Pertambangan Bitcoin Vs Ethereum: Mana Yang Lebih Menguntungkan?

Dikenal sebagai mata uang kripto utama, Bitcoin ternyata sudah mulai disusul oleh Ethereum yang memiliki potensi menarik di masa depan. Bagaimana perbandingan keduanya?

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Ada beberapa perbedaan penting antara pertambangan Bitcoin dan Ethereum, yang berasal dari fakta bahwa kedua mata uang kripto ini dikembangkan dengan tujuan yang sangat berbeda. Pada saat pertama mengetahuinya, mungkin sulit untuk menentukan perbedaan antara kedua kripto ini, tetapi jika digali lebih dalam, Anda akan menemukan kontras mencolok di antara keduanya. Lantas, apa saja perbedaan penting antara Bitcoin dan Ethereum, dan bagaimana pengaruhnya terhadap proses pertambangan kedua kripto tersebut?

Bitcoin vs Ethereum

 

Memahami Pertambangan Bitcoin

Sebagaimana dijelaskan oleh penciptanya, Satoshi Nakamoto, Bitcoin adalah sistem transaksi keuangan elektronik peer-to-peer terdesentralisasi. Protokolnya bekerja dengan memanfaatkan persamaan matematika yang menambahkan blok ke rantai transaksi, yang kemudian dikenal sebagai Blockchain. Setiap blok menggunakan kode hash dari blok sebelumnya ke Timestamp blok yang baru ditambahkan.

Blok kemudian ditambahkan ke Blockchain setiap sepuluh menit, melalui penambang yang bersaing satu sama lain untuk mencari persamaan matematis (SHA-256). Jawabannya harus dimulai dengan empat nol. Proses ini membutuhkan kekuatan pemrosesan komputer yang besar. Penambang pertama yang menemukan solusi untuk persamaan tersebut akan menerima imbalan sebesar 12 BTC.

Setiap penambang (node) pada Blockchain bekerja bersama untuk memastikan rantai transaksi terpanjang adalah rantai yang valid. Selama ada 51% node yang benar, Blockchain akan tetap tersedia. Tindakan memvalidasi rantai disebut konsensus. Sistem yang juga disebut sebagai Proof-of-Work ini merupakan inti dari protokol Bitcoin.

 

Bitcoin UTXO

Bitcoin menggunakan skema keluaran transaksi yang tidak terpakai (UTXO), untuk menghilangkan pengeluaran ganda pada jaringan dan melacak basis data. Dalam protokol ini, pengguna tidak benar-benar mengirim Bitcoin saat ia bertransaksi. Sebaliknya, apa yang mereka kirim adalah hash dari blok sebelumnya.

Jadi intinya, pemegang Bitcoin tidak benar-benar memegang token tersebut. Dalam protokol Bitcoin UTXO, pengguna menyimpan output ke sejumlah token tertentu, yang dapat ditandatangani pemilik baru sebagai simbol finalisasi transfer atas kontrol sejumlah Bitcoin. Jika ini terdengar membingungkan, mari kita periksa tiga aturan dasar protokol Bitcoin UTXO untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

  1. Jumlah input setiap transaksi harus lebih besar daripada jumlah outputnya.
  2. Semua masukan yang direferensikan harus valid dan tidak ditampilkan seperti yang ditransaksikan.
  3. Setiap input membutuhkan tanda tangan yang sesuai dengan pemilik input. Dengan demikian, setiap transaksi Bitcoin harus memiliki input dan output yang harus diselesaikan

Satu-satunya proses yang tidak membutuhkan ketiga faktor di atas adalah saat pembuatan Bitcoin baru selama proses penambangan. Transaksi ini hanya akan memiliki output dan dikenal sebagai transaksi Coinbase (bukan nama dari salah satu bursa kripto).

 

Kesulitan Pertambangan Bitcoin

Kesulitan pertambangan Bitcoin meningkat secara signifikan selama dua tahun terakhir, sebagai akibat dari penambahan kekuatan hash pada jaringan. Kesulitan jaringan Bitcoin disesuaikan untuk mengimbangi peningkatan daya hash, guna memastikan waktu penambahan blok tetap konsisten sekitar sepuluh menit.

