OctaFx

iklan

Resiko Trading Atau Memiliki Bitcoin Di Indonesia

283565

Banyak investor sudah tahu resiko trading Bitcoin maupun resiko memiliki Bitcoin, tetapi mayoritas tidak mengetahuinya dan berujung pada kehilangan dana.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Ketika Bitcoin mencapai rekor tertinggi mendekati angka USD20,000 per unit BTC pada Desember 2017, banyak jutawan atau bahkan milyarder dadakan yang muncul di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Karena itu, hype untuk investasi dan trading Bitcoin semakin menjadi-jadi, dan hampir seluruh kalangan membahasnya hingga saat ini.

Ada yang memang sudah tahu apa resiko trading Bitcoin maupun resiko memiliki Bitcoin, tetapi mayoritas tidak mengetahuinya dan berujung pada kehilangan dana. Padahal, banyak ahli keuangan di seluruh dunia seperti Warren Buffet, yang memperingatkan dengan jelas bahwa Bitcoin adalah "investasi yang paling beresiko untuk diambil".

Untuk membantu para pemula dalam memahami resiko trading, investasi, atau menyimpan Bitcoin, tulisan kali ini akan mengangkat tema Resiko Trading atau Memiliki Bitcoin Di Indonesia. Tentu saja, resiko - resiko di bawah ini tidak hanya berlaku di Indonesia saja, melainkan juga bisa terjadi di seluruh dunia, karena Bitcoin adalah mata uang global.

 

Resiko Trading Atau Memiliki Bitcoin Di Indonesia

 

 

Apa Itu Bitcoin?

Bitcoin adalah Cryptocurrency (mata uang kripto) berbentuk uang digital, yang dapat digunakan untuk membayar beberapa transaksi secara online. Bitcoin menggunakan teknologi blockchain sebagai basis penciptaannya, yakni sebuah ledger (buku besar catatan transaksi) terdesentralisasi yang tersebar di seluruh node jaringan.

Seperti halnya mata uang di dunia nyata (seperti EUR, USD, GBP, IDR dll), kita dapat memiliki 1, 10, atau jutaan Bitcoin. Tidak seperti mata uang riil, mata uang kripto hanya ada secara online, dan tidak didukung oleh pemerintah atau bank sentral, dan juga tidak dapat diatur oleh siapapun.

Ekosistem mata uang kripto bergantung pada perangkat lunak komputer yang rumit untuk memverifikasi, memvalidasi, dan mengamankan transaksi antar pelaku transaksi secara online.

Bitcoin dibuat pada tahun 2009, dengan perangkat lunak yang menjalankan jaringan Bitcoin pertama kali diluncurkan pada tahun 2009, bersama dengan situs web Bitcoin.org, oleh programmer yang diidentifikasi sendiri sebagai Satoshi Nakamoto. Ia mengumumkan bahwa Bitcoin adalah "Sistem Uang Elektronik P2P".

Bitcoin telah menjadi yang paling populer dari seluruh 1,610 mata uang kripto yang beredar saat ini, dan memiliki dominasi di pasar kripto sekitar 40%.

 

Apa Itu Bitcoin

(Baca juga: Apa Itu Bitcoin dan Bagaimana Cara Menggunakannya)

 

 

Berinvestasi Dalam Bitcoin

Ada banyak pendukung Bitcoin meyakini mata uang digital sebagai masa depan ekonomi global. Mereka yang mendukungnya berpendapat bahwa Bitcoin mampu memfasilitasi sistem pembayaran yang lebih cepat dan tanpa biaya untuk transaksi di seluruh dunia (sebelum masalah skalabilitas terjadi).

Meskipun Bitcoin sendiri tidak didukung oleh pemerintah atau bank sentral, Bitcoin dapat ditukar dengan mata uang tradisional. Nilai tukar yang sangat tinggi dari Bitcoin terhadap mata uang tradisional membuat investor dan pedagang untuk berinvestasi di pasar Bitcoin. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu alasan utama untuk pertumbuhan mata uang digital seperti Bitcoin adalah bahwa mereka dapat bertindak sebagai alternatif untuk mata uang fiat, komoditas tradisional seperti emas, dan media penyimpan kekayaan yang aman dari pencurian.

