Advertisement

iklan

Pengertian Saham Dan Berbagai Peluang Perdagangan Di Bursa

Anda mungkin sudah sering mendengar kata 'saham' di pemberitaan media. Tetapi, tahukah Anda mengenai pengertian saham serta berbagai peluang perdagangan aset ini di bursa?

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Anda mungkin sudah sering mendengar kata "saham" di pemberitaan media. Anda mungkin juga tahu bahwa saham diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan besar dan diperdagangkan di pasar modal. Tetapi tahukah Anda mengenai pengertian saham serta berbagai peluang perdagangan aset ini di bursa?

bursa efek indonesia

Pengertian Investasi Saham

Dikutip dari wikipedia, saham adalah satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrumen finansial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan. Dengan menerbitkan saham, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pendanaan jangka panjang menawarkan persentase kepemilikan tertentu kepada pembeli saham dengan imbalan uang tunai.

Perusahaan-perusahaan tersebut menerbitkan saham di pasar modal (bursa efek) melalui mekanisme IPO (Initial Public Offering), atau yang kerap disebut dengan istilah 'go public'. 'Imbalan' atas penawaran saham diperoleh perusahaan dari harga saham saat IPO tersebut. Sedangkan pembeli-pembeli saham (investor) saat IPO dapat menjual kembali sahamnya dalam mekanisme pasar sekunder di bursa efek untuk mendapatkan capital gain, maupun menyimpannya untuk mendapatkan dividen.

Masyarakat dapat berinvestasi dengan membeli saham di bursa efek via broker (perusahaan sekuritas). Anda cukup mendaftar ke salah satu perusahaan sekuritas, lalu disana akan diberi petunjuk-petunjuk mengenai bagaimana membeli dan menjual kembali saham. Di Indonesia, pembelian saham via broker ini dilakukan dalam volume yang disebut lot, dimana setiap lot-nya terdiri dari 100 lembar saham. Manfaat apa yang bisa didapat dari membeli saham? sebagaimana telah disebutkan, masyarakat yang menjadi investor bisa mendapatkan capital gain dan dividen.

1. Meningkatnya Nilai Kapital Saham (Capital Gain)
Capital Gain dihitung dari seberapa besar harga saham saat anda beli dan seberapa besar harga saham saat anda jual. Umpamakan pagi ini Anda membeli 200 lot saham PT Gudang Garam, tbk (kode saham GGRM) seharga 53650 per lembar, kemudian esok Anda sukses menjualnya dengan harga 53700 per lembar, maka keuntungan Anda adalah:
(53700-53650) x 200 x 100 = 1.000.000
1 Juta Rupiah itu adalah capital gain yang Anda peroleh. Dari perolehan capital gain tersebut dan modal awal yang digunakan untuk membeli saham GGRM, bisa Anda gunakan untuk membeli lagi saham yang lain.

Namun, nilai kapital saham juga bisa menurun dan mengakibatkan Capital Loss. Umpamakan Anda telah membeli 200 lot saham GGRM seharga 53650, kemudian esok hari ternyata harganya merosot ke 53600, maka Anda terpaksa harus menunggu hingga harganya naik lagi jika ingin mendapatkan Capital Gain. Atau, bila Anda khawatir harganya akan terus merosot, maka Anda terpaksa melepaskan saham GGRM tersebut pada harga 53600, yang berarti Anda akan mengalami kerugian senilai 1.000.000.       
                
Oleh karena itu, memperdagangkan saham memerlukan analisis fundamental dan teknikal. Analisis-analisis tersebut digunakan untuk menentukan apakah harga saham suatu perusahaan akan meningkat, menurun, atau stagnan, termasuk saat-saat terbaik untuk membeli saham dan menjual saham perusahaan tertentu. Di internet pun juga banyak analis saham yang menyediakan analisis fundamental saham maupun analisis teknikal saham yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas.              

2. Mendapatkan Dividen
Dividen adalah bagi hasil keuntungan yang dibagikan perusahaan kepada investor sesuai dengan proporsi jumlah saham yang dimilikinya. Pembagian Dividen umumnya dilakukan berkala berdasarkan besar keuntungan perusahaan yang disisihkan untuk dividen pemegang saham.

Misalkan Anda memiliki 200 lot saham GGRM tadi hingga tiba masa pembagian dividen, maka Anda berhak mendapatkan dividen. Bagaimana penghitungannya? Perusahaan akan menentukan berapa rupiah dividen per lembar saham. Katakanlah dividen per lembar 1000 rupiah, maka sebagai pemilik 200 lot saham (20 ribu lembar), Anda akan berhak atas 20.000.000 rupiah.


Peluang Perdagangan Saham

Bagi masyarakat yang baru saja mengenal perdagangan saham, kemungkinan besar akan mengalami kesulitan dalam menganalisa pergerakan saham yang bersangkutan. Namun, semua itu bisa Anda pelajari dengan memahami perusahaan yang sahamnya Anda beli serta peluang-peluang perdagangan saham berikut ini.

