Rencana OPEC Mempertahankan Pasar Minyak Akan Gagal?

Saat ini, strategi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menguasai pasar minyak dunia kemungkinan hanya akan menjadi boomerang saja. Kenapa?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Saat ini, strategi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menguasai pasar minyak dunia kemungkinan hanya akan menjadi boomerang saja. Tahun lalu, OPEC mengeluarkan kebijakan untuk terus memompa minyak besar-besaran dalam mempertahankan pangsa pasarnya terhadap produsen lain.

Kebijakan tersebut didasari oleh pemikiran konvensional bahwa pengeboran minyak AS akan menjadi bangkrut dan produsen mengalami kolaps ditekan oleh rendahnya harga. Sedangkan bagi Rusia sebagai produsen energi terbesar di dunia, akan dipaksa untuk memangkas ratusan ribu barel minyak tahun ini akibat lemahnya harga minyak dan dampak sanksi finansial pihak Barat. Dengan demikian, asalkan negara-negara OPEC bisa menggenjot produksi terus, maka pasar minyak bisa dikuasai.

Namun hasilnya ternyata sangatlah berbeda. Alih-alih menurun, produksi minyak di luar OPEC malah meningkat sejak tahun lalu dan pasar energi global masih dibanjiri oleh surplus minyak. Selama setahun terakhir, tiga produsen minyak terbesar (Rusia, Saudi dan AS) menambah sekitar 1 juta barel produksi minyak perhari.

Produksi Minyak Harian

Tiga produsen utama tersebut nampak tak terpengaruh anjloknya harga minyak, termasuk juga Saudi Arabia yang memiliki kuasa pada kebijakan OPEC. Pandangan konvensional baru mengenai minyak adalah harga akan "lebih rendah semakin lama" dan tidak menunjukkan sinyal menguat hingga tahun depan atau tahun-tahun sesudahnya. Terutama karena dalam rapatnya awal Desember lalu, OPEC memutuskan untuk tetap produksi besar-besaran.

"Tidak ada indikasi bahwa OPEC akan mengubah kebijakan mereka. OPEC hanya khawatir tentang pangsa pasar(nya sendiri) dan Iran yang akan kembali terjun ke pasar minyak, juga seberapa agresif negara tersebut mencoba untuk mengambil alih pasar kembali," kata Daniel Yergin, pimpinan analis IHS. Iran yang ekonominya lumpuh akibat pembatasan ekspor selama bertahun-tahun, berharap untuk mulai mengekspor minyak lagi di paruh pertama 2016, menyusul ditandatanganinya kesepakatan nuklir tahun ini.
 

Saudi Arabia, Sang Penyeimbang Pasar Minyak

Dalam menghadapi rendahnya harga minyak, Saudi Arabia terpaksa harus kembali terjerat dalam pasar utang dengan mengeluarkan surat utang untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun terakhir dalam rangka memenuhi defisit anggaran belanjanya. "Saudi pasti akan melakukan penerbitan obligasi lebih banyak di tahun depan," kata Greg Priddy, salah seorang Direktur di Eurasia Group.

Saudi Arabia merupakan salah satu produsen minyak dengan biaya yang paling rendah, hanya perlu kurang dari 10 Dolar AS untuk memompa minyak per barelnya. Namun biaya yang mereka keluarkan untuk subsidi pemerintah sangatlah besar, apalagi mengingat tingkat pengangguran di negara itu cukup tinggi, khususnya di kalangan anak muda. Menurut Stratfor, seperti dilansir CNBC, Kerajaan Saudi memiliki cadangan uang USD 662 milyar dan telah menghabiskan sekitar 84 milyar Dolar AS untuk menebus kerugian dari rendahnya pendapatan minyak selama periode Agustus 2014 hingga bulan yang sama tahun 2015.

Bagi Saudi Arabia, pertempuran dimulai dari kekhawatiran mengenai pangsa pasar dan pesatnya laju produksi shale AS yang mengurangi ketergantungan AS pada impor minyak. Di saat yang sama, Saudi juga berjuang mempertahankan pangsa pasar di belahan dunia lainnya. Contohnya, Rusia yang tahun ini mengekspor lebih banyak minyak ke China dibanding Saudi, yang dibalas oleh negeri terbesar di Timur Tengah itu dengan kembali memangkas harga.
 

