Pivot Point Dalam Trading Forex

176681

Pivot Point adalah salah satu cara yang banyak digunakan oleh trader untuk menentukan Support dan Resistance pada pergerakan harga. Pivot Point dibuat berdasarkan harga tertinggi (High), harga terendah (Low), dan harga penutupan (Close) pada periode sebelumnya, untuk menghasilkan estimasi level Support dan Resistance pergerakan harga di masa depan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pivot Point adalah salah satu cara yang banyak digunakan oleh trader untuk menentukan Support dan Resistance pada pergerakan harga. Pivot Point dibuat berdasarkan harga tertinggi (High), harga terendah (Low), dan harga penutupan (Close) pada periode sebelumnya, untuk menghasilkan estimasi level Support dan Resistance pergerakan harga di masa depan.

Sebagaimana diketahui, trading forex memerlukan level-level referensi, yaitu Support dan Resistance yang digunakan untuk menentukan kapan kita mesti entry, serta dimana kita harus menentukan level Stop Loss dan target (Take Profit). Jika Anda perhatikan, level-level Support dan Resistance sangat penting untuk menentukan besarnya resiko dalam trading. Tanpa perhitungan resiko yang benar, besar kemungkinannya Anda akan terkena Margin Call. Sebaliknya, dengan menentukan resiko yang sesuai pada setiap trade, maka dalam jangka panjang hasil trading Anda akan cenderung profitable.

Salah satu alat yang secara nyata membantu dalam menentukan level-level referensi Support dan Resistance yang potensial adalah Pivot Point. Nah, artikel ini menelaah akurasi Pivot serta mencontohkan kombinasi antara Pivot Point dan indikator teknikal yang akan lebih powerful dan lebih efektif dalam trading forex, dibandingkan jika Anda hanya trading menggunakan indikator teknikal saja.

 

Pivot Point Dalam Trading Forex

Pivot Point pada mulanya digunakan oleh para trader saham dan futures, tetapi sekarang sudah lazim digunakan dalam trading forex, terutama untuk jangka pendek. Yang sering digunakan adalah Pivot Point Harian, yaitu Pivot Point yang dihitung berdasarkan harga penutupan hari sebelumnya. Trader biasanya menggunakan harga penutupan pasar New York sebagai patokan yaitu jam 4:00 p.m EST atau sekitar jam 4:00 pagi WIB.

Berikut ini contoh Pivot Harian dan level-level Support dan Resistance pada GBP/USD 1 jam. Level Pivot, Support dan Resistance tersebut digunakan sebagai referensi trading pada hari tersebut (pada contoh di bawah adalah untuk tanggal 8 Mei 2014):

 

Pivot Point Dalam Trading Forex

 

Level Pivot dihitung dengan formula:

Pivot  = (High hari sebelumnya + Low hari sebelumnya + Close hari sebelumnya) / 3

Sedangkan level-level Support dan Resistance yang diturunkan dari level Pivot, dihitung dengan formula:

Resistance pertama (R1) = (2 x Pivot) - Low hari sebelumnya

Support pertama (S1) = (2 x Pivot) - High hari sebelumnya

Resistance ke-2 (R2) = Pivot + (High hari sebelumnya - Low hari sebelumnya)

Support ke-2 (S2) = Pivot - (High hari sebelumnya - Low hari sebelumnya)

Resistance ke-3 (R3) = High hari sebelumnya + 2 x (Pivot - Low hari sebelumnya)

Support ke-3 (S3) = Low hari sebelumnya - 2 x (High hari sebelumnya - Pivot)

Dalam aktivitas trading, Anda tidak harus menghitung Pivot Point secara manual. Anda dapat memanfaatkan custom indicator untuk memunculkan Pivot Points secara otomatis pada software trading (Metatrader). Atau bila enggan memasang indikator buatan pihak ketiga pada software trading, maka dapat pula menghitung dengan kalkulator Pivot Point yang sudah disediakan oleh Seputarforex.com.

 

Akurasi Pivot Point Sebagai Support Dan Resistance

Seberapa akuratkah perhitungan Pivot Point sebagai acuan level Support dan Resistance? Untuk menguji akurasinya, bisa dilakukan untuk n hari dengan cara:

  • Mengurangi level terendah (Low) aktual pada hari tersebut dengan level Support berdasarkan Pivot Point, yaitu: – S1, Low – S2, Low – S3.
  • Mengurangi level tertinggi (High) aktual pada hari tersebut dengan level Resistance berdasarkan Pivot Point, yaitu: High – R1, High – R2, High – R3.
  • Hitung nilai rata-ratanya untuk setiap hasil perhitungan tersebut.

Jika diterapkan pada pasangan EUR/USD sejak diluncurkannya pada Januari 1999 hingga awal tahun 2010, maka:

  • Rata-rata Low aktual adalah 1 pip di bawah level Support 1.
  • Rata-rata High aktual adalah 1 pip di bawah level Resistance 1.
  • Rata-rata Low aktual adalah 53 pip di bawah level Support 2.
  • Rata-rata High aktual adalah 53 pip di bawah level Resistance 2.
  • Rata-rata Low aktual adalah 158 pip di bawah level Support 3.
  • Rata-rata High aktual adalah 159 pip di bawah level Resistance 3.

Dari statistik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa level-level S1 dan R1 cukup akurat untuk mengukur level Low aktual dan High aktual. Anda akan mengetahui kemungkinan [ergerakan harga terbaik setelah melakukan riset untuk mengetahui akurasi Pivot Point pada pasangan mata uang favorit Anda, atau pasangan mata uang yang sedang Anda trading-kan. 

