Pengaruh Suku Bunga Terhadap Perekonomian Suatu Negara

124892

Pengaruh suku bunga yang dinaikkan atau diturunkan oleh bank sentral akan direspon oleh pelaku pasar dan penanam modal, sehingga berefek terhadap perekonomian.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Umumnya, masyarakat hanya mengenali suku bunga dalam konteks hubungan dengan perbankan, yaitu saat akan membuka deposito atau akan mengajukan pinjaman (aplikasi kredit). Ketika suku bunga rendah, masyarakat cenderung termotivasi untuk mengajukan pinjaman, sedangkan jika suku bunga tinggi maka masayarakat akan enggan meminjam pada bank. Dalam lingkup makro, efek perubahan suku bunga dapat meluas hingga menjangkau semua sektor pada suatu negara. Untuk mengetahui selengkapnya, simak ulasan mengenai pengaruh suku bunga terhadap perekonomian berikut ini.

 

Pengaruh Suku Bunga Terhadap Perekonomian Secara Umum

Pada artikel sebelumnya mengenai "Apa Itu Suku Bunga", telah dijelaskan bahwa masyarakat akan bereaksi pada perubahan suku bunga secara relatif terhadap kondisi perekonomian terkini. Lengkapnya lagi:

Fluktuasi suku bunga berpengaruh pada keinginan masyarakat untuk meminjam uang di bank. Secara teoritis, makin rendah suku bunga, maka semakin tinggi keinginan masyarakat untuk meminjam uang di bank. Artinya, pada tingkat suku bunga rendah maka masyarakat akan lebih terdorong untuk meminjam uang di bank untuk memenuhi kebutuhan maupun untuk melakukan ekspansi usaha. Sebaliknya, saat suku bunga tinggi, maka masyarakat akan lebih cenderung menyimpan uang di bank daripada menggunakannya untuk berbelanja dan memperluas bisnis.

Dalam konteks perekonomian internasional, perubahan suku bunga juga dapat mempengaruhi persepsi dan minat investor asing untuk membawa dananya masuk ke suatu negara. Umpama suku bunga di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, maka investor asing akan lebih tertarik untuk menanamkan dana di Indonesia dengan harapan dapat memperoleh imbal hasil lebih tinggi. Sedangkan jika suku bunga di Indonesia lebih rendah, maka investor asing akan makin kurang tertarik untuk menanamkan modal di sini. Malah, jika suku bunga terlalu rendah, salah-salah investor domestik bisa ikut-ikutan melarikan dananya ke luar negeri.

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap telaah atas pengaruh suku bunga terhadap perekonomian suatu negara perlu dilihat dari minimal tiga sisi, yaitu:

  1. Perubahan perilaku masyarakat konsumen.
  2. Perubahan perilaku masyarakat pebisnis.
  3. Perubahan perilaku masyarakat investor.

Untuk memahaminya lebih lanjut, kita akan menilik pengaruh suku bunga pada sektor perumahan (housing), ketenagakerjaan (employment), dan aliran modal (capital flows). 

 

Pengaruh Suku Bunga Terhadap Sektor Perumahan

Perumahan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, selain sandang dan pangan. Ketersediaan perumahan yang terjangkau telah menjadi salah satu parameter kesejahteraan hidup di berbagai negara maju, sehingga berbagai data terkait sektor perumahan dirilis untuk memantau kondisinya dari waktu ke waktu. Secara khusus, data-data ini juga akan dipantau untuk mengevaluasi kebijakan suku bunga. Mengapa demikian?

Pengaruh Suku Bunga Terhadap Perekonomian - ilustrasi

Ketika suku bunga rendah, maka orang-orang akan termotivasi untuk mengajukan kredit perumahan, atau yang dikenal di Indonesia dengan nama KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Ini merupakan keputusan rasional karena biaya bunga yang harus dibayar pun tentunya lebih kecil. Bahkan, orang-orang di Denmark bisa mendapatkan bunga meski memiliki utang KPR, karena suku bunga-nya negatif. Apabila pemerintah dan bank sentral tidak menyiapkan kebijakan lain untuk mengendalikan sektor perumahan pada situasi suku bunga rendah, maka dapat mengakibatkan housing bubble.

