Penggunaan Pivot Point

126913

Cara trading menggunakan Pivot Point ada beraneka ragam, dan dapat diaplikasikan saat harga mengalami bounce maupun breakout. Ini uraiannya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Para trader profesional dan mereka yang telah berpengalaman sering menggunakan Pivot Point guna mengidentifikasi level-level Support dan Resistance (SR) yang potensial. Kenapa titik-titik Pivot ini begitu menarik? Jawabnya karena cukup obyektif dibandingkan leading indicator yang lain. Pada dasarnya, Pivot Point adalah suatu level harga yang dengan menggunakannya maka bisa ditentukan level-level Support dan Resistance pada suatu periode tertentu, berdasarkan pergerakan harga periode sebelumnya.

Trader menggunakan Pivot Point dengan cara mirip penggunaan level Fibonacci Retracement, dalam hal hampir semua pelaku pasar memperhatikan level-level tersebut dalam memprediksi arah pergerakan harga. Hanya saja, perbedaannya, untuk menentukan titik swing high dan swing low pada level-level Fibo Retracement masih ada unsur subyektif, tergantung dari analisa trader masing-masing. Di sisi lain, untuk menentukan Pivot Point berikut level-level SR-nya, para trader forex menggunakan suatu metode (rumus baku) yang sama.

Pivot Point khususnya berguna bagi trader jangka pendek atau trader harian yang bermaksud mengambil keuntungan dari pergerakan harga yang tidak begitu besar. Seperti halnya metode trading yang mengandalkan level-level Support dan Resistance lainnya, trader bisa menerapkan konsep bounce dan breakout pada level-level tersebut. Dengan cara bouncing, trader mencoba menentukan level pembalikan arah (reversal), sedangkan trader yang gemar bermain breakout dapat mencoba mengidentifikasi level SR sebagai acuan terjadinya break pada level tersebut. Selanjutnya, mereka akan membuka posisi buy atau sell dekat dengan level-level tersebut.

Berikut contoh Pivot Point dan level-level SR pada chart EUR/USD 1-Hour. PP adalah Pivot Point, R1 adalah level Resistance pertama, R2 merupakan Resistance ke 2, S1 level Support pertama, S2 level Support kedua, dan seterusnya.

Penggunaan Pivot Point

 

Menentukan Pivot Point Serta Level Support Dan Resistance

Untuk menentukan level-level Support dan Resistance, pertama kali kita mesti menentukan Pivot Point. Pivot Point ditentukan berdasarkan harga tertinggi, terendah, dan penutupan pada hari sebelumnya. Pada umumnya, trader menggunakan acuan penutupan pasar New York, yaitu pada jam 4:00 p.m EST atau sekitar jam 4:00 pagi WIB.

Pivot Point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan)/3

Level Resistance pertama (R1) = (2 x PP) - harga terendah
Level Support pertama (S1) = (2 x PP) - harga tertinggi
Level R2 = PP + (harga tertinggi - harga terendah)
Level S2 = PP - (harga tertinggi - harga terendah)
Level R3 = harga tertinggi + 2 x (PP- harga terendah)
Level S3 = harga terendah - 2 x (harga tertinggi - PP)

Perlu diketahui, Anda tidak harus menghitung PP atau level-level Support dan Resistance setiap kali trade, karena saat ini sudah banyak platform trading yang menyediakan indikator Daily Pivot (Pivot Point Harian) dan bisa langsung diterapkan, termasuk pada platform trading populer Metatrader. Hanya saja, Anda mesti mengatur waktu penutupan berdasarkan jam acuan yang digunakan broker Anda.

 

Level Intermediate

Level Intermediate (mid point level) adalah level-level pertengahan antara PP dan S1, S1 dan S2, S2 dan S3, juga antara PP dan R1, R1 dan R2, R2 dan R3.

Penggunaan Pivot Point

Level Intermediate adalah level-level acuan yang kadang-kadang digunakan bila jarak PP ke S1 atau S1 ke S2 dan seterusnya cukup besar. Seringkali pergerakan harga bouncing pada level-level intermediate tersebut (seperti gambar contoh di atas). Oleh sebab itu, ketika trader menggunakan Pivot Point, level Intermediate sering dianggap sebagai level Support atau Resistance mini.

 

Menggunakan Pivot Point Untuk Trading Bouncing 

Cara trading yang sederhana menggunakan Pivot Point adalah memperlakukan level-level Pivot tersebut sebagaimana level Support dan Resistance. Biasanya, harga akan menguji level-level tersebut sebelum bouncing (berbalik arah gerak) atau break (meneruskan arah gerak). Bahkan, pengujian bisa terjadi beberapa kali. Karena berfungsi sebagai Support atau Resistance, maka sifat-sifat dasar SR juga berlaku. Makin sering harga gagal menembus level tersebut, maka akan semakin kuat level Support atau Resistance.

