Penyebab Margin Call Paling Berbahaya

Penyebab Margin Call paling utama bukan berasal dari sistem yang tidak akurat atau broker yang kurang mendukung. Percaya atau tidak, sumbernya berasal dari diri Anda sendiri.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Mengalami Margin Call adalah hal yang paling dihindari oleh trader. Bagaimana tidak, Margin Call adalah tanda bahwa modal trading kita telah menipis dan terancam tidak bisa membuka posisi baru. Tidak hanya trader baru, trader yang sudah berpengalaman pun kadang tak luput dari Margin Call. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui dua penyebab Margin Call paling berbahaya dan menghindarinya.

 

Sekilas Mengenai Margin Call

Saat mulai terjun ke dunia trading forex, Anda akan akrab dengan istilah Margin Call. Ada berbagai kisah yang diceritakan oleh banyak trader mengenai "panggilan tidak mesra" ini, tetapi sangat sedikit yang membagikan tips bagaimana cara menghindari penyebab Margin Call. Sebelum berbicara lebih lanjut, sudah tahukah Anda seperti apa Margin Call yang sebenarnya?

Menghindari margin Call

(Baca Juga: Apa Itu Margin Call?)

Kebanyakan trader salah mengira bahwa Margin Call sama dengan Stop Out, dimana posisi yang sedang dibuka dan mengalami Loss akan secara otomatis ditutup oleh broker karena modal sudah tidak mencukupi. Hal ini tidak sepenuhnya benar, tetapi tidak sepenuhnya salah. Ada broker yang memberikan level Margin Call dan Stop Out-nya pada nilai yang sama, tetapi ada juga broker yang menyediakan batasan berbeda. Kuncinya adalah membaca dengan teliti penawaran broker mengenai Margin Call dan Stop Out

Contohnya seperti ini:

Jika Anda bertrading pada broker yang memberikan peraturan Margin Call Level 30% dan Stop Out Level 20%, berarti pada saat Margin Call Level (Equity/margin total x 100%) sudah mencapai 30%, maka Anda akan 'diperingatkan' oleh sistem broker untuk menambah dana. Dalam kasus ini, Anda masih bisa terus trading.

Namun apabila Anda mengacuhkan peringatan tersebut dan membiarkan kerugian hingga mengikis modal trading Anda hingga tersisa 20% saja (Stop Out Level), maka barulah posisi trading akan secara otomatis dihentikan. Di sinilah saat posisi trading yang terbuka secara otomatis akan tertutup.

Nah, sekarang Anda tahu apa itu Margin Call yang benar. Margin Call bukanlah hal yang tiba-tiba terjadi, atau yang sering dikatakan oleh para trader awam sebagai "akal-akalan broker untuk menguras modal trading". Melalui perhitungan yang benar serta ketelitian, ada yang bisa dilakukan untuk menghindari penyebab Margin Call. Sebelum mengetahui cara menghindarinya, kita perlu tahu apa saja penyebab Margin Call tersebut.

 

Penyebab Margin Call Berasal Dari Diri Sendiri

Ada pepatah yang mengatakan, "Jika Anda mengenal musuh dan mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut akan hasil dari seratus pertempuran. Jika Anda hanya mengenal diri sendiri tanpa mengenal musuh, pada setiap kemenangan yang Anda dapatkan, Anda juga akan mengalami kekalahan."

Dari petikan di atas, dapat disimpulkan bahwa ketidaksadaran terhadap diri sendiri adalah hal yang sangat berbahaya. Dalam trading forex pun demikian, karena kerugian besar yang sampai bisa mendatangkan Margin Call secara umum berasal dari kurangnya kesadaran diri trader terhadap kelemahannya.

Sekarang, tanyakanlah pada diri Anda sendiri: apakah Anda masih sering melakukan dua hal yang menjadi penyebab Margin Call ini?

 

1. Over Self-Confidence Alias Terlalu Percaya Diri

Self-Confidence (kepercayaan diri) dengan takaran yang benar memang mutlak diperlukan bagi seorang trader. Jika seorang trader tidak punya rasa percaya diri, tentu akan sulit meraih profit. Jangankan meraih profit, jika untuk membuka atau menutup posisi saja tidak memiliki kepercayaan diri, tentu trader tersebut tidak akan bergerak kemana-mana. Akan tetapi, perasaan percaya diri yang berlebihan juga berbahaya.

Anda baru saja mendapatkan profit besar? Selamat. Namun jangan lupa untuk tetap berdisiplin dengan Money Management yang dimiliki. Kecenderungan untuk kembali membuka posisi setelah mendapatkan profit, merupakan aksi berisiko yang tanpa disadari dapat menjadi penyebab Margin Call. Beberapa trader merasa sangat beruntung saat baru saja meraih profit dan merasa pasar sedang berpihak kepadanya, lalu 'mempertaruhkan' modalnya dengan membuka posisi baru yang berukuran lebih besar.