Housing bubble ditandai dengan harga perumahan yang membubung tinggi hingga tak terjangkau bagi mayoritas konsumen potensial, karena permintaan atas perumahan jauh lebih besar ketimbang persediaannya. Akibatnya, banyak orang takkan mampu lagi untuk membeli rumah, meski suku bunga rendah.

Sebaliknya, ketika suku bunga meningkat lagi, maka orang-orang yang sudah memiliki KPR akan dihadapkan pada beban pembayaran bunga lebih tinggi (tergantung skema bunga yang diaplikasikan). Apabila peningkatan bunga tersebut terlalu tinggi, maka bisa mengakibatkan kredit macet massal. Para nasabah KPR dapat memilih mangkir bayar KPR dan membiarkan rumahnya diambil alih oleh bank. 

CONTOH KASUS

Fenomena semacam ini pernah terjadi pada krisis Subprime Mortgage antara tahun 2007-2010 di Amerika Serikat yang mengakibatkan runtuhnya Lehman Brothers. Berawal dari suku bunga super rendah dan kriteria penerima kredit yang kurang selektif, terjadi housing bubble hingga harga perumahan luar biasa tinggi. Setelah bubble itu pecah, harga rumah jatuh. Di sisi lain, kenaikan suku bunga membuat banyak orang tak mampu bayar KPR hingga rumah-rumahnya diambil alih oleh bank. Namun, terjadi penumpukan rumah sitaan, sehingga harganya menjadi sangat rendah.

Sebagai perbandingan (walau lansekap ekonominya berbeda), Denmark berhasil menjaga sektor perumahannya meski menetapkan suku bunga negatif. Caranya dengan membatasi pembelian rumah. Ada larangan bagi orang asing untuk memiliki properti di Denmark. Selain itu, sulit bagi orang Denmark sendiri untuk membeli rumah tanpa niat untuk menghuni. Aplikasi KPR pun baru akan disetujui setelah menempuh berbagai tes.

 

Pengaruh Suku Bunga Terhadap Ketenagakerjaan

Pinjaman perbankan merupakan suatu komponen tak terpisahkan dalam perekonomian masa kini. Pebisnis manapun akan membutuhkan jasa perbankan untuk menjalankan aktivitasnya, mulai dari fasilitas pembayaran dan penjaminan dalam ekspor-impor, pembayaran gaji karyawan (payroll), hingga kredit usaha.

Ketika suku bunga rendah, para pengusaha di sektor riil akan termotivasi untuk mengajukan pinjaman guna memperluas skala bisnisnya. Pinjaman tersebut dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan, baik pengadaan mesin-mesin baru, pendirian pabrik baru, pembukaan toko atau cabang di wilayah lain, merintis pemasaran produk melalui channel baru, dan lain sebagainya. Sebagai konsekuensi dari tindakan-tindakan bisnis ini, para pengusaha akan membuka lebih banyak lowongan kerja. Seandainya para pengusaha itu tak ingin memperluas usaha pun, biaya bunga pinjaman yang lebih rendah tetap mengurangi beban usaha, sehingga mereka bisa menawarkan gaji lebih tinggi pada para karyawan lama.

Pengaruh Suku Bunga Terhadap Perekonomian - ilustrasi

Sebaliknya, suku bunga tinggi dapat mendorong kenaikan beban usaha, sehingga para pebisnis bisa "lebih pelit" dalam memberikan kenaikan gaji bagi karyawan maupun merekrut orang baru. Mereka pun akan cenderung enggan untuk memperluas usaha karena peningkatan risiko yang ditimbulkan oleh kenaikan bunga tersebut. Oleh karenanya, bank sentral perlu selalu memastikan kesehatan kondisi sektor ketenagakerjaan dulu sebelum menaikkan suku bunga. Apabila banyak pengangguran dan gaji stagnan, maka bank sentral dipandang perlu menunda kenaikan suku bunga.

