Advertisement

iklan

Penggabungan Beberapa Indikator

66637

Penggunaan satu indikator dalam trading memang sah-sah saja. Namun, alangkah baiknya jika Anda juga menerapkan gabungan indikator forex untuk sinyal yang lebih akurat.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dalam menapaki dunia trading forex, bukan tidak mungkin apabila Anda harus siap bertemu dengan beragam model analisa. Ada yang lebih menyukai analisa fundamental, tetapi tak jarang pula yang menyukai analisa teknikal melalui penggabungan beberapa indikator. Meskipun sekilas "mumet tur njelimet", bukan berarti semua indikator itu susah. Contoh gabungan indikator forex yang akan di bahas pada artikel kali ini adalah beberapa jenis indikator yang mudah untuk diterapkan, baik oleh trader berpengalaman maupun trader pemula sekalipun.

gabungan indikator forex

 

1. Bollinger Bands Dan Stochastic

Gabungan indikator forex antara Bollinger Bands dengan Stochastic dapat Anda jadikan opsi pertama. Dilihat dari fungsinya, Bollinger Bands berguna untuk mengetahui arah pergerakan tren, sementara Stochastics dapat memberikan prediksi mengenai kekuatan tren.

Bolehkah menggunakan Bollinger Bands saja? Trading hanya dengan menggunakan satu indikator sebenarnya boleh-boleh saja, tetapi tidak benar-benar disarankan demikian. Jika melihat dari sifat indikator Bollinger Bands yang lagging (lambat) mengikuti pola candlestick, maka sinyal yang ditunjuk oleh indikator ini perlu diwaspadai. Inilah alasan mengapa perlu digunakan gabungan indikator forex lain, guna mengkonfirmasi arah sinyal yang ditunjuk oleh indikator BB, misalnya indikator Stochastic.

Sebagai indikator momentum yang bersifat Oscillator, Stochastic biasanya akan menunjukkan saat-saat dimana pergerakan harga telah mencapai keadaan overbought (jenuh beli) atau oversold (jenuh jual). Selain itu, Stochastic juga dapat menunjukkan sinyal entry yang tepat apabila terjadi perpotongan (crossing) antara garis %D dengan %K.

indikator stochastic

 

Dengan berpedoman pada gabungan indikator forex Bollinger Bands dan Stochastic, maka entry posisi dapat dibuka apabila:

  1. Candle bergerak hingga ditutup di atas Upper Band atau Lower Band. Jika harga ditutup di atas Upper Band, maka kondisi ini menunjukkan Uptrend. Sebaliknya, Downtrend dapat diketahui apabila candle ditutup di bawah Lower Band.
  2. Terbentuk crossing antara garis %D dan %K pada indikator Stochastic. Crossing dari bawah ke atas menunjukkan Bullish Reversal (entry BUY), sementara crossing dari atas ke bawah menunjukkan Bearish Reversal (entry SELL). Sinyal terbaik dari indikator Stochastic ini dapat diambil apabila terjadi crossing tepat di atas level 80 (overbought) atau di bawah level 20 (oversold). Jika harga sudah mencapai level overbought, maka entry yang tepat untuk diambil adalah SELL, begitupun sebaliknya.

Perhatikan contoh chart berikut ini:

gabungan indikator forex - bb dan stochastic

Pada contoh chart EUR/USD di atas, pergerakan EUR/USD menurun hingga ditutup di luar pita bawah BB (Lower Band). Pada saat yang sama, Stochastic menyentuh area oversold, bahkan terjadi crossing. Pada kondisi ini, harga memiliki kecenderungan untuk berbalik arah ke atas, karena sebelumnya telah terbentuk dalam serangkaian tren menurun yang cukup panjang. Anda dapat memanfaatkan peluang ini dengan mengambil posisi BUY.

 

2. RSI Dan MACD

Gabungan indikator forex lain yang bisa Anda terapkan adalah RSI dengan MACD. Indikator MACD berfungsi untuk menunjukkan arah tren dan momentum pasar, sementara indikator RSI berfungsi untuk memberikan sinyal entry melalui level-level oversold serta overbought.