 

Pivot Point Untuk Menentukan Stop Loss Dan Take Profit

Sebagai kelanjutan dari pengujian akurasi di bagian sebelumnya, untuk pasangan EUR/USD kita akan lihat jumlah hari trading ketika level Low hari tersebut berada di bawah S1, S2 dan S3; serta jumlah hari trading ketika level High hari tersebut berada di atas R1, R2 dan R3. Dari sejak EUR/USD diperdagangkan hingga 12 Oktober 2006 (ada 2026 hari trading) diperoleh:

  • Level Low yang lebih rendah dari S1 sebanyak 892 kali, atau 44% dari keseluruhan jumlah hari trading.
  • Level High yang lebih tinggi dari R1 sebanyak 853 kali, atau 42% dari keseluruhan jumlah hari trading.
  • Level Low yang lebih rendah dari S2 sebanyak 342 kali, atau 17% dari keseluruhan jumlah hari trading.
  • Level High yang lebih tinggi dari R2 sebanyak 354 kali, atau 17% dari keseluruhan jumlah hari trading.
  • Level Low yang lebih rendah dari S3 sebanyak  63  kali, atau   3% dari keseluruhan jumlah hari trading.
  • Level High yang lebih tinggi dari R3 sebanyak  52  kali, atau   3% dari keseluruhan jumlah hari trading.

Informasi di atas sangat berguna dalam menentukan level Stop Loss dan Take Profit yang potensial. Jika Anda tahu level Low pasangan mata uang tersebut sampai di bawah S1 sebanyak 44%, maka tentunya Anda akan cukup yakin untuk menempatkan level Stop Loss di bawah S1. Demikian juga level Take Profit bisa Anda tentukan di bawah R1; karena secara historis, 42% kejadian harga tertinggi (High) sampai di atas R1, sedangkan 58% kejadian harga tertinggi sampai di bawah R1.

Meski demikian, semua ini merupakan kemungkinan yang muncul dari pergerakan harga historis, serta bukan sesuatu yang pasti terjadi di masa depan.

 

Kombinasi Pivot Point dan Indikator Oscillator

Dalam trading forex, level-level support dan resistance yang diturunkan dari pivot point juga lazim dikombinasikan dengan indikator oscillator, yang populer adalah indikator Relative Strength Index (RSI). Berikut contoh kombinasi dengan melihat divergensi RSI dan level-level Support dan Resistance:

 

Pivot Point Dalam Trading Forex

 

Pada contoh di atas, tampak divergensi bearish pada indikator RSI, sehingga asumsi kita pergerakan harga selanjutnya akan turun. Entry Sell bisa dilakukan setelah R1 (yang saat itu telah menjadi Support pergerakan harga) ditembus dari atas ke bawah, bersamaan dengan garis RSI yang menembus level overbought-nya dari atas ke bawah. Stop Loss ditempatkan pada level harga tertinggi sebelumnya, sedangkan target (Take Profit) ditentukan pada level Pivot Point-nya. 

Trading dengan ketentuan yang sama dapat dilakukan lagi pada hari berikutnya, karena divergensi indikator RSI nampaknya belum berakhir.

 

Waktu Untuk Menentukan Perhitungan Pivot Point

Pivot Point bisa dihitung dan ditentukan secara harian berdasarkan harga tertinggi dan terendah hari sebelumnya, atau ditentukan setiap minggu (Pivot Mingguan atau Weekly Pivot) berdasarkan harga tertinggi dan terendah minggu sebelumnya. Dalam kasus tertentu juga bisa ditentukan bulanan. Trader Harian (Day Trader) selalu menentukan Pivot Point secara harian, sedang Swing Trader biasanya menentukan Pivot secara harian dan mingguan.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Imron Jaya
Penasaran nih sama kombinasi pp sam indikator teknikal lain. Belom ada ya di part ini?
Reeves72
ane uda prcaya kok sama pivot poin ndak perlu hitung akurasix segala,, next lanjut ke pembahasan soal pivot poin ma indi teknikal yg lain,,,
Oki Zaynal
Pivot point cocok digunakan di time frame mana aja? Apa karena lebih cocok untuk trading jangka pendek lebih sesuai ditaruh di time frame kcil?
A.x Prima
Oki. Pada awalnya banyak dibilang pivot point bisa digunakan di timeframe manapun, tapi banyak juga yang menyarankan untuk menggunakan di time frame sedang atau lebih tinggi. Ini mungkin untuk yang tidak menggunakan daily pivot yang bisa mendapatkan hasil penghitungan secara otomatis. Tapi dari trader lain yang masih banyak menggambarkan pivot poin secara manual lebih menyarankan untuk tidak menggunakannya di timeframe yang terlalu rendah.
Oki Zaynal
@Prima. Jadi begitu penggunaanny. Apa karena hasil pivot point itu bisa beda ya tiap periodeny? Bener g kalo diasumsikan ini sesuai untuk trading jangka pendek karena range antar levelny itu? Kalo benar ya masuk akal juga pivot point kurang sesuai digunakan di time frame kecil.
Martin S
@ Imron Jaya: ada di part (2), kombinasi dengan indikator RSI.
Martin S
@Oki Zaynal : pivot point lazimnya dihitung untuk basis harian (daily pivot) dan mingguan (weekly pivot), sehingga time frame trading dibawah daily atau weekly. Untuk trader harian biasanya menggunakan time frame 1 hour atau 30 minutes dengan daily pivot, sedang untuk trader jangka menengah panjang menggunakan tf daily untuk weekly pivot. Untuk pivot dibawah daily (misal pivot H4 atau H1) bisa saja dibuat tetapi tidak lazim dan biasanya kurang akurat.