PEG: Rasio Yang Lebih Canggih Dari PER

Daripada PER, rasio PEG lebih akurat dalam mengenali saham-saham kecil yang sedang tumbuh dengan prospek meyakinkan.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Untuk menentukan apakah sebuah saham termasuk murah atau mahal, kita terbiasa dengan melihat Rasio PE (PER) saham tersebut. Setelah mengetahui ukuran PER, kita akan membandingkannya dengan emiten pesaing di sektor yang sama. Namun apa jadinya bila Anda menemukan dua emiten yang berada di satu sektor dan memiliki rasio PER serupa juga? Lalu bagaimana menentukan mana yang lebih murah? Solusinya bisa kita temukan dengan rasio PEG.

 

Rasio PEG lebih canggih dari rasio PER


Sebagai contoh, ada saham yang tergolong sudah mahal sekali dari sisi PER-nya, yaitu ASII. Dengan harga Rp8100/lembar saham, PER 21.6x, semua sepakat bahwa saham ASII mahal karena pesaing-pesaingnya di sektor otomotif memiliki PER di bawahnya, bahkan minus (EPS IMAS minus). Namun ada hal yang menarik; meskipun PER-nya tinggi, harga saham ASII tergolong murah atau masih wajar. Kok bisa?

Jawabannya adalah karena pertumbuhan laba bersih ASII yang menarik. Perhitungan secara PER memang mahal, tapi proyeksi laba yang konsisten di tahun-tahun mendatang juga menggiurkan. Maka ada sebuah ukuran yang merupakan pengembangan dari PER, yaitu Rasio PEG (Price Earning to Growth). Pengukuran tersebut tidak hanya mempertimbangkan mahal atau tidaknya sebuah saham di harga sekarang, tapi juga menyorot pertumbuhan laba sebagai proyeksi performanya di masa depan.

 

Rumus perhitungan PEG:

PEG = PER Annualized/Earning Growth

  • PER Annualized = Harga saham saat ini / EPS Annualized.

    • EPS annualized = EPS tahun ini di satu tahun-kan.

  • Growth = pertumbuhan laba bersih (Laba bersih kuartal terkini / laba bersih periode yang sama di tahun lalu (atau 5 tahun sebelumnya, untuk periode yang lebih lama)).

 

Jika perhitungan di atas dimasukkan untuk mengukur PEG ASII, maka:

  • Last price: IDR 8100
  • EPS: 374.37
  • PER: 21.6x -> Annualized. Berarti 21.6 : 3 kuartal (kuartal saat ini) x 4 kuartal (di-setahun-kan) = 28.84x

  • Total Laba Bersih (Total Earning)

    • 2017: 17.421 miliar

    • 2016: 13.231 miliar

  • Earning Growth: 17421/13231  x 100% = 31.67%
  • PEG saham ASII: 28.84/31.67 = 0.89

PEG di bawah 1 artinya masih di bawah harga wajarnya. Kesimpulan yang bisa diambil dari sini adalah, saham ASII tergolong murah!

Semakin kecil PEG, berarti saham tersebut memiliki harga jauh di bawah performa yang sesungguhnya. Maka bisa kita simpulkan bahwa, kalau dari sisi perolehan Earning (laba bersih) perusahaan, saham A lebih murah dari saham B. Namun jika kita ikut mempertimbangkan pertumbuhan dari Earning tersebut, sesungguhnya saham B lebih murah dari saham A.

 

Mengapa Rasio PEG Lebih Berbobot

PEG ini lebih kuat dibandingkan PER ataupun PBV, karena dalam perhitungannya melibatkan Earning Growth (pertumbuhan Earning), maka PEG ini turut memproyeksikan perolehan laba bersih perusahaan di masa depan. Dengan kata lain, perhitungan tersebut ikut memperhitungkan prospek dari sahamnya. Sedangkan PER, perhitungannya hanya sebatas perolehan laba pada saat itu saja, dan tidak memproyeksikan bagaimana kira-kira perolehan laba bersih perusahaan di masa depan. Dari perbandingan-perbandingan tersebut, bisa disimpulkan bahwa PEG sangatlah rinci.

PEG ini akan sangat berguna untuk memberi semacam justifikasi (pembenaran) bagi saham-saham tertentu yang meskipun PER-nya tinggi, tapi harga saham tersebut ternyata tetap dianggap murah atau masih wajar. Anda bisa memanfaatkan pengetahuan ini untuk mengamati saham berkualitas dengan lebih jeli.

Bagaimanapun juga, berinvestasi pada saham prospektif adalah salah satu kiat menjadi investor saham sukses. Dengan rasio PEG yang lebih akurat dalam mengenali saham prospektif, Anda bisa menemukan saham menjanjikan yang sering dilewatkan investor lain karena rasio PER-nya.

 


Tahukah Anda? Rasio PEG adalah perhitungan andalan yang digunakan oleh investor sukses Jim Slater. Ia menggunakan PEG untuk mencari saham-saham kecil yang sedang tumbuh dan pada waktunya akan menjadi besar. Intip kisah selengkapnya di Jim Slater, Sang Kapitalis Penemu PEG Ratio.

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'


Fajar
Find the long-term growth rate (say, Company Xs is 12 percent), add the dividend yield (Company X pays 3 percent), and divide by the p/e ratio (Company Xs is 10). 12 plus 3 divided by 10 is 1.5."
"Less than a 1 is poor, and a 1.5 is okay, but what you're really looking for is a 2 or better. A company with a 15 percent growth rate, a 3 percent dividend, and a p/e of 6 would have a fabulous 3."
Gue jadi bingung, yang bener mana. Peter lynch atau lu.
Shanti Putri
Misalnya, sebuah saham memiliki rasio PER sebesar 5x, dan pertumbuhan laba bersihnya selama 5 tahun terakhir adalah 10%, maka perhitungan rasio PEG-nya adalah 5 : 10 = 0,5x. semakin kecil rasio PEG adalah semakin bagus, karena saham tersebut memiliki PER relatif rendah dibandingkan pertumbuhan laba bersihnya. Kita mau PEG kurang dari 1, kenapa masbro mau PEG lebih dari 1? Peter Lynch aja nyari yang kurang dari 1. Sumbernya bisa dilihat di sini dan di sini. PEG lebih dari 1 itu artinya mahal, kalau yang kurang dari 1 murah tapi tetap berkualitas.