Dengan menggunakan Pivot Point, maka kesempatan entry diperoleh ketika harga telah berada pada salah satu level Pivot tersebut, terlepas dari apakah prediksi harga akan bouncing atau break. Contoh berikut adalah entry buy di atas level Support, dengan asumsi ketika harga telah gagal menembus Support, maka akan terjadi bouncing.

Penggunaan Pivot Point

Level target profit bisa ditentukan pada PP (Pivot Point) atau R1 (resistance pertama), atau diantara level tersebut tergantung dari Rasio Risk/Reward yang direncanakan. Jika Anda tergolong trader yang agresif, maka level Stop Loss bisa ditempatkan pada beberapa pip di bawah S1 (support pertama), sehingga Rasio Risk/Reward cukup tinggi. Namun, trader yang konservatif akan menentukan level stop loss di bawah S2 (support kedua) dengan asumsi jika harga menembus S1 tetapi tidak menembus S2, maka masih ada kemungkinan bouncing.

Yang terjadi kemudian adalah: Ternyata pergerakan harga mengalami bouncing pada level S1 dan PP. 

Penggunaan Pivot Point

Agar Anda lebih percaya diri ketika entry, gunakan juga indikator teknikal sebagai konfirmator untuk mengetahui kekuatan level SR (bisa baca di sini), karena pada dasarnya Pivot adalah level-level Support dan Resistance. Selain itu, Anda juga bisa mengamati formasi candlestick dan setup Price Action yang terbentuk.

 

Menggunakan Pivot Point Untuk Trading Breakout 

Trading bouncing menggunakan Pivot Point tidak selalu berjalan baik, walaupun level SR cukup kuat. Terutama pada waktu pembukaan sesi Eropa atau New York, pergerakan harga cenderung sering break (menembus) level-level Pivot. Juga pada saat sentimen pasar sedang kuat seperti ketika rilis data fundamental penting. Berikut contoh pergerakan harga yang break pada level-level Pivot:

Penggunaan Pivot Point

Dari gambar di atas tampak bahwa sentimen pasar sedang kuat dengan harga pembukaan yang di atas PP. Pada pergerakan selanjutnya, harga menembus R1, R2 dan R3 sebelum kembali menembus R3 dan bouncing di R2. Bagi trader yang agresif, kondisi pasar yang seperti ini tentu sangat menguntungkan. 

Yang penting untuk diperhatikan adalah; sebelum benar-benar menembus level Resistance, harga selalu melakukan retest pada level tersebut. Amati retest pada tanda-tanda lingkaran pada gambar di atas. Sekali lagi, agar Anda lebih percaya diri, bisa diamati setup Price Action dan formasi candlestick yang terbentuk, serta menggunakan indikator teknikal sebagai sarana konfirmator.

 

Menentukan Stop Loss Dan Target Dengan Level Pivot

Bila Anda cenderung agresif dan trading dengan cara breakout, mungkin hal yang agak sulit adalah menentukan level Stop Loss atau resiko. Pada cara trading dengan level Pivot yang konservatif (cara bouncing), resiko biasanya ditentukan beberapa pip di atas atau di bawah level pivot sebelumnya. Namun bila Anda menggunakan cara breakout, maka penentuan level Stop Loss yang seperti ini akan boros pip, atau dengan kata lain mengandung risiko terlalu besar.

Penggunaan Pivot Point

Pada contoh di atas, jika Anda entry buy di sekitar area breakout A, maka Stop Loss bisa ditentukan pada level Intermediate atau pada level terendah bar sebelumnya. Bilamana Anda terbiasa dengan pengamatan formasi candlestick atau setup Price Action, Anda bisa menentukan Stop Loss berdasarkan formasi bar yang terbentuk. Trader yang agresif selalu menentukan resiko seminimal mungkin guna memperoleh Risk/Reward Ratio yang memadai. 

Untuk menentukan level target, Anda bisa menggunakan cara yang sama dengan cara bouncing, yaitu pada level Pivot berikutnya. Anda bisa menentukan target pada 2 atau 3 level Pivot di atas level entry untuk memperoleh Risk/Reward yang besar; tetapi jarang sekali pergerakan pasar yang melewati hingga 3 level Pivot sekaligus, kecuali pada kondisi pasar yang ekstrim. Pada umumnya, pergerakan harga akan berhenti pada satu level Pivot sebelum melanjutkan ke level berikutnya. Jika sentimen pasar berubah, maka pergerakan harga akan segera berbalik arah.