Dalam menggunakan indikator MACD, kondisi Uptrend maupun Downtrend dapat dilihat dari posisi bar (OSMA)-nya, apakah berada pada area negatif atau positif. Bar pada area positif menandakan kondisi Uptrend sedang berlangsung, sementara bar pada area negatif menunjukkan kondisi Downtrend. Di samping itu, indikator MACD juga dapat menunjukkan sinyal entry dari perpotongan garis EMA-12 dengan EMA-26 yang terbentuk. Crossing EMA-12 dengan EMA-26 dari bawah ke atas cenderung menunjukkan entry BUY. Sebaliknya, crossing EMA-12 dengan EMA-26 dari atas ke bawah dapat digunakan untuk entry posisi SELL.

indikator MACD

Meskipun keputusan trading berdasarkan indikator MACD sebenarnya sudah bisa diambil, tetapi tak ada salahnya jika Anda menggunakan indikator lain sebagai petunjuk sinyal entry agar analisa semakin akurat. Salah satu indikator pelengkap MACD adalah indikator RSI (Relative Strength Index).

Tak jauh berbeda dengan Stochastic, indikator RSI juga berguna untuk mengetahui kondisi overbought (jenuh beli), oversold (jenuh jual), serta posisi entry yang tepat. Secara visual, perbedaan antara Stochastic dengan RSI adalah pada jumlah garis indikatornya, yang mana RSI hanya terdiri atas satu garis.

Dengan demikian, entry posisi yang dapat diambil berdasarkan gabungan indikator forex tersebut harus memenuhi kondisi berikut:

  1. Ketahui kondisi Uptrend dan Downtrend dari posisi bar MACD. Apabila OSMA berada di area positif, maka kondisi tersebut adalah Uptrend, begitupun sebaliknya.
  2. Terjadi crossing antara EMA-12 dengan EMA-26. Crossing dari bawah ke atas menandakan terjadinya Bullish Reversal (sinyal entry BUY), sementara crossing antara EMA-12 dengan EMA-26 dari atas ke bawah mengindikasikan Bearish Reversal (entry SELL).
  3. Garis RSI menyentuh level overbought atau oversold. Adapun level overbought dan oversold ini tidaklah mutlak. Ada trader yang menggunakan level 30-70, ada pula yang menggunakan level 20-80. Jika garis menyentuh batas oversold (20 atau 30), maka entry yang diambil adalah BUY. Sementara entry SELL dapat diambil apabila harga menyentuh level overbought (70 atau 80).

Contoh gabungan indikator forex antara RSI dengan MACD dapat dilihat pada chart berikut:

gabungan indikator forex - RSI dan MACD

Ketika RSI mencapai daerah oversold dan memberikan sinyal BUY, MACD juga memberikan konfirmasi yang sama dengan adanya crossing antara EMA-12 dengan EMA-26 dari bawah ke atas. Crossing yang dibentuk dari dua garis EMA ini juga menyatakan sinyal entry BUY. Karena sudah ditunjukkan oleh gabungan indikator forex yang saling mengkonfirmasi, maka entry BUY dapat segera dilakukan.

 

Antara RSI Dan Stochastic, Mana Gabungan Indikator Forex Yang Lebih Baik?

Berdasarkan uraian di atas, ada dua indikator dengan fungsi yang sama, yaitu RSI dan Stochastic. Meskipun keduanya sama-sama dipakai untuk mengidentifikasi keadaan overbought dan oversold, tetapi aplikasinya perlu disesuaikan dengan keadaan pasar.

Range nilai RSI adalah 0 hingga 100. RSI dengan level di atas 70 menandai keadaan overbought, sementara RSI di bawah level 30 diasumsikan oversold. Namun, secara praktis bukan berarti harga akan berbalik arah jika nilai RSI berada pada 2 nilai ekstrim tersebut. Dalam RSI, ada batas interpretasi secara umum yang biasa dijadikan acuan kondisi tren, yakni pada level 50. Apabila RSI berada di antara 50-70, maka harga akan bergerak dengan tren positif (Uptrend). Sebaliknya, jika harga masih berada di antara 30-50, harga akan bergerak dengan tren negatif (Downtrend).

Di sisi lain, indikator Stochastics dapat memberikan identifikasi reversal secara lebih tepat. Sama-sama memiliki range nilai antara 0-100 seperti RSI, tetapi Stochastic menggunakan acuan level 20-80. Pada umumnya, nilai Stochastic di atas level 80 menandakan overbought, sehingga ada kecenderungan harga mengalami reversal Bearish. Demikian juga bila harga berada di bawah level 20, atau disebut sebagai level oversold, maka harga biasanya akan berbalik ke atas (Bullish Reversal). Namun, nilai Stochastic bisa tetap berada pada area ekstremnya (overbought atau oversold) ketika pasar sedang trending. Hal ini karena harga akan selalu ditutup dekat dengan level tertingginya (untuk Uptrend), atau level terendahnya (untuk Downtrend).