Pertambangan Bitcoin

(Baca juga: Bitcoin Mining Vs Pertambangan Cryptocurrency Lainnya)

Pada tahun 2015, penambang Bitcoin melihat awal peningkatan yang cukup besar dalam kekuatan jaringan hash, terutama karena diperkenalkannya antminer Bitmain. Antminer menggunakan chip yang dirancang secara khusus (ASIC) untuk kegiatan pertambangan Bitcoin. Chip ini ribuan kali lebih efektif dalam menyelesaikan algoritma SHA-256, yang pada dasarnya menggunakan sistem Proof-of-Work.

Kemajuan pertambangan dan perangkat keras ini meningkatkan kesulitan dan biaya start-up yang dibutuhkan untuk menambang Bitcoin. Saat ini, perangkat ASIC myaris selalu dibutuhkan agar seorang penambang bisa kompetitif. Ia juga sebaiknya bergabung dengan kolam pertambangan (Mining Pool), karena pertambangan secara individu hampir mustahil menghasilkan profit untuk saat ini. Mining Pool memanfaatkan upaya penggabungan kekuatan komputasi dari seluruh penambang yang berpartisipasi. Dalam hal ini, tingkat kontribusi penambang menentukan besar imbalan mereka.

 

Memahami Pertambangan Ethereum

Ethereum berbeda dari Bitcoin dalam banyak aspek. Salah satu perbedaan paling mencolok adalah: Ethereum merupakan platform perangkat lunak terpusat. Tidak seperti Bitcoin, Ethereum memiliki kantor pusat dan pendiri terkenal, yakni Vitalik Buterin. Ethereum mendukung struktur akun ganda, di mana kedua kunci pribadi akun bisa terkontrol dan terkode dengan baik dalam platform yang dikenal sebagai Smart Contract.

Ethereum menggunakan bahasa pemrograman Solidity, yang menyediakan integrasi Smart Contract dengan lebih mudah. Smart Contract Ethereum membantu memfasilitasi pembuatan token menggunakan protokol ERC-20 dan ERC-721.

ERC-20 telah menjadi protokol pembuatan token primer di ruang kripto, sementara ERC-721 terus mengalami peningkatan adopsi berkat peningkatan tokenisasi aset digital di dunia nyata.

 

Bagaimana Cara Pertambangan Ethereum Bekerja?

Protokol utama di balik proses pertambangan Ethereum adalah sama dengan Bitcoin. Node bersaing satu sama lain untuk menyelesaikan persamaan matematika. Node yang mampu menambahkan blok berikutnya ke Blockchain akan menerima hadiah sekitar 3.5 ETH. Sekedar informasi, sebuah blok terpasang ke Blockchain ETH setiap 14-16 detik.

Protokol pertambangan Ethereum

(Baca juga: Peluang Investasi Di Ethereum, Kripto Terbaik Kedua Setelah Bitcoin)

Tidak seperti Bitcoin yang menggunakan SHA-256, Ethereum menggunakan algoritma pertambangan ethash. Akan tetapi, Ethereum tidak jauh berbeda dari Bitcoin yang menggunakan sistem Proof-of-Work. Akibatnya, proses pertambangan kedua kripto tersebut sama-sama mengkonsumsi listrik dalam jumlah besar.

 

Protokol Berbasis Akun Ethereum

Ethereum menggunakan pendekatan yang lebih sederhana untuk masalah pengeluaran ganda. Tidak seperti Bitcoin, pengguna Ethereum bisa benar-benar mengirim token, bukan hanya pemindahan kontrol atas sejumlah nilai token.

Ada beberapa alasan mengapa Ethereum memilih protokol ini daripada versi Bitcoin UTXO. Salah satunya, Ethereum bisa menjalankan protokol ini karena ia masih tersentralisasi. Tim pengembang Ethereum memang memastikan bahwa ketika seseorang mengirimkan ETH, ia juga akan memiliki token di Dompetnya, sebelum mengirim persetujuan permintaan transaksi.

Sentralisasi ini juga berarti bahwa pengembang dapat membatalkan, mengembalikan uang, dan membalikkan transaksi jika dirasa perlu. Mereka sudah menunjukkan kemampuan ini sebagai penanggulangan atas masalah hacking organisasi otonomi terdesentralisasi (DAO), yang terjadi pada tanggal 17 Juni 2016 silam. Dalam insiden ini, pengembang berhasil mengembalikan 50 juta Ethereum yang dicuri, dengan memulai Hardfork dan menciptakan pembagian kripto Ethereum Classic (ETC) serta Ethereum (ETH).

