iklan

Profil Christine Lagarde, Wanita Perkasa Dari Bank Sentral Eropa

Lagarde menerima tongkat estafet dari Mario Draghi di kala perekonomian Eropa tengah berusaha pulih dari keterpurukan. Siapakah Lagarde dan seperti apa rekam jejaknya?

iklan

iklan

Bagi trader yang menjadikan Euro sebagai mata uang favoritnya, tentu sedikit banyak tahu soal ECB (European Central Bank). Sepatah-dua patah kata dari pimpinan ECB, bisa membuat si Single Currency ini bergolak. Wajar saja, karena tugas utama ECB adalah menjaga tingkat inflasi negara-negara Zona Euro dan mengendalikan stabilitas mata uangnya.

Pada 1 November 2019, tombak kepemimpinan ECB berpindah dari Mario Draghi ke Christine Lagarde, seorang politisi ulung dari Prancis. Wanita berlatar belakang pendidikan politik ini dipilih melalui voting parlemen Eropa, dengan hasil: 394 mendukung, 206 menolak, dan 49 abstain. Sejak awal pencalonan, anggota parlemen menilai bahwa Lagarde cenderung akan meneruskan kebijakan-kebijakan Mario Draghi.

Pada tanggal 9 Juli 2019, Perdana Menteri Portugis Antonio Costa, mengisyaratkan dukungannya: "Kami telah menemukan seseorang yang bisa memberikan jaminan bahwa ia sejalan dengan kebijakan ketua ECB saat ini (Draghi)"

profil christine lagarde

 

Christine Lagarde, Mantan Menteri Prancis Yang Penuh Kontroversi

Lahir dengan nama Christine Madeleine Odette Lagarde pada tanggal 1 Januari 1956, wanita Prancis ini berasal dari keluarga akademisi. Ayahnya seorang dosen, dan ibunya guru sastra. Lagarde mempunyai 2 anak dari pernikahan sebelumnya. Saat artikel ini ditulis, Christine Lagarde berpasangan dengan Xavier Giocanti.

Lagarde merupakan seorang perenang ulung dan sangat menjaga kesehatan. Di umurnya yang lebih dari 60 tahun, ia bisa dibilang masih perkasa. Lagarde menghindari alkohol dan rokok, memilih untuk menjadi vegetarian dan menyempatkan diri untuk bersepeda. Saat ditanya mengenai filosofi ekonomi yang dianutnya, Christine Lagarde mengaku bahwa dirinya "bersama Adam Smith"(Liberal).

Meskipun begitu, hidupnya tak lepas dari kontroversi, antara lain:

 

1. Menjabat Sebagai Menteri Prancis Sebanyak 3 Kali 

Karir Lagarde dimulai dengan menjadi Menteri Perdagangan Prancis periode 2005-2007. Kebijakannya berfokus pada pembukaan market baru bagi produk dalam negeri dan sektor teknologi. Setelah masa jabatannya berakhir, ia melanjutkan karir sebagai Menteri Pertanian periode 18 Mei 2007–18 Juni 2007. Jabatan Menteri Pertanian yang seumur jagung itu, disusul oleh jabatan Menteri Perekonomian, Finansial, dan Industri mulai 19 Juni 2017-29 Juni 2011.

 

2. Skandal Bernard Tapie Dan Dana Bailout Uni Eropa

Ketika menjabat sebagai Menteri Perekonomian, Lagarde sempat terganjal kasus arbitrase sebesar 403 juta pound dari pengusaha Bernard Tapie. Beruntung, statusnya hanyalah saksi pendukung. Di samping itu, Lagarde adalah Menteri Keuangan Prancis ketika krisis keuangan global terjadi, sehingga para pemimpin dunia terkesan dengan aksi-aksinya. Dia merupakan tokoh penting dalam pengaturan dana Bailout Uni Eropa dari Bank.

christine lagarde menteri Prancis

 

3. "Menyakiti Hati Rakyat Yunani"

Karir Christine Lagarde makin melejit ketika menjadi Managing Director International Monetary Fund. Ia adalah wanita pertama yang berhasil menjadi ketua IMF. Pengangkatannya terjadi di tengah kemelut utang Eropa yang membengkak serta krisis Yunani. Lagarde sempat disoroti karena langkah IMF yang memberikan utang ke Yunani pada tahun 2011.

Melihat krisis ekonomi Yunani yang kembali memburuk pada tahun 2015, IMF memutuskan untuk tak memberikan dana tambahan dan Lagarde mengeluarkan statement yang dianggap kurang pantas. Ia menyinggung soal tingginya angka penghindaran pajak di Yunani, sementara ia sendiri mendapatkan gaji yang bebas pajak.

 

4. Masuk Ke Daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh Di Dunia

Meskipun karirnya dipenuhi dengan kejadian-kejadian kontroversial, Lagarde merupakan figur yang cukup diperhitungkan. Pada 2019, Forbes menepatkannya pada peringkat 2 daftar "World's 100 Most Powerful Women", hanya terpaut 1 peringkat dari Angela Merkel (Kanselir Jerman). Lagarde berkali-kali menolak posisi sebagai ketua European Comission dan Bank Sentral Eropa (ECB). Pada 1 November 2019, barulah jabatan itu ia terima.