Money Management

(Baca Juga: Contoh Money Management Yang Baik)

Over Self-Confidence bisa membuat trader menjadi terlalu berani untuk membuka posisi, bahkan di saat analisa yang dilakukannya terkadang tidak sesuai dengan kondisi pasar. Dengan berbekal keyakinan yang terlalu tinggi, biasanya trader yang terkena penyakit ini akan terus main hantam sesuai keyakinan dia, meskipun akibatnya berakhir dengan mengoleksi Floating negatif. Cepat atau lambat, Over Self-Confidence akan menjadi penyebab Margin Call datang menyapa.

 

2. Overtrading Alias Melakukan Trading Di Luar Kemampuan

Saat penyakit Over Self-Confidence melanda, maka biasanya diikuti dengan penyebab Margin Call berikutnya, yaitu Overtrading. Kalau keyakinan sudah terlalu berlebihan, maka melakukan Open Posisi akan lebih didasari oleh emosi, bukan lagi perhitungan matang. Trader jadi menganggap enteng aktivitas trading yang dia lakukan. Ketika salah meletakkan Stop Loss, bukannya rehat dan mengevaluasi diri, dia justru masuk ke pasar lagi. Jika masih salah juga, dia justru jadi semakin penasaran dan membuka posisi baru, kali ini dengan Volume yang lebih besar.

stop loss

(Baca Juga: Apa Itu Stop Loss Forex?)

Pernah melakukan hal seperti ilustrasi di atas? Berarti Anda telah terjangkit penyakit Overtrading. Mungkin Anda pernah mendengar strategi trading dengan metode Martingale, dimana trader terus membuka posisi ketika memperoleh kerugian sampai mendapat keuntungan yang lebih besar. Akan tetapi, cara seperti itu bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh trader pemula dengan modal terbatas.

Harus diingat kembali, trading forex bukanlah sebuah perjudian. Saat Anda membuka posisi, pastikan Margin yang Anda miliki kuat untuk menahan risiko kerugiannya. Hal ini terkadang susah untuk dilakukan, karena sifat penasaran manusia memang biasanya menuntut seseorang untuk selalu membuktikan bahwa hasil analisanya benar.

 

Tips Untuk Menghindari Penyebab Margin Call

Sebenarnya, tips untuk mencegah penyebab-penyebab Margin Call di atas cukup sederhana. Salah satunya adalah: Sebelum terjun ke akun riil, berlatihlah terlebih dahulu di akun demo. Jika aktivitas trading Anda pada akun demo saja sudah diwarnai dengan Over Self-Confidence dan Overtrading berkali-kali, jadikan hal itu sebagai Warning. Itu artinya, Anda harus melatih psikologi trading agar tidak mudah emosional dan menaruh posisi hanya berdasarkan perasaan. Pelajari artikel-artikel mengenai mencegah emosi trading serta belajarlah untuk mengakui kesalahan.

 

penyebab margin call paling bahaya

Tips yang lainnya adalah terus belajar mengenai manajemen risiko dalam forex, sehingga Anda dapat menyeimbangkan modal yang dimiliki dengan Margin yang sesuai. Mulailah melihat Margin Call sebagai tantangan yang harus mampu dihindari, bukan sebagai momok yang terus diingkari keberadannya, atau dianggap sebagai vonis mati dalam dunia trading. Jika Anda telah mempersiapkan diri untuk membatasi risiko sebelum bertemu dengan MC, maka aktivitas trading Anda akan terasa lebih menyenangkan.

Lalu bagaimana jika Anda sudah terlanjur kena Margin Call karena dua hal di atas? Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki diri dan tidak terjerumus ke jurang penyebab Margin Call yang sama? Kunci mengatasi masalah ini terletak pada kesadaran dan pengendalian diri Anda; pertama-tama, Anda mesti sadar telah terjerumus Over Self-Confidence dan melakukan Overtrading. Kedua, Anda harus belajar mengendalikan ego dan rasa ingin selalu benar. Bagaimanapun juga, trading forex bukan tentang benar atau salah, melainkan tentang seberapa besar dan konsisten profit bersih yang telah Anda kumpulkan.

Hampir semua trader pernah mengalami Margin Call, bahkan trader dengan kemampuan teknikal yang tinggi sekalipun. Hal itu karena Margin Call tidak bisa dihindari hanya dengan analisa teknikal yang baik, tapi juga wajib diatasi dengan perhitungan Money Management yang mumpuni. Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai Money Management yang baik, silahkan berdiskusi langsung dengan ahlinya di halaman Tanya Jawab berikut ini.


Lulusan Sastra Inggris, menyukai dunia tulis menulis sejak SMP. Berpengalaman sebagai Purchasing Staff kontraktor dan industri manufaktur selama 3 tahun sebelum bergabung menjadi penulis di Seputarforex. Masih terus belajar mengenai dunia trading.