Produksi Minyak Rusia Yang Mengejutkan Semua Orang

Sementara itu, Rusia mengejutkan pasar dengan berusaha untuk mempertahankan tingkat produksi terus tumbuh bahkan ketika harga minyak super murah. "Dalam pandangan Rusia, sebisa mungkin mereka memompa minyak sebanyak-banyaknya dan baru kemudian menanggung konsekuensi finansialnya," kata Chris Weafer dari Macro-Advisory. "Mereka tak akan pernah rela memangkas produksi hanya untuk menyesuaikan harga minyak. Hal itu (penurunan pasokan) tak akan pernah terjadi," tambahnya.

Layaknya di Amerika, produsen minyak Rusia telah memperbarui efisiensi dengan menggunakan teknologi baru untuk beberapa sumur minyak tuanya. Tapi Rusia telah terhambat dalam mengembangkan ladang baru Arctic, laut dalam atau proyek shale akibat sanksi keuangan oleh pihak Barat setelah menyerang Ukraina. Faktor pendukung lain telah berpengaruh juga dan telah terbukti sangat penting bagi produksi minyak Rusia. Yaitu, kebijakan bank sentral Rusia membiarkan Ruble mengambang bersama dengan harga minyak telah membantu menurunkan biaya produksi.
 

Efisiensi Produksi Di Amerika Serikat

Tak seperti negara produsen minyak lain, AS tak punya BUMN bidang perminyakan dan industri minyaknya merupakan kumpulan dari ratusan perusahaan-perusahaan swasta kecil dan besar yang memompa minyak dengan estimasi biaya antara USD 30 hingga 60 per barel. Citigroup memperkirakan biaya produksi shale akan turun hingga 25 sampai dengan 30 persen saja pada tahun 2016 dan offshore akan lebih murah lagi. Tetapi bahkan dengan biaya yang lebih murah dan efisiensi yang lebih besar, industri telah merasa terjepit.

Banyak sekali perusahaan yang bangkrut dan atau menumpuk makin banyak hutang. Citigroup pun memprediksi belanja modal untuk proyek baru bakal turun 48 persen di tahun 2016 hingga 2020, dibanding dengan lima tahun sebelumnya. Mereka juga memperkirakan pengeboran lepas pantai akan lebih merasakan dampaknya daripada produksi lain. Hal yang terburuk bagi industri minyak AS adalah jika harga masih bertahan di level rendah, terutama bagi perusahaan dengan utang besar.
 

Harga Minyak Di Masa Mendatang

Sedangkan bagi masa depan, saat harga akhirnya akan menjadi stabil, tiga negara produsen minyak kawakan tersebut akan memainkan peran yang besar, tapi mungkin agak berbeda. Pimpinan riset komoditas di Citigroup, Edward Morse memperkirakan pemerintah AS akan mengakhiri pembatasan ekspor minyak mentahnya dan akan membuat Amerika menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam menggerakkan harga minyak global.

Amerika Serikat dengan meluasnya shale akan menjadi faktor fenomenal dalam meningkatkan basis pasar ke depannya. Rusia akan mencoba menggunakan minyak sebagai salah satu instrumen kebijakan luar negeri pada tetangga terdekatnya, yaitu China. Sementara Saudi terhalang oleh kecenderungan mereka untuk menggunakan energi sebagai instrumen kebijakan luar negeri di dunia, dimana pembeli memiliki posisi tawar lebih tinggi dibanding mereka.

Strategi OPEC telah memaksa sebagian produsen minyak untuk berhenti berproduksi, tetapi setiap ada kenaikan harga akan membawa beberapa darinya untuk kembali beroperasi. Oleh karena itu, harga minyak akan tetap rendah untuk setidaknya dua hingga lima tahun mendatang, sampai permintaan minyak seimbang dengan jumlah pasokan.

M Septian mulai berkecimpung di dunia forex sejak 2015. Setelah itu, menyelami berbagai instrumen trading dan berlanjut menjadi jurnalis yang meliput seputar forex dan komoditas di Seputarforex mulai 2016.