Ethereum dan Ethereum Classic

(Baca juga: Sejarah Kelam Di Balik Ethereum Dan Ethereum Classic)

 

Kesulitan Pertambangan Ethereum

Penambang Ethereum mengalami peningkatan laju hash sejak 2016, tetapi angkanya belum mendekati peningkatan hash Bitcoin. Hal itu karena Ethereum masih bisa ditambang dengan menggunakan GPU. Meskipun perangkat ini jauh lebih kuat daripada pertambangan dengan CPU, kemampuannya belum bisa dibandingkan dengan ASIC.

Penambang GPU memiliki beberapa keuntungan dan kerugian jika dibandingkan dengan penambang ASIC. Penambang GPU dapat menambang beberapa mata uang kripto, terlepas dari algoritma hash mereka. Selain itu, pertambangan dengan GPU jauh lebih murah daripada rig pertambangan ASIC. Bagi sebagian besar penambang, fleksibilitas ini sangat penting untuk strategi mereka.

Akan tetapi, penambang GPU memiliki kemampuan kinerja yang masih rendah. GPU juga bukan perangkat yang bisa berdiri sendiri. Hal ini tentu kurang menguntungkan jika dibandingkan dengan rig pertambangan ASIC yang biasanya hanya membutuhkan satu daya.

 

Perubahan Protokol Pertambangan Ethereum

Pengembang Ethereum mengumumkan bahwa dalam bulan-bulan mendatang, mereka berencana untuk beralih dari sistem Proof-of-Work ke sistem Proof-of-Stake, yang tidak memerlukan perangkat keras mahal atau daya komputasi yang sangat besar.

Perubahan sistem pertambangan Ethereum

(Baca juga: Proof-of-Work Dan Proof-of-Stake Dalam Penciptaan Kripto Blockchain)

Perubahan ini akan membentuk ulang sistem reward bagi penambang Ethereum. Selama masa konversi, pengembang akan membuat sistem hibrida yang memungkinkan penambang untuk memilih antara 2 metode pertambangan.

Keputusan untuk mengubah protokol pertambangan diharapkan dapat membantu mengurangi sentralisasi pada Blockchain. Perlu diketahui, lima pertambangan saat ini telah mendominasi sektor pertambangan Ethereum. Menurut laporan terbaru, Ethermine, f2pool_2, dan ethfans.org bertanggung jawab atas 85% dari laju jaringan Ethereum.

 

Perbandingan Profitabilitas Bitcoin Vs Ethereum

Sulit untuk menulis perbandingan profit pertambangan Bitcoin dan Ethereum secara tepat, karena ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Meskipun kedua mata uang kripto itu memerlukan investasi besar untuk memulai operasi pertambangan, kita harus mempertimbangkan fakta bahwa suplai Bitcoin jauh lebih sedikit daripada Ethereum. Kelangkaan ini dapat menghasilkan keuntungan substansial dalam harga Bitcoin di masa depan.

Namun jika dilihat dari fungsinya, Ethereum memiliki peran yang unik di ruang kripto. Baik ERC-20 maupun ERC-712 merupakan protokol tulang punggung dari mayoritas token di pasar kripto saat ini. Ketergantungan ini menunjukkan bahwa Ethereum akan mampu menyusul Bitcoin dalam hal kapitalisasi pasar total di tahun-tahun mendatang.

Jika kita bandingkan pengeluaran yang diperlukan untuk rig pertambangan dan sumber daya listrik yang digunakan, tentu saja Ethereum bisa menjadi pilihan yang lebih unggul. Apalagi, jika perpindahan konsensus Ethereum dari PoW menjadi PoS sukses dilakukan, pertambangan Ethereum akan jauh lebih menguntungkan daripada yang sebelumnya.

 

Selain dengan Bitcoin, sistem kerja Ethereum juga menarik untuk dibandingkan dengan kripto lain, yakni Cardano. Apa yang unik dari perbandingan ini? Simak selengkapnya dalam artikel Ethereum Vs Cardano: Perbandingan Dua Platform D-App Ungulan.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.