Meski demikian, tidak lantas berarti suku bunga rendah itu pasti bagus bagi para pebisnis. Dalam kondisi suku bunga sangat rendah, perbankan akan enggan menyalurkan pinjaman pada perusahaan-perusahaan, karena imbal hasilnya kecil. Akhirnya, dana yang tersimpan di perbankan bisa jadi dialokasikan ke instrumen investasi lain yang menawarkan keuntungan lebih besar, tetapi berisiko lebih tinggi. Dalam situasi seperti itu, perusahaan-perusahaan akan kesulitan mendapatkan pinjaman, sedangkan sektor finansial negara tersebut menjadi rentan terguncang.

 

Pengaruh Suku Bunga Terhadap Aliran Modal

Aliran modal dalam bahasan ini merujuk pada keluar dan masuknya modal dari dan ke suatu negara. Pengaruh suku bunga terhadap perekonomian yang terbesar sebenarnya berakar pada aliran modal. Bagaimana bisa begitu?

Investor dan spekulan pasar keuangan internasional yang selalu mengejar keuntungan akan menjadikan suku bunga suatu negara sebagai salah satu barometer utama untuk mengukur imbal hasil investasi di negara tersebut. Umpama suku bunga Amerika Serikat lebih tinggi daripada Jepang, maka orang akan memilih untuk berinvestasi di AS daripada Jepang. Tentu ada berbagai pertimbangan lainnya, tetapi suku bunga merupakan komponen vital.

Fenomena ini terutama tampak saat bank sentral AS menaikkan suku bunganya antara tahun 2017-2018, setelah mempertahankan suku bunga sangat rendah selama beberapa tahun sebelumnya. Ketika bank sentral AS memberlakukan rezim suku bunga rendah, aliran modal masuk ke negara-negara berkembang seperti Indonesia dalam jumlah besar. Setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga-nya, aliran modal keluar dari negara-negara berkembang secara beramai-ramai, hingga nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS anjlok pada kurun waktu yang sama.

Teori inilah yang perlu diperhatikan: jika aliran modal ke suatu negara meningkat, maka permintaan atas mata uangnya meningkat pula, sehingga nilai tukar mata uangnya berpotensi menguat. Sebaliknya, jika aliran modal ke suatu negara menurun, maka permintaan atas mata uangnya bakal berkurang, sehingga nilai tukar mata uangnya berpotensi melemah. Ulasan selengkapnya mengenai bahasan ini dapat Anda simak pada artikel "Aliran Modal Dan Tingkat Suku Bunga". Untuk gambaran jelasnya, bisa dilihat pada infografi berikut:

Infografi pengaruh suku bunga terhadap aliran modal

Tinjauan pengaruh suku bunga pada ketiga sektor ini hanya merupakan contoh diantara banyak aspek lain. Anda dapat melihat bahwa suku bunga rendah atau tinggi memiliki konsekuensinya masing-masing terhadap perekonomian suatu negara. Bank sentral yang berwenang menentukan kebijakan suku bunga, bertugas pula memantau semua aspek tersebut agar pengambilan keputusan tetap menunjang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Ivan Andreyanto
sudah sangat jelas apabila BI menaikan tingkat suku bunga otomatis tingkat investasi menurun. harap di koreksi tulisannya
Fajar
Betull , dengan kenaikan suku bunga akan memberatkan investasi yang datang ke negara tersebut...
Fajar
Betull , dengan kenaikan suku bunga lebih condong memberatkan dunia usaha seh soalnya kredit pasti naik dan memberatkan dunia usaha.
Hendra Firmansyah
Isi artikel ini sebenernya khusus untuk Amerika, Negara2 maju, atau bisa juga diterapkan untuk Indonesia?