Pada Maret 2014, IRS (badan pajak Amerika Serikat) menyatakan bahwa semua mata uang virtual termasuk Bitcoin akan dikenakan pajak karena dianggap sebagai aset kekayaan dan bukan mata uang. Keuntungan atau kerugian dari Bitcoin yang ditahan sebagai modal akan direalisasikan sebagai keuntungan atau kerugian modal, sementara bitcoin yang disimpan sebagai persediaan akan mengalami keuntungan atau kerugian seperti halnya menyimpan logam mulia.

Seperti aset lainnya, prinsip "Beli Rendah dan Jual Tinggi" juga berlaku untuk Bitcoin. Cara yang paling populer untuk mendapatkan mata uang ini adalah melalui pembelian pada Bursa Bitcoin, meskipun ada berbagai cara lain untuk mendapatkannya.

 

Bursa Bitcoin Internasional Yang Banyak Dipakai Trader Indonesia

 (Baca juga: Bursa Bitcoin Internasional Yang Banyak Dipakai Trader Indonesia)

 

 

Resiko Trading Atau Memiliki Bitcoin Yang Paling Utama

Meskipun Bitcoin tidak dirancang sebagai investasi ekuitas normal (tidak ada saham yang dikeluarkan) beberapa investor spekulatif tertarik pada uang digital setelah mendapatkan pertumbuhan nilai pesat pada Mei 2011 dan pada November 2013. Jadi, banyak orang membeli Bitcoin untuk nilai investasinya saja, bukan sebagai alat tukar (mata uang).

Akan tetapi, kurangnya nilai jaminan dan sifat digital mata uang virtual, mengakibatkan sejumlah resiko trading Bitcoin. Banyak peringatan investor telah dikeluarkan oleh Securities and Exchange Commission (SEC), Otoritas Pengaturan Industri Keuangan (FINRA), Biro Perlindungan Konsumen Sektor Finansial (CFPB), dan berbagai lembaga otoritas keuangan lain di berbagai negara.

Konsep mata uang virtual memang masih tergolong baru dibandingkan dengan investasi tradisional. Jika dibandingkan, Bitcoin tidak memiliki banyak rekam jejak jangka panjang atau sejarah kredibilitas untuk mendukungnya. Dengan meningkatnya adopsi dan penggunaan, Bitcoin menjadi kurang eksperimental setiap hari, karena memang Bitcoin masih berumur sekitar 8 tahun.

CEO Digital Currency Group mengatakan bahwa, "Bitcoin masih dalam fase pengembangan dan masih terus berkembang. Ini adalah investasi beresiko tertinggi dan (sekaligus) memiliki tingkat pengembalian tertinggi."

Jika Anda mempertimbangkan untuk memiliki, menyimpan, bertransaksi, atau berinvestasi dalam dunia Bitcoin, silahkan pahami resiko berikut ini.

 

Resiko Regulasi Bitcoin

Bitcoin dengan jelas menjadi saingan mata uang pemerintah dan dapat digunakan untuk transaksi pasar gelap, pencucian uang, kegiatan ilegal, dan penghindaran pajak. Akibatnya, pemerintah dapat berupaya mengatur, membatasi, atau melarang penggunaan dan penjualan Bitcoin, serta kepada para pemegangnya.

Sebagai contoh, Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan pernyataan resmi melarang masyarakat Indonesia untuk menggunakan Bitcoin, baik dalam transaksi ataupun sebagai instrumen investasi dan perdagangan. Meskipun begitu, hingga saat ini belum ada tindakan yang jelas dan tegas untuk menerapkan larangan tersebut. BI hanya menekankan bahwa pihak BI dan Pemerintah tidak bertanggung jawab atas segala resiko yang mungkin terjadi; sedangkan Dinas Pajak justru menegaskan bahwa kepemilikan Bitcoin harus dinyatakan dalam SPT Tahunan dan keuntungannya termasuk penghasilan kena pajak.

