Advertisement

iklan

Pola Rounding Bottom, Peluang Beli Saat Harga Murah

281341

Saat harga menurun, trader suka membeli di harga terendahnya, dengan harapan akan profit ketika naik lagi. Untuk mengetahui peluang tersebut, Anda bisa mencari pola harga ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Bagi trader forex, pola-pola harga Reversal (Reversal Pattern) seperti pola Double Top, Double Bottom atau Head And Shoulder, sering digunakan sebagai panduan untuk mengetahui kapan harga akan berbalik arah. Namun sebenarnya, ada pola harga lain yang juga dapat dipakai dalam mendeteksi Reversal, misalnya pola harga Rounding Bottom. Dari kilasannya, pola ini mampu menangkap peluang trading menguntungkan selama pasar mengalami penurunan. Tidak tanggung-tanggung, pola harga Rounding Bottom menjanjikan potensi meraup keuntungan besar dalam waktu singkat.

rounding bottom thumbnail


Apa Itu Pola Harga Rounding Bottom?

Seperti umumnya pola harga Reversal, pola harga Rounding Bottom adalah formasi batang-batang Candlestick yang mengindikasikan potensi besar bahwa harga akan berbalik arah. Secara visual, pola harga Rounding Bottom tampak seperti mangkuk atau lengkungan pada lingkaran.

Lengkungan pada pola harga Rounding Bottom membutuhkan waktu relatif lama untuk terbentuk. Semakin tinggi Timeframe semakin lama pula trader harus menunggu supaya pola harga Reversal tersebut terbentuk.

contoh#1:
pola harga rounding bottom pada chart EUR/USD

Perhatikan Pair EUR/USD dengan Timeframe H4 di atas. Lengkungan terbentuk dari ratusan candlestick yang berlangsung selama 30 hari. Lengkungan mulai terbentuk saat harga mulai menurun, lalu bergerak mendatar (berkonsolidasi) di bagian bawah lengkungan.

contoh#2:
cara menarik neckline pada pola harga rounding bottom

Setelah harga menurun untuk membentuk setengah dari rentang lengkungan, maka berikutnya harga akan berbalik arah. Arah trend akan berbalik ketika ujung bawah (Low) Candlestick menyentuh dasar lengkungan (lingkaran hijau). Trader dapat mempersiapkan posisi long (beli) ketika trend terus mendaki dari dasar lengkungan lalu menembus Neckline. Ditandai dengan Breakout pada lingkaran merah.

Penentuan letak garis batas Neckline bersifat relatif subyektif. Umumnya, Neckline diletakkan di dekat harga tertinggi atau Swing High pada awal lengkungan. Semakin dekat Neckline dengan dasar Lengkungan, maka semakin cepat pula sinyal Buy pada Breakout akan muncul. Begitu pula dengan resikonya yang semakin kecil. Sayangnya, akurasi dan target profitnya malah semakin menurun.

Karena bentuknya yang melengkung, Pola harga Rounding Bottom hampir serupa dengan pola harga Cup & Handle. Bedanya hanya terletak pada bagian Handle-nya saja. Pada pola Cup & Handle, harga akan terkoreksi pada ujung lengkungan lalu membentuk Channel. Kemudian, harga dapat Breakout ke atas atau ke bawah. Sedangkan pada pola harga Rounding Bottom, tidak ada bagian Handle, karena harga tidak mengalami koreksi pada ujung lengkungan. Harga hanya akan bergerak mendaki lalu menembus Neckline.

Pola harga Rounding Bottom juga memiliki variasi lain yaitu pola Rounding Top. Bila pola Rounding Bottom mengindikasikan pembalikan arah trend ke atas, maka Rounding Top mengindikasikan sebaliknya. Anda dapat memanfaatkan variasi Bearish ini untuk membuka posisi Short (jual) saat harga breakout ke bawah menembus Neckline.

contoh#3:
contoh pola harga rounding top

Prinsipnya hampir sama dengan pola harga Rounding Bottom. Bedanya hanya terletak di penempatan lengkungan yang membusur ke atas di sekitar harga tinggi Candlestick. Neckline berada di dekat Swing Low atau nilai Low pada awal lengkungan.

 

Strategi Trading Pola Harga Rounding Bottom

Pola harga Rounding Bottom relatif jarang ditemukan pada kondisi pasar normal. Selain membutuhkan waktu yang lama, pola harga Reversal ini juga seringkali berubah menjadi pola harga lain, misalnya Head and Shoulder atau Cup & Handle. Meskipun begitu, trader masih bisa mendapat manfaat praktis dari sinyal trading pola harga Rounding Bottom.

Contohnya seperti pada pair XAUUSD dengan timeframe Daily berikut:

contoh#4:
strategi tradig pola rounding bottom

Lengkungan terbentuk selama kurang lebih 4 bulan (122 Candlestick harian). Dua bulan pertama, harga mulai bergerak mendatar (Sideway) lalu menurun hingga menyentuh dasar lengkungan.

Perhatikan bahwa harga kembali bergerak mendatar pada dasar lengkungan. Hal ini mengindikasikan bahwa Buyer berusaha untuk mendorong kembali harga emas yang telah mencapai batas jenuh jual (oversold). Dinamika pasar tersebut diperlihatkan oleh terbentuknya pola Candlestick Three Outside Up di sekitar dasar lengkungan (lingkaran biru).

Dua bulan berikutnya, harga mulai mendaki dari dasar lengkungan. Trader dapat mempersiapkan posisi Long (beli) begitu Candlestick menembus batas Neckline.

Begitu harga menembus Neckline, persiapkan posisi Long (beli) dengan memperhitungkan Money Management dan rasio Risk/Reward. Anda dapat menggunakan tinggi lengkungan sebagai patokan dalam menentukan target profit. Misalnya, dengan rasio 2RR di mana Reward-nya dua kali lipat lebih besar dari resikonya, maka Stop Loss bernilai 50% dari jarak entry ke Take Profit. Pada contoh#4, tinggi lengkungan adalah 100 poin, maka TP berjarak 100 poin pula dari Entry. Sedangkan Stop Loss berjarak 50 poin dari Entry.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pola harga Rounding Bottom bisa menjadi alternatif price pattern potensial untuk dipantau di atas chart. Bukan cuma pola Double Top dan Double Bottom atau Head And Shoulder saja, yang bisa mendeteksi pembalikan arah pergerakan harga. 

Rio Renata aktif menulis di Seputarforex sebagai penulis artikel forex dan broker dalam dua bahasa, khususnya mengenai aspek teknikal. Karena berlatar pendidikan psikologi, ia memandang pergerakan harga pasar layaknya dinamika perilaku individual, yaitu memiliki pola tertentu yang dapat diantisipasi.