Quantitative Easing

119865

Quantitative easing seakan telah menjadi "trend topic" market pada saat ini. Namun bagaimana dampak yang sebenarnya dari quantitative easing pada pasar finansial?

acy

iklan

Advertisement

iklan

Quantitative easing seakan telah menjadi “trend topic” market pada saat ini. Namun bagaimana dampak yang sebenarnya dari quantitative easing pada pasar finansial ? lalu kenapa para trader selalu menunggu disaat quantitative easing ini ? Penjelasan secara singkat mengenai quantitative easing dapat saya simpulkan sebagai berikut ini.

Sejarah Moneter Dunia
Dahulu setiap uang yang telah dicetak oleh Bank Sentral dijamin oleh sejumlah ons emas, dimana artinya apabila seseorang mendepositkan 10 ons emas di bank, maka dia akan mendapatkan selembar surat berharga yang dapat digunakan untuk bertransaksi sesuai dengan jumlah emas yang dia depositkan. Selembar surat berharga inilah yang sekarang kita kenal sebagai “mata uang”.

Dikarenakan sifat keserakahan manusia, maka Bank menerbitkan “surat berharga” tersebut lebih banyak dari cadangan deposit emas yang ada di bank tersebut. Hal inilah yang menjadi awal kejatuhan sistem moneter internasional dan berlanjut hingga sekarang.

quantitative easing

Mekanisme Quantitative Easing
Sedangkan mekanismenya dapat kita ambil contoh pada negara USA, dimana Federal Reserve (Fed) bertindak sebagai Bank Sentral AS. Dimana Fed mencetak uang (tanpa jaminan dari emas tentunya), untuk membeli surat hutang negara (treasuries) dari pemerintah ataupun bank-bank komersial melalui open market. Maka pemerintah dan bank-bank tersebut mendapatkan suntikan dana segar untuk membiayai berbagai hal. Pemerintah dapat menggunakannya untuk membiayai anggaran pengeluaran, dan bank-bank komersial dapat menggunakannya untuk kembali menyalurkan kredit ke masyarakat. Jika kredit ke masyarakat berjalan lancar, dengan begitu bank-bank komersial diharapkan dapat menggerakkan kembali roda perekonomian.

Dampak Quantitative Easing
Tujuan dari quantitative easing ini sendiri pada dasarnya agar dapat menurunkan tingkat suku bunga kredit pada masyarakat dan korporasi agar mampu mendapatkan kredit dengan sukuk bunga yang terjangkau. Quantitative easing juga diharapkan dapat memancing para investor untuk keluar dari jenis investasi yang aman seperti bonds (surat hutang negara) dan bisa lebih banyak berkontribusi ke sektor private seperti meminjamkan modal ke perusahaan maupun pengusaha. Hingga pada akhirnya akan menaikkan optimisme bahwa ekonomi telah tumbuh dengan baik. Harapan akan ekonomi yang membaik seperti inilah yang mendorong harga saham naik pesat ketika quantitative easing diumumkan.

Namun yang terjadi tidak selalu sesuai dengan apa yang telah direncanakan sejak awal. Dimana bank-bank yang mendapatkan suntikan dana dari The Fed tidak mampu menyalurkan dana kreditnya ke masyarakat. Sehingga bank tersebut lebih suka menggunakannya untuk berspekulasi didalam market. Karena ini akan lebih menguntungkan bagi mereka. Seperti kasus JP Morgan yang pada akhirnya mengalami kerugian milyaran dolar AS karena berspekulasi di market Credit Default Swap (CDS). Dimana bank-bank di Indonesia yang juga pernah mengalami kasus seperti ini, seperti kasus kredit macet pada beberapa tahun yang lalu. Belum lagi bila mereka turut terlibat untuk berspekulasi di pasar saham.

Quantitative Easing juga berpotensi dapat menyebabkan resiko inflasi pada mata uang, karena adanya pencetakan uang baru (baik fisik ataupun elektronik), dengan catatan apabila hal tersebut menyebabkan price index (index harga barang & jasa), naik. Sebagai tambahan, Bernanke yakin quantitative easing tidak akan menyebabkan inflasi, karena sejauh ini tingkat demand untuk barang & jasa di Amerika masih sangat rendah. Apabila berkaca pada ilmu ekonomi, dimana tingkat demand yang tinggi akan menyebabkan harga menjadi naik, dan harga naik inilah yang menyebabkan nilai inflasi, karena kita membutuhkan lebih banyak uang untuk mendapatkan suatu barang/jasa (hukum suply and demand).

Resiko terjadinya inflasi masih tetap ada, dan hal inilah yang mendorong harga emas selalu naik tajam seperti yang kita rasakan pada beberapa tahun terakhir, dimana sejak krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008.

Bayu mengenal dunia investasi saat masih studi di perguruan tinggi, kemudian berlanjut menjadi penulis mengenai berbagai jenis investasi dan strategi-strategi trading di Seputarforex. Bayu meyakini bahwa trading bukanlah mesin jackpot, dan kita harus terus belajar agar bisa menjadi seorang trader sukses.


Heri Wijanarko
trus apa hubungannya mencetak uang dengan & tanpa jaminan emas sama quantitative easing? kan gaada contoh terjadi dan pengaruhnya quantitative easing yg dilakukan waktu mencetak uang masih pake jaminan emas di artikel ini.....
Andriyan.edi
@heri, mngkn cuma maw kilas balik sejarah pencetakan uang kali gan... wkwkwk... soalna qe kan ada hubungana sm penambahan jumlah uang beredar.. tapi y bener jg.. mngkn yg perlu dihighlight itu sebab knp qe ini diberikan. bank sentral jelas ndak bakal menambah jumlah uang beredar tanpa alasan pasti, terutama kalo itu nantina bisa bikin inflasi naik. yg perlu ditekankan qe ini dilangsungkan utk mendorong ekonomi terus tumbuh karena hsl inflasina ndak memenuhi target. inflasi naik ndak mesti buruk kan, ini justru yg diharap2kan sm negara dgn inflasi rendah dn jg negara terdeflasi. makana mrk memilih qe sbg solusi utk meningkatkan aktivitas ekonomi, krn dlm penetapana mmg bs menyebabkan inflasi naik akibat kegiatan ekonomi yg terpicu sm qe ini.
Umi
top artikelnya...
menambah wawasan dah.
waktu quantitativ easing lagi rame dibahas bisa gampangin analisa fundamental ane
Rachmat Wibawa
Harga saham naik pesat waktu QE diumumin? Berarti beda dong sama respon currency yng biasanya justru jeblok? Kog bisa seperti itu?
Andriyan.edi
@rachmat, qe diharapkan dpt memancing para investor untuk keluar dari jenis investasi aman dan bisa lebih banyak berkontribusi ke sektor private seperti meminjamkan modal ke perusahaan maupun pengusaha. ini jelas bakal meningkatkan nilai saham perusahaan klo kecenderungan investasi yg masuk bs meningkat. sebaliknya qe ini erat kaitana sama kebijakan moneter longgar, yg bs mengurangi aliran modal asing masuk ke suatu negara. utk meningkatkan nilai tukar tentu sj perlu ada transaksi yg membutuhkan pihak luar utk membeli mata uang kita kan? smakin banyak yg beli maka smakin tinggi nilai uangna, sebalikna semakin bnyak yg jual semakin rendah nilai uangna. mngkn bwt pertumbuhan dlm negeri bs bgs, tp utk peningkatan nilai mata uang bs negatif krn skrg ini naik turuna mata uang jg sebagian bsr ditentukan sm aliran modal itu.