Soalnya kalo untuk pengaruh peningkatan mata uang di pair forex, suku bunga yg naik diartikan positif coz bisa meningkatkan aliran modal, yang artinya banyak investor yg tertarik menanamkan modalnya di negara yg suku bunganya tinggi dan bisa mengambil keuntungan dari situ.

Kalo ada perbedaan antara pengaruh suku bunga di negara maju dan berkembang mungkin konsep artikel di atas masih bener karena disini tidak menyinggung pengaruh suku bunga untuk aktivitas ekonomi di Indonesia.

Tapi kalo pengaruhnya sama aja mungkin yang terkena pengaruh negatif adalah pebisnis lokal yg harus membayar lebih karena kenaikan suku bunga ini, karena usaha mereka dijlnkn dgn pinjaman dari bank.

sementara untuk investor asing yg menanamkan modal di negara tertentu jelas akan mendapat tambahan bunga dalam sistem pengembaliannya ketika suku bunga dinaikkan. Itu kenapa ketika suku bunga naik permintaan terhadap mata uang juga meningkat. Contoh artikelnya ini.
Ariiskandar
singkatx kayak gini, suku bunga naik aliran modal dari investasi asing makin bagus tapi usaha lokalx bisa makin turun. sedangkan suku bunga dipotong aliran modalx yang bisa menurun sementara usaha lokal bisa makin berkembang. disini karena yang banyak berpengaruh ke nilai mata uang adalah aliran modal, makax naikx suku bunga juga sejalan sama naikx nilai tukar itu. sementara untuk perekonomian lokal ini jelas gag searah. karna kebijakan suku bunga diturunkan itu emang untuk merangsang pertumbuhan ekonomi ketika inflasi turun sementara suku bunga yang dinaikkan itu adalah ketika inflasi terlalu tinggi akibat terlalu tinggix aktivitas perekonomian.
Hendra Firmansyah
@Ariiskandar: Bener. yg perlu dicermati dari pernyataan terakhir di artikel ini adalah kegiatan menyimpan atau menanamkan dana di bank, bukan dari segi peminjamannya. Kalau pinjam dari bank jelas bunga yg mesti dibayarkan akan nambah, sebaliknya ketika menyimpan uang atau berinvestasi, bunga yg didapat juga akan bertambah.

bener itu ketika suku bunga naik memang ini upaya untuk mengerem laju pertumbuhan supaya harga tidak terus2an naik dan menimbulkan hiperinflasi. nah ketika suku bunga dipotong berarti sebelumnya ada kecenderungan inflasi turun, yg artinya kegiatan ekonomi sedang lesu.

makanya untuk mendorong aktivitas itu banyak kebijakan moneter longgar yg ditetapkan supaya bisa memicu inflasi kembali naik
Lukito
maaf sebelumny kalo sya salah, tapi bukankah tingkat pengangguran ini salah 1 indikator yg digunakan sbg bahan pertimbangn untuk menaikkan suku bunga? jd tingkat pengangguran ada di tingkat mana dulu baru bank sentral ambil keputusan soal suku bunga yg tepat?
Hendra Firmansyah
@Lukito: Bener, tingkat pengangguran memang bisa jadi salah satu faktor pemicu penting untuk menaikkan atau memotong suku bunga. Pengaruh suku bunga ke tingkat pengangguran memang ada, tapi dalam jangka panjang karna sebenarnya tingkat pengangguran ini indikator lagging dari pertumbuhan ekonomi, yg bisa ditunjang oleh pengaturan tingkat suku bunga. jadi hubungannya begini. tingkat pengangguran naik dan inflasi juga turun dibawah target, misal bank sentral kemudian memotong suku bunga dan berhasil menstimulus pertumbuhan ekonomi dalam negeri. jika berhasil seperti ini maka tingkat pengangguran berikutnya kemungkinan bisa turun dan memacu pertumbuhan ekonomi yg kemudian bisa mendorong inflasi.