 

Pivot Point Sebagai Indikator Sentimen Pasar

Sentimen pasar dalam hal ini adalah kecenderungan pergerakan harga untuk bullish atau bearish. Yang umum digunakan sebagai patokan adalah harga pembukaan (opening price) pada sesi perdagangan hari itu dan Pivot Point yang dihitung berdasarkan batas-batas harga pada hari sebelumnya.

Misalnya, jika pada sesi Asia, harga dibuka di atas Pivot Point, maka pada sesi tersebut sentimen pasar akan cenderung bullish. Namun, situasi bisa berubah pada sesi berikutnya (sesi Eropa) tergantung posisi pergerakan harga saat itu terhadap Pivot Point. Demikian pula pada sesi New York yang terjadi setelahnya.

Penggunaan Pivot Point

Pada gambar di atas tampak pergerakan harga membentuk gap di atas level Pivot. Lompatan harga atau gap yang terjadi menunjukkan sentimen bullish yang cukup kuat. Selanjutnya pergerakan harga mampu menembus level-level R1, R2 dan R3.

Penggunaan Pivot Point

Pada contoh GBP/USD di atas yang terjadi adalah sebaliknya. Setelah menguji level Pivot, harga turun tajam (ditandai dengan formasi candlestick bearish full body yang lebih panjang) hingga menembus level S1 dan S2. Meski karakteristik pergerakan harga terhadap Pivot Point tidak selalu demikian, tetapi sentimen pasar cenderung untuk bereaksi di sekitar level Pivot.

Penggunaan Pivot Point

Contoh di atas menunjukkan pergerakan harga yang cenderung bearish (1) dan slow pada sesi Asia, serta sempat menguji level S1. Namun, pada sesi Eropa, harga melambung hingga level R2. Perhatikan formasi bar saat harga menembus level Pivot (3). Nampak bahwa harga penutupan (Close) pada bar tersebut berada di atas Pivot.

 

Bagaimana cara trading menggunakan Pivot Point jika pasar sedang trending? Simak ulasannya dalam artikel Cara Trading Dengan Pivot Point Pada Pasar Yang Trending.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Reggi Ish
Banyak kali ya garis2 yg muncul? itu semua cara analisanya gimana?
Martin S
@ Reggi Ish:
Pertama perhatikan pivot point (PP)-nya, kemudian level-level resistance (R1, R2) kalau harga bergerak naik, atau level-level support (S1, S2) kalau harga bergerak turun.
Jainul
@reggi: penjelasannx masi buanyak...... lanjut aja ke bagian selanjutx......
Er.close
knp pivot poin ni dsbt leading indi yg objektif dr yg lain? apa yg lain ngg bs dblng objektif jg? trus keuntungannya apa klo pivot poin ni lbh objektif?
Martin S
@ Er.close:
Disebut obyektif karena perhitungannya berdasarkan pada harga tertinggi, terendah dan harga penutupan, sehingga keuntungannya hasil perhitungan pivot point akan sama bagi mereka yang menggunakan (tidak ada perbedaan antara satu trader dengan trader lainnya). Berbeda dengan penentuan level-level Fibonacci yang lebih subyektif sehingga antara satu trader dengan lainnya bisa berbeda.
Evan Irawan
meski dikatakan banyak dipakai trader jangka pendek tapi pp paling maksimal ditempatkan di frame yg tidak terlalu rendah.
Bunas Rajo
Halo, salam Numpang nanya, bedanya pivot point dengan fibo retracement apa yah selain subyektifitas swing hi dan lo-nya? Mana yang lebih akurat untuk menentukan SR? dan pada timeframe apa bagusnya pivot point ini?
Martin S
@ Bunas Rajo:
  • Bedanya kalau level-level Fibonacci retracement ditentukan berdasarkan deret Fibonacci, bukan dengan rumus harga tertinggi, terendah dan harga penutupan seperti pada perhitungan pivot point.
  • Untuk menentukan level support dan resistance Fibonacci retracement dan expansion lebih akurat dibandingkan pivot point.
  • Analisa dengan pivot point biasanya digunakan pada time frame dibawah daily (H4, H1, M30 dst) untuk daily pivot dan pada pada time frame dibawah weekly untuk weekly pivot.
Frengki Simamor
Mohon tanya untuk para Guru. Di MT4 saya kok Indikator Pivot Poin ngak ada ya?
Martin S
@ Frengki Simamor:
Pivot point memang bukan indikator ataupun tools bawaan Metatrader. Anda bisa unduh disini untuk Metatrader 4 dalam bentuk file mq4.
Fahmi
Jd kalau menentukan titik entry menghitung pp dari smisal candle merah terus slama 4 hr...gimana master.,? Kan kata master dr harga sbelumnya