chart Vs Grafik Candlestick

Setelah melihat penjelasan di atas, mungkin Anda bertanya-tanya, manakah yang lebih baik antara grafik point and figure atau candlestick?

gambar 38

Meskipun pada dasarnya setiap trader mempunyai pendekatan dalam trading yang berbeda-beda, namun secara fungsi grafik candlestick cenderung lebih baik. Kenapa?

Karena grafik candlestick menyediakan infomasi yang lebih banyak dan lebih mudah secara visual dibandingkan jenis grafik lainnya. Hal ini jugalah yang menjadi faktor utama mengapa grafik candlestick sangat populer saat ini.

Selain harga, grafik candlestick juga memasukkan unsur waktu sehingga dapat membantu Anda memprediksi pergerakan harga selanjutnya. Grafik candlestick sangat ideal jika Anda menggunakan strategi trading yang menggunakan price action seperti pola grafik segitiga, double top, head and shoulders, dst.

Selain itu, grafik candlestick juga lebih mudah digunakan oleh pemula daripada point and figure charts. Meskipun demikian, banyak juga trader yang mempunyai pandangan berbeda yang menganggap grafik point and figure lebih baik karena tidak memasukkan aspek waktu.

Yang paling penting, saat ini mendapatkan grafik point and figure di internet sudah susah. Jenis grafik ini tidak ada di platform Metatrader (4 dan 5) dan pada platform charting seperti Tradingview harus menggunakan akun yang berbayar. Grafik point and figure yang gratis hanya bisa diakses pada time frame Daily, Weekly dan Monthly.

 

Perbedaan Point and Figure Chart Vs Grafik Renko

Perbedaan utama antara point and figure chart dan grafik renko adalah tampilannya. Point and figure menggunakan tampilan bersebelahan antara kolom X dan O sedangkan grafik renko tidak ada yang bersebelahan karena box digambar dengan sudut 45 derajat.

gambar 39

 

Kelebihan dan Kekurangan Point and Figure Chart

Point and figure charts lebih lambat terhadap perubahan harga. Sebagai contoh, jika terjadi breakout, pada tipe grafik candlestick, bar ataupun line, harga yang break langsung tergambar pada grafik. Namun pada point and figure chart, harga harus bergerak satu ukuran box baru bisa digambar pada grafik.

Hal ini bisa jadi kekurangan dan kelebihan karena dapat mengurangi sinyal false breakout. Untuk beberapa jenis trader, tipe grafik ini terlalu lambat sehingga kurang efektif.

Walaupun point and figure chart dapat membantu mengurangi false breakout, namun faktanya false breakout tetap bisa terjadi di point and figure charts. Awalnya terlihat sebagai breakout, ternyata berbalik arah dan malah menjadi false breakout.

Point and figure chart sangat optimal jika market dalam keadaan trending kuat. Grafik ini mampu menyaring pergerakan yang kecil dan noise sehingga hanya fokus pada pergerakan harga yang penting. Selain itu, tipe grafik ini membuat level support dan resisten lebih jelas terlihat.

 

Penutup

Point and figure chart bukanlah grafik yang umum digunakan dalam menganalisa dan trading saham dan mata uang. Meskipun demikian, ada sebagian kecil trader di Wall Street yang masih menggunakannya. Jika Anda ingin mempelajari secara mendalam mengenai point and figure chart, ada dua buku yang menjadi rujukan saat ini.

Yang pertama adalah buku Point and Figure Charting: The Essential Application for Forecasting and Tracking Market Prices oleh Thomas Dorsey. Isinya sangat lengkap mulai dasar point and figure chat sampai ke cara melakukan analisa teknikal dengan tipe grafik ini.

Buku kedua adalah The Definitive Guide to Point and Figure oleh Jeremy du Plessis. Buku ini benar-benar detail dalam menjelaskan point and figure chart dan merupakan buku yang menjadi rujukan pada organisasi analisa teknikal seperti International Federation of Technical Analysis (IFTA) dan Chartered Market Technician (CMT).

Baca Juga: Buku Forex Terbaik Karangan Para Trader Sukses

 

Selain point and figure chart maupun candlestick pada umumnya, ada jenis grafik lain yang perlu Anda pelajari untuk memperbesar peluang trading di pasar, yaitu Heikin Ashi. Seperti apa penerapannya? Simak selengkapnya dalam artikel berjudul Sistem Trading Dengan Heikin Ashi.

298142
Penulis

Sudah aktif dalam dunia trading sejak 2012 dan masih terus belajar untuk menjadi lebih baik. Awal mula trading dengan menggunakan EA, dan akhirnya pada 2014 fokus trading manual dengan terus riset pada metode trading. Saat ini, saya merupakan seorang Discretionary Trader yang menggunakan Trend Following dengan metode breakout.