Advertisement

iklan

Price To Earnings Ratio (PER), Parameter Penting Di Pasar Saham

Saham-saham dengan PER rendah akan lebih menarik karena laba per saham yang relatif tinggi dibandingkan dengan harga sahamnya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sebelum memutuskan untuk membeli sebuah saham tertentu investor dan trader biasanya terlebih dahulu akan melihat satu parameter penting, yaitu Price to Earning Ratio (P/E Ratio) atau yang populer disebut PER. Meski PER bukan satu-satunya parameter penting yang dipertimbangkan, namun bagi investor dan trader nilai PER mencerminkan prospek sebuah saham.

                                                    Price To Earnings Ratio (PER), Parameter Penting

PER adalah suatu angka perbandingan atau rasio yang menunjukkan tingkat keuntungan tahunan perusahaan penerbit saham (emiten saham) terhadap harga sahamnya saat ini. Saham-saham dengan PER rendah akan lebih menarik karena laba per saham yang relatif tinggi dibandingkan dengan harga sahamnya, dengan demikian tingkat return-nya akan lebih baik.

PER dihitung dari : harga saham saat ini / Earnings Per Share (EPS)

Misal: sebuah perusahaan yang harga per lembar sahamnya $ 80.00 dan keuntungan per lembar sahamnya $ 8.00 maka nilai PER-nya adalah $ 80.00 / $ 8.00 = 10. Angka ini menunjukkan bahwa jika kita membeli saham perusahaan tersebut, maka dengan tingkat inflasi 0%, asumsi periode waktu yang dibutuhkan untuk balik modal adalah sekitar 10 tahun. Hal itu bisa terjadi karena kita membeli saham tersebut dengan 10 kali keuntungan bersih per sahamnya (EPS), dan perusahaan tersebut mempunyai keuntungan tetap sebesar $ 8.00 per saham.

Biasanya untuk mendapatkan gambaran return yang akan kita peroleh, kita cukup menghitungnya dengan 1/PER. Sebagai contoh saham diatas mempunyai return 1/10 atau 10% per tahun. Angka PER bisa digunakan untuk membandingkan kinerja saham tertentu terhadap saham lainnya pada sektor yang sama dalam suatu bursa saham tertentu atau antar sektor dalam skala global. Jika return saham tersebut relatif lebih tinggi, atau PER-nya lebih rendah maka biasanya saham tersebut layak untuk dibeli.

Angka PER yang kecil merupakan salah satu pertimbangan utama bagi investor dan trader, sedang PER yang terlalu tinggi mencerminkan harga saham yang sudah overvalued atau overpriced, dalam hal ini pasar menaruh harapan yang terlalu tinggi pada keuntungan yang akan diperoleh saham tersebut untuk waktu yang akan datang sehingga berani membeli dengan harga yang tinggi, atau mungkin saham tersebut sedang digoreng (dinaikkan harganya dengan cepat dengan cara-cara yang tidak wajar).

Berapa angka PER yang wajar?  Tidak ada angka yang pasti. Di bursa saham AS, setiap sektor mempunyai batas-batas angka PER yang dinilai wajar. Misalnya PER = 20 masih dianggap wajar untuk saham-saham sektor teknologi, sedang untuk saham pabrik tekstil PER yang dianggap wajar sekitar 8. Hal ini disebabkan karena harapan pasar pada pertumbuhan dan sekaligus keuntungan saham-saham sektor teknologi jauh lebih tinggi seiring dengan inovasi dan ekspansi sektor tersebut daripada saham pabrik tekstil yang saat ini dinilai lambat berkembang dan cenderung kurang melakukan ekspansi.

Sumber rujukan : stocks.about.com : Understanding Price to Earnings Ratio

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.