1. Indeks Saham
Bursa efek biasanya menghadirkan fluktuasi rata-rata perdagangan saham di bursa tersebut dalam bentuk indeks gabungan. Bursa efek Indonesia memiliki Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bursa Hongkong memiliki Indeks Hangseng, sedangkan di Amerika ada indeks-indeks yang disediakan oleh perusahaan finansial tertentu seperti Indeks Dow Jones dan Indeks S&P500.

Saat indeks Dow Jones dan Hangseng berwarna hijau (naik), maka IHSG berpotensi kuat akan ikut berwarna hijau. IHSG kadang mengalami anomali dengan bergerak melawan tren bursa regional. Namun pada umumnya IHSG selalu mengikuti tren indeks global dan regional. Artinya, jika indeks global dan regional seperti lapangan bola (hijau semua), maka IHSG berpotensi untuk hijau pula. Hijau berarti harga saham berpotensi naik (bullish), sedangkan merah berarti harga saham berpotensi turun (bearish).

2. Initial Public Offering (IPO)
Peluncuran saham perdana IPO dengan kapitalisasi besar (big caps) atau kepitalisasi menengah (medium caps) hampir selalu direspon antusias oleh pasar, apalagi bila penerbitnya adalah perusahaan high-profile. Kapitalisasi pasar dihitung dari jumlah saham yang diterbitkan dikalikan harga saham per lembar. Jika kapitalisasinya terhitung besar di bursa, maka pasar akan banyak memesan saham-saham tersebut dengan harapan nilainya akan terus naik.

Namun walau pamor awalnya tinggi, belum tentu saham yang harga IPO-nya tinggi akan terus meningkat nilainya. Dalam beberapa tahun terakhir, IPO perusahaan besar Amerika Serikat telah cukup sering mengecewakan pasar karena harga IPO yang tinggi ternyata disusul oleh kemerosotan yang cukup parah atau prestasi perusahaan yang menurun. Diantara saham yang demikian adalah saham Facebook dan Apple.

3. Profit Taking Jelang Liburan
Bagi pemain saham Indonesia, ada mitos bahwa Jumat adalah awal ketidak pastian untuk Sabtu dan Minggu. Apapun bisa terjadi selama libur, seperti aksi terorisme, bencana alam, dan peristiwa-peristiwa tak terduga lain yang mungkin akan mengguncang bursa dan menekan harga saham pada hari Senin. Oleh karena itu, investor disarankan untuk 'always sell on Friday'. Tentu saja hal ini tidak selalu terjadi, tetapi Anda perlu mengetahui ini sebagai wawasan awal di dunia saham.

Demikian pula, menjelang liburan panjang, biasanya isi kepala investor dimuati kekhawatiran yang sama, yaitu 'ketidakpastian'. Pengalaman mengajarkan untuk tidak menyimpan saham selama masa libur panjang. Jika Anda mengincar capital gain, maka menyimpan saham saat liburan membuat koleksi saham Anda rentan terhadap berbagai kejadian. Sebagai contoh, menjelang libur panjang lebaran, biasanya emiten atau market maker secara bertahap mengerek harga sahamnya ke level yang lebih tinggi, untuk mengantisipasi kejatuhan paska libur berakhir. Saran kami dalam contoh kasus ini: turut melakukan profit taking pada hari terakhir menjelang libur panjang.

4. Saham Big Caps
Perusahaan-perusahaan dengan saham big caps sering melakukan buy back (membeli kembali saham yang beredar). Ini merupakan upaya yang sering dilakukan perusahaan untuk memanipulasi harga sahamnya. Tindakan ini akan mengurangi jumlah saham mereka yang beredar di pasar sehingga harga saham berpotensi meningkat. Saham-saham ini layak dikoleksi saat rumor mulai beredar atau menjelang pelaksanaan buy back.

Satu lagi kesempatan untuk mengincar saham big caps adalah ketika PER masih dibawah rata-rata PER saham di sektor yang sama. PER atau Price/Earning Ratio adalah perbandingan antara harga saham sekarang dibanding pendapatan per lembar sahamnya. Saham big caps dengan PER dibawah rata-rata biasanya merupakan saham yang sedang menanti pemicu untuk segera melesat.

5. Dinamika Pasar Komoditas
Apabila harga energi dan komoditas dunia meningkat, maka harga saham emiten yang berbasis pada sumber daya alam seperti migas dan perkebunan kelapa sawit akan terus merangkak naik. Emiten pada bidang ini antara lain BUMI, ANTM, ADRO, MEDC, INCO, PGAS, AALI, dan SGRO. Ketika harga emas naik, misalnya, maka ini merupakan gelagat bagus bagi saham ANTM yang memang bergerak di pertambangan emas.

Disamping itu, emiten-emiten tertentu juga berperan sebagai pengendali harga global. Contohnya PT Timah (TINS) yang termasuk pengendali harga timah dunia. Harga saham emiten ini akan mudah terpengaruh oleh perubahan permintaan dan penawaran timah dunia, harga komoditas timah, kebijakan bidang pertambangan, pengurangan kuota ekspor, dan lain sebagainya.