 

Resiko Keamanan Bitcoin

Pertukaran dan Bursa Bitcoin sepenuhnya bersifat digital, dan seperti halnya sistem virtual lainnya, ada resiko peretasan, malware, dan gangguan operasional. Meskipun teknologi blockchain bisa dikatakan sebagai teknologi virtual paling aman yang pernah diciptakan manusia, tetapi masih ada kesalahan dari pihak ketiga yang bisa menyebabkan kehilangan dompet dan seluruh dana di dalamnya. 

Jika seorang pencuri mendapatkan akses ke hard drive komputer pemilik Bitcoin, dan mencuri kunci enkripsi pribadinya, maka ia dapat mentransfer Bitcoin ke akun lain. Pengguna dapat mencegah resiko ini hanya jika bitcoin disimpan di komputer yang tidak terhubung ke internet, atau dengan menggunakan dompet perangkat keras, atau mencetak private key dan private address miliknya secara offline.

Peretas juga dapat menargetkan pertukaran Bitcoin, mendapatkan akses ke ribuan akun dan dompet digital tempat bitcoin disimpan. Satu insiden hacking yang sangat terkenal terjadi pada tahun 2014, ketika Mt. Gox, sebuah bursa Bitcoin Jepang, terpaksa ditutup setelah pencurian Bitcoin senilai jutaan Dolar.

 

Tidak Adanya Asuransi

Beberapa investasi diasuransikan melalui Perusahaan Perlindungan Investor Sekuritas. Sebagaimana di Indonesia, dana dalam tabungan dan deposito perbankan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Namun, bursa Bitcoin dan akun wallet Bitcoin tidak diasuransikan maupun dijamin oleh pemerintah. Sehingga, jika sewaktu-waktu dana hilang, maka dana tersebut tidak mungkin kembali.

 

Resiko Penipuan

Meskipun Bitcoin menggunakan enkripsi kunci pribadi untuk memverifikasi pemilik dan melakukan transaksi; para penipu dapat mencoba menjual bitcoin palsu, skema ponzi, phising website, dan lain sebagainya. Sejumlah peristiwa telah menunjukkan bahwa insiden-insiden semacam ini bisa terjadi dan perlu diperhatikan sebagai salah satu resiko trading Bitcoin maupun resiko memiliki Bitcoin.

 

Resiko Fluktuasi Harga Di Pasar

Seperti halnya investasi pada umumnya, nilai Bitcoin dapat berfluktuasi. Memang, nilai Bitcoin selama tahun 2017 mampu mencetak rekor tertinggi sepanjang masa mendekati $20,000. Namun, sejak tahun 2018 bergulir, Bitcoin terus mengalami penurunan selama 3 bulan berturut-turut, dan menghasilkan kerugian lebih dari 70%, meskipun saat ini sudah pulih sekitar 40%.

Selanjutnya, menurut CFPB, harga Bitcoin pernah turun sebesar 61% hanya dalam 1 hari saja pada tahun 2013. Sementara itu, penurunan harga 1 hari tertinggi terjadi pada tahun 2014, yaitu merosot 80%.

Jika peminat Bitcoin sebagai mata uang, investasi, ataupun penyimpan nilai kekayaan mulai pudar; maka Bitcoin dapat kehilangan nilai dan bisa menjadi tidak berharga lagi.

 

Resiko Pajak

Karena Bitcoin tidak memenuhi syarat untuk dimasukkan ke instrumen bebas pajak, maka di berbagai negara diterapkan konsep bitcoin sebagai aset kekayaan. Sehingga, keuntungan yang didapatkan adalah sama dengan objek pajak penghasilan (PPh). Dengan kata lain, di negara-negara tersebut, pemilik Bitcoin harus membayar pajak atas mata uang digital yang dimilikinya. Tentu saja, jika kita tidak membayarkan pajak, dan terbukti bersalah, maka resiko pidana atau denda bisa terjadi, termasuk di Indonesia.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.