Perbedaan antara kedua indikator di atas dapat dapat dilihat pada chart berikut ini:

indikator RSI vs indikator Stochastic

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa RSI akan lebih akurat jika diterapkan pada kondisi pasar yang sedang trending dibandingkan Stochastic, dengan syarat, Anda hanya menggunakan level 50 sebagai pendeteksi arah tren, dan mengabaikan fungsi level-level overbought dan oversold. Sedangkan Stochastic akan lebih akurat untuk kondisi pasar yang sideways atau ranging.

RSI sering digunakan pada time frame rendah untuk mengetahui kecepatan perubahan harga dan kecenderungan tren dalam jangka pendek, sementara Stochastic umumnya digunakan oleh swing trader untuk mengidentifikasi momentum pada jangka menengah-panjang.

 

Selain RSI dan Stochastic, ada pula satu indikator lain yang bisa Anda gunakan untuk mengetahui level oversold maupun overbought. Bedanya, penggunaan indikator ini harus selalu dikombinasikan dengan indikator lain seperti Moving Average, guna menghindari terjadinya false signal. Bagaimanakah cara trading dengan menggunakan indikator ini? Ketahui ulasan selengkapnya di rubrik indikator berjudul "Trading Dengan Overbought Dan Oversold Indikator CCI".

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.


Fajar A Malik
Jika RSI selalu lebih dulu memberi sinyal trading, apa aman kalo kita nantinya keburu entry tanpa menunggu sinyal crossing dari MACD?

Sebenarnya kedua indikator itu kan sama2 oscillator, jadi cepat atau lambat pasti akan menunjukkan hal yang sama. Kalo trending harga setelah oversold bisa kuat seperti contoh di atas munkin ga masalah nunggu MACD dulu, tapi kalo ternyata trending harga tidak sekuat itu malah beresiko telat ambil posisi nantinya
Arifin Noer
Prinsip penggunaan berbagai indikator dalam satu platform itu adalah untuk menaati sinyal trading dari indikator-indikator yang telah diaplikasikan. Order yang ditempatkan berdasarkan sinyal dari salah satu indikator saja bisa dibilang kurang valid jika dalam prosesnya trader memutuskan untuk mengabaikan sinyal dari indikator lain. Hal ini akan sama saja dengan trader yang menggunakan satu indikator saja sebagai acuan dalam kegiatan tradingnya. Sehingga penggunaan lebih dari 1 indikator dalam satu chart itu tidak akan lagi bersifat konsisten. Dalam hal ini jika lebih menyukai sinyal RSI yang lebih cepat dan bisa membawa keuntungan bagus, trader cukup menggunakan indikator itu saja, karena jika tetap memasang MACD, strategi yang dijalankan bisa berjalan secara tidak konsisten. Jadi batas-batas penggunaan indikator memang perlu diterapkan supaya bisa memberikan hasil yang diinginkan.
Arwan Hahaha
mntp ni cntohx. ane klo disuruh cri sndiri jg suka bingung mulai drmn. klo dari sini seengkny bs taulah gmbrn indi yg bs digabung2in. hehehe good job
Big Daddy
formasi indikator lengkap itu ya yang ada indikator tren, momentum, volume, sama sr. tapi kan ndak semua trader ya perlu semuax itu, jadi kadang tren sama momentum saja uda cukup. tapi kl sama2 momentum kaya rsi sma macd diatas apa masi bisa efektif? secara tiap kali kita mau entri dari sinyal oscillator selalu disaranin buat lihat tren dulu??
Arifin Noer
MACD sendiri sebenarnya dibentuk dari beberapa komponen, yang salah satunya adalah garis EMA, sehingga juga bisa menunjukkan tren dan bersifat lebih lagging dari RSI. Disamping itu, melihat suatu tren sebelum mengambil posisi dari titik jenuh oscillator bisa dilakukan tanpa indikator tren, karena tampilan harga juga bisa menunjukkan apakah tren tersebut berada dalam posisi tren yang kuat atau tidak. Untuk itu trader biasanya dihimbau untuk entri setelah harga mlai crossing dari level jenuh dan mulai bergerak ke arah yang diinginkan.