Fajri.suryono
trader yang kurang pd mungkin bisa dibilang bukan trader sejati. tapi bkn berarti mrk gk tau ato gk bisa trading sama sekali. bisa jd trader itu lebih milih ngikut strategi org lain krn dia tau dan sudah memperhitungkn kl strategi org itu mang sudah teruji. setiap hsl trading yg gagal krn saran org lain emang gk bisa disalahin gitu aja ke org lain krn tradernya sendiri yg mutusin prcaya ke org itu. tp klo ada or lin yg ngajuin diri jd penasehat trading krn bilangnya udh jago tradin kn itu jg bukan sepenuhnya salah si trader..
Teguh Handoko
betul gan, ane juga perhatiin, contohnya dari copy trader, karena tradingnya ngikut orang lain bukan berarti mereka g bisa trading, karena sekarang ini banyak trader yang bisa dicopy tradingnya. untuk milih trader yang tepat sebelumnya mereka kan juga pasti harus analisa strategi trading, ngikuti perkembangan, perhatiin tingkat kesuksesan trader itu dari waktu ke waktu. untuk percaya sama hasil perhitungan itu kan juga dibutuhkan rasa percaya diri. jadi ane rasa ini bukan soal rasa kurang percaya diri yang bikin trader jadi g sejati (?) tapi sadar sama kemampuan trading dan mengantisipasi resiko dengan cara alternatif.
El Ferdinand
sekedar menambahkan, salah satu alasan mengapa ada trader yang lebih memilih untuk menginvestasikan dananya untuk dikelola trader lain adalah karena adanya keterbatasan waktu yang dimilikinya. model-model social trading seperti pamm contohnya, sasaran investornya adalah mereka para trader profesional yang ingin tetap berinvestasi namun tidak punya cukup waktu untuk secara rutin menjalankan kegiatan tradingnya sendiri dengan demikian kurang tepat juga untuk menyebut mereka sebagai trader yang sekedar "ngikut" orang, karena mereka sudah punya pemahaman dan pandangan tersendiri tentang trading yang membantunya untuk bisa memilih trader potensial dan memantau protofolio trader yang telah dipilihnya untuk memastikan kondisi investasinya.
Alan
dimana-mana kalo yg namax nurutin emosi psti jdi rugi sndri. btw gmn carax membatasi rasa pd ya? kan tu bs dateng sewaktu-waktu tnp kita sadarin... tau-taunya pas kita udah rugi n stlh diliat2 lg trnyt krn faktor kepedean......
Andre Rukhin
menurut gw cara paling ampuh itu adlh dgn ngerasain sendiri akibat buruk dr kepedean itu. jd sebelum ada rasa kapok yg muncul kt g akan bener2 termotivasi bwt membatasi rs pede kita. jd jalanin aja prosesnya, gw pikir tiap trader pst pernah ngalamin hal ini yg penting kita sadar aja sm kesalahan kita sndiri, dn mau merubah sikap + cr pandang. klo sampe akhir tetep msh suka kepedean, g sdr sm kesalaha sndr dn g mw ngerubah sikap ya... siap2 bye bye aja sm akun tradingnya.
Mr X
@Alan: Coba setiap akan open position, anda lebih mempertimbangkan kemungkinan los daripada untungnya. Dengan begitu anda sudah memiliki keyakinan bahwa hasil analisis anda juga mempunyai cela, kalo anda menganggapnya sempurna, maka sudah pasti perhitungan trading anda tidak akan mengantisipasi los yang mungkin terjadi.
Alan
kuncix tetep inget kalo kita ini juga manusia ya... masih bisa salah.. yeyeye.... kembali ke dsr.....
Triono
btl gn. bkn cm sdr sm sisi "kemanusiawian" kt aja, tp sdr sm kondisi market yg unprediktable jg bs tuh dmasukan jg. ndak sdkt loh trdr yg msh prcy sm adany sistem holy grail. mrk pikir d dunia ini ada sistem yg 100% bs diandalkan. pdhl sebagus2 apapun sistem ttp ndak akan mngkn bs 100% akurat memperkirakan pgrkn market. byngkn ja kl trdr mrs udh trdng dgn sistem yg baik & d anggapx holy grail. dia jg bs trlalu pd & yakin sistemx itu ndak akan prnh gagal. wew, bhy jg kn?
Agustia
Betul skali. 1 kata yg mewakili emosi overpede berlebihan yg sering dirasakan sewaktu trading memang : gemes. Inti nya di forex mesti pinter2 nahan diri g boleh terlalu emosi tiap liat loss atopun profit. Anggep aja itu semua emg bagian wajar dari yg nama nya trading. Klo dlm trading masi suka merasa g bisa rela ngelepas loss, blm setia sama sistem trading, berarti jgn dlu berani gemes dlm open trade. Inget disini juga ada yg nama nya perhitungan modal dn penggunaan ukuran trading. Klo sampe terpengaruh emosi yg g bener macam itu bukan cuma menang g nya posisi aja yg jadi taruhan nya, tp juga besar kecil loss nya.
Agus
enaknya pakai system martinem aja...tp kelipatannya setiap 50 ...soalnya gak mungkinlah dlm 1 hari naik terus atau turun terus langsung 200 poin...kecuali yg SNB kemarin...
Rusdi Yanto
udah pernah coba praktekin gan?? kok ragu apa g mending pake anti martingale?? kan lebih mantap tuh ...
Maulana Haris
Banyak trader yg margin call nyalahi broker, padahal itu kesalahan mrk sendiri yg overtrading
Achmad Kusuma
tp ada jg broker yg jadi SL hunter gan.... intinya hati2 aja pilih broker