Sebagai politisi, ia memiliki perhatian yang besar pada peran pemerintahan dalam menangani krisis. Salah satunya ia sampaikan ketika menghadiri World Economic Forum 2018: 

 

Tantangan Yang Dihadapi Lagarde Di ECB

Setali tiga uang dengan jabatan ketua IMF, menjadi orang nomor satu di Bank Sentral Eropa adalah kursi panas. Sebelumnya, Mario Draghi telah berjuang selama 8 tahun untuk mengembalikan tingkat kestabilan inflasi Zona Euro dan pasar berekspektasi tinggi pada penerusnya. Ketika melangkahkan kaki menjadi ketua ECB, Lagarde telah dibebani oleh setumpuk pekerjaan rumah. 

Salah satu ekspektasi yang diberikan pada Lagarde adalah untuk merangkul media dan oposisi. Sebagai seseorang yang telah berpengalaman di jajaran pemerintahan, ia diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran tentang stabilitas ekonomi di beragam lapisan masyarakat.

Saat menjabat sebagai ketua IMF, Lagarde telah banyak menyinggung soal perekonomian Zona Euro. Menurutnya, langkah-langkah yang dilakukan oleh Mario Draghi sudah cukup tepat, salah satunya dengan Quantitative Easing.

euro terkena qe(Baca Juga: Pengaruh Quantitative Easing Pada Nilai Mata Uang)

Lagarde menitikberatkan pada paket kebijakan moneter lengkap, pengaplikasian suku bunga negatif, dukungan fiskal, stimulus perekonomian, reformasi Eropa, serta MMT (Modern Monetary Theory). Berbicara mengenai kebijakan fiskal, ia mendesak negara-negara di Zona Euro untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan utang, dan tujuan sosial.

"Kebijakan moneter harus tetap akomodatif dimana inflasi di bawah target, dan harus sesuai harapan. [...] Kenyataannya adalah bahwa banyak negara yang perekonomiannya tidak cukup tangguh. Utang publik yang tinggi dan suku bunga rendah telah meninggalkan ruang terbatas (bagi bank sentral) untuk bertindak ketika penurunan berikutnya datang- hal mana pasti akan terjadi. Bagi banyak negara, ini berarti memanfaatkan kebijakan fiskal dengan lebih cerdas," ungkap Lagarde ketika berbicara di Washington, 2 April 2019.

Saat ini, ECB tengah mengaplikasikan program TLTRO (Targeted Longer-Term Refinancing Operations). TLTRO adalah perjanjian pinjaman antara bank sentral dengan perbankan umum yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi mekanisme transmisi kebijakan moneter, agar mampu mendukung penyaluran pembiayaan (kredit) lebih besar dalam perekonomian.

TLTRO sebelumnya telah dilaksanakan pada Juni 2014 dan Juni 2016, dan akan jatuh tempo pada Juni 2020. Hal ini tentu akan menjadi salah satu To-Do-List yang dilingkari spidol merah pada kalender kerja Lagarde, untuk memastikan likuiditas bank-bank tersebut lancar dan berjalan sesuai rencana. 

euro

(Baca Juga: Apa Itu TLTRO Dan Bagaimana Dampaknya Terhadap Euro?)

Tak hanya berhenti di situ, Lagarde juga menyatakan "ambisi pribadinya" untuk menyoroti isu kesenjangan, peran wanita dalam dunia finansial, dan efek ekonomi pada perubahan iklim. Semua ini berhubungan dengan kebijakan bank sentral. Walaupun begitu, ia juga mengingatkan bahwa ECB bukanlah sekumpulan orang-orang sakti yang bisa menyihir kondisi ekonomi Zona Euro dalam waktu singkat.

Kecerdasan politik serta kemampuannya untuk mengambil keputusan yang berurusan dengan hajat hidup orang banyak, membuat sepak terjang Lagarde dalam mengayomi Bank Sentral Eropa akan menarik untuk diperhatikan. Meskipun begitu, beberapa pihak menyoroti kelemahannya karena tidak berasal dari dunia ekonomi dan moneter. Lagarde membutuhkan anak buah yang bisa menyokong kekurangannya tersebut. 

 

Selain Christine Lagarde, telah banyak wanita yang berkiprah di dunia finansial dan cukup diperhitungkan. Salah satunya adalah Kathy Lien, analis dari BKForex yang sering dimintai pendapatnya mengenai kondisi keuangan global terkini. Kisah sukses dan sepak terjangnya telah dihadirkan pada artikel berjudul Menimba Ilmu Trading Dari Kesuksesan Kathy Lien.

291302

Lulusan Sastra Inggris, menyukai dunia tulis menulis sejak SMP. Berpengalaman sebagai Purchasing Staff kontraktor dan industri manufaktur selama 3 tahun sebelum bergabung menjadi penulis di Seputarforex. Masih terus belajar mengenai dunia trading.

Nadia
Sipp

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone