Pengaruh Teror Bom Terhadap IHSG Dan Saham BEI

Berulangkali teror bom menimpa Indonesia. Bagaimana pelaku pasar menilai pengaruh teror bom terhadap IHSG dan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)?

acy

iklan

FirewoodFX

iklan

Setelah kejadian mengenaskan di Mako Brimob lalu rentetan bom terjadi di Surabaya, banyak yang berkonspirasi bahwa hal ini berhubungan dengan politik, dan lain sebagainya. Namun, yang terutama adalah ketakutan untuk berinvestasi di Indonesia menjadi sebuah momok tersendiri. Padahal, pengaruh teror bom terhadap IHSG dan saham BEI tidaklah seburuk yang dikhawatirkan.

Pada hari Senin 14 Mei 2018 saat bursa dibuka, ada sebuah bom meledak lagi. Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat dibuat panik hingga mengeluarkan pernyataan agar teror bom tidak ditanggapi berlebihan. Bukan pertama kalinya Indonesia diguncang teror bom, lalu banyak yang berpendapat kalau hal ini akan menurunkan minat investasi terutama investor asing di Indonesia, sehingga mereka menghindari market di hari Senin. Sedangkan menurut data yang ada, teror bom yang beberapa kali terjadi di Indonesia tidak langsung berimbas ke pasar modal.

 

Pengaruh Teror Bom Terhadap IHSG Dan Saham BEI

 

Dilansir dari Surat Edaran yang langsung dikeluarkan oleh Kepala Bursa Efek Indonesia, teror bom tidak akan berpengaruh besar terhadap aktivitas di pasar modal. Pasalnya, fundamental ekonomi negara lebih menjadi faktor yang dinilai. Meskipun faktor keamanan turut dipertimbangkan, hal tersebut tidak berpengaruh besar karena segera ditangani oleh aparat.

Nyatanya memang demikian. IHSG hari Senin ditutup menguat dengan harga Opening di Rp 5933,46, sedangkan harga High di 5947,15, lalu Low nya di harga 5853,44, dan Close di harga 5947,15. Lebih lanjut, dapat kita perhatikan di bawah ini bahwa nyatanya trader lokal cenderung wait and see dan "buang muatan", sedangkan asing "serok" di tanggal 14 Mei 2018.

 

Pengaruh Teror Bom Terhadap IHSG Dan Saham BEI

 

Persepsi mengenai asing pasti menghindari pasar seusai teror bom ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena nyatanya di tanggal 14 Mei ada dua bom susulan yang meledak di Polrestabes Surabaya, tapi asing malah Buy. Kita bisa lihat di sesi 1 menjelang sesi 2 kemarin, Local melakukan Net Sales sebanyak 278,22 Milyar, dan langsung diambil oleh Foreign dengan jumlah yang sama. Ini lucu, betapa ketakutan terjadi justru pada investor lokal dan optimisme terjadi di investor asing. 

Ada sebuah quote terkenal mengenai investasi; "Dalam jangka panjang pasar saham adalah timbangan, dalam jangka pendek adalah mesin voting."

Dalam jangka pendek, market ditentukan oleh seberapa kuat buy dan sell terjadi di hari itu. Namun, secara jangka panjang semua orang yang melihat potensi suatu saham dan cenderung menyimpannya dan tak melepas sama sekali karena perusahaan yang baik fundamentalnya cenderung tahan fluktuasi harian dan akan kembali ke jalurnya lagi. Contohnya saham CocaCola yang dipegang Warren Buffet dengan mengacuhkan gejolak market harian, karena beliau sudah mengetahui potensi pertumbuhannya.

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'