Saham-saham emiten dalam kategori ini layak dikoleksi saat harga komoditas yang terkait sedang naik dan pasar dunia bergairah.

6. Rumor Saham
Rumor-rumor penting seperti stock split dan right issue mudah mempengaruhi harga saham di pasar, karenanya banyak juga beredar rumor palsu.

Stock Split umumnya dilakukan oleh saham-saham big caps yang pertumbuhan harga sahamnya terlalu pesat, sehingga kurang liquid. Oleh karena itu, perusahaan 'membelah' saham-nya. Investor meyakini bahwa harga saham akan naik menjelang dan setelah pelaksanaan stock split. Ini sering benar karena saham big caps biasanya berfundamental bagus, tetapi hati-hati pada rumor stock split abal-abal.

Right Issue (penerbitan saham baru), ialah cara agar emiten memperoleh dana selain meminjam ke bank atau menerbitkan bond atau obligasi. Persoalannya, penerbitan saham baru akan menyebabkan jumlah saham yang beredar semakin besar, sehingga akan menyebabkan harga saham tersebut terdevaluasi. Right issue biasanya kurang diminati investor dan direspon dengan menjual sahamnya sebelum terjadi right issue. Namun kadang right issue justru turut mendongkrak harga saham kalau fundamentalnya bagus. Saran : Berhati-hatilah dengan rumor right issue! Sebaiknya menjual saham saat mulai mendengar rumor dan menunda membeli hingga selesai pelaksanaan right issue.

7. Aksi Korporasi
Rumor lain yang perlu diwaspadai adalah rumor yang berkaitan dengan aksi-aksi korporasi seperti akuisisi, merger, dan penandatangan kontrak kerjasama antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya atau dalam hubungannya dengan pemerintah.

Masuknya investor asing untuk mengakuisisi sebuah perusahaan akan mendongkrak harga saham perusahaan tersebut karena akan mendapatkan sumber dana dan manajemen baru. Demikian pula kontrak kerjasama yang jelas merupakan berita bagus. Berita akuisisi dan kontrak yang dilansir media bonafid sering terjamin kebenarannya, tetapi tidak jarang rumor tersebut hanyalah isapan jempol belaka.

8. Level Support, Resisten, dan Volume Transaksi
Dari segi analisis teknikal, yang sangat penting untuk diperhatikan investor adalah level support, resisten, dan besaran volume transaksi. Ketika aksi profit-taking membuat harga saham turun dan terkoreksi hingga menyentuh level support, atau terkoreksi 5 hingga 15 persen, maka hampir pasti harga akan rebound (berbalik arah).

Volume transaksi juga dapat digunakan sebagai alat konfirmasi untuk menduga mengenai apakah tren yang akan berlanjut atau berbalik arah. Saat volume bid (permintaan saham) meningkat dan lebih tinggi daripada volume offer (penawaran saham), harga akan cenderung naik. Dan apabila volume transaksi naik secara drastis, maka ini bisa menjadi sinyal bahwa akan terjadi pembalikan tren karena panic buying.

9. Pembagian Dividen
Menjelang tanggal-tanggal yang terkait dengan pembagian dividen, permintaan dan penawaran saham akan terusik. Investor yang mengincar dividen semalam akan memburu saham-saham dari emiten yang diperkirakan akan membagi dividen besar. Jika ternyata dividen yang dibagikan sedikit, maka segera setelah tanggal pengumuman, harga sahamnya bisa jatuh.   

10. Januari Effect
Mitos lain yang beredar di pasar saham adalah 'January Effect'. Dikatakan bahwa ada anomali musiman di pasar finansial, dimana harga saham naik lebih tinggi di bulan Januari dibanding bulan-bulan lainnya. Sehingga investor akan untung jika membeli di bulan sebelumnya, dan menjual di bulan Januari.

Teori ini berdasarkan pada observasi Sidney B. Wachtel sekitar tahun 1942. Salah satu penjelasannya adalah karena biasanya para fund manager, reksadana, investor kakap, investor sejati biasanya mulai mereposisi portofolionya untuk setahun ke depan. Tetapi January effect ini tidak selalu terjadi, karena terbukti di tahun 1982, 1987, 1989, dan 1990 banyak saham yang berprestasi jelek.

Demikianlah artikel mengenai saham dan cara memperdagangkannya. Kami harap artikel ini dapat membantu pemahaman awal Anda mengenai perdagangan saham. Buka mata dna telinga untuk mengendus kesempatan emas, tetapi tetaplah berhati-hati pada rumor palsu yang sengaja disebar oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Untuk lebih jauh mendalami mengenai hal ini, Anda dapat mengikuti artikel-artikel kami yang lainnya.

SFTeam merupakan hasil kerjasama beberapa personel tim Seputarforex untuk menghadirkan liputan akurat dan bermanfaat bagi pembaca. Cakupan bahasan menyeluruh hingga menjangkau fundamental, teknikal, dan berbagai aspek trading forex lainnya.


Pengertian
